
Tibalah Hari dimana Lala harus kembali ke kota B. Evan amat enggan melepas kepergian Lala namun gadis itu ngotot ingin kembali dahulu ke kota B dan memikirkan baik-baik apa yang ditawarkan Evan, baik masalah pekerjaan juga lamaran Evan yang aneh.
"Ya udah, aku bisa urus pengunduran dirimu dari perusahaan itu jadi kamu bisa tinggal santai disini !" Ucap Evan.
"Gak bisa, aku harus ngomong sendiri sama pak bos Benki agar terkesan aku juga menghargai dia !" Tolak Lala langsung.
"Ya biar aku yang mewakili kamu untuk bicara sama dia, oke !" Evan masih berusaha membujuk.
"Nggak, oke. Tolong mengertilah, ini semua terlalu cepat jadi aku butuh waktu untuk mikir bagaiman baiknya !"
"Mengundurkan diri dan kembali kesini disampingku. Itu keputusan yang tepat !"
"Tapi gak sekarang, nanti disaat yang tepat karena kerjaanku disana banyak dan gak bisa ditinggalin gitu aja !"
Evan mengalah, jika terus berbicara maka Lala pun akan terus membantah ucapannya jadi mau tidak mau dia hanya bisa mengabulkan keinginan gadis itu.
Menaiki mobil travel dan akan merasakan lagi perjalanan berjam-jam lamanya. Lala menatap nanar pada Evan yang menatap datar padanya.
Lala melambaikan tangan lemah pada Evan saat mobil travel mulai meninggalkan halaman perusahaan Evan diiringi tatapan datar Evan dan senyum Rizky.
"Hati-hati dijalan !" Pesan Rizky.
"Iya !"
Evan terus menatap hingga mobil itu hilang dibelokan. Air mata Lala jatuh menetes saat mobil mulai berbelok. Hatinya sungguh tidak rela meninggalkan Evan lagi. Jujur, dia masih ingin berada disamping laki-laki itu namun ia sadar dengan posisinya yang memiliki tanggung jawab ditempat lain.
Sedangkan Evan masih setia berdiri diposisinya meski mobil travel yang membawa Lala telah hilang menjauh. Laki-laki itu sekuat mungkin menahan tangis saat membiarkan Lala pergi begitu saja.
"Anda bisa menyusul kapanpun anda mau bos !" Ucap Rizky yang hanya disahuti helaan nafas oleh Evan.
'Pasti, jangan harap aku akan melepaskanmu lagi La' batin Evan seraya tersenyum.
Malam telah datang dan setelah melewati perjalanan sekian jam, akhirnya Lala tiba di kost-nya yang telah dia tinggalkan 2 Minggu lebih. Suasana langit yang nampak hitam pekat tanpa bintang-bintang terasa akan hujan. Bahkan tidak terlihat seorangpun yang berada diluar, semua berada di kamar masing-masing.
Lala memasuki kamarnya dengan perasaan rindu, masih sama persis saat ia tinggalkan kemarin, hanya saja kini kamarnya lumayan berdebu. Lala menghela nafas dan mulai membersihkan kamarnya serta meletakkan pakaiannya di keranjang kotor serta menyusun pakaian bersihnya di lemari. Saat meletakkan kotak beludrunya, Lala memerhatikan berlian no.3 miliknya, tersenyum karena tidak pernah memakainya selama berada di kota J. Lala beralih menatap tangan kanannya. Cincin hitam yang tinggal 1 sebab yang satunya telah kembali ke pemiliknya.
Setelah semua selesai, Lala membaringkan tubuhnya dikasur dan langsung terlelap akibat rasa lelah.
Keesokan harinya saat Lala terbangun ia mendengar suara Fajar yang menggoda para gadis yang berada di warung mang Ujang, Lala beranjak dan mengintip dibalik gorden tersenyum menatap cowok genit itu yang mengeluarkan sederet rayuan gombalnya.
Lala pun segera bersiap memakai pakaian kerjanya dan duduk sejenak menonton televisi menikmati acara gosip pagi. Saat dirasa jam kantor telah lewat dan yakin Fajar telah berangkat ke kantor. Lala pun beranjak dari tempatnya mematikan tivi dan meraih tasnya untuk berangkat kerja.
