Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 115


__ADS_3

Aulia kembali kembali ke kamar pengantin sendirian dan melihat suasana kamar mewah yang indah dengan kelopak mawar yang bertebaran ditempat tidur membuat jantungnya berdegup kencang. Ia kemudian memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu keluar dari kamar mandi dengan menggendong gaun pengantinnya dan meletakkannya di sofa.


Aulia menuju kopernya dan meraih piyama lengan pendeknya dan mengenakannya, setelah itu ia naik ke kasur dan duduk disana seraya memainkan kelopak bunga mawar itu. Wajahnya memerah membayangkan apa yang akan ia lakukan bersama Benki nantinya.


Mengurangi rasa gugupnya, Aulia meraih remote tv dan mencari saluran yang menarik dan menonton film action.


Hingga beberapa waktu, pintu kamar terbuka dan memunculkan Benki. Pria itu masuk sambil tersenyum pada istrinya. Tanpa kata ia memasuki kamar mandi, setelah membersihkan diri ia keluar dengan hanya mengenakan handuk.


"Itu kak bajunya !" Tunjuk Aulia pada baju dan celana yang sudah ia siapkan di meja. Benki menatap pakaian itu sebentar aja.


"Gak perlu, toh nanti dilepas lagi !" Ucapnya dengan senyum mesum membuat Aulia merinding.


Benki naik ke tempat tidur, meraih remote tv dan mematikannya kemudian menarik Aulia agar lebih dekat dengannya. Dibelainya lembut pipi gadis yang debaran jantungnya sudah bertalu-talu kemudian mendekat dan menciumnya. Ciuman lembut itu sekejap melenakan keduanya, tangan Benki tidak tinggal diam, setelah dari pipi turun ke leher dan sampai di dada. Merasakan sesuatu yang bulat nan kenyal disana membuat tangan Benki otomatis meremasnya.


Aulia melenguh dan menahan tangan Benki didadanya namun tangan Benki malah menerobos masuk ke balik bajunya dan memainkan pucuk dadanya. Ciuman mereka semakin lama semakin menuntut, Benki membaringkan Aulia dan mengukungnya seraya melempar handuknya ke sembarang arah.


Pikiran Aulia kosong, apalagi saat melihat tubuh polos Benki yang membuatnya susah menelan Saliva. Perlahan Benki melepas pakaian Aulia satu demi satu hingga gadis itu polos seperti dirinya.


Ciuman Benki turun ke leher dengan tangan masih meremas serta meraba dada kenyal Aulia. Ciuman itu turun ke dada dan menyesap pucuknya bergantian sedangkan tangannya yang lain memainkan pucuk lainnya membuat Aulia menahan desahannya.


"Kak, geli !"


"Nikmatilah sayang !"


Ciuman Benki turun ke perut dengan tangan membelai kulit lembut Aulia membuat Aulia menggigit bibirnya akibat rasa geli yang diberikan Benki.


Kini Benki memposisikan pusat tubuhnya diantara kedua paha istrinya. Aulia melotot ngeri saat melihat pusaka suaminya yang berubah ukuran.


"Kayaknya gak muat deh kak !" Aulia takut.


Benki terkekeh kemudian kembali mencium istrinya.


"Tahan ya sayang, sakitnya cuma sebentar !" Benki mulai mengetuk pintu dan masuk.


Aulia melotot dan tubuhnya menegang seketika, kedua tangannya meremas erat bantal dan sprei.


"Kak, sakit !" Aulia menangis.


Benki yang baru setengah masuk seketika menghentikan aksinya melihat ketegangan Aulia. Ia kembali mencium lembut dengan tangan meraba lembut seluruh kulit istrinya.


"Rileks sayang, rileks !" Ucapnya kemudian ******* lembut bibir Aulia.


