Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
025


__ADS_3

Matahari beranjak naik perlahan menggantikan gelap yang sempat menyelimuti bumi. Semakin tinggi matahari semakin terdengar riuh rendah orang-orang yang mulai beraktivitas.


Terkecuali Lala, ia masih tidur dipintu balkonnya dengan sinar matahari menerpa langsung tubuhnya karna pintu semalam lupa ia tutup, ia terlelap saat memandang bintang-bintang di langit.


Lala terjaga dan menggeser tubuhnya untuk duduk dipojok kamar, menghindari terpaan sinar matahari.


Memutuskan tidak masuk kantor dan tanpa meminta ijin. Pikiran Lala kembali menerawang pada malam kemarin mengingat perkataan Evan dan kembali menangis saat kata-kata itu terngiang dikepalanya.


Sedangkan ditempat lain, Evan mengemudikan mobilnya hingga semakin menjauh dari kantornya. Setelah mengemudi tidak tentu arah akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke pantai tempat ia dan Lala mengikat janji.


Suasana pagi sepi maksimal, hanya ada Evan yang menatap hamparan air berombak dengan wajah gusar.


Menyesal amat menyesal dia rasakan saat mengingat perkataannya pada Lala. Dia yakin gadis itu pasti terluka mendengarnya setelah dia melakukan sesuatu yang hampir merusak gadis itu.


AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA


Evan berteriak keras menumpahkan seluruh beban perasaannya. Tanpa bisa ditahan air matanya jatuh. Ia pun tak menyangka mampu menyakiti gadis yang dia cintai. Terisak dan terus terisak seraya menatap derai ombak yang bermain-main didekatnya.


"La, aku minta maaf. Aku cinta kamu La !" Rizky berbicara pada lautan. Jatuh terduduk membiarkan pasir mengotori pakaiannya. Air matanya masih mengalir.


Membiarkan dirinya menunjukkan sisi lemahnya pada lautan. Ia berharap sedikit saja bisa mengurangi beban hatinya. Penyesalan yang langsung datang saat melihat wajah sedih gadis yang dicintainya akibat ucapannya.


Sesungguhnya tadi malam, Evan ingin sekali berlari kembali ke ruangannya dan memeluk Lala, meminta maaf kalau perlu berlutut di kaki gadis itu atas apa yang diucapkannya namun akibat emosi yang menjunjung tinggi egonya membuat ia tetap melanjutkan langkahnya.


Evan bertahan masih bertahan duduk dipasir menatap lautan dengan tatapan kosong.


Handphonenya berbunyi dan terus berbunyi namun Evan seolah tuli dan tak memperdulikan itu. Dipikirannya penuh oleh Lala.


Di kantor...


Tiwi menatap heran pada meja kosong Lala, melirik jam tangannya dengan waktu yang menunjukkan hampir siang tapi meja itu tak berpenghuni. Berpikir Lala sedang di toilet Tiwi menghampiri ruangan direktur, melonggokkan kepala namun ia juga tak melihat Evan. Tiwi ke ruangan Rizky, kembali mengedornya dengan tidak berperikemanusiaan namun tak ada sahutan apapun dari dalam. Hening.


'Mungkin keluar bareng !' Pikir Tiwi bergegas pergi karena ia mulai merinding. Saat berbalik menuju lift Rizky sudah berdiri menjulang. Entah darimana munculnya cowok ini.


"Kyaaaaaaa !" Tiwi berteriak, kaget dengan kehadiran Rizky tiba-tiba.


"Eh penagih utang ada apa kemari ? Gak bawa apa-apa ?" Tanya Rizky seraya melirik kedua tangan Tiwi yang hanya membawa berkas.


"Memang kamu berharap aku bawa apa ?"


"Ya makanan enak. Apalagi !"


"Aku kesini mau minta tanda tangan bos. Dimana itu ketua geng ?"


"Oh, bos belum datang !"


"Apa ? Jam segini belum datang !"


Rizky menaikkan alis menatap Tiwi yang histeris.


"Trus ini gimana dong ? Kan aku mau minta tanda tangan kak Evan !"


Rizky meraih berkas dari tangan Tiwi dan membacanya dengan seksama.


"Bukannya bos melarang melanjutkan kerjasama ini !" Rizky ingat perkataan Lala betapa tampannya sang direktur.


"Eh, kok gitu ?" Tiwi protes.


