
Tiara melotot tidak percaya saat manajernya memberi kabar bahwa dia terpilih dalam model iklan makanan ringan itu. Selanjutnya, ia melompat-lompat kegirangan, rasa bahagia tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata.
"Kamu harus tampilin kemampuanmu yang maksimal, oke. Jadi karirmu kedepannya bisa lebih cemerlang. Ini perusahaan besar jadi pasti buat iklannya gak main-main !" Ucap sang manajer.
"Pasti Bun, aku janji gak akan nyia-nyiain kesempatan emas ini !" Tiara senang sekali.
"Harus seperti itu, karena ini perusahaan besar jadi kemungkinan iklan ini juga akan tampil diluar negeri karena Snack yang akan kamu bintangi bakal diekspor keluar negeri juga !"
"Serius Bun !"
"Serius cinta. Jadi tampillah sempurna dan maksimal. Oke !"
"Oke Bun, pasti. Aku jadi gak sabar !" Tiara memeluk sang manajer. Rasa senangnya sekarang ini melimpah ruah.
Dan juga pikirannya melayang pada sang direktur utama, Tuan Ben. Sebenarnya sang manajer sendiri yang memanggilnya seperti itu sebelum Benki memberitahu nama panggilannya dan kini Tiara juga ikutan memanggil dengan nama yang sama.
Super tampan juga super mapan seorang tuan Ben serta usianya yang masih muda mampu dengan cepat membuat Tiara melupakan Rafly, si pemaksa itu.
Tiara kembali membayangkan, jika saja ia berhasil menjadi pacar direktur utama itu maka dia yakin pasti dia akan sangat bahagia. Tuan Ben pasti bisa memenuhi semua kebutuhan dan apapun keinginannya membuat Tiara tenggelam dalam pikirannya hingga ia senyum-senyum sendiri.
Kemudian gadis itu berdiri didepan cermin, menatap dirinya sendiri dari ujung kaki hingga ujung rambut, seketika tersenyum melihat betapa "sempurnanya" dia. Sudah cantik sejak lahir dibarengi dengan tubuh yang aduhai hasil perawatan mahalnya selama ini membuatnya yakin bisa mendapatkan tuan Ben.
"Aku akan mendapatkanm tuan Ben !" Niat Tiara dengan semangat berkobar.
Tiara meraih Hp-nya dan menelepon Aulia.
"Halo, ntar malam jalan yuk, aku lagi senang. Oke !" Tanpa mendengar jawaban Aulia, Tiara langsung memutuskan sambungan telepon.
Sementara itu, Aulia menarik nafas panjang saat Tiara mematikan telepon. Padahal malam ini Benki mengajaknya jalan-jalan bersama namun sepertinya ia harus menolak itu. Diketiknya pesan kepada Benki dengan berat hati karena sejujurnya ia pun ingin jalan-jalan bersama pria itu namun apa daya Tiara lebih penting.
Aulia pulang kerumahnya saat melihat pintu rumahnya terbuka lebar membuat Aulia seketika senang.
"Ibu !" Teriaknya didepan pintu.
"Waalaikumsalam !" Sindir sang ibu yang sedang duduk menonton televisi sambil memotong sayur tanpa menoleh kearah Tiara.
"Eh iya, Assalamualaikum. Ibu, aku kangen !" Aulia langsung duduk memeluk ibunya dari belakang.
"Ibu kapan sampai. Kenapa gak telpon Aul jadinya bisa Aul jemput !"
"Kamu kan lagi kerja, ibu gak mau menganggu kamu, lagian ibu bisa sendiri kok !"
"Kangen !" Aulia kembali memeluk ibunya erat.
"Sudah, sudah. Ibu sesak ini. Itu ada kue bolu di meja makan buat kamu !"
Mendengar itu Aulia memekik girang, segera mencium pipi ibunya dan langsung menghambur ke meja makan menikmati kue bolu kesukaannya.
Malam itu, Tiara benar-benar menjemput Aulia, mengajaknya ke sebuah mall dan meneraktirnya shopping. Meski Aulia sudah tegas menolak dan hanya ingin jalan-jalan saja dengannya namun Tiara juga ngotot ingin membelikan banyak barang untuknya.
