Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
039


__ADS_3

Lala terpana mendengar ucapan Benki, terdiam dengan masih berusaha mencerna apa yang dikatakan sang bos.


"Apa pak ?" Tanyanya masih tak percaya.


"Lakukan saja ini perintah !" Jawab Benki. Sedangkan Fajar yang berada diantara mereka hanya terdiam.


"Tapi kenapa tiba-tiba begini pak ?"


Benki menghela nafas, melirik kearah Fajar.


"Pihak PT. Samudera Api menawarkan kerjasama yang saya pikir sangat menguntungkan dan berhubung kamu sudah tahu seluk beluk mereka maka sepertinya kamu orang yang pas untuk membantu melakukan penelitian disana !" Jelas Benki.


"Tapi pak.....!"


"Apa kamu mencampur adukkan pekerjaan dan perasaan ?"


"Apa karena Evan, maka profesionalismu hilang atau kamu tidak bisa menolak pesonanya ?"


"Hah ?" Lala menganga.


"Jadi kamu bisa kan, meneliti dan mencari tahu lebih jauh tentang kerjasama yang mereka tawarkan. Setelah itu kembali kesini, serahkan pada Fajar dan semua bisa berjalan sesuai keinginan dan mendapat keuntungan yang besar tanpa hambatan. Apalagi kedua perusahaan ini amatlah besar dan sangat selektif dalam menerima kerjasama. Jadi bagaimana ? Kamu bersedia ?" Benki menatap tajam mata Lala.


"Baiklah !" Putus Lala akhirnya.


"Siapkan apa perlu kamu bawa, kamu berangkat 2 hari lagi !" Ucap Benki.


"Baik pak. Permisi !" Jawab Lala lemah kemudian keluar ruangan. Benki dan Fajar saling melirik dan menghela nafas.


"Anda yakin tuan ?" Tanya Fajar.


"Ya, cepat atau lambat dia harus menyelesaikan masalahnya supaya kedepannya dia bisa move on dengan pria lain. Aku percaya takdir berjalan sebagai mana mestinya, menempatkan kita dalam jalan yang tepat !" Kata Benki membuat Fajar terdiam dan menghela nafas.


Sedangkan Lala, ia terduduk di mejanya dan menatap layar komputernya dengan tatapan kosong.


Pertemuan tiba-tiba pada Evan cukup membuat perasaannya seperti diterjang tsunami yang membuatnya kacau balau dan sekarang Benki memerintahkannya untuk menangani proyek yang ditawarkan pihak Evan pada Benki yang artinya ia harus kembali bertemu dengan Evan dalam waktu 2 Minggu.


*****


Malam telah datang dan sekarang Evan dan Syifa kembali makan malam bersama di restoran hotel bintang 5, sejak kencan terakhir mereka kedatangan pengganggu membuat Evan dan Syifa tak leluasa untuk mengobrol.


Selesai makan malam, Evan mengajak Syifa menuju alun-alun tepi pantai yang menjadi tempat tongkrongan anak muda yang bisa mendengar deburan ombak seraya menikmati jajanan setempat.


"Mau kelapa muda ?" Tawar Evan.


"Boleh kak !"


Setelah memesan Evan mengajak Syifa duduk di dahan pohon yang tergeletak begitu saja di pasir yang memiliki penerangan cukup baik dari gerobak-gerobak penjual jajanan itu.


Evan meletakkan jaket di punggung Syifa agar meminimalisir rasa dingin yang gadis itu rasakan kemudian ikut duduk disampingnya.


"Terima kasih kak !" Syifa tersenyum manis pada evan yang mengangguk.


Keduanya terdiam menatap ombak yang bersahutan dengan pikiran masing-masing.


"Fa....!"


"Iya kak ?"


"Apa kamu menerima perjodohan ini ?"


Syifa terdiam, jujur saja ia memang tertarik pada Evan.


"Iya kak !" Jawaban Syifa itu membuat Evan menoleh padanya.


"Apa kamu sudah punya rasa padaku ?"


"Em.. Ng.. emm !" Syifa jadi bingung, tapi dia yakin dia tertarik pada Evan.


