
Jerry memasuki kamar kakaknya dan tidak didapatinya pria itu dikamarnya. Dia celingak celinguk mencari sang kakak, menuju kamar mandi tetap tak dilihatnya sang kakak.
"Kak.. kak !" Teriak Jerry namun tak ada sahutan.
Jerry menerka-nerka kemana Bryan pergi saat ini, salju sudah tak selebat kemarin, apa mungkin pria itu pergi jalan-jalan keluar ? Sepertinya tidak, karena biasanya Bryan akan mengajaknya jika ingin jalan-jalan. Jerry mengeluarakan Hp-nya dan mulai mengontak sang kakak saat pandangan matanya tertuju di meja yang berada tepat di jendela besar, Jerry menghampiri meja itu dan terlihat catatan kecil dari Bryan.
'Aku mau jalan-jalan dulu ke Indonesia'
Kalimat singkat itu membuat Jerry menghela nafas. Saat ia meletakkan catatan itu kembali, matanya melihat sesuatu di bangunan mewah museum itu di jendela kaca besar itu. Jerry bahkan menahan nafas saat berusaha memfokuskan penglihatannya dari jarak yang cukup jauh.
Mata Jerry menatap liar kamar Bryan dan meraih teropong di atas lemari pakaian kakaknya untuk melihat dengan jelas atas praduganya dan senyum sinis timbul di bibirnya. Segera saja ia mencoba menghubungi Bryan. Sialnya tidak aktif. Jerry pikir Bryan masih berada di pesawat.
Segera saja Jerry lari turun meninggalkan kamar Bryan dan menuju kamarnya sendiri dengan beberapa rencana dikepalanya.
Sedangkan Bryan yang menikmati gumpalan awan dari jendela pesawat, ia tersenyum saat pikirannya tertuju pada 1 wanita yang dirindukannya. Setelah belasan jam berada di pesawat akhirnya Bryan sampai juga di Indonesia. Pria itu segera menyewa kamar hotel untuk tidur, ia masih puyeng akibat jet lag dan memutuskan segera beristirahat. Tak lama ia terlelap saat kepalanya menyentuh bantal hotel.
Dan malam telah datang saat Bryan membuka matanya dan suasana kamar yang asing membuatnya berusaha fokus juga berusaha menetralkan fungsi tubuhnya.
Bryan segera menuju kamar mandi dan membersihkan diri kemudian turun ke lantai dasar untuk makan malam.
Setelah kenyang dan merasakan tubuhnya lumayan segar, Bryan segera menuju lobi hotel, menunggu sejenak dan memasuki taksi kosong.
"Apa kabar bro ?" Sapa Bryan. Tadi Bryan sempat menelepon sekertaris Michael dan wanita itu mengatakan jika sang bos lembur di kantor. Sungguh beruntung untuk Bryan.
Michael yang sedang fokus dengan dokumen didepannya seketika mendongak.
"Bry !" Sambut Michael antusias, beranjak dari duduknya dan memeluk sepupunya itu.
"Sendirian ?"
"Iya, Jerry sibuk sekali !"
"Bagaimana kabar papi dan mami ?" Bryan menanyakan om dan tantenya. Michael menghela nafas sebelum menjawab.
"Mereka baik-baik aja. Cuma kangen aja sama kalian berdua yang gak tau bagaimana kabarnya sekarang !" Mendengar itu Bryan tersenyum getir.
"Tunggulah sampai tujuanku tercapai, aku dan Jerry akan balik ke rumah papi dan mami !" Ujar Jerry, Michael hanya tersenyum mengangguk.
"Aku datang kesini untuk meminjam mobil untuk jalan-jalan !" Bryan mengadahkan tangan pada sepupunya, Michael berdecak jengkel saat Bryan merusak momen haru mereka dan tanpa kata lagi ia menyerahkan kunci mobilnya.
"Thanks bro !" Ucap Bryan kemudian meninggalkan Michael.
"Kamu gak pulang ? ini sudah malam lho ?" Bryan kembali melonggokkan kepala sebelum pintu ruangan Michael tertutup sempurna.
"Sebentar lagi !" Jawab Michael.
__ADS_1
"Awas ditemani neng Kunti yang cantik !" Setelah mengatakan itu Bryan pergi dengan tertawa terbahak-bahak membuat Michael kembali berdecak jengkel.
Kini Bryan sudah berada didekat rumah Cleo, ia memarkir mobilnya didepan rumah tetangga Cleo. Pria itu menatap liar ke lantai atas dimana kamar Cleo berada berharap Cleo melonggokkan kepala sebentar.