__ADS_1
Dan sekarang keduanya sedang duduk di sebuah resto cepat saji. Aulia menatap nanar beberapa paper bag yang berada didekatnya. Ia tidak enak karena Tiara buang-buang uang untuknya.
"Ini semua mahal banget Ra !" Aulia merasa tidak enak.
"Santai aja lagi, bagiku itu semua uang receh !"
Mendengar itu Aulia menganga, gadis kaya itu amat santai bicara. Taukah dia jika uang sebanyak itu amat berarti untuknya. Aulia tadi mengingat jelas, nominal hampir sepuluh juta dari mulut kasir tadi untuk semua gaun, sepatu dan tas ini membuatnya geleng-geleng kepala.
"Tapi Ra....!"
"Udah deh, biasa aja. Terima aja. Aku berhasil lulus casting dan bentar lagi jadi model iklan untuk perusahaan gede. Jadi aku seneeeeeeng banget. Jadi terima aja !" Tiara memelototi Aulia.
"Oke, tapi ini yang terakhir ya. Jangan lagi beliin yang seperti ini !" Aulia menatap nanar benda-benda mahal itu.
"Kenapa ?"
"Aku yakin bakal jarang pake karena mahal jadi harus disimpan supaya gak cepat rusak !" Kilah Aulia.
"Oke... oke !" Tiara mengalah dan sejenak keduanya fokus pada makanan masing-masing.
"Eh, tau kah. Waktu aku casting di perusahaan gede ini, aku lihat direktur utamanya tu. . . Cakeeeeeppppp sekaleeeeee !" Tiara lebay.
"Oh ya ? Secakep apa ? Ari Wibowo ?" Aulia antusias.
Tiara menatap aneh pada Aulia.
"Lebih cakep, pokoknya ini cowok cakepnya mantap jiwa !"
"Jelas, cakep gitu, direktur perusahaan salah satu terbesar di Indonesia. Siapa gak naksir !" Tatapan Tiara menerawang jauh mengingat tuan Ben.
"Kamu kan gak boleh punya pacar !" Ucap Aulia seketika menghancurkan bayangan indah dipikiran Tiara.
"Boleh, yang penting gak ketahuan !" Tiara mendelik pada Aulia.
"Siapa namanya ?"
"Tuan Ben !"
"Nah, ini si Ben kan direktur perusahaan gede, ganteng pula seperti kamu bilang tadi pasti banyak yang mau jatuhin seperti dari saingan bisnisnya. Jangan sampai tau kamu pacaran sama tuan Ben dan langsung jadi berita hot !" Aulia menakuti. Berhasil, Tiara tampak mrmikirkan ucapan Aulia.
"Aku akan mendapatkan dia diam-diam !" Ucap Tiara serius membuat Aulia melongo.
Keduanya kembali melanjutkan menikmati makanan masing-masing disertai obrolan ringan, Tiara mulai menceritakan cara apa yang akan dia lakukan untuk mendekati tuan Ben.
*****
Disebuah restoran steak, Bryan sedang menikmati steak sapi Australia spesial saat dilihatnya Evan memasuki restoran bersama seorang gadis namun Bryan tidak memperdulikan gadis itu, ia hanya fokus menatap Evan dengan tatapan yang sulit diartikan.
Beruntung posisi duduk Evan membelakangi Bryan dan tubuh Evan menutup penuh gadis yang bersamanya dari pandangan Bryan.
__ADS_1
Entah bagaimana Bryan sekarang menggambarkan perasaannya, dimana ia menggoda istri pria itu juga ia hampir ingin mencelakai Evan meski akhirnya semua telah jelas namun rasa bersalah itu masih mengganjal Bryan, ingin sekali ia mendatangi dan meminta maaf langsung pada Evan tapi mungkin tidak sekarang.
Pikiran Bryan buyar saat teleponnya kembali berbunyi, sang adik tercinta muncul di layar HP-nya. Bryan mengenakan maskernya melewati Evan yang nampak serius berbicara dengan gadis didepannya dan langsung menuju toilet. Memasuki bilik paling ujung, menutup closet dan mendudukinya.
"Ada apa Jer ?" Sambut Bryan.