Setelah sampai Lala terdiam senyum-senyum tidak jelas. Satpam yang memerhatikan pun bingung. Lala memejamkan mata dan menarik nafas seraya tersenyum.
"Wah, kantor. Kau masih sama seperti 10 tahun yang lalu !" Ujar Lala. Satpam yang mendengar itu sejenak melongo kemudian hampir meledak tawanya. Laki-laki itu menundukkan wajahnya dengan dada bergetar menahan tawa.
'memang 10 tahun lalu dia kerja disini'. Seperti itulah kira-kira pikiran pak satpam.
Lala melangkah memasuki kantor, tersenyum ramah pada sekitar dan langsung menuju lift. Semua yang berpapasan dengannya banyak yang melongo melihat pegawai satu ini yang datang kekantor seenak jidat saat yang lain datang tepat waktu. Meski ia sekertaris direktur utama namun disiplin adalah hal utama dalam peraturan perusahaan dan itu berlaku juga untuk sang direktur utama.
Lala keluar selangkah dari lift. Lantai direktur amat tenang dan damai, Lala mengendap-endap menuju ruangan Benki terlihat pria itu sedang menatap laptopnya dengan kening berkerut, seperti dia melihat perselingkuhan kekasihnya dengan kakeknya. Namun saat menatap Hp-nya, senyum cerah menghiasi bibirnya. Benki mengutak-atik alfabet HP-nya dengan Senyum tidak luntur membuat Lala mengerutkan kening.
Kemudian Lala beralih ke ruangan Fajar namun cowok itu tidak ada. Lala memutuskan masuk keruangan Benki dengan gaya kucing agar Benki tidak menyadari keberadaannya. Lala mengintip sejenak dan melihat sebuah cake coklat yang terlihat amat lezat disamping Benki membuat liurnya menetes. Dengan sangat hati-hati Lala meraih kue itu dan menariknya dengan cepat. Benki melirik sekilas namun kembali fokus ke laptopnya.
Setelah dirasa aman, Lala menuju rak buku tinggi yang berada diujung ruangan. Duduk disamping rak itu dan menikmati cake coklat Benki seraya menikmati pemandangan luar atau terkadang Lala melirik kearah Benki yang selalu tersenyum mesra menatap Hp-nya.
Suara derap sepatu terdengar melangkah masuk membuat Lala kaget dan semakin menyembunyikan tubuhnya disamping rak.
"Tuan, ini berkas yang harus anda tanda tangani !" Ucap Fajar.
"Eh, mana kueku ?" Perhatian Benki justru teralih pada cake coklatnya yang lenyap dari meja.
"Kue apa ?" Tanya Fajar. Namun Benki malah menatap menuduh padanya.
"Eh, bukan saya !" Bantah Fajar langsung saat menyadari tatapan itu.
__ADS_1
"Kalau bukan kamu lalu siapa ? Yang dari tadi keluar masuk ruangan ini hanya kamu ?"
"Hantu kali !"
"Mana ada hantu makan kue. Ayo ngaku !" Desak Benki.
"Nggak, saya gak ambil !"
"Ngaku nggak !"
"Nggak !"
Perseteruan keduanya memanas saat Lala telah menghabiskan cake itu dan menggeser piring cake itu seraya membersihkan mulutnya dengan tangan.
"Surprise !" Lala langsung lompat memperlihatkan dirinya membuat Benki dan Fajar memekik kaget dan melotot melihat Lala.
"Eh, ada hantu gentayangan ?" Pekik Fajar.
Benki menatap Lala dari ujung rambut hingga ujung kaki. Laki-laki itu kemudian mendekat dan meraih remahan di kemeja putih Lala dan ia tahu apa itu. Benki kemudian merangkul leher Lala dan memitingnya.
"Waaa... Waaa... Waaa !" Teriak Lala merasakan geli dan sakit pada lehernya.
"Itu kue mau banget aku makan malah dicuri ini Kucing garong !" Semprot Benki masih memiting leher Lala dengan gemas.