"Fa, sebenarnya aku mencintai orang lain bahkan sejak aku masih bersama Cleo, aku pun sudah bersamanya jadi bisa dibilang aku selingkuh !" Mendengar itu Syifa kaget dan menatap Evan tidak percaya.


"Tapi saat itu, keadaan mendukung maksudnya aku dan Cleo sepakat pisah baik-baik jadi aku pikir tidak salah memulai hubungan dengan orang lain tapi ternyata semua hal tidak bisa berjalan sesuai keinginan kita, tiba-tiba dia ninggalin aku agar rumah tanggaku dengan Cleo bisa kembali utuh dan awet !"


"Saat dia pergi tanpa pamit, aku benar-benar seperti orang gila, gak siap ditinggalkan apalagi saat itu aku lagi sayang-sayangnya sama dia !"


Ucapan Evan terjeda saat kelapa muda pesanan mereka datang.


"Satun tahun lebih akhirnya aku ketemu dia lagi, aku pikir setelah ditinggalkan begitu saja aku bisa membuang perasaanku dan move on tapi ternyata aku salah, perasaanku justru semakin kuat dan sepertinya aku mau mendapatkan dia lagi !"

__ADS_1


"Jadi maaf Fa, aku gak bisa lanjutin perjodohan ini. Aku gak mau nyakitin kamu, kamu cewek yang baik pantas untuk dicintai tapi maaf bukan aku orangnya !" Evan menatap nanar pada Syifa yang mematung menatapnya.


Evan meraih batok kelapa dari tangan Syifa dan meletakkannya dibawah kemudian meraih tubuh Syifa untuk memeluknya.


"Maaf Fa, maaf banget !" Suara Evan bergetar.


"Tidak apa-apa kak, terima kasih sudah jujur !" Setelah sekian lama terdiam akhirnya Syifa bersuara dan balas memeluk Evan.


Cukup lama berpelukan, dengan Evan yang meluapkan rasa tidak enaknya, keduanya melepaskan diri dan Evan kembali menyerahkan kelapa muda pada Syifa.


"Siapa namanya kak ?"


"Lala, dia mantan sekertarisku !"


Syifa terkejut.


"Apa yang kakak suka darinya ?"


Evan tampak berpikir.


"Dia punya senyum yang indah, dia juga sopan entahlah mungkin lebih tepatnya aku jatuh cinta tanpa alasan !" Evan mengerutkan kening karena ucapannya sendiri. Syifa tersenyum mendengar itu, meski merasakan kecewa namun ia bisa mengatasi perasaannya.


"Kalau kamu Fa ? Sebelum bertemu denganku apa kamu punya pacar ?" Tanya Evan. Syifa menggeleng.


"Aku dari kecil kerjanya belajar terus kak, dikeluargaku pendidikan itu penting jadi aku tidak pernah pacaran. Itu kenapa aku bersedia dijodohkan !" Jelas Syifa membuat Evan mengganggukkan kepala.


"Maaf Fa, maaf banget, perjodohkan kita gagal !"


"Tidak apa-apa kak, terima kasih sudah mau jujur !"


"Suatu hari kamu akan bertemu dengan pria yang baik karena kamu pun cewek yang baik !"


"Amin !"


Keduanya melanjutkan obrolan tentang diri masing-masing, sesekali tertawa dan saling meledek hingga malam cukup larut. Keduanya memutuskan pulang dan Evan mengantar Syifa sampai depan rumahnya.


"Terima kasih kak !" Ucap Syifa pada Evan.


"Fa, untuk sekarang kita jangan bicara apa-apa dulu pada orang tua kita. Pelan-pelan aku akan bicara pada mamaku !"


"Oke kak. Kalau gitu duluan ya !" Syifa turun dari mobil melambaikan tangan pada Evan yang mulai menjalankan mobilnya, tetap berdiri hingga mobil Evan berbelok.


Saat teringat ciuman kecelakaan itu, wajah Syifa memerah. Itu adalah pertama kalinya mencium seorang pria, Syifa menggeleng-gelengkan kepala malu dan segera memasuki rumahnya.