Saat merasakan tubuh itu mulai rileks, dengan sekali hentakan Benki mendorong miliknya hingga masuk sepenuhnya pada tubuh Aulia yang seketika terbelalak kaget dengan mata melotot, mulutnya menganga dengan mimik kesakitan.


Benki terdiam sejenak seraya membelai lembut wajah istrinya. Mencium kening, kedua pipi, hidung dan terakhir bibir hingga Aulia kembali rileks membuat Benki mulai memaju mundurkan tubuhnya.


Suara ******* seketika memenuhi kamar itu, 2 insan yang telah halal menikmati madu cinta dimalam pengantin mereka. Benki bergerak dengan tempo yang tepat dalam durasi lama hingga akhirnya keduanya mencapai puncak bersama. Benki merebahkan dirinya disamping istrinya seraya mengatur nafas.


"Terima kasih sayang, aku mencintaimu !" Benki meraih Aulia kedalam pelukannya.


"Aku juga kak !" Aulia balas memeluk Benki.


Keduanya berpelukan hingga terlelap bersama.


*****


Syifa menghela nafas kasar seraya menjauhkan Hp dari telinganya. Bryan masih tidak bisa dihubungi, entah apa yang dilakukan cowok itu hingga mengabaikan Hp-nya.


Syifa berjalan menuju balkon kamarnya, membiarkan angin malam menerpa tubuhnya dan menerbangkan rambutnya. Pikirannya selalu tertuju pada Bryan dan sekarang cowok itu tidak ada kabar membuatnya galau.


Selama sebulan ini keduanya melakukan pendekatan sebelum menikah, hampir setiap hari mereka bertemu entah jalan berdua atau makan siang bersama. Bryan melakukan itu agar sedikit banyaknya keduanya bisa saling mengenal dan setelah menikah nanti mereka tidak canggung.


Dan selama sebulan ini, seringnya pertemuan mereka yang semakin lama membuatnya tertarik dan nyaman pada cowok itu namun sekarang sulitnya Bryan dihubungi membuatnya resah dan gelisah.


Setelah kepergian Bryan ke negara P, maka rencana pernikahan otomatis diurus oleh pihak keluarga.


Hari berganti hari, Minggu berganti Minggu hingga tak terasa acara sakral Bryan dan Syifa akan diadakan besok bahkan Syifa sudah mengajukan cuti untuk pernikahannya jauh-jauh hari.


Syifa terduduk dikasurnya sambil terus menatap HP-nya, berharap Bryan akan memberinya kabar, tapi nihil. Cowok itu seakan hilang ditelan bumi dan Syifa amat malu bertanya pada keluarga Bryan.


Syifa menangis, selama 2 bulan ini ia melewati hari-harinya dengan begitu tidak bersemangat dan dipenuhi dengan rasa khawatir. Rasa rindunya pada Bryan sama besar dengan rasa galaunya.


'Apakah dia serius ingin menikah ?'


'Apakah dia berubah pikiran ?'


'Atau dia sudah bertemu yang baru disana ?'


Pikiran-pikiran itu membuat tangis Syifa semakin kencang.

__ADS_1


'Kamu dimana ?'


'Kenapa gak pernah kasih kabar ?'


'Apa kamu baik-baik aja ?'


Ia terus menatap Hp-nya, sangat-sangat berharap Bryan bisa memberinya kabar apapun itu yang bisa membuat hatinya sedikit tenang.


Syifa memutuskan keluar kamar hendak mengambil air minum dan saat melihat aktivitas yang terjadi disana dalam mempersiapkan hari esok dimana ijab kabul akan diadakan dirumahnya.


Syifa batal turun dan meminta kepada pembantunya agar membawakan air minum ke kamarnya.


Keesokan harinya, Syifa terbangun diwaktu subuh karena dibangunkan sang mama.


"Ayo mandi !" Perintah sang mama. Syifa menatap sendu pada mamanya yang terlihat semangat, ia tidak bisa mengatakan gundah hatinya dan langsung menuju kamar mandi.


