
Evan dan Lala sudah berada dikantor, gadis itu kembali kekantor Evan untuk melakukan pekerjaan tidak jelasnya.
Ketiganya kini berada diruangan Evan, mendiskusikan pekerjaan yang sempat terabaikan akibat kecelakaan yang mereka alami. Saat asik dengan mengeluarkan berbagai pendapat saat ponsel Rizky berbunyi.
"Ya halo ?"
"Baiklah, temui saja aku saat makan siang nanti. Aku akan memberikan alamatnya !" Ucapnya sebelum memutuskan panggilan. Kemudian Rizky mendekati Evan dan membisikkan sesuatu membuat Evan mengangguk saja.
Saat makan siang tiba...
"La, aku dan Rizky akan makan siang diluar sekalian mau ketemu seseorang jadi kamu dikantor aja nanti aku pesankan makanan. Kamu jangan banyak bergerak dulu kasian punggungmu !" Ucap Evan.
"Baiklah !" Lala mengangguk saja.
****
Disebuah restoran China, dalam private room seorang pria tampan sedang duduk seraya menikmati makanannya. Tidak lama seorang pria memasuki ruangan itu dan setelah dipersilahkan duduk, ia kemudian mengeluarkan amplop dari tasnya dan menyerahkan pada pria itu.
"Gadis itu bernama Lala, sekarang dia tinggal dirumah Evan dan sepertinya mereka pacaran tapi di satu sisi Evan juga sudah dijodohkan orang tuanya dengan gadis bernama Syifa tuan. Tapi ia lebih sering jalan-jalan dengan yang namanya Lala dibandingkan yang bernama Syifa !" Jelas pria yang baru datang itu.
Pria itu pun memerhatikan foto-foto itu, terlihat wajah Evan dan Lala yang terlihat bahagia yang sedang jalan-jalan atau makan bersama.
"Baiklah, ini sudah cukup !" Ucap pria itu kemudian memberikan amplop uang pada pria baru datang itu.
"Terima kasih tuan, kalau begitu permisi !"
Pria itu meraih amplop uang itu dan segera pergi dari tempat itu meninggalkan pria itu yang kembali menikmati makanannya seraya menelisik foto-foto didekatnya.
"Hmm Evan, sepertinya aku menemukan kelemahanmu. Hehehe !" Pria itu terkekeh seraya menatap wajah Lala di foto itu.
Dan ditempat lainnya yaitu restoran Jepang dalam private room juga, Evan dan Rizky telah sampai lebih dulu kemudian memesan makanan hingga makanan datang dan menghabiskannya orang yang ditunggu belum juga muncul.
"Dimana dia Ky ?" Tanya Evan gusar.
"Saya akan meneleponnya bos !"
Namun baru saja akan menelepon saat orang yang ditunggu muncul juga. Ia terlihat kelelahan dengan nafas naik turun.
"Maaf saya terlambat tuan, saya tersesat. Hehehe !" Ujarnya sambil nyengir.
"Bos, ini Yogi. Salah satu detektif sewaan kita !" Ucap Rizky kepada Evan yang hanya diangguki oleh sang atasan.
"Langsung saja !" Ucap Evan.
"Hm, jadi begini tuan-tuan. Setelah saya menyelidiki dengan teliti tentang seseorang bernama Edi Gunawan dari data-data yang kalian berikan atau dengan menyelidiki jejak paspornya saya menemukan bahwa pria itu sudah meninggal 5 bulan yang lalu !"
"APA ?" Pekik Evan dan Rizky bersamaan.
"Benar, penyebab Edi meninggal karena serangan jantung !"
Kemudian Yogi mengeluarkan beberapa foto dari tasnya dan memperlihatkan sebuah makam yang tertulis jelas identitas Edi. Evan dan Rizky menatap tidak percaya melihat itu seketika saling pandang.
"Dan maaf, saya belum menemukan pelaku asli yang selama ini mengganggu kalian karena ia hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain !" Tambah Yogi sebelum Rizky dan Evan menanyakan pelaku sebenarnya.
"Baiklah, mulai sekarang fokuslah mencari pelaku sebenarnya dan temukan secepatnya, maka aku akan membayarmu 10 kali lipat jika berhasil menemukannya !" Ujar Evan dengan tatapan tajam.
Mendengar itu Yogi tampak sumringah dan seketika membangkitkan semangat 45-nya untuk menemukan pelaku sebenarnya.