"Maaf.. maaf...ampun.. geli !" Lala meringis seraya tertawa. Sedangkan Fajar hanya tertawa geli melihat itu.
Akibat mencuri milik direktur utama maka Lala dihukum. Mau tidak mau Lala yang harus membeli kue itu di toko kue langganan Benki yang letaknya cukup jauh dari kantor namun Benki tetap ngotot agar Lala yang membelinya dengan menggunakan uang gadis itu.
1 jam kemudian Lala kembali dengan ngos-ngosan seraya membawa kotak kue ditangannya yang disambut senyum kemenangan oleh Benki. Anggap saja sambutan selamat datang untuk Lala yang baru kembali dari Medan perang, hehehe.
Benki dan Fajar menikmati cake coklat itu bersama dengan nikmat membiarkan Lala yang masih ngos-ngosan menatap sebal pada mereka berdua.
"Apa ? Mau protes ? Siapa suruh nyolong kue bos jadinya aku terciprat rejeki juga. Hehehe !" Fajar meledek membuat Lala ingin menjambak cowok itu.
"Eh, aku jadi kasihan sama yang culik. Dia nyulik orang paling merepotkan di dunia !" Ucap Fajar membuat Benki terkekeh membuat Lala ingin mencincang keduanya.
"Apa penculik itu menyakitimu ?" Benki kembali ke mode serius.
"Tidak pak, penculik itu adalah teman magang dulu jadinya dia tidak melukaiku !" Jawab Lala serius. Benki dan Fajar saling pandang.
"Lalu bagaimana penculik itu sekarang ?" Tanya Fajar.
"Dia sudah meninggal, dia dikhianati anak buahnya sendiri !" Jawab Lala.
"Sudahlah, lupakan kalau itu mengganggumu !" Ucap Benki membuat Lala mengangguk.
"Bagaimana hasil selama magang di perusahaan PT. Samudera Api ?" Tanya Benki.
Ekspresi gadis itu berubah, Lala menatap sedap-sedap ngeri padanya namun pria itu pura-pura polos.
"Entahlah, saya disana lebih banyak bersenang-senang !" Jawab Lala menatap sebal pada bosnya.
Mendengar itu Benki hanya mangut-mangut.
"Oh ya. Nanti malam datang kerumah untuk makan malam. Orang tuaku mengundang kalian juga !"
"Eh, ada acara apa ?" Tanya Lala semangat.
"Cuma makan malam biasa !" Jawab Benki.
"Oke deh !"
*****
Malam telah datang, Lala memakai setelan andalannya yaitu kemeja pink lengan panjang yang dilipat hingga siku serta celana kulot coklat pudar dengan rambut ekor kuda menyempurnakan penampilannya. Dia bukan pemeran utama malam ini jadi memakai pakaian apa saja pasti tetap oke.
__ADS_1
"La, ayo !" Suara teriakan Fajar terdengar dari balkon kamar cowok itu. Lala segera meraih tas, mematikan lampu dan menyambar sepatu kets putihnya.
Fajar yang melihat kemunculan Lala langsung menstarter motornya saat Lala berlari kearahnya dan langsung naik ke jok belakang tanpa aba-aba membuat Fajar hampir limbung.
"Eh kunyuk, naiknya pelan-pelan bisa gak ? Jangan bikin kaget, kalau aku jantungan bagaimana ?" Semprot Fajar dengan mata melotot bengis.
"Ya kerumah sakitlah !" Jawab Lala enteng.
"Apa kau bilang !" Fajar esmosi.
"Udah, udah ih. Kita ditungguin bos tuh !" Lala menggucang kedua bahu Fajar agar cowok itu berhenti marah dan fokus pada perjalanan mereka.
Motor Fajar berlalu dan berhenti tepat di rumah Benki, Lala langsung memasuki rumah dengan memberi salam sedangkan Fajar memasukkan motornya ke garasi sebelum menyusul Lala masuk.
"Kalian udah datang, ayo duduk !" Sapa mama Benki saat melihat Lala dan Fajar muncul.
Lala menatap meja makan yang sudah lengkap dengan peralatan makan juga berbagai macam jenis hidangan lezat. Tadinya ia pikir bisa membantu menyiapkan ini semua namun ternyata semua sudah siap.
