Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 070


__ADS_3

Hari ini Tiara akan bertemu lagi dengan Benki untuk membicarakan iklan yang akan segera dilakukan proses syutingnya. Tiara antusias sekali akan bertemu dengan tuan Ben lagi. Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi jika dia berhasil menjadi pacar tuan Ben.


Tiara mematut dirinya di cermin, kembali menelisik penampilannya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Ia tersenyum puas melihat usahanya sejak tadi yang ingin tampil sempurna. Dress pink diatas lutut tanpa lengan, rambut ikalnya terurai indah dan make-up ala KPop semakin membuatnya memukau.


"Say, yuk. Udah waktunya berangkat !" Tegur sang manajer.


"Oh, iya Bun !" Tiara segera meraih tasnya dan mengikuti sang manajer.


Setelah sampai, Tiara kembali menatap kagum pada gedung yang menjulang sombong didepannya, kembali berpikir betapa bangganya ia jika berhasil memacari sang direktur.


Dengan senyum berarti, Tiara melangkah masuk bersama manajer disusul staf mereka dibelakang.


Saat pintu lift terbuka sekertaris direktur menyambut mereka dengan ramah. Tiara pun sempat tertegun melihat gadis didepannya dan menelisiknya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sekertaris itu begitu cantik juga memukau, rambut coklatnya, pakaiannya dan caranya berbicara menunjukkan bahwa gadis itu berselera tinggi.


Sedikit khawatir hinggap pada diri Tiara, bahwa kemungkinan tuan Ben menyukai sekertarisnya yang cantik ini, apalagi mereka setiap hari bertemu yang berkemungkinan besar menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka. Para tamu berjumlah 6 orang itu mengikuti Lala memasuki ruangan Benki.


"Silahkan !" Ucap Lala seraya membuka pintu ruangan direktur, tutur katanya yang halus lembut serta senyum ramahnya semakin membuat Tiara was was.


Senyum Tiara mengembang saat Benki bergabung dengan mereka di sofa bersama asistennya yang sejak tadi menatapinya namun tidak dipedulikan oleh Tiara, fokusnya hanya pada sang direktur utama yang lagi-lagi terlihat super tampan dengan semua barang mahal nan bermerek menempel pada tubuhnya.


"Silahkan duduk !" Ucap Benki membuat Tiara semakin klepek-klepek.


Pembicaraan dimulai dengan ucapan terima kasih sang manajer karena memberi kesempatan pada salah satu model papan atasnya untuk menjadi model iklan di perusahaan besar ini kemudian dilanjutkan pembicaraan mengenai konsep iklan.


"Berhubung ini adalah rasa keju maka, lebih baik kita memberi latar dengan warna kuning oranye jadi terkesan ceria !" Ucap Benki


"Itu bagus bos dan juga kita tunjukkan tempat penghasil singkong dan kentang serta penghasil keju dimana ini akan mendobrak kemapanan iklan kita !" Ucap Fajar membuat Lala tertawa tertahan.


Asisten itu mendelik pada sekertaris yang hanya dibalas cibiran oleh sekertaris itu. Meski sebenarnya para tamu pun ingin ikut tertawa namun mereka berusaha keras untuk menahannya.


"Boleh juga, itu akan memperlihatkan betapa berkualitasnya produk kita !" Ucap Benki yang membuat Fajar senyum penuh kemenangan dan menatap Lala dengan sebelah alis terangkat. Sombong.


Pembicaraan berlanjut tentang hal-hal apa saja yang harus dikuasai oleh Tiara juga tips-tips yang diberikan kepadanya dalam mendalami peran yang akan dijalaninya nanti.


"Baik tuan Ben, bagaimana pun konsepnya kami akan melakukan yang terbaik dan tidak akan mengecewakan anda !" Ucap manajer Tiara mantap.


"Baiklah, kami serahkan pada kalian. Tolong beri kami hasil yang terbaik !" Ucap Benki.


"Pasti tuan, jangan khawatir !"