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi !" Pamit Yogi.
"Tinggallah, kau tidak ingin makan ?" Tawar Evan.
"Ng, maaf. Saya tidak biasa makan makanan seperti ini ?" Yogi bergidik melihat gambar makanan yang terlihat mentah itu. Evan dan Rizky saling pandang.
"Baiklah, ini aku meneraktirmu makan siang !" Ucap Evan mengeluarkan dompet seraya mengeluarkan 5 lembar seratus ribuan dan disodorkan kepada Yogi.
"Terima kasih tuan !" Yogi menerima uang itu dengan wajah berbinar dan berlalu pergi.
"Ky, segera perluas pencarian pria misterius itu ? Bagaimana bisa ia sempat memakai mobil Edi ?"
"Baik bos !"
"Apa Edi sudah menikah dan mempunyai anak ?" Tanya Evan.
"Setahu saya tidak bos, menurut identitasnya yang tertera dia masih lajang !" Jawab Rizky membuat Evan terdiam.
*****
Lala sedang berjalan keluar kantor untuk mengambil pesanan makanan pada ojek online. Setelah celingak-celinguk sebentar sambil memerhatikan Hp-nya, ia melihat ojek online berada diluar pagar.
"Dengan ibu Lala ?" Tanya ojek online paruh baya itu.
"Iya benar pak !" Lala mengangguk.
__ADS_1
"Ini pesanannya !" Pria itu menyerahkan bungkusan makanan kepada Lala.
"Terima kasih pak. Ini berapa harganya !"
"Oh, ini sudah dibayar Bu !" Jawab si ojek online senyum.
Lala merogoh kantong roknya dan menyerahkan uang seratus ribu kepada bapak ojek online itu.
"Eh, nggak usah non, makanannya sudah dibayar !" Tolak sang bapak.
"Udah pak, ambil aja. Tolong belikan makanan yang enak untuk anak-anak bapak dirumah !" Ucap Lala menyimpan uang itu ditelapak tangan bapak ojek online itu yang diterima dengan haru oleh bapak itu.
"Terima kasih banyak non !" Ucapnya hampir menangis.
"Iya pak, sama-sama. Kalau begitu saya masuk dulu !" Pamit Lala.
"Iya non !"
Lala sudah berbalik hendak masuk ke kantor saat sebuah mobil kijang hijau tua berhenti mendadak didekatnya dan 2 orang bertopeng keluar dari mobil langsung membekap mulut Lala dan mengangkat tubuhnya memasuki mobil.
Lala yang kaget memekik seketika, ia berontak membuat makanan ditangannya jatuh menghantam tanah. Si bapak ojek online yang sedang memasukkan uang kedalam tas kecil di dadanya terkejut mendengar pekikan Lala dan refleks berusaha menolong namun ia kalah tenaga dan penculik itu dengan mudah mendorong bapak ojek online itu hingga tersungkur dan mereka segera meninggalkan tempat itu dengan Lala bersama mereka.
"Tolong !" Teriak Si bapak ojek berteriak dan beberapa satpam yang juga sempat melihat kejadian itu juga segera berlari hendak menolong namun kejadiannya begitu cepat.
Mereka pun menolong si bapak ojek online dan menghubungi Rizky.
"APAAA ?" Teriak Rizky tiba-tiba saat mengangkat teleponnya membuat Evan yang sedang menikmati pemandangan luar terperanjat kaget. Keduanya sekarang berada di mobil berniat kembali kekantor.
"BAGAIMANA BISA ?" Bentak Rizky membuat Evan mengerutkan kening melihat emosi Rizky.
Rizky mematikan panggilan teleponnya dan melempar Hp-nya kesamping.
"Ada apa Ky ?"
Rizky melirik Evan lewat spion dengan dada naik turun.
"Lala diculik bos !"
APAAAAA !" Teriakan Evan lebih keras dari Rizky.
"Bagaimana bisa ?" Bentaknya.
"Saat dia keluar untuk mengambil pesanan makanan diluar pagar, tiba-tiba ada mobil berhenti didekatnya dan langsung membawanya !" Jelas Rizky.
"Apa mungkin Edi Gunawan palsu yang melakukannya ?"
"Kemungkinan besar iya bos !"
"Kerahkan lebih banyak lagi detektif dan polisi sekalian untuk menemukan orang itu juga Lala !" Perintah Evan tegas.
"Baik bos !" Evan menambah kecepatan mobil untuk bisa segera sampai dikantor.