Lain Evan lain Rizky, sejak hari itu Cleo seolah menghindarinya. Rasa malu akibat kelakuannya sendiri membuat Rizky biasa tersenyum sendiri.


Seperti saat ini, Rizky mencoba menelepon Cleo setelah berkali-kali Cleo mengabaikan panggilannya. Cleo sendiri pun hanya menatap Hp-nya yang berdering kencang memunculkan nama Rizky dilayar.


Cleo menutup wajahnya seraya menggelengkan kepala saat mengingat ia dengan berani mencium Rizky. Kenapa dia bisa seberani itu ?


Cleo ingat Bryan sudah menciumnya dan membuatnya merasakan sebuah gelenyar aneh dan dia pun ingin tahu apa dia akan merasakan hal itu juga saat bersama Rizky, maka ia berani melakukan hal itu pada cowok itu.


Cleo terkejut saat Hp-nya berdering lagi, Rizky menelepon lagi dan mau tak mau dia mengangkatnya.


"Halo !"


"Kamu lagi apa Cle ?"


"Lagi santai aja !"


"Aku kangen kamu Cle !"


Cleo terdiam, dia pun juga merindukan Rizky tapi tidak mungkin mengungkapkan pada laki-laki itu.


"Besok mau nonton ?" Tawar Rizky.


"Oke !"


"Oke, I Miss you !"


"Hmmmmm !"


Setelah mengatakan itu Cleo langsung mematikan sambungan telepon membuat Rizky terkekeh.


*****


Akhirnya hari ini datang juga, dimana Lala akan pergi ke kota J untuk melakukan kerjasama dengan PT. Samudera Api.

__ADS_1


"Kamu tenang aja. Selama 2 Minggu ini kamu akan tinggal di hotel dan semuanya ditanggung perusahaan !" Ucap Fajar. Lala hanya menatap merenggut padanya.


"Aku gak mau pergi takutnya aku gak balik lagi kesini !"


"Maksudnya ?"


Lala menggeleng bersamaan Benki muncul entah dari mana.


"Wajahmu kelihatan senang !" Ucapnya melihat wajah merenggut Lala membuat ekspresi gadis itu semakin sangar, Fajar menahan tawa.


"Ya udah, hati-hati aja disana. Pelajari betul-betul semua hal yang ditawarkan pada perusahaan kita, untuk ini aku benar-benar bergantung padamu !" Ucap Benki menepuk pundak Lala.


"Jangan khawatir, aku akan mengatasi semua pekerjaanmu !" Tambah Fajar.


Tak lama telepon di meja Lala berbunyi dan resepsionis melaporkan jika mobil travel sudah stand bye didepan. Lala menarik kopernya menuju lift diikuti Benki dan Fajar.


Sebelum menaiki mobil, Lala menatap Benki dan Fajar dengan perasaan tidak rela. Dia benar-benar belum siap bertemu Evan lagi dan tugas ini akan membuatnya malah berurusan dengan pria itu.


"Ya udah La, hati-hati dijalan !" Ucap Benki dan Fajar bersamaan.


Lala kemudian menaiki mobil tanpa kata dan menatap datar pada Benki dan Fajar yang melambaikan tangan padanya. Mobil berlalu membawa satu tubuh yang kini harus dipaksa kembali setelah ia memaksa diri untuk pergi.


Perjalanan panjang yang dilalui jam demi jam membuat Lala berpikir disepanjang perjalanan hal-hal apa yang harus dilakukannya nanti jika berhadapan dengan Evan.


Setelah melewati 7 jam perjalanan, mobil travel berhenti didepan sebuah hotel berbintang tak jauh dari gedung kantor Evan.


Setelah itu Lala, menuju resepsionis dan meminta kunci kamarnya.


Memasuki kamarnya, meletakkan koper dan membersihkan diri kemudian duduk di jendela kaca besar memerhatikan pemandangan luar, pikiran Lala menerawang tidak percaya dia kembali kesini.


Keesokan harinya, Lala sudah bersiap dengan setelan andalannya. Kemeja ungu lengan panjang yang dilipat hingga siku, celana kulot abu-abu dan sepatu kets putihnya.


