
Flashback on
Hari yang ditunggu-tunggu tiba, Benki langsung pulang keesokan harinya. Ia tak sabar bertemu kekasih hati.
Agar tidak membuang waktu, Benki membooking kamar di hotel Tiara setelah dapat laporan dari sang mama jika di hotel itulah acara akan diadakan. Benki menatap cincin yang dibelinya seraya merