Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
011


__ADS_3

Cleo sedang duduk meja riasnya, mengoles skincare pada wajahnya kemudian menyisir rambut sepunggungnya saat Evan memasuki kamar. Keduanya berpandangan sebentar kemudian Cleo berlari kecil menyambut serta memeluk Evan. Keduanya berpelukan dengan perasaan gejolak yang mengganjal dihati masing-masing.


"Bagaimana perjalanmu yank ?" Tanya Cleo setelah melepas pelukannya.


"Lancar !" Jawab Evan tersenyum.


"Udah makan ?"


"Sudah !"


Evan melepas pakaiannya dan berlalu menuju kamar mandi, Cleo memungut pakaian Evan dan meletakkannya diranjang kotor dan kembali duduk di meja riasnya.


Evan membuka lemarinya dan meraih piyamanya. Kemudian meraih tasnya mengaduk sebentar dan menyusul Cleo yang sudah berada ditempat tidur.


"Ini...!" Evan menyodorkan sebuah kotak beludru navy kecil. Cleo meraih dan membukanya.


"Wah...cantiknya !" Puji Cleo saat cincin berlian berwarna pink tersuguh didepan matanya. Cincin itu benar-benar cantik. Cleo segera memakainya dan mengagumi jarinya yang kini berhiaskan cincin mewah.



Evan memerhatikan itu ikut tersenyum, cincin berlian itu dia beli dipusat perbelanjaan saat masih di kota M. Ditatapnya Cleo dengan baik, kembali menyelami hatinya. Mencoba merangkai kata. Bagaimana ia akan memberitahu Cleo tentang perasaannya. Saat pikirannya berputar mencari penyelesaian, mata Evan liar menatap tubuh Cleo. Tubuh sintal itu dibungkus gaun tidur pendek membuat tubuh Evan memanas seketika.


Evan meraih pinggang Cleo yang masih mengagumi cincin barunya membuat Cleo tersentak dan dengan cepat sudah berada dibawah Kungkungan Evan.


Cleo menelan salivanya, ia memejamkan mata saat wajah Evan semakin mendekat. Saat Evan mengecupnya, Cleo meremas sprei dengan tubuh sedikit bergetar. Suasana ini sangat berbeda dengan terakhir kali mereka melakukan dimana Cleo yang memulainya dengan senang hati.


Tapi sekarang, sesuatu mengganjal hatinya. Sulit pergi. Begitupula Evan, namun ia berusaha bersikap normal.


Keduanya saling mengecap bertukar Saliva, tangan Evan merayap kesana kemari dan kini bermain-main di gunung kembar Cleo. Setelah itu ciuman Evan turun ke leher, bermain sebentar disana dan kemudian turun di dada Cleo. ******* Cleo terdengar saat Evan mengecap satu bukit kembarnya dan memainkan yang lainnya.


Evan tak tahan lagi, segera ia loloskan pakaian yang melekat ditubuh mereka hingga keduanya polos. Evan memposisikan tubuhnya, dibuka lebar kedua paha Cleo dan menyatukan miliknya.


Evan mulai memaju mundurkan pinggulnya dengan tempo sedang hingga makin lama makin cepat membuat Cleo gila seketika.


Suara ******* dan erangan kembali mendominasi kamar, hentakan demi hentakan yang dilakukan Evan membuat keduanya terbang ke awang-awang, perasaan mengganjal yang tadinya membuat keduanya gelisah untuk sementara terabaikan digantikan surga dunia yang terasa amat menyenangkan.


Cukup lama bergumul Evan berguling dari tubuh Cleo, keduanya terengah-engah. Saat nafas keduanya mulai normal, Cleo mencium pipi Evan dan mulai tidur dengan membelakangi suaminya. Evan pun melakukan hal yang sama. Jadilah keduanya saling membelakangi dengan pikiran yang kembali datang mengganggu. Air mata Cleo mengalir dalam diam saat Bryan hadir dipikirannya.


Pagi harinya...


"Apa kamu mencintaiku ?" Pertanyaan tiba-tiba Cleo membuat Evan urung mengancing kemeja birunya.


"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu ?" Evan menoleh padanya. Cleo menatap manik mata Evan.


"Jawab aja yank. Apa kamu mencintaiku ? Apa kamu bahagia dengan pernikahan ini ?" Todong Cleo. Suaranya sudah seperti ingin menangis.


Evan menatap intens Cleo. Wanita yang sudah berbulan-bulan menjadi istrinya. Jika ditanya perasaan untuk Cleo, mungkin ada walau sebagian besar hati Evan telah tercurah untuk Lala.


