Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 085


__ADS_3

Hari Minggu yang menenangkan jiwa dimana kita bermalas-malasan sesuka hati setelah hari-hari kemarin dipakai sibuk bekerja.


Syifa menuruni kamar saat pembantunya melaporkan jika calon mertuanya datang dan sekarang sedang berbincang dengan sang mama. Syifa pun menuruni tangga menemui mama Evan yang sudah tersenyum manis padanya.


"Fa, mama dan Tante Chyntia berencana segera menggelar pertunangan kamu dan Evan !" Ujar sang mama dengan senyum bahagia.


Syifa menganga mendengar itu, ia terdiam tidak tahu harus berkata apa dan menatap mama Evan tidak percaya.


"Kalau kak Evan sendiri bilang apa ma ?"


"Kalau Evan gampang, nanti kita kasih tau ke dia. Tante yakin dia pasti setuju !" Tante Chyntia yang menjawab membuat Syifa melongo.


"Kamu gak senang dengar ini Fa ?" Tanya Tante Chyntia melihat mimik wajah Syifa.


"Senang kok Tante, kalau hal baik pasti Syifa senang !" Syifa tersenyum membuat 2 wanita tua didepannya tersenyum lega.


"Kalau begitu, kita jalan-jalan ke mall yuk. Kita cari keperluan kamu buat tunangan nanti !"


"Apa itu gak ngerepotin Tante ? Nanti Syifa bisa pergi dengan kak Evan ?"


"Nggak kok Fa, ayo kita jalan. Ayo jeng !"


"Aduh jeng, kalian aja. Aku ada arisan nanti !" Tolak mama Syifa halus.


"Baiklah jeng, ayo Fa !"


Mau tidak mau Syifa mengikuti mama Evan melangkah. Mereka menuju mall besar di kota itu. Saat melangkah masuk, mata Tante Chyntia tertuju pada toko perhiasan.


"Kalian udah beli cincinnya ?" Tanya Tante Chyntia.


"Eh, cincin ? Oh, belum Tante karena kak Evan masih sibuk jadi belum bisa temani Syifa beli cincin tapi nanti kalau kak Evan ada waktu baru kami pergi bareng Tante !" Syifa berkilah.


Mendengar itu, Tante Chyntia menghembuskan nafas berat.


"Ya udah yuk, kita pergi lihat-lihat gaun !"


"Oke Tante !" Jawab Syifa antusias.


Keduanya menuju toko gaun cantik nan mahal, saat memasuki toko itu mereka disambut gaun-gaun cantik yang memanjakan mata. Syifa senang sekali melihat itu. Ia mulai memilih yang mana dirasa cocok dengannya.


Hingga sebuah gaun berwarna Pink panjang diatas tumit mencuri perhatiannya dengan belahan rok menyamping, menyadari itu Tante Chyntia membeli gaun itu untuk Syifa.


"Ya ampun Tante, Syifa gak enak. Padahal Syifa mau beli sendiri !"


"Sudah sayang, kan Tante juga sebentar lagi jadi mama kamu jadi anggap aja itu hadiah !"


"Terima kasih Tante !" Ucap Syifa tulus. Dia pun berharap bisa menjadi anggota keluarga Evan, apa daya kasih tak sampai.


"Ya udah yuk, sekarang kita lihat sepatu !" Tante Chyntia mulai beranjak menuju toko sepatu.

__ADS_1


Mata Syifa berbinar melihat, deretan high heel cantik dari centi pendek sampai tinggi ada disana, memilah dari satu heels ke heels lain akhirnya pilihan Syifa jatuh pada heels 5 cm berwarna silver yang cantik sekali.


Setelah itu, keduanya kembali berjalan-jalan kemudian memutuskan untuk makan siang.


"Eh, tunggu dulu Fa, Tante ke toilet dulu yah !" Tante Chyntia menyerahkan paperbag yang dipegangnya kepada Syifa.


"Iya Tante !"