"Baiklah, pemotretan dan syuting akan dilakukan Minggu depan dan selama itu tolong jaga kondisi tubuh anda. Bagaimanapun anda harus tampil maksimal !" Ucap Fajar tegas pada model cantik itu.


"Baik !" Tiara tersenyum manis membuat sang asisten ingin pingsan.

__ADS_1


Detik berikutnya, tatapan Tiara kembali terarah pada sang direktur dan ketika pandangan mereka bertemu, Tiara tersenyum manis yang juga dibalas senyuman oleh Benki membuat tingkat percaya diri Tiara semakin tinggi.


"Silahkan dinikmati !" Ucap si sekertaris mempersilahkan para tamu menikmati hidangan yang telah disiapkan.


"Terima kasih !" Ucap sang manajer dan semuanya menikmati apa yang berada di meja.


Setelah itu, para tamu undur diri dan akan bertemu lagi Minggu depan. Lala kembali mengantar mereka hingga memasuki lift.


"Terima kasih !" Ucap Tiara.


"Sama-sama !" Balas Lala.


Setelah melihat interaksi sang direktur bersama kedua bawahannya, Tiara yakin tidak ada yang terjadi antara keduanya, justru menurut Tiara si sekertaris lebih cocok bersama asisten tadi. Ya Tiara yakin itu, ia tersenyum dan bernafas lega dengan pikirannya sendiri.


*****


Tiba-tiba saja Aulia dan beberapa temannya dikirim ke hotel cabang di Bali untuk membantu menghandel beberapa pesta besar yang akan diselenggarakan disana. Pemberitahuan ini datang karena dengan tiba-tiba membludaknya bookingan hotel untuk berbagai macam perayaan, dari ulang tahun, anniversary pernikahan orang-orang kaya juga pesta perusahaan yang pastinya akan membuat pegawai disana kewalahan menangani itu semua maka diperlukan bantuan tenaga yang akhirnya Hotel disini mengirim beberapa pegawai mereka ke Bali.


Mendengar itu pun beberapa yang ditugaskan juga memekik senang.


"Nanti kalau sudah selesai jam kerja kita bisa jalan-jalan ke pantai !" Ucap Isa.


"Betul, kita juga bisa kunjungi-kunjungi tempat yang bagus disana !" Sambung Ana.


Mendengar semua itu, Aulia senyum saja. Padahal ia sudah punya rencana bersama Benki untuk pergi nonton tapi apa daya hal itu harus ditunda dulu. Padahal jika boleh memilih pasti Aulia tidak akan ikut ke Bali.


"Eh, lupa ya. Kita sehabis bantu-bantu disana langsung pulang jadi gak ada waktu untuk jalan-jalan !" Seperti biasa, Veni merusak suasana. Ketiga gadis yang sudah membayangkan hal apa saja yang ingin dilakukan saat di Bali. Ketiganya sontak berhenti berbicara, menoleh kearah Veni dengan tatapan mencincang.


"Ya udah, berarti itu tugas tambahan untukmu supaya kita-kita bisa jalan keluar !" Ana melotot.


"Maksudmu kunyuk !"


"Nanti kita mau jalan-jalan, jadi kamu tinggal di hotel jagain supaya kita gak ketahuan !" Tambah Isa.


"Eh, enak aja Lo. Aku juga mau keluar jalan-jalan !" Semprot Veni.


"Oh, tidak bisa. Kamu kan teman yang baik jadi tinggal aja di hotel bantu kami supaya kita tidak ketahuan jalan-jalan keluar !" Ucap Irma dengan wajah sendu yang dibuat-buat membuat Veni berdecak jengkel.


"Gak mau, aku juga mau jalan-jalan keluar. Mau ke Pantai, siapa tahu aja aku bisa ketemu artis luar negeri yang lagi liburan di Bali !" Mata Veni menerawang membuat yang lain saling pandang.


"Jangan deh, nanti kita ikat dia trus kurung di gudang !" Bisik Ana pada keduanya dengan volume suara mengalahkan orkestra dangdut.


"Jangan, bagusnya dibagasi mobil hotel aja. Lumayan kan walau diikat dia tetap masih bisa jalan-jalan !" Bisik Irma dengan Volume yang sama.