"Yank !" Cleo tak sabar dengan apa yang akan dikatakan Evan.


Evan mengangguk lemah, hatinya mulai berkecamuk takut melukai Cleo.


"Tolong jangan bohong, aku akan menghargai apapun yang kamu bilang. Karna aku juga...!" Cleo terdiam hampir keceplosan.


Mendengar itu Evan menatap tajam padanya.


"Ada yang ingin kamu katakan padaku ?" Evan bisa merasa kalau Cleo gelisah.


"Aku.. aku.. !" Cleo gugup


"Bicaralah. Aku akan menghargai apapun yang kamu bilang !" Evan membalik kata-kata Cleo.


"Aku.. aku.. eum aku !" Cleo gemetar tak berani menatap Evan. Matanya bergerak kesana kemari.


"Cleo !" Evan memanggil membuat Cleo terdiam menatap Evan dalam, ini pertama kalinya Evan memanggil namanya setelah sekian lama yang artinya pria itu marah.


"Katakan !" Evan tegas.


Cleo terdiam, mengumpulkan semua keberaniannya, meyakinkan hatinya bahwa mungkin ini yang terbaik.

__ADS_1


"Aku mencintai orang lain !" Suara Cleo pelan namun Evan masih bisa mendengarnya dengan jelas. Wanita itu menunduk meremas kedua tangannya.


Evan terdiam berusaha mencerna yang terjadi, apakah itu artinya dia dan Cleo memiliki pemikiran yang sama untuk berpisah.


"Siapa dia ?" Tanya Evan.


"Namanya Bryan !"


"Sejak kapan ?"


Rasa marah hinggap di dada Evan, mengetahui Cleo memiliki sesuatu dibelakangnya tak dinyana melukai harga dirinya, apalagi teringat dengan tanda kissmark di leher istrinya. Cleo mendongak mendengar pertanyaan Evan yang terdengar ketus.


"2 bulan. Tapi kami gak pernah macam-macam yank, aku selalu tau diri kalau aku masih istrimu. Jadi tolong jangan pikir macam-macam, kami gak pernah lewati batas !" Cleo memegang kedua tangan Evan, meyakinkan pria itu.


"Aku cinta sama dia, maaf. Aku nggak mau mengkhianati kamu, makanya aku jujur ke kamu. Aku gak mau dibayang Bayangi rasa bersalah !" Lanjut Cleo hampir menangis.


Evan mematung, rahangnya terkatup keras. Marah masih dia rasakan saat ingatan dia melakukan hal yang sama dengan Cleo lakukan membuat dia merutuki diri sendiri.


'Beginikah rasanya dikhianati'. Evan yakin Cleo pun akan sangat marah jika tau hubungan yang ia bina dibelakang Cleo.


"Apa kamu pernah mencintaiku yank ?" Tanya Evan. Cleo tertegun.


"Pernah !" Cleo mengangguk.


"Kamu sendiri yank, apa pernah mencintaiku ?" Cleo balik tanya.


"Sama denganmu pernah !" Jawab Evan yakin.


"Aku mau pisah baik-baik. Hubungan kita dimulai baik-baik. Aku harap berakhir juga baik-baik !" Ucap Cleo masih menggenggam tangan Evan.


"Maaf yank, aku gak bermaksud selingkuh. Maaf hubungan kita seperti ini !" Akhirnya Cleo menangis.


Evan memeluk Cleo, membiarkan istrinya menumpahkan tangis didadanya. Pikiran Evan tertuju pada Lala. Dia tersenyum akhirnya pintu untuk bersama wanita yang dicintainya akan terbuka.


Tangis Cleo sudah reda, ia melepaskan pelukan Evan.


Evan menggeleng. " Terima kasih sudah mau jujur. Aku akan menghargainya. Jika dia benar-benar tulus sayang sama kamu, bisa menjagamu selamanya, aku ikhlas melepasmu !" Evan tersenyum, membelai kepala Cleo. Ia memutuskan tidak memberitahu Cleo tentang ia dan Lala.


Cleo mewek, ia kembali memeluk Evan. Air matanya mengalir lagi tapi hatinya lega tidak lagi terbayang rasa bersalah. Berpikir akhirnya ia bersama pria yang dicintainya, membayangkan kehidupan bahagia bersama Bryan. Untuk masalah papanya, Cleo yakin bisa mengatasinya.


Saat akan melepas Evan ke kantor, Evan mencium kening Cleo cukup lama menikmati aroma tubuh Cleo mungkin untuk yang terakhir kali.