"Bos sudah titip pesan ke Lala untuk memberitahu dirimu untuk membatalkan kerjasama dengan mereka karna jika tetap melanjutkan maka kalian para cewek tidak akan bisa konsentrasi menangani proyek ini karena terlalu terpukau sama direkturnya !" Rizky mengetuk dahi Tiwi.


Tiwi hanya memasang mimik protes, saat akan mengambil berkas dari tangan Rizky namun cowok itu malah mengacungkan tangannya tinggi-tinggi hingga Tiwi berjinjit kesulitan. Memukul lengan Rizky agar cowok itu mengembalikan berkasnya.


Telepon di meja Lala berbunyi, Rizky dan Tiwi menoleh bersamaan dan bertatapan. Telepon itu mati dan bunyi lagi begitu seterusnya hingga terus begitu.


"Memangnya Lala kemana ?" Tanya Tiwi. Kesal dengan dering telepon yang terdengar mengganggu itu.


"Dia juga belum datang !"


"Lho kok bisa ?"


"Meneketehe..!"

__ADS_1


Tiwi mencoba menelpon Lala, tersambung namun tak diangkat. Saat menelepon Evan, juga tersambung hanya tak diangkat.


"Ya ampun, kok kompak banget sih ini bos sama sekertarisnya. Gak diangkat-angkat !"


Rizky hanya mengedikan bahu tak berniat mengatakan yang sebenarnya kalau 2 orang itu mungkin sedang patah hati.


Telepon Lala berbunyi dan terus berbunyi, Rizky dan Tiwi tak berniat sedikitpun untuk mengangkatnya karna pasti merepotkan.


 


Lala masih terus berbaring menatap langit cerah dengan wajah pucat. Perkataan Evan yang sukar hilang dari ingatannya membuat ***** makannya hilang membuatnya tidak memakan apapun sejak pagi.


Lala ingat ini pertama kali ia melihat Evan semarah itu hingga mengeluarkan kata-kata menyakitkan dan menjadi pukulan berat untuk Lala.


Handphonenya berbunyi dan terus berbunyi entah siapa yang menelepon, Lala tak ingin mengangkatnya tak ingin siapapun menyadari betapa terpuruknya ia sekarang ini.


Sedangkan Evan, setelah seharian berada di pantai dengan perasaan kacau, ia memutuskan pulang. Ia pun tidak makan hanya minum, sulit mencerna makanan apapun dalam kondisi galau seperti ini.


Saat ia membuka pintu kamarnya, ia disambut oleh pemandangan tak biasa. Cleo disana tersenyum manis padanya dengan lingerie warna peach yang membuat tubuhnya terlihat amat seksi. Wanita itu berdiri dan menyambut Evan dengan senyum menggoda.


Namun Evan hanya terdiam dan berlalu ke kamar mandi membuat Cleo mengerutkan kening melihat reaksi Evan.


Evan sudah berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya saat Cleo memeluknya dan menciumnya. Evan mematung tidak menolak juga tidak menerima hingga ia menahan bahu Cleo yang mulai bertindak semakin jauh.


"Jangan, aku pusing banget Cle. Aku lelah sekali !" Ucap Evan menatap Cleo.


"Kamu gak kangen aku yank ?" Tanya Cleo menatap intens manik mata suaminya.


Evan terdiam cukup lama bingung seperti apa menanggapi pertanyaan Cleo.


"Maaf, aku capek banget. Aku benar-benar butuh istirahat !" Ucap Evan.


"Oke, istirahat aja yank !" Cleo mencium dahi Evan dan berbaring disampingnya.


Evan memejamkan mata dan langsung memunggungi Cleo yang merasa tingkah Evan makin lama makin aneh.


Cleo terdiam tidak menyangka akan mendapat reaksi seperti ini. Dia pikir Evan akan tertarik dan mereka bisa melakukan setelah sekian lama hingga akhirnya bisa membuat Cleo hamil.


Namun sepertinya Cleo harus menunggu lama, menunggu hingga perasaan Evan pada Lala hilang.


*****


Evan duduk di balkon kamar menatap hamparan hijau didepannya dengan mimik tidak fokus.


Hatinya terasa berat dan tidak enak membuatnya sulit melakukan apapun.


Evan menuju kamar mandi mengganti pakaiannya.