Tante Chyntia mulai memasuki toilet dengan syifa yang menunggunya diluar. Risih dengan orang yang berlalu lalang didekatnya, Syifa memutuskan ingin menghampiri tempat penjualan berbagai gantungan kunci yang berada tak jauh darinya. Saat ia mulai melangkah, entah apa yang ia injak sehingga ia kehilangan keseimbangan. Tubuhnya terhuyung kedepan, Syifa memejamkan mata seraya memegang erat paperbagnya saat ia benar-benar akan terjatuh hingga sebuah pelukan menyambut tubuhnya membuatnya terkejut dan langsung mendongak.


Seraut wajah tampan, menyambut pandangannya yang memandangnya dengan kening berkerut. Syifa bisa merasakan hembusan nafas pria itu diwajahnya. Syifa pun terdiam saat merasa pernah bertemu pria ini namun ia lupa dimana.


"Maaf, maaf saya gak sengaja !" Ucap Syifa melepaskan diri. Sekejap matanya terbelalak melihat kotak beludru beserta paperbagnya teronggok dilantai dengan mengenaskan membuat Syifa dengan cepat meletakkan paperbag ditangannya dan memungut kotak beludru merah itu seraya memasukannya ke paperbagnya.


"Maaf ya, sekali lagi maaf !" Ucap Syifa seraya menyerahkan papaerbag itu pada pria itu.


"It's oke !" Jawab pria itu membuat Syifa terpana.


Pria itu mulai melangkah pergi dengan tatapan Syifa yang masih setia menatapnya. Sebelum berbelok, pria itu terhenti dan berbalik kearah Syifa yang tersenyum menatapnya.


Saat pria itu telah menghilang dibelokan, Syifa meraih paperbagnya dan hendak berjalan saat merasa sesuatu dipinggangnya, membuatnya langsung melirik saat matanya menangkap sebuah kalung berbentuk matahari dengan berlian kuning ditengahnya membuatnya terperangah.


Secepat kilat ia mendongak, hendak berjalan keluar saat sebuah suara menghentikan langkahnya.


"Syifa !" Tante Chyntia muncul.


"Iya Tante ?"


"Ng, tadi gak sengaja nabrak orang lewat Tante, hehehehe !"


"Oh gitu. Ya udah, kita cari makan siang yuk !" Tante Chyntia meraih paperbag miliknya dari tangan Syifa dan melangkah diikuti Syifa yang sesekali menoleh kebelakang berharap pria masih terlihat.


Syifa memasukkan kalung itu ke tasnya dan berharap semoga segera bertemu laki-laki itu untuk mengembalikannya.


*****


Malam harinya, Bryan bersiap untuk menemui Cleo. Mengintip paperbag kalung yang berada di dasboard mobil membuat senyumnya kembali merekah.


Setelah makan malam bertiga, Bryan langsung meleset pergi. Sepanjang perjalanan, ia tersenyum penuh arti. Membayangkan apa saja yang akan ia katakan nanti pada Cleo. Ia tidak sabar segera menemui wanita itu.


Beberapa meter sebelum menggapai rumah Cleo, mobil Bryan berhenti dan tertegun melihat Rizky yang kembali hadir disana dan tak lama Cleo muncul dari dalam rumahnya dengan senyum manis kepada Rizky.


Mobil itu segera melesak pergi meninggalkan kediaman Cleo. Bryan mengikuti mobil itu dengan jarak aman. Saat dua sejoli itu berhenti di suatu tempat maka Bryan akan tetap mengikuti.


Bisa Bryan lihat dengan jelas jika keduanya begitu mesra dan saling menatap penuh cinta membuat Bryan nelangsa.


Cukup lama mengikuti dalam jarak aman, kini dua sejoli itu keluar berkendara dan kembali diikuti Bryan. Cukup lama, mereka berhenti disebuah alun-alun pinggir pantai. Keduanya terlihat mengobrol akrab dan santai. Bryan yang melihat itu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata perasaannya sekarang.


Hingga terlihat, Rizky menerima telepon dengan raut wajah yang mengeras dan rahang terkatup rapat. Seketika ia meminta Cleo untuk pulang terlebih dahulu, membimbing wanita itu menaiki mobilnya dan melambaikan tangan saat mobil itu berlalu.

