Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
046


__ADS_3

Merasa terhina atas kelakuan penembak misterius itu membuat emosi Rizky naik. Ia ingin mendapatkan segera si penembak itu.


"Mulai sekarang fokus temukan Edi Gunawan. Secepatnya, aku menginginkan dia secepatnya !" Ucapnya lantang pada para detektif yang masih berdiri tidak percaya dengan 2 mayat yang tergeletak didekat kaki mereka.


"Baik !"


"Telepon polisi untuk membawa mereka !" Perintahnya lagi.


"Baik !"


Tatapan Rizky menajam menatap kegelapan dimana terakhir suara mobil penembak itu terdengar. Ia segera meraih Hp-nya dan menelepon Evan.


Sedangkan, Evan berada di balkon rumah sakit menatap gelap malam dengan Hp melekat ditelinganya mendengar dengan seksama kata demi kata yang diucapkan Rizky.


"Temukan laki-laki serakah itu dan jebloskan ke penjara. Dia benar-benar ancaman berbahaya sekarang !" Ujar Evan dengan mata memerah.


"Baik, bos saya akan menyewa beberapa detektif lagi untuk membantu menyelidiki keberadaan Edi !"


"Lakukan yang terbaik Ky. Cepat dapatkan orang itu sebelum keluargaku menjadi target selanjutnya !"


Evan mematikan sambungan telepon dan menatap tajam kegelapan malam.


"EDI !" Gumam Evan dengan gigi gemeletuk, emosinya memuncak. Dia tidak suka situasi seperti ini, ada nyamuk berisik terbang disekitar kepalanya membuatnya ingin menepuk nyamun itu hingga mati.


Sedangkan ditempat lain, seorang pria dengan gelas wine ditangannya sedang tertawa senang di apartemennya. Kemudian berjalan menuju balkon merasakan angin malam menerpa tubuhnya kemudian menyesap sedikit minumannya dan menatap hamparan jalanan yang membentang dibawahnya.


"Oh Evan, maaf aku mengirim orang-orang bodoh padamu tapi selanjutnya aku janji aku tidak akan ceroboh lagi dan akan langsung menghancurkanmu !" Ujarnya kepada langit malam kemudian tersenyum sinis.


Ponselnya berdering membuatnya menghela nafas dengan mimik malas. Tanpa melihat ia sudah tahu jika wanita berstatus istrinyalah yang menelepon karena sebelumnya bawahannya sudah melaporkan kedatangan istrinya dari luar negeri.


Telepon itu mati namun tak lama terdengar suara pintu masuk terbuka namun pria itu tetap cuek dengan menyesap minumannya.


"Sayang !" Terdengar suara lembut memanggilnya membuat pria itu hanya melirik malas.


Tak mendapatkan tanggapan wanita itu mendekat dan memeluk pria itu dari belakang.


"Sayang, aku kangen !" Ucapnya dengan memejamkan mata merasakan kerasnya otot punggung suaminya tapi dengan cepat pria itu melepas belitan tangan istrinya.


"Jangan pernah menyentuhku lagi !" Bentaknya dengan tatapan mata nyalang kemudian berlalu memasuki kamarnya dengan menutup pintunya kencang dan mengunci pintu tidak peduli dengan wanita itu.


Wanita itu begitu emosi diperlakukan seperti itu namun ia hanya bisa menghela nafas kasar, tanpa berpikir panjang segera pergi dari tempat itu.


*****


Keesokan harinya, Lala sudah boleh pulang namun harus selalu diawasi dan didampingi.


Evan mengambil seluruh barang-barang Lala di hotel dan check out kemudian membawanya ke rumahnya. Rumah yang dulu saat masih bersama Cleo. Saat bercerai, Evan berniat memberikan rumah ini untuk Cleo namun ditolak wanita itu dengan alasan ingin tinggal bersama orang tuanya saja. Evan pun sejak bercerai tinggal bersama orang tuanya dan rumah ini ditinggali para pembantunya yang nantinya mungkin akan ia sewakan atau sekalian dijual.