"Cle, aku pulang duluan, ada kerjaan yang harus aku kerjain. Kalau kamu nanti mau pulang juga aku akan suruh pak Karyo jemput kamu !" Belum mendengar balasan Cleo, Evan sudah berjalan keluar kamar. Cleo mengikuti Evan keluar kamar.


"Inikan hari Sabtu yank, masa hari libur tetap kerja !" Protes Cleo seraya memeluk lengan Evan. Tadinya ia berpikir mereka bisa menikmati hati libur dengan pacaran namun ternyata Evan lebih memilih bekerja.


"Ini penting, makanya harus aku selesain !" Jawab Evan. Mau tidak mau Cleo harus mengijinkan.


Setelah berpamitan dengan mertuanya, Evan menuju mobilnya. Sebelum memasuki mobil, Evan menatap Cleo tanpa bicara, membelai pipinya kemudian memasuki mobil dan segera melaju meninggalkan kediaman mertuanya.


Berusaha fokus pada jalanan didepannya, Evan sulit menghilangkan Lala dari pikirannya hingga Evan terkejut saat mendapati mobilnya berhenti tak jauh dari kost Lala.


Ditatapnya nanar rumah kost itu, meski tidak tahu kamar Lala terletak dimana namun Evan yang menatap rumah itu merasakan kerinduan yang besar pada Lala. Ingin mendengar suaranya, melihatnya tertawa dan juga memeluknya.


Evan segera pergi dari tempat itu saat matanya sudah memanas.


Kembali kerumahnya setelah hampir satu Minggu tinggal di rumah mertuanya.


"Eh, sudah pulang tuan !" Bi Rosnah menyambut.


"Iya bi, saya ke kamar dulu mau istirahat !" Pamit Evan menuju kamarnya.


Tapi Evan tidak menuju kamarnya tapi pergi ke ruang kerjanya. Setelah menguncinya, ia masuk dan merebahkan tubuhnya mengobati rindu hatinya dengan memandang foto Lala yang hampir menguasai seluruh tembok kamar itu.


"La, maafin aku. aku sayang sama kamu.sayang banget !" Evan memandangi foto-foto itu dengan Mimik sedih.

__ADS_1


"Aku janji gak akan ulangi lagi jadi maaf !" Evan kembali bersuara seolah Lala berada diruangan itu.


Tubuh Evan terasa melemah, wajahnya pucat karna tak mendapat asupan gizi sejak kemarin hingga pria itu terlelap dikasurnya.


Sedangkan Lala, gadis itu pun tak sama baiknya, hanya terus berbaring menatap kosong apapun. Bahkan saat ia memaksa makan tapi hanya bisa makan 2 suapan setelah itu kembali berbaring.


Meski begitu pikirannya tetap berjalan, mencoba terus berpikir bagaimana menghadapi semua ini dan mencari penyelesaiannya karna ia tidak yakin masih mampu menatap Evan setelah pertemuan terakhir mereka.


Saat itu sebuah pikiran datang di kepala Lala dan seketika membuat gadis itu terduduk dengan wajah pucat. Ia kembali menangis memikirkan solusi yang baru didapatnya.


'Tinggalkan Evan, mengundurkan dirilah !' Perintah otaknya.


Lala duduk, memeluk kedua lututnya, mencoba berpikir jernih. Jika dia pergi meninggalkan Evan maka rumah tangga Evan akan baik-baik saja dan dia tidak perlu terus merasakan patah hati setiap menatap Evan.


Kembali menangis saat ia berpikir itu adalah keputusan yang tepat, Lala memikirkan apa yang pertama harus dia lakukan.


Meraih handphone-nya dan membuka internet mencari tempat tinggal yang lain. Lala bergetar seperti sulit menerima solusi dari dirinya sendiri namun otaknya ikut menasehati bahwa ini adalah jalan satu-satunya untuknya dan juga demi keutuhan keluarga kecil Evan.


Ditempat yang baru, dia akan mencari pekerjaan lain walau tak sebagus sebagai sekertaris namun ia akan menjalaninya. Tabungannya masih cukup selama ia menganggur sampai mendapat pekerjaan baru.


*****


Hari Senin yang dinanti semua orang.


Evan dan Rizky tidak sengaja berpapasan saat memasuki kantor.


"Selamat pagi pak !" Sapa Rizky pada atasannya.