__ADS_1


Bryan segera mengikuti mobil Cleo, cukup lama hingga mobil Cleo berhenti disebuah taman yang cukup ramai. Mobil Bryan pun ikut berhenti dari jarak aman. Cleo keluar dari mobilnya kemudian menatap kearah mobil Bryan membuat pria itu tercekat apalagi wanita itu mendekat ke mobil Bryan dan mengetuk kaca penumpang.


Bryan membuka kaca jendela mobil dan mereka langsung bertatapan.


"Mau duduk di kursi taman ?" Tawar Cleo datar.


"Oke !" Sambut Bryan girang.


Keduanya duduk di bangku panjang dengan lampu warna-warni yang cukup terang menghiasi tempat itu.


"Aku kangen kamu Cle !" Bryan meraih tangan Cleo dan menggenggamnya. Sedangkan Cleo hanya menatap tangannya yang berada di genggaman Bryan.


"Kamu apa kabar ?" Tanya Cleo.


"Aku baik, kamu sendiri apa kabar ?"


"Aku juga baik !" Cleo tersenyum.


"Oh ya Cle, aku punya sesuatu buat kamu !" Bryan meraih paperbag disampingnya, meraih kotak beludru merah itu dan membukanya. Seketika mata Bryan melotot saat melihat dalam kotak itu kosong melompong, kalung cantik nan mahal yang dibelinya tadi pagi hilang.


Bryan panik, berusaha mengingat dimana terakhir kali ia melihat kalung itu. Apakah saat ?


"Bry !" Cleo membuyarkan lamunan Bryan. Wanita itu perlahan menutup kotak beludru itu tanpa melihat isinya.


"Maaf, aku harus bilang kalau aku memilih Rizky, aku cinta sama dia dan aku mau selalu ada disampingnya !" Jelas Cleo dengan mata mulai berkaca-kaca.


"Jadi maaf, tolong lupain aku. Maaf, aku sudah tidak mencintaimu lagi jadi tolong lupain aku !" Air mata Cleo sudah jatuh.


Bryan terdiam, ia tidak tahu harus berkata apa. Seharusnya ia tahu kalau ini mungkin akan terjadi, tapi ia yakin Cleo masih mencintainya dan ia berusaha mendapatkan wanita ini lagi.


"Maaf, maaf banget. Tolong relakan apa yang pernah terjadi diantara kita !" Cleo meraih tubuh Bryan dan memeluknya erat.


"Aku yakin, disana pasti ada gadis yang baik menunggu kamu dan pasti akan mencintai kamu sepenuh hati !" Air mata Cleo semakin deras.


"Jadi mari kita akhiri dengan baik semua ini !" Cleo melepas pelukannya dan meraba lembut pipi Bryan.


"Apa kamu pernah mencintaiku ?" Tanya Bryan.


"Pernah dan sepenuh hati, aku bahkan rela tinggalkan mas Evan demi kamu !" Ucap Cleo masih dengan air mata yang mengalir deras.


"Aku juga mencintaimu Cle !" Ungkap Bryan.


"Dan sekarang tolong hilangkan itu karena aku tidak bisa lagi membalas perasaanmu !" Ucap Cleo.


Bryan mematung sedangkan Cleo tidak bisa berhenti menangis. Wanita itu berdiri dan memutuskan pulang.


"Aku pulang duluan. Selamat tinggal, semoga kedepannya kamu bisa ketemu cewek yang lebih baik dariku. Terima kasih !" Cleo berlari ke mobilnya dengan air mata semakin deras, memacu mobilnya meninggalkan Bryan yang masih terpaku mendengar ucapannya.


Bryan mendongak menatap langit hitam pekat yang sepekat hatinya sekarang ini. Memejamkan mata sejenak berusaha menghilangkan rasa sesak di hatinya kemudian mulai beranjak meninggalkan taman dengan menggenggam erat paperbag kecil ditangannya.

__ADS_1


'Selamat tinggal Cleo, aku janji akan melupakanmu !' Batin Bryan bicara kemudian mengendarai mobilnya pulang.


__ADS_2