Setelah melakukan shalat subuh, Syifa masih terdiam disajadahnya, air matanya kembali mengalir begitu mengingat Bryan apalagi hari ini mereka menikah tapi cowok itu...


Syifa segera menghapus air matanya saat terdengar ada yang mengetuk pintu dan memasuki kamarnya. Ia menoleh kemudian menatap nanar MUA yang akan mendandaninya itu.


"Kita mulai sekarang ya kak !" Ucap MUA itu.


Syifa mengangguk dan memposisikan diri dimeja riasnya sehingga MUA itu lebih mudah melakukan tugasnya.


"Ya ampun, kamu cantik sekali sayang !" Ucap sang mama saat memasuki kamar Syifa.


Syifa tersenyum manis pada mamanya, seharusnya ia juga merasa senang seperti mamanya tapi pikirannya bertanya dimana Bryan ? Sepertinya ia tidak akan tenang sebelum mengetahui keberadaan cowok itu. Apalagi ia tidak bisa mencurahkan isi hatinya bahkan kepada orang tuanya.


Kini Syifa telah siap dengan memakai kebaya pengantin Sunda berwarna putih. Ia terlihat begitu mempesona dari pantulan cermin itu, sekuat tenaga ia menahan air matanya agar tidak jatuh saat memikirkan bagaimana jalannya acara nanti.


Syifa kembali larut dari lamunannya yang selalu tentang Bryan. Seharusnya hari ini mereka berdua bahagia tapi mengapa seperti ini. Apakah hari ini dia akan menikah sendirian ?


"Saya terima nikah dan kawinnya Arsyifara Saputri dengan seperangkat alat sholat dan cincin berlian 25 karat dibayar tunai karena Allah Ta'ala !" Ucapan tegas dan nyaring itu seketika mengalihkan pandangan Syifa.


Apalagi saat kata SAH menggema kencang diluar sana membuatnya tidak percaya namun tak lama kemudian mamanya masuk dengan senyum manis dan memintanya ikut keluar.


Bisa ia lihat dengan jelas, pria yang selama 2 bulan ini membuat hatinya galau yang juga sekarang memakai pakaian yang serasi dengannya tersenyum manis padanya. Rasanya Syifa ingin menangis kencang seraya berteriak atau langsung saja mencakar-cakar wajah Bryan itu meski tak dipungkiri perasaannya jadi lega.


Setelah Syifa duduk disamping Bryan, penghulu meminta mereka memasangkan cincin masing-masing. Syifa mencium tangan Bryan yang dibalas ciuman dikeningnya.


"Apa kabar istriku ?" Bisik Bryan seraya tersenyum manis membuat Syifa menahan diri untuk tidak memukul pria ini.


Semua orang duduk santai sambil mendengar wejangan pak penghulu yang tidak jarang membuat tertawa setelah itu semua tamu yang mayoritas keluarga dan teman dekat dipersilahkan menikmati hidangan yang telah tersedia.


Bryan mengikuti langkah Syifa menuju kamarnya, meninggalkan para tamu yang masih berada disana.


"AAAAAAAAAAAAAA !" Teriakan Bryan dari kamar membuat semua orang terdiam dan menatap kamar Syifa yang tertutup.


"Aw, aw, aw sakit.. sudah dong, aw, aw, awwwww !" Jeritan Bryan terdengar lagi.


Semua orang saling pandang, sepertinya mereka memikirkan hal aneh.


"Oh, jangan khawatir. Mereka hanya melepas rindu, hehehehe !" Ucap Jerry.


"Maklum sudah 2 bulan gak ketemu !" Tambah Michael. Semua yang mendengar itu hanya mengangguk.