"Ya udah aku berangkat !" Evan meraba pipi Cleo yang dibalas senyum manis wanita itu.


Setelah mobil Evan menghilang, Cleo jatuh terduduk dilantai, tidak percaya dengan yang baru saja terjadi.


"Aduh nya, kenapa ? Nyonya sakit ?" Bik Rosnah pembantu rumah yang kebetulan lewat melihat Cleo terduduk dilantai.


"Nggak bik, saya baik-baik aja !" Cleo tersenyum kemudian bangkit, meraih tasnya dan menuju ke kampusnya.


 


Evan terkejut melihat Lala telah duduk manis dikursinya, saat melihat Evan gadis itu beranjak dari duduknya dan menyambut atasannya sekaligus kekasih rahasianya.


'Kekasih rahasia' wajah Lala memerah memikirkan dua kata itu.


"Kamu udah sembuh ? Jangan dipaksain dulu masuk kerja kalau masih sakit. Kamu boleh istirahat di rumah sampai sembuh !" Evan meraba pelipis Lala yang masih dibalut perban. Lala tersenyum menikmati sentuhan Evan dipelipisnya.


"Saya sudah sehat, sudah kuat makanya masuk kerja. Hehehe !" Lala cengengesan. Evan memeluknya erat yang disambut sukacita oleh Lala.


"Selamat pagi bos !" Sapa Rizky membuat dua orang yang sedang dalam suasana syahdu kaget seketika.


"Oh ya, pagi Ky !" Evan salah tingkah dan segera masuk ke ruangannya. Lala pun tertunduk malu.


"La.... !" Nada memanggil Rizky amat berbeda bahkan terkesan penuh peringatan.


"Aku tau Ky, aku janji gak akan lewati batas !" Jelas Lala berani menatap Rizky, pandangan pria itu penuh intimidasi.


"Tapi gak gini.....!" Rizky tak meneruskan bicaranya.

__ADS_1


"Kami gak lakuin macam-macam kok, bos juga gak mau khianatin istrinya dengan lewatin batas. Aku juga gak mau jadi pelakor. Tenang aja !" Lala meyakinkan Rizky. Pria itu menghela nafas.


"Baiklah, ingat La, jangan lewatin batas sampai mereka beneran berpisah !" Ucap Rizky.


"Iya, tolong bantu rahasiakan juga ya !" Pinta Lala penuh harap pada Rizky. Pria itu hanya mengangguk.


Kesannya pada Lala adalah gadis yang baik dan suka mengalah. Tidak pernah menjelek-jelekkan orang lain atau menyakiti hati siapapun. Hanya pada orang terdekatnya saja ia bisa mengeluarkan kata-kata ejekan. Rizky tidak pernah menyangka Lala menerima Evan yang notabe adalah suami orang namun ia berusaha mempercayai Lala untuk tidak menyakiti hati Cleo.


"Oh ya, ini oleh-oleh untuk Rizky cakep !" Lala mengeluarkan paperbag ukuran sedang dan meletakkan dimeja, Rizky mendekat dan membuka bungkusan itu. Alisnya mengerut melihat buah-buahan dan beberapa jenis kue kering maupun basah.


"Ada yang lain ?" Tanya Rizky menatap pada Lala.


"Yang lain ?" Tanya Lala mengulang, keningnya berkerut. "Oh ada !" Lala meraih minuman kemasan botol rasa jeruk dan juga berbagai macam minuman soda, diletakkannya didepan Rizky.


"Silahkan dipilih !" Ucap Lala menahan senyum melihat wajah datar Rizky.


"Terima kasih !" Rizky meraih minuman soda dan memasuki ruangannya disertai senyum geli Lala. Tak lama cowok itu keluar membawa beberapa dokumen dan memasuki ruangan Evan.


Saat memasuki ruangan direktur, Evan terlihat, melamun sambil senyum-senyum tidak jelas. Tidak ada yang tahu bahwa hatinya sedang dilanda musim semi. Tidak sabar baginya bisa memiliki Lala seutuhnya. Bayangannya sudah kemana-mana hingga senyuman anehnya tidak hilang dari bibirnya.


"Ini laporan yang harus bapak periksa dan tanda tangani !" Rizky meletakkan dokumen itu didepan Evan. Tanpa sadar Evan malah senyum mesra padanya membuat cowok itu bergidik ngeri.


'Ini orang kesambet kali ya, dikiranya aku Lala. Aduh bahaya. !' Rizky membatin.