__ADS_1


Semua tertawa mendengar itu terkecuali Veni yang menatap mereka dengan aura membunuh. Langsung saja dia menerjang Ana, Isa dan Irma, menarik bajunya, rambutnya atau mencekiknya namun keempatnya malah tertawa. Aulia yang masih tegak berdiri tertawa geli melihat mereka, tak dinyana Veni menariknya hingga posisinya juga terduduk dengan mereka, tertawa geli melihat penampilan mereka yang sudah acak-acakan karena Veni.


"Kalian sedang apa ?" Indri muncul bagai jelangkung. Sontak kelimanya langsung berdiri. Indri mengerutkan kening melihat penampilan mereka.


"Kalian boleh pulang sekarang karena besok kita akan berangkat jam 11. Jadi silahkan pulang istirahat dan mempersiapkan kebutuhan kalian !" Ucap Indri kemudian melenggang pergi.


Kelimanya saling pandang dan berjalan beriringan mengambil tas dan pulang bersama.


Malam harinya, Aulia mengepak barang sambil bertelepon dengan Benki. Dengan berat hati Aulia harus memberitahu cowok itu jika janji mereka harus batal.


"Maaf ya, aku harus ke Bali selama seminggu !" Ucap Aulia lesu.


"Hah ? Seminggu ? Kenapa lama sekali ?" Pekik Benki.


"Iya, disana selama seminggu itu full banyak acara dari orang-orang kaya, jadinya hotel disana butuh bantuan tenaga !" Jelas Aulia.


"Maksudnya ?" Benki tidak mengerti.


Seketika Lala menutup mulutnya, merutuki dirinya yang keceplosan. Dengan cepat otaknya berpikir sambil jalan mondar-mandir.


"Itu, ada pemotretan di Hotel Bali sekalian aku juga diundang di acara-acara penting. Banyak model gak bisa ikut jadinya kerjaan mereka aku juga yang ambil makanya aku lama disana !" Jelas Aulia hati-hati, keringat sudah memenuhi keningnya.


"Kenapa harus minta bantuan tenaga ? Kenapa gak sekalian aja rekrut model baru atau cari model lain yang lebih berpengalaman, jadinya kan lumayan kurangin pengangguran dan gak ngerepotin orang lain !" Omel Benki membuat Aulia tertawa. Gadis itu bernafas lega saat Benki percaya ucapannya.


"Udah, Minggu depan ayo jalan-jalan. Oh ya, sekalian ajak keponakanmu 3A !"


"Eh, nggak. Aku gak mau direpotkan bocah-bocah nakal itu. Kita aja berdua, jangan ada yang lain !" Tolak Benki langsung kembali membuat Aulia tertawa.


"Lho, malah seru kalau ada mereka. Suasana bakal jadi rame banget. Hehehe !"


"No.. no.. no. Cukup kita berdua aja, gak boleh ada yang ganggu !" Ucap Benki tegas.


Sejenak keduanya terdiam, Aulia seolah tidak tahu harus berkata apa lagi saat mendengar Benki hanya ingin jalan berdua dengannya saja.


"Ra, kamu masih disitu !" Suara Benki menyadarkan Aulia.


"I.. iya. Ya udah, aku lagi beres-beres baju ini, besok harus berangkat jam 11. Minggu depan kita ketemu ya !"


"Oke, ya udah kamu beres-beres baru istirahat supaya besok segar !"


"Oke !" Aulia langsung memutuskan sambungan telepon dan berjingkrak-jingkrak sambil memeluk dan mencium Hp-nya. Ia amat senang saat Benki peduli padanya.


Sementara itu, Benki menatap layar HP-nya yang baru saja terputus panggilan. Ia tersenyum dan meletakkan benda itu di nakas dan mulai membaringkan tubuhnya ditempat tidur, matanya menatap langit-langit kamarnya membayangkan wajah Aulia yang ia kenal sebagai Tiara saat sebuah ide muncul dipikirannya membuat ia tersenyum dan memejamkan mata hingga ia terlelap.

__ADS_1


__ADS_2