"Hem, pagi Ky !" Jawab Evan, berjalan beriringan seraya membalas sapaan karyawan pada mereka.


"Ky, aku dan Lala sudah putus !" Ucap Evan saat keduanya berada didalam lift, hanya mereka berdua.


Rizky tidak kaget mendengar itu. Sudah sejak kemarin ia duga, bahwa kedatangan Cleo siang itu akan berdampak buruk pada hubungan keduanya.


"Apa anda baik-baik saja bos ?" Tanya Rizky halus.


"Maksudmu !"


"Jika anda patah hati, makan anda tidak akan konsentrasi bekerja. Mau saya menghandel seluruh pekerjaan anda ?" Tawar Rizky membuat Evan menatap datar padanya.


"Aku ini baik-baik aja. Aku ini bukan ABG labil !" Sergah Evan. Rizky hanya mengangguk sambil menahan tawa.


"Oh ya pak, perusahaan kelapa sawit mengundur acaranya menjadi hari Rabu !" Lapor Rizky.


"Baiklah Ky, aku serahkan semua padamu !" Jawab Evan.


Saat sampai di lantai direktur, keduanya mendapati meja Lala kosong. Namun Evan berusaha terlihat cuek dan Rizky hanya menghela nafas melihat tingkah Evan sambil memasuki ruangannya sendiri.


Tadinya Evan semangat 45 menyambut hari senin, berharap bisa bertemu Lala. Melihat wajahnya agar mampu mengobati rindunya walau sedikit. Evan memejamkan mata saat memikirkan Lala hingga tanpa sadar ia terlelap.


sedangkan, Lala ia memaksa dirinya untuk makan banyak. Ia butuh tenaga ekstra untuk membereskan barang-barangnya. Semakin cepat ia pergi dari sini akan semakin bagus.


Rumah kost sudah dia dapat. Lala beruntung menelepon saat penghuni lama kamar kost itu telah pindah jadi sekarang kamar kost itu miliknya dengan letak rumah yang strategis dan harga yang terjangkau.


Saat sedang memasukkan barang-barangnya ke tas dan saat membuka laci mejanya kotak beludru navy menyambut tatapannya. Lala tertegun sesaat kemudian ia raih benda itu dan membukanya.


Cincin berlian no 3, cincin cantik pemberian laki-laki yang dia cintai setelah menjadi miliknya kini ia jaga sepenuh hati.


Lala menatap lekat cincin mewah itu. Seharusnya ia mengembalikan cincin itu pada Evan, seperti film-film roman. Saat sepasang peran utama berpisah maka si wanita mengembalikan barang pemberian si pria dan memintanya untuk melupakannya namun nampaknya itu tak berarti untuk Lala.


"Bolehkan aku menyimpan ini sebagai kenang-kenangan darimu !" Lala berbicara pada cincinnya seolah-olah berbicara pada Evan.


Diraihnya kalung di lehernya, dibuka pengaitnya dan melepas cincin dari rantai kalungnya. Menatap lekat cincin Evan, diciumnya cincin itu dengan linangan air mata.


Dimasukkan kembali semua cincin kedalam kotak dan menaruhnya dalam tas selempangnya.


Lala kembali beberes, sebagian besar pakaiannya sudah masuk dalam 2 tas dan sekarang pada tas terakhir untuk memasukkan barang-barang lainnya saat mata Lala membongkar baju kotornya, ia menemukan jas milik Evan yang dibawanya pulang sejak pertemuan terakhir mereka.


Air mata Lala luruh lagi, dipeluknya jas yang masih menyisakan parfum Evan itu, menangis tersedu-sedu meluapkan rasa kecewanya. Lala sadar perkataan kejam Evan tetap tak merubah perasaannya pada laki-laki itu. Cinta masih begitu kuat.


Diputuskan untuk membawa itu juga, biarlah menjadi kenangan untuknya.

__ADS_1


Setelah rampung, Lala berbaring kembali setelah menyisakan pakaian yang akan ia pakai keesokan harinya. Menatap sendu kamarnya yang telah menemaninya selama hampir 2 tahun ini. Pandangan Lala beralih pada langit malam dengan kerlap kerlip bintang seolah menenangkan hati Lala.


"Selamat tinggal kekasihku, sepenuh hati aku mencintaimu !" Ucap Lala pada langit malam dengan air mata yang kembali tumpah.


__ADS_2