"HATSYIIIIII !" Rizky bersin dengan keras membuat Evan tersadar dari lamunannya.


"Eh, kenapa Ky ?" Evan akhirnya menyadari keberadaan Rizky.


"Itu pak butuh tanda tangan anda !" Evan menunjuk map yang baru diletakkannya. Menahan senyum melihat tingkah Evan tadi.


Evan mulai membuka berkas itu, menelitinya dengan baik. Sedangkan Rizky masih setia berdiri diposisinya bingung ingin menyampaikan tentang Bryan Adijaya pada Evan.


"Apa kamu membutuhkan berkas ini segera ?" Tanya Evan melihat Rizky tak bergerak dari berdirinya.


"Oh tidak.. maaf bos. Saya permisi dulu !" Pamit Rizky dan segera keluar melewati Lala yang bekerja sambil menikmati kue coklatnya.


"Eh, perutmu udah enakan !" Suara Tiwi terdengar nyaring bahkan saat tubuhnya belum terlihat.


"Memang perutku kenapa ?" Lala bertanya bingung saat Tiwi sudah berdiri didepan mejanya.


"Itu lho La, kemarin kan kamu PMS, makanya gak masuk kerja !" Ucap Rizky dipintu ruangannya. Matanya mengedip memberi kode kemudian masuk ke ruangannya sendiri.


"Oh ya. Udah enakan makanya bisa makanan manis !" Lala mengerti dan melanjutkan. Tiwi meraih kue coklat Lala dan memakannya dalam gigitan besar.


"Itu pipimu kenapa ?" Tanya Tiwi melihat perban dipelipis kiri Lala.


"Oh waktu sakit perut kemarin terpeleset trus kejedot meja jadinya berdarah !" Ucap Lala pelan. Tiwi memerhatikan wajah Lala dan netranya bisa menangkap samar biru pada pipi sebelah Lala yang tertutupi bedak tebal.


"Makanya udah tau tinggal sendirian, kau malah ceroboh ya gitu luka. Gimana coba kalau kau pingsan trus mati gak ada yang tau kan. Tergeletak lah kau disana sampai jadi tengkorak. Trus jadi hantu penasaran !" Tiwi mengoceh kesana kemari. Lala menatap malas kepadanya.


"Oh ya, proyek penggalian batu bara di lokasi R bagaimana ? Apa bos sudah setuju ?" Tanya Tiwi sambil menguyah.


"Lepaskan aja, bos tidak ingin terlibat di proyek itu. Yang bener aja gali batu bara di area makam !" Lala bergidik saat mengetahui sebuah proyek di suatu makam dimana dibawahnya terhampar batu bara yang kemudian menarik minat banyak penambang untuk beroperasi disana tanpa rasa takut.


"Rasa takut akan kalah dengan rasa tamak. Hantu akan kalah sama uang !" Ucap Tiwi. Lala tertawa.


"Betul.. Betul.. Betul !" Lala masih tertawa. Keduanya ngobrol ngidul tidak jelas, menghabiskan kue dimeja.


Diruangannya, Rizky membuka email dari detective yang ia sewa untuk menyelidiki Bryan dan juga ada email dari anak buahnya yang ia minta untuk memata-matai Bryan.


Rizky mengerutkan kening melihat hasilnya karna keduanya amat berbeda. Hasil dari anak buahnya tidak membantu banyak. Namun hasil dari detective membuka satu celah. Sebuah nama "Dharmawangsa". Rizky kembali melihat hasil laporan anak buahnya disitu tertulis bahwa nama lengkapnya adalah Bryan Fahri Collins sama dengan Michael dan juga Jerry.


Laporan detective mengatakan, bahwa Bryan keponakan dari Prana Collins ayah kandung Michael. Sejak kedua orang tua Bryan meninggal maka Bryan dan Jerry diasuh oleh tuan Prana. Ayah Michael dan Ibu Bryan yang bernama Anastasia bersaudara kandung keturunan Inggris - Indonesia.


Rizky menengadah mencoba mengingat adakah kolega perusahaan bernama Dharmawangsa. Namun pandangannya tertuju pada laporan detective yang mengatakan orang tua Evan berteman dengan keluarga Dharmawangsa.


Rizky memutar otak, kembali saat masih sekolah dulu apakah ia pernah mendengar nama itu atau paling tidak tuan Robby yang menyebutnya namun nihil, Rizky tak mengingatnya.


Diputuskannya akan dicarinya di dokumen lama perusahaan atau bertanya langsung pada tuan Robby.

__ADS_1


__ADS_2