………....………………
"Apa ? Kamu yakin ?" Wajah Bryan mengeras.
………....………………
"Oke, secepatnya aku balik kesitu !" Ucap Bryan kemudian mengacak-acak gemas rambutnya sendiri.
Otak Bryan berputar cepat, memikirkan apa yang akan dilakukannya saat mendengar laporan Jerry tadi. Bagaimanapun juga hal ini harus segera ia tuntaskan agar fokusnya tidak selalu terbagi, juga ia pun ingin semua ini bisa cepat selesai.
Bryan keluar dari bilik toilet dan hendak mencuci tangannya. Saat ia melihat cermin, ia terlonjak kaget melihat wajahnya sendiri. Dada Bryan berdebar-debar karena kaget, rambutnya yang acak-acakan membuatnya terlihat sedikit menakutkan, sedetik kemudian ia tertawa geli menyadari kebodohannya. Bryan segera mencuci tangan dan meraih tisu untuk menyeka tangan basahnya seraya berjalan keluar dari toilet.
Hingga saat seseorang hampir menabraknya membuat Bryan kembali terlonjak kaget, gadis itu memekik kaget dan seketika limbung ke belakang. Bryan bisa melihat gadis itu menutup mata rapat saat akan terjatuh namun dengan cepat Bryan meraih pinggang gadis itu dan menariknya.
CUP.
Bryan membeku seketika, saat sebuah kecupan mendarat mulus di pipinya, tanpa sadar ia pun mengeratkan pelukannya di pinggang gadis itu. Bisa dia rasakan, tubuh yang dipeluknya juga mematung.
CIEEEEEEEE.
Suara ledekan itu menyadarkan kedua orang yang tidak saling kenal namun mesra itu.
"Maaf, saya gak sengaja !"
"It's oke !"
Keduanya berpandangan, sejenak Bryan terpaku saat melihat jelas wajah gadis didepannya. Aliran darahnya seolah berhenti dan sistem sarafnya terasa dihentak sesuatu yang menghubungkan kesemua organ tubuhnya kemudian disusul perasaan getaran aneh yang membuatnya merasa berada ditengah lautan tanpa arah dan tujuan.
"Kamu tidak apa-apa ?" Tanyanya berusaha menormalkan keanehan tubuhnya.
"Eh, oh iya. Saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong saya !" Ucap gadis itu sopan, suaranya yang lembut kembali membuat Bryan mematung sekejab.
"Oke, kalau begitu permisi !" Pamit Bryan berlalu pergi, debaran jantungnya semakin tidak bisa dikondisikan.
Bryan memasang maskernya kembali sambil berjalan dan sebelum berbelok, tanpa sadar Bryan kembali menoleh kearah gadis tadi dan gadis itu tersenyum manis saat pandangan mata keduanya bertemu, dan Bryan merasakan aliran listrik dari bekas kecupan gadis itu di pipinya membuatnya cepat berlalu pergi.
Dan saat hendak keluar, pandangan tertuju pada meja Evan dimana Cleo berada disana, pandangan keduanya tidak sengaja bertemu, bersamaan terdiam dan Bryan berlalu keluar berusaha tidak menarik perhatian Evan dan Rizky yang sedang berbicara.
Sementara gadis cantik nan lembut bernama Syifa itu, menunduk saat merasa menginjak sesuatu. Diraihnya benda itu dan diperhatikannya sambil memasuki toilet. Setelah selesai dan ia berdiri di wastafel, mencuci tangan kemudian kembali memerhatikan kalung ditangannya. Terlihat mahal dan berkelas.
Syifa tersentak, seharusnya ia tadi langsung pergi mencari pria tadi dan mengembalikan kalung itu, namun karena kebelet membuatnya lalot(lambat loading). Syifa berlari kecil dan memerhatikan setiap pengunjung yang ada namun tidak didapatinya pria tadi.
Ingin keluar tapi Evan memperhatikannya membuat Syifa memutuskan menyimpan kalung itu dan kembali ke mejanya kembali bercengkrama dengan Cleo.
__ADS_1
'Semoga suatu hari nanti bisa ketemu lagi !' Doanya dalam hati.