Menyisir rapi rambut coklatnya dan membuatnya tergerai indah serta makeup tipisnya membuatnya terlihat mempesona. Kemudian ia menatap cincin hitam ditangan kanannya, Lala membuka kopernya dan meraih kotak beludrunya, mengambil kalung seraya melepas 2 cincin hitamnya dan menjadikan bandul kalungnya dan memakainya. Menyembunyikan dibalik bajunya. Setelah itu meraih tasnya dan menuju perusahaan PT. Samudera Api.


Lala sudah berada didepan kantor Evan, menatap tidak percaya pada gedung itu bahwa dia kembali kesini. Perlahan Lala melangkahkan kakinya memasuki kantor itu.


Satpam dan resepsionis terkejut melihat kedatangannya. Setelah sekian lama, mereka bisa bertemu lagi dan gadis itu sekarang semakin cantik, bahkan karyawan lain yang memang mengenalnya dan tak sengaja berpapasan juga terkejut melihatnya. Lala hanya bisa tersenyum pada mereka.


Memasuki lift, jantung Lala bertalu-talu saat angka itu berubah setiap menaiki lantai dan saat angka itu berhenti di lantai direktur, perut Lala terasa sakit dan mulas.


TING.


Pintu lift terbuka, memperlihatkan pemandangan yang sudah lama Lala tak lihat. Ruangan itu tidak banyak berubah, Lala ingin menangis menatap setiap permukaan ruangan. Jujur dia pun merindukan tempat ini.


Lala melangkah masuk, bisa dilihatnya Rizky duduk di meja Lala dulu. Cowok itu mendongakkan kepalanya saat mendengar lift terbuka dan memunculkan Lala membuatnya tersenyum smirk.


"Selamat datang di PT. Samudera Api, apa perjalanan anda menyenangkan ?" Rizky mengejek membuat Lala menatap ngeri padanya.


"Iya, terima kasih atas sambutannya. Apa anda tidak menyediakan cemilan begitu, saya ini tamu terhormat masa gak disuguhkan apa-apa !" Balas Lala membuat Rizki menatap malas padanya.


"Pak direktur sedang semedi di toilet jadi silahkan menunggu diruangannya !" Dengan cepat Rizky meraih Lala, memiting lehernya hingga gadis itu jerit-jerit.


"Lepas.. lepas !" Pekik Lala seraya mencubit lengan Rizky namun cowok itu tidak bergeming dan tetap memiting gadis itu membawanya masuk ke ruangan Evan kemudian mendorongnya jatuh di sofa.


"Ini hukumanmu karena pergi tanpa pamit dan buat aku jadi repot. Kau tahu selama ini, aku menghandel semua pekerjaanmu belum lagi bos yang seperti orang depresi jadi selama berada disini maka bertingkah baiklah pada bos !" Ucap Rizky memelototi Lala yang disambut remeh gadis itu.


"Mana cemilannya ini, aku mau makan !" Lala balas memelototi Rizky membuat cowok itu berdecak jengkel. Segera ia menelepon pantry.


Tak lama seorang office girl memasuki ruangan Evan dan meletakkan makanan dan minuman didepan Lala.


"Terima kasih !"


"Sama-sama non !"


Kemudian OG itu keluar meninggalkan Rizky dan Lala.


"Ayo silahkan dimakan, jangan malu-malu !" Ucap Lala tertawa pada Rizky dan mulai menikmati cemilannya.


" Oh ya, anaknya pak bos laki-laki atau perempuan ?" Tanya Lala menatap lekat Rizky.


Rizky diam, tidak tau harus berkata apa. Berpikir lebih baik Lala mengetahui langsung dari Evan.


"Ky. Anaknya pak bos laki-laki atau perempuan ?" Lala mengulang pertanyaannya.


"Tengah-tengahnya !"


"Hah ???????????"

__ADS_1


Pintu terbuka memunculkan Evan yang langsung tertegun melihat Lala. Berdiri mematung dengan jantung berdebar tak karuan begitu juga Lala, jantungnya berdebar kencang saat tatapannya bertemu dengan Evan.


"Selamat datang kembali !" Sambut Evan.


__ADS_2