Sementara itu dikamar sang pengantin, begitu menutup pintu Syifa langsung memukul tubuh Bryan. Rasa gemas, jengkel, geram, rindu, cinta dan marah membaur jadi 1. Jadi sekarang ia melampiaskan perasaan geramnya yang menumpuk selama 2 bulan ditinggalkan tanpa kabar. Syifa tidak berhenti memukul, mencubit bahkan menarik-narik pakaian cowok itu, tak peduli erangan kesakitan dari Bryan.


"Udah, udah dong !" Bryan menangkap tangan Syifa yang tidak berhenti memukuli tubuh kekar itu.


"Harusnya aku ini dipeluk, dibelai-belai masa dipukuli !" Tambahnya.


"Kalau aku hilang 2 bulan gak kasih kabar ke kamu apa setelah ketemu lagi kamu mau belai-belai aku !" Semprot Syifa.


Kini Bryan mengerti mengapa gadis ini jadi bringas. Ditariknya tubuh itu dan dipeluknya erat meski Syifa memberontak sambil terus berusaha memukul tapi Bryan mempererat pelukannya hingga gadis itu terdiam.


"Maaf, aku benar-benar minta maaf. Aku disana benar-benar sibuk, benar-benar waspada. Saat aku punya waktu luang, aku lebih sering tidur kalau ada waktu luang jadi gak pernah hubungin kamu. Maaf !"


"Kamu tahu gak, aku gelisah setiap hari mikirin kamu. Aku selalu nunggu kabar kamu walau hanya sekali tapi kamu gak pernah kasih kabar !" Syifa mulai terisak seraya memukul punggung Bryan.


"Maaf, aku juga gelisah disana. Aku selalu mau tau kabar kamu tapi ya itu tadi aku sibuk, untuk pindah ke negara ini syaratnya banyak sekali jadi aku fokus dulu baru kemudian fokus ke kamu. Maaf !"


"Aku kangen banget !" Syifa memeluk erat suaminya.


"Aku juga, lebih kangen kamu !"


Keduanya berpelukan erat, melepaskan rasa gelisah juga rindu yang selama ini menggelayuti hati keduanya. Bryan memegang dagu Syifa membuat gadis itu mendongak. Sebuah ciuman lembut ia berikan kepada gadis yang kini berstatus sebagai istrinya.


Syifa tidak tahu saja, Bryan begitu kelimpungan saat hari pernikahannya semakin dekat bahkan saat pekerjaannya disana masih sangat banyak, ia begitu panik saat mendekati hari H dan langsung pulang meski pekerjaannya menumpuk. Bryan tiba dari negara P jam 5 subuh tadi dan langsung bersiap bersama adik, sepupu, paman dan bibinya.

__ADS_1


"Kita istirahat yuk, nanti malam harus ke hotel !" Ucap Bryan setelah melepaskan ciumannya yang hanya diangguki sang istri. Bryan langsung terlelap sedetik kepalanya menyentuh bantal.membuat Syifa menghela nafas melihat wajah lelah suaminya.


Malam harinya, Syifa menatap dirinya yang kini telah terbalut gaun pengantin berwarna cream dengan mahkota putih di rambutnya membuatnya tampil bagai putri raja. Ia sangat bahagia malam ini, ketakutannya sirna tak berbekas. Syifa terkesiap saat seseorang memeluknya dari belakang kemudian ia tersenyum manakala suaminya yang dibalut tuxedo hitam terlihat amat tampan.


"Aku tidak percaya bidadari ini adalah istriku !" Syifa tersipu mendengar itu.


"Aku juga tidak percaya pangeran negeri dongeng ini suamiku !" Balasnya membuat keduanya tertawa.


"Kak, udah waktunya. Ayo ke ballroom !" Suara cempreng Jerry merusak suasana syahdu itu.


Bryan melirik malas kearah Jerry yang mengganggunya. Keduanya pun menuju pelaminan dengan Syifa menggandeng lengan suaminya dengan senyum bahagia terpancar dari keduanya.


Para tamu mulai berdatangan berjalan menuju pengantin untuk memberi selamat pada keduanya.