Namun saat masih asik dengan pikirannya, sebuah mobil berhenti didepan pagar dan tak lama Cleo mendekati mobil itu dengan wajah riang. Melihat itu Bryan terpaku, apalagi saat si pemilik mobil keluar dan membukakan pintu mobil untuk Cleo.
Bryan terhenyak, tatapan Rizky itu sarat akan perasaan cinta. Mobil Rizky berlalu dan Bryan mengikuti mobil itu dalam jarak aman hingga beberapa saat mobil itu berhenti disebuah mall.
Bryan memakai masker mengikuti langkah keduanya, hatinya terasa nyut-nyut melihat kemesraan keduanya, apalagi ekspresi wajah bahagia Cleo yang terlihat jelas membuat Bryan tak bisa berkata-kata lagi. Kedua orang itu merasa seolah dunia milik berdua, tidak peduli pada sekitar dan saling memandang dengan tatapan syahdu.
Lama dan sabar mengikuti pasangan yang terlihat dimabuk asmara itu hingga akhirnya Rizky menuju toilet dan Cleo menunggunya seraya menikmati es krimnya. Saat itulah Bryan menampakkan dirinya pada wanita itu seraya menatapnya dengan penuh kerinduan serta perlahan berjalan mendekati Cleo.
Bisa Bryan sadari bahwa Cleo membeku melihatnya, seolah melihat hantu mata Cleo ikut melotot tidak percaya dengan apa yang sedang berdiri didepannya itu.
Saat ia sudah berada tepat didepan gadis itu, tak bisa menahan diri lagi Bryan memeluk Cleo erat meluapkan semua kerinduannya pada wanita itu.
"Aku merindukanmu Cle !" Ucapnya seraya mengeratkan pelukannya menikmati aroma tubuh Cleo yang terasa enak. Bisa dirasakan tubuh yang dipeluknya menegang namun Bryan tetap terus memeluknya, merasakan suhu tubuh Cleo yang hangat, tidak peduli dengan sekeliling hingga netra Bryan melihat Rizky yang keluar dari toilet. Segera Bryan melepaskan pelukannya, memakai kembali maskernya dan berlalu begitu saja dari hadapan Cleo.
Berbelok, Bryan menyandarkan tubuhnya pada tembok dan mengintip interaksi Rizky dan Cleo. Dadanya kembali nyut-nyut saat menyadari Cleo menangis dan Rizky menggendongnya keluar. Meski Rizky dan Cleo sudah tidak terlihat namun Rizky masih setiap menatap titik terakhir keduanya terlihat dengan pikiran melayang jauh.
*****
Aulia sedang membersihkan sebuah kamar yang baru saja tamu yang menempatinya check-out saat Hp-nya bergetar, diraihnya benda itu dan dibukanya, senyum langsung tercetak di bibirnya saat tahu siapa yang mengiriminya pesan.
Aulia : Sedang bekerja. Kalau kakak sendiri sedang apa ?"
Benki : Sedang merindukan seseorang yang sedang bekerja disana !"
Aulia terkikik membaca itu, ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur empuk hotel dan membalas pesan Benki.
Aulia : Jangan dirindukan, rindu itu berat. Cukup Dilan aja yang rasakan. Kakak jangan.
Benki : Siapa Dilan ?
Aulia bangun dari posisi baringnya membaca balasan dari Benki, tersadar jika pria ini mungkin tidak pernah menontonnya.
Aulia : Dilan itu sebuah film kak. Kemarin sempat booming.
Benki : Oh.
Membaca balasan Benki membuat Aulia yakin, cowok itu tidak tahu menahu tentang film itu.
Benki : Rinduku tidak berat hanya membuatku tidak sabar ingin bertemu denganmu yang kurindukan.
Pipi Aulia bersemu merah membaca itu.
__ADS_1
Aulia : me too.
Benki : Hehehe😉. Oke Ra, lanjut aja pekerjaanmu, aku juga mau menghadiri rapat.☺️
Aulia memeluk Hp-nya seraya berputar-putar senang, Chat singkat dari Benki membuatnya merasa sangat bersemangat, membuatnya seketika lupa tujuan utamanya bersama Benki dan tanpa dia sadari dia sudah terjatuh dalam pesona dewa Yunani itu. Aulia tersenyum bahagia dan mengantongi Hp-nya kemudian kembali melakukan pekerjaannya.