Lala awalnya menolak keinginan Evan untuk membawanya tinggal sementara dirumahnya dan tetap ingin tinggal di hotel namun Evan memberi pengertian untuk tinggal sampai Lala sembuh dan tak lama lagi ia akan kembali ke kota B setelah masa magangnya selesai


Para pembantu awalnya senang melihat kedatangan Evan yang lama tidak terlihat kini bingung saat melihat Evan yang datang bersama Lala. Mereka mengenal sekertaris itu namun terlihat bahwa Evan sangat perhatian pada Lala.


"Lala sedang sakit jadi dia akan tinggal sementara disini sampai dia sembuh !" Evan memberi pegumuman yang hanya diangguki oleh pembantunya. Lala nampak canggung tidak nyaman dengan suasana ini.

__ADS_1


"Bi, kedepannya tolong siapkan makanan bergizi untuk Lala. Sering buatkan sayur dan buah-buahan !"


"Baik tuan !" Bi Rosnah mengangguk hormat. Kemudian Bi Rosnah berlalu kedapur bersama pembantu lain bernama Surti seusia Lala serta anak perempuan Bi Rosnah, Ina.


Evan menuntun Lala menaiki tangga untuk memasuki kamarnya. Lala sedikit canggung berada di kamar Evan namun Evan bisa meyakinkan bahwa semua baik-baik saja.


"Aku mau ke kamar tamu aja !" Lala enggan tinggal di kamar Evan karena kamar itu adalah tempat bersejarah untuk Evan dan Cleo.


Evan menatap Lala dan mengangguk.


"Baiklah !" Evan menuntun Lala kembali menuruni tangga dan menuju kamar tamu di lantai 1.


Memasuki kamar yang cukup luas dan rapi itu, Evan membantu Lala berbaring dan duduk disampingnya seperti seorang ibu yang akan membacakan dongeng pengantar tidur untuk anaknya.


Evan membelai rambut Lala yang disambut tak nyaman gadis itu. Matanya menatap Evan dengan kening berkerut namun pria itu hanya cuek saja.


"Udah, gak enak sama yang lain kalau kamu lama-lama dikamar ini, nanti kita dikira ngapa-ngapain !" Lala berusaha menjauhkan kepalanya dari tangan Evan.


"Tidak masalah, mereka tidak akan berpikiran seperti itu !" Jawab Evan masih membelai rambut Lala.


"Tapi...!"


"Udah, sekarang pejamkan mata, nanti kalau kamu udah tidur baru aku keluar !" Ujar Evan.


Mau tidak mau Lala menurut, gadis itu memejamkan mata mencoba menikmati telapak tangan Evan dikepalanya hingga perlahan ia terlelap. Setelah terdengar dengkuran halus Lala, Evan menghentikan kegiatannya. Ditatapnya lama wajah terlelap itu, dicium keningnya dan beranjak keluar setelah mematikan lampu.


Evan menuju ruang kerjanya, menatap setiap foto Lala yang menguasai tembok kamar membuat Evan tertawa, merasa lucu bahwa Lala sekarang berada di rumah ini. Evan pun mematikan lampu kamar dan langsung tertidur meski masih jam 8 malam namun keduanya kelelahan dan mengantuk.


*****


"Cleo !"


"Ayu !"


Ucap keduanya bersamaan.


"Hei, apa kabar ?" Cleo sedikit berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya.


Wanita itu bernama Ayu, teman Cleo semasa SMP dan setelah lulus keduanya tak lagi menjalin komunikasi atau bertemu lagi namun setelah sekian lama mereka bertemu lagi dan pertemuan kedua itu saat pernikahan Ayu sendiri. Perempuan itu menikah dengan salah satu karyawan Evan dan setelah menikah Ayu tak lagi terdengar kabarnya.


Kini keduanya duduk disebuah cafe mini dengan memesan minuman saja.


"Ya ampun, kamu apa kabar ?" Tanya Cleo.


"Aku baik. Kamu bagaimana ?" Ayu balik tanya.


"Aku juga baik. Setelah menikah kamu tinggal dimana ?"