Tak lama terlihat gadis cantik muncul dari dapur berjalan kearah meja makan sambil membawa hidangan ditangannya dengan hati-hati. Lala menatap gadis cantik itu dari ujung kaki hingga ujung rambut yang terlihat memukau malam ini.
"Oke Tante, ini yang terakhir !" Ucap Tiara tersenyum pada mama Benki. Fajar dan Lala saling pandang.
Pandangan Tiara terarah pada 2 orang yang baru datang dan tersenyum manis pada keduanya.
"Kamu sudah kenal Fajar dan Lala, kan Ra ?" Tanya mama Benki yang dijawab gelengan kepala oleh Tiara.
"Fajar ini asisten Benki dan Lala adalah sekertaris Benki !" Jelas mama Benki.
"Dan ini adalah Tiara, calon istri Benki !" Ucap mama Benki pada Fajar dan Lala membuat Tiara tersenyum malu.
"Salam kenal !" Ucap Fajar dan Lala bersamaan.
"Salam kenal juga !"
Papa Benki muncul dan langsung duduk di kursi utama dan mama Benki duduk disisi kanan suaminya. Tak lama, Benki datang bersama Melati adiknya dan tersenyum pada Tiara yang terlihat cantik dan anggun malam ini dengan gaun putih tanpa lengan selutut.
Fajar dan Lala menyapa Melati namun sang bos malah acuh dan fokus pada calon istrinya sendiri.
"Ayo semua duduk !" Ucap sang mama. Benki dan Tiara duduk disamping kiri diikuti oleh Fajar dan Melati dan Lala duduk disamping sang mama.
Makan malam dimulai dengan cukup heboh karena makanan yang terasa sangat lezat hingga membuat berbagai macam pujian keluar dari mulut masing-masing
"Eum, masakan kamu memang enak Tiara !" Puji calon mertua yang membuat calon menantu tersenyum senang.
"Terima kasih Tante !" Jawab Tiara.
"Mulai sekarang jangan panggil Tante, panggil aja mama, kamu kan sebentar lagi jadi menantu mama !" Tegas mama Benki. Mendengar itu, Tiara salah tingkah apalagi semua mata menatap kearahnya.
"Iya, terima kasih ma !" Tiara menjawab sopan.
"Kalau begini, mama gak sabar menunggu hari pernikahan kalian. Apa lebih baik kita percepat jadi Minggu depan ?"
Semua yang mendengar itu nyaris tersedak dan dengan kompak meraih gelas air masing-masing.
"Ma, biarin Benki dan Tiara saling kenal dulu. Kalau masalah pernikahan gampang tapi tidak secepat itu juga !" Ujar Benki.
"Oke deh, oke. Mama serahin keputusan ditangan kalian berdua !" Ucap sang mama membuat calon pasangan itu tersenyum manis.
Makan malam kembali tenang namun ditengah-tengah itu terlihat jelas beberapa kali Tiara melirik kekanan dan kiri. Sangat sering Tiara meraih Hp-nya dan seperti mengirim atau menerima pesan dari seseorang yang terlihat rahasia. Gadis itu juga berusaha terlihat normal dan anggun dengan mata lebih fokus pada HP-nya. Ia berusaha menikmati makanannya meski tanpa kentara gadis itu tidak nyaman dengan keadaan sekitar.
Jika mama Evan bertanya tentang diri Tiara maka gadis itu akan berpikir terlebih dahulu dan menjawabnya dengan hati-hati dan terlihat sering mengintip HP-nya sebelum menjawab pertanyaan orang tua Benki.
Entah apakah Benki menyadari keanehan itu karena sejak tadi hanya senyum manis yang ia perlihatkan saat menatap calon istrinya. Tanpa kentara, Tiara juga tampak menjaga jarak dari calon suaminya meski ia berbicara atau menjawab pertanyaan Benki dengan sopan dan lagi mata melirik kearah HP-nya, segera meraih benda itu jika melihat notifikasi pesan masuk. Lala dan Fajar saling tatap dengan tatapan bertanya-tanya.
"Ada apa dengan Tiara ?"
__ADS_1