*****
Tiara jengkel sekali, hari ini adalah hari pentingnya dimana ia akan datang untuk casting tapi dia malah bangun telat membuatnya langsung mengeluarkan omelan menyumpahi Rafly dengan sumpah serapah. Baginya ini semua gara-gara cowok itu yang kemarin selalu mencegahnya saat ia ingin pulang hingga ia bangun terlambat.
Dan sekarang mobilnya terjebak macet akibat sebuah kecelakaan yang terjadi sehingga semua mobil berhenti tak bergerak sama sekali dengan antrian panjang membuat klakson yang terdengar menjengkelkan dari berbagai arah akibat ketidaksabaran para pengemudi yang nampaknya juga banyak yang terburu-buru.
Tiara sendiri pun ingin sekali memaki-maki, beberapa kali ia melirik jam tangannya dan juga nampaknya mobil didepannya belum bergerak juga membuatnya sangat jengah dan ingin berteriak pada mobil-mobil didepannya yang menghalangi jalannya. Pikirannya kalut saat Hp-nya berbunyi.
"Halo bun, aku masih dijalan ini, didepan ada kecelakaan dan aku terjebak macet ini Bun. Tolong bantuin supaya aku masih bisa ikut casting !" Tiara memelas saat menelepon manajernya.
"Maaf Bun, aku benar-benar minta maaf !" Suara Cleo masih memelas saat mendengar suara marah manajernya.
Dan saat sambungan telepon terputus, Tiara melempar penuh emosi HP-nya kesamping ditambah bunyi klakson yang bersahutan membuat kepalanya terasa ingin meledak.
"Ini kapan sih baru selesai, itu mobil ambulan lama banget !" Teriaknya didalam mobil.
"Arrrghhhh !" Tiara frustasi dengan terus melirik jam tangannya yang memberi tahu bahwa dia sudah telat.
Cukup lama menunggu akhirnya para mobil bergerak membuat Tiara bernafas lega, ia pun memacu mobilnya lebih cepat dan menyalip sana sini membuatnya mendapatkan klakson amarah dari pengguna jalan lain namun Tiara tidak peduli dan fokus pada kemudinya hingga ia sampai di perusahaaan besar itu.
Setelah memarkir mobilnya, Tiara langsung berlari memasuki gedung itu. Berlari dan menengok kesana kemari mencari keberadaan manajernya saat dilihatnya seseorang melambaikan tangan padanya, Tiara langsung berlari cepat dan memasuki ruangan itu beserta manajernya.
"Maaf, saya terlambat !" Ucapnya dengan nafas amburadul.
"Tidak apa-apa, silahkan !" Tiara amat girang mendengar itu.
Tiara masih mengatur nafas saat semua mata mengarah padanya, setelah dirasa sudah siap,ia langsung mengambil posisi dihadapan para juri, ia kembali menarik nafas agar lebih rileks dan mulai memperlihatkan kemampuannya kepada para juri, memegang Snack rasa keju itu dan berakting sedang memakan Snack terenak di dunia. Setelah selesai ia menunduk hormat pada ketiganya. Pria yang tadi menyambutnya sekarang bertepuk tangan dengan keras membuat Tiara tersenyum malu.
Saat tatapannya tertuju pada pria yang berada ditengah yang diapit seorang wanita dan pria yang berbicara tadi. Aura pria itu sungguh berbeda, tatapan matanya yang tajam serta penampilannya yang terlihat berselera tinggi dan jangan lupakan wajahnya yang setara dengan dewa Yunani itu seketika membuat desiran halus menelusup ke hati Tiara, sekejab ia terpana dan sulit untuk mengalihkan pandangannya.
"Baiklah, dalam beberapa hari kami akan memberikan jawaban. Kami akan mendiskusikannya terlebih dahulu !" Mendengar suara sang direktur membuat Tiara serasa meleleh.
"Oh ya, siapa namamu ?" Benki melirik kearah Tiara.
"Angel Mutiara !"
"Nama yang cantik secantik orangnya !" Pria disebelahnya kembali bersuara membuat Tiara tersipu malu.
Kemudian sang manajer undur diri dan meminta para model untuk keluar. Saat berada diluar gedung, Tiara memandang gedung besar itu dengan perasaan takjub. Senyum tercetak dibibirnya saat membayangkan ia bisa menjalin kasih dengan direktur tampan tadi dan jika itu benar terjadi maka langkahnya menuju impiannya bisa dengan mudah terwujud, dia sangat yakin direktur perusahaan ini akan sangat mudah membantu impiannya. Tiara memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan gedung itu dengan senyum senang.
__ADS_1