"Eum, aku sama suamiku sempat tinggal di Belanda tapi kami baru-baru aja balik kesini dan mungkin menetap permanen disini !"


"Oh ya, kalau begitu kita bisa sering jalan bareng !" Cleo sumringah yang disambut senyum oleh Ayu.


"Kami sendiri bagaimana ? Bagaimana dengan suamimu ? Kamu udah punya anak Cle ?"

__ADS_1


Cleo menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan itu.


"Aku dan suamiku sudah bercerai. Kami pisah baik-baik !" Cleo tersenyum membuat Ayu terkejut.


"Lho, kenapa Cle ?"


"Kami udah nggak cocok jadi ya gitu kami pisah baik-baik dan hubugan kami sekarang sebatas teman atau adik kakak !"


"Kamu sendiri ? Udah ada anak ?"


"Belum. Kami sepakat belum ingin anak !" Ucap Ayu pelan namun tangannya menggenggam erat ujung bajunya dibalik meja.


Keduanya ngobrol banyak hal tanpa sadar tak jauh seseorang sedang mengawasi keduanya dan bisa mendengar pembicaraan keduanya. Beracting seolah-olah sedang menikmati makanannya namun telinga orang itu tajam terpercaya.


Merasa cukup lama berbicara, keduanya memutuskan untuk kembali. Keduanya berpisah di lobi mall. Saling melambaikan tangan, Cleo berjalan menuju parkir mobilnya. Tinggallah Ayu yang menatap kepergian Cleo dengan menghela nafas lesu.


'Andai saat itu tidak terjadi' Batinnya berkata.


*****


Keesokan harinya, Lala terbangun dengan kondisi tubuh yang terasa cukup bugar. Menuju kamar mandi dan membersihkan diri, ia menuju meja makan. Saat melihat kedatangan Lala, Bi Rosnah tersenyum.


"Silahkan duduk nona !" Ucap Bi Rosnah.


"Ya ampun Bu, panggil aja Lala !" Ucap Lala seraya duduk dikursi.


Bi Rosnah memasuki dapur dan keluar membawa segelas susu serta diikuti anaknya dengan membawa nasi goreng untuk Lala.


"Evan mana Bu ?" Tanya Lala.


"Sudah berangkat kak !" Ina yang menjawab. Gadis yang baru berusia 15 tahun itu dan baru menginjak bangku SMA. Dengan ijin Evan, Bi Rosnah membawa anaknya yang berada di kampung untuk tinggal bersamanya dan melanjutkan sekolah disini.


"Benar La, tuan Evan sudah menitipkan pesan agar hari ini kamu harus istirahat total. Nggak boleh kemana-kemana !" Ujar Bi Rosnah membuat Lala cemberut dan menikmati makanannya.


Sedangkan dikantor, Evan dan Rizky terlibat pembicaraan serius tentang kejadian kemarin.


"Sepertinya Edi sekarang semakin waspada dan berbahaya. Dia memilih menghabisi bawahannya alih-alih menolongnya. Kita butuh rencana matang bos jika berhasil menemukan keberadaannya !" Ujar Rizky.


"Apa penembak itu melukaimu atau salah satu detektif itu ?"


"Tidak, dia hanya mengincar 2 orang itu kemudian kabur begitu saja. Dari caranya menembak dari jarak yang cukup jauh, dia benar-benar tidak bisa dianggap enteng !"


"Aku takut dia mengganggu keluargaku Ky !" Ucap Evan lesu.


"Saya akan menempatkan beberapa detektif untuk menjaga keluarga anda !"


Evan menatap Rizky lama kemudian beranjak dari duduknya dan menuju jendela kaca besar memerhatikan lalu lintas dibawahnya.


"Lebih baik, sekarang prioritaskan menemukan keberadaan Edi dulu !" Ucap Evan.


"Baik bos, para detektif yang kita sewa itu sedang menyelidik jejak keberadaan Edi dan saya juga mencoba mencari jejak keberadaannya !"


"Baiklah Ky. Teruskan !"

__ADS_1


__ADS_2