Saat sudah sampai, depan perusahaan Evan terlihat ramai dengan satpam juga polisi. Evan segera turun memasuki kantornya meninggalkan Rizky yang menghampiri kerumunan itu.
Diruangannya, Evan hanya berjalan bolak-balik. Rasa khawatir menyelimutinya sekarang ini. Ia menyesali mengapa tidak mengajak Lala keluar bersamanya tadi. Mengapa ia hanya berinisiatif memesankan makan siang. Evan memegangi kepalanya yang terasa nyut-nyut dan mendudukkan dirinya di sofa, menerka-nerka seperti apa keadaan Lala sekarang, berharap gadis itu baik-baik saja.
Rizky memasuki ruangan Evan dengan mimik lesu.
"Bagaimana ? Apa kata mereka ?" Tanya Evan langsung.
"Menurut ojek online yang mengantar makanan untuk Lala, mobil yang membawa Lala adalah kijang hijau tua dan dia sempat mengingat nomor platnya namun setelah diselidiki polisi itu plat palsu !"Jelas Rizky lesu.
Mendengar itu Evan meremas kepalanya, rasa panik semakin besar.
"Lalu bagaimana sekarang Ky ? Aku takut dia menyakiti Lala !" Suara Evan terdengar bergetar.
"Sekarang polisi dan detektif sedang mencarinya bos !" Hanya itu yang bisa disampaikan Rizky, tidak tahu lagi berkata apa.
"Saya akan mengabari pak Benki juga bos agar ia bisa membantu kita !" Ucap Rizky membuat Evan langsung mendongak memelototinya namun kemudian ia mengangguk seraya menunduk.
*****
Disebuah gudang tua yang terletak dipinggir kota, sebuah mobil Xenia putih berhenti dan 3 orang keluar dan salah satu menggendong seorang gadis yang tidak sadarkan diri. Benar itu adalah Lala.
Mereka membawa gadis itu disebuah kamar dan mendudukannya di kursi dan mengikatnya serta menutup matanya dengan kain hitam.
"Nanti malam bos baru akan datang, kamu jaga dia Yan !" Ucap salah satu dengan rambut gondrong seraya melepas topeng yang diikuti dua lainnya.
"Dia cantik juga !" Salah satu dengan bekas luka kecil di pipi kirinya menatap intens pada Lala.
"Jangan berpikir tidak-tidak kalau kamu gak mau dihabisi sama bos !" Ucap pria yang tadi dipanggil Yan itu.
"Ferdy, Ryan. Cukup, jangan menganggu cewek ini atau bos akan marah dan Yan jaga dia dengan baik !"
__ADS_1
"Iya kak Hendra !" Jawab pria hitam manis bernama Ryan itu. Ruangan dengan lebar 3 x 3 meter hanya berisikan meja dan kursi serta bangku panjang yang biasa dipakai menunggu. Ntah itu dulu adalah kamar atau ruang kerja. Ryan pun membaringkan tubuhnya di kursi panjang dengan berbantalkan lengan, tak lama ia terlelap.
3 jam kemudian Lala terbangun, merasakan sedikit pegal di badannya dan berusaha merentangkan tangannya namun ia sadar tangannya terikat dan saat membuka mata gelap menyambut akibat kain hitam yang menutup matanya.
"Hei, lepasin aku. Siapapun yang dengar aku lepas !" Teriak Lala nyaring membuat Ryan yang terlelap langsung terbangun. Berusaha connect dengan nyawa yang masih berlarian.
"DIAM !" Bentaknya pada Lala membuat gadis itu terperanjat.
"HEI, KAMU SIAPA ? CEPAT LEPASIN AKU !" Gadis itu balas membentak seraya berusaha melepaskan diri dari ikatannya.
"BERISIK !"
"Hei, aku ini orang miskin, kalian udah culik orang yang salah. Aku juga yatim piatu jadi kalau kalian mau minta tebusan aku tidak akan sanggup karena orang tuaku sudah tidak ada !" Suara Lala berubah pelan dengan mencoba mendramatisir keadaan.
Pria didepannya hanya mencibirnya melihat actingnya yang buruk.
"Kami menculikmu bukan untuk tebusan !"
"Eh trus apa ?"
"Organ-organ dalammu mungkin. 1 organ bernilai miliaran !" Ryan berusaha menahan tawa melihat mulut gadis didepannya menganga.