Pasangan Evan dan Lala datang dengan senyum manis menuju kearah kedua mempelai.


"Selamat ya, semoga segera diberi momongan !" Lala memeluk Syifa.


"Amin, terima kasih, doa yang sama untukmu juga La !"


"Selamat Fa !" Evan mengulurkan tangan.


"Terima kasih kak !" Syifa menjabat tangan Evan.


"Selamat !" Evan beralih kearah Bryan yang tatapannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


"Terima kasih dan maaf atas yang pernah terjadi !" Ucap Bryan yang hanya diangguki Evan.


Tak lama pasangan Rizky dan Cleo muncul, Bryan menatap mantan kekasihnya lekat.


"Selamat ya Syifa, semoga bahagia se-la-lu !" Rizky menatap Syifa prihatin membuat gadis itu mengernyit.


"Terima kasih kak !"


Kini Rizky menatap Bryan dengan tatapan perang yang dibalas tak kalah beringas oleh Bryan.


Jujur saja, Evan dan Rizky begitu amat terkejut saat Syifa memberi mereka undangan pernikahannya dan membaca nama mempelai pria, gadis cantik nan lemah lembut itu menikah dengan Bryan membuat mereka bertanya-tanya.


'Bagaimana mereka bertemu dan jatuh cinta ?'


"Selamat ya Fa !" Cleo memeluk Syifa.


"Terima kasih Cle !" Syifa tersenyum manis.


"Selamat ya Bry, aku senang akhirnya kamu menemukan pelabuhan terakhir !" Cleo mengulurkan tangan seraya memeluk lengan Rizky.


"Terima kasih Cle !" Bryan hendak menjabat tangan tapi keburu disambar Rizky.


"Syifa itu cewek yang baik, lembut lagi. Apa salahnya sampai dapat penculik sepertimu !" Ejek Rizky sambil meremas tangan Bryan.


"Turut berduka cita untukmu Cle karena kamu dapat tuyul preman terminal seperti ini !" Balas Bryan sambil ikut meremas tangan Rizky hingga tangan keduanya memerah.


"Udah ih, lepas. Lepas !" Cleo memukul tangan keduanya.


"Udah ya, semua udah berlalu dan sekarang kita bahagia dengan jalan masing-masing oke !" Ucap Cleo meraba lembut lengan Rizky.


Rizky dan Bryan menghela nafas kemudian kembali berjabat tangan dan saling merangkul membuat Cleo dan Syifa tersenyum.


Setelah pasangan itu turun, pasangan pengantin baru Benki dan Aulia datang dengan wajah berseri sambil membawa kado yang cukup besar.


"Selamat ya Fa, turut bahagia untukmu, akhirnya sold out juga !" Ucap Benki.


"Thank you Ki !" Syifa menjabat tangan Benki.


"Selamat ya !" Ucap Aulia sambil memberikan kado itu kepada Syifa.


"Terima kasih Ul !" Keduanya berpelukan.


Jerry tampak mondar-mandir didepan pintu masuk, ia menoleh ke segala arah menanti kedatangan pujaan hati. Tak lama yang ditunggu datang membuat senyum Jerry mengembang, Tiara terlihat keluar dari lift dan menghampiri Jerry.


"Aku kangen !" Jerry langsung memeluk Tiara.


"Aku juga !" Wanita itu membalas pelukan Jerry.


"Ayo masuk !" Keduanya bergandengan menuju pelaminan.


"Selamat atas pernikahan kalian, oh ya kenalkan. Ini calon adik ipar kalian !" Cerocos Jerry saat keduanya berada didepan pengantin.


Bryan dan Syifa saling pandang kemudian menatap sejoli itu bergantian.

__ADS_1


"Selamat ya atas pernikahan kalian !" Tiara menjabat tangan Syifa dan Bryan.


"Terima kasih dan salam kenal !"


__ADS_2