Seketika tangis Lala pecah, ia menangis histeris membayangkan organ-organ tubuhnya akan dicuri. Pintu terbuka memunculkan Ferdy yang mendengar suara tangisan Lala.
"Ada apa ?" Tanyanya melihat Lala yang menagis kencang.
"Aku keceplosan bilang kalau kita mau ambil organ-organ tubuhnya !" Ucap Ryan menahan tawa membuat Ferdy menghela nafas.
"Diamlah !" Ucapnya pada Lala namun justru malah semakin membuat tangisan Lala semakin kencang. Ferdy memejamkan mata menahan emosi.
"KAMI TIDAK AKAN MENGAMBIL ORGAN-ORGAN TUBUHMU !" Bentaknya keras pada Lala yang sukses membuat Lala terdiam.
"Sungguh ?" Tanyanya namun tidak ditanggapi Ferdy, pria itu memilih keluar.
"Apa tujuan kalian sebenarnya ?" Tanya Lala setelah lama hening.
"Bukan kami yang punya tujuan tapi bos kami !" Jawab Ryan.
"Siapa bos kalian ?"
"Sudahlah, jangan bertanya lagi. Nanti malam kamu akan bertemu bos !" Ucap Ryan meninggalkan ruangan itu menghindari mulut cerewet gadis itu. Lala hanya bisa terdiam dengan mata tertutup dan tangan terikat berpikir langkah apa yang seharusnya ia ambil.
Malam telah datang dan ketiga penculik itu makan malam setelah Ferdy keluar membelinya. Ketiganya menikmati makanan di meja tanpa tahu dimana dulu 4 begal yang gagal menjalankan misi mati mengenaskan akibat diracun.
Ketiganya makan dengan lahap dan setelah kenyang, Ryan beranjak ke kamar membawa makanan untuk Lala. Ryan memasuki ruangan itu kemudian mengenakan maskernya.
Ryan membuka penutup mata Lala dan langsung terpaku saat melihat dengan jelas gadis cantik itu namun kemudian ia menggelengkan kepala mengingat betapa kejamnya sang bos.
"Ini makananmu. Makan dan jangan membantah atau kami akan menyakitimu !" Ryan memberi peringatan membuat Lala langsung mengangguk.
Kemudian Ryan menyiapkan nasi bungkus itu, membuka karetnya dan meraih sendok. Lala memerhatikan nasi dengan chapchay serta ayam goreng.
"Ini, aaaaa !" Ryan menyuap Lala yang langsung diterima gadis itu. Ryan menyuap Lala hingga makanan itu habis dan selama itu juga Ryan menatap intens gadis didepannya dan merasakan sesuatu menyentak dadanya. Lala menyadari tatapan itu berusaha terlihat normal namun dalam hati ia berdoa mati-matian agar tidak terjadi sesuatu yang buruk padanya.
"Yan, bos udah otw !" Teriak Ferdy menyadarkan Ryan dari lamunannya kemudian ia menyodorkan air minum pada mulut Lala setelah itu kembali menutup matanya.
Tinggallah Lala sendirian diruangan itu dengan segala pikirannya.
'Apakah Evan sudah tahu dia diculik ?'
'Apakah Evan akan menolong ?'
'Apa Evan bisa menemukan tempat ini ?'
'Bagaimana sebaiknya agar bisa menghubungi Evan ?'
Pikiran-pikiran itu terputus saat terdengar suara mobil berhenti didepan gudang dan seorang pria turun dengan gaya kharismatik.
"Selamat datang bos !" Sambut Hendra.
"Bagaimana gadis itu ?"
"Dia berada diruangan itu !" Tunjuknya pada kamar dimana Lala berada.
Pria itu menuju kamar yang dimaksud dan saat melihat gadis itu terikat dengan mata tertutup senyum muncul di bibirnya.
"Keluarlah, ada yang perlu kubicarakan dengannya !" Ucap pria itu yang diangguki ketiganya.
Lala tersentak, ia seperti mengenali suara ini namun mengapa sekarang terdengar lebih tegas. Saat sibuk dengan pikirannya penutup matanya dibuka.
"Apa kabar Lala ?" Sapanya dengan senyum tampannya.
Lala membulatkan mata tidak percaya melihat pria didepannya sekarang. Diakah bos-nya ? Diakah orang yang ingin bertemu dengannya ? Apa maunya ? Pertanyaan itu hadir dengan mata yang tidak berkedip menatap pria yang amat dikenalinya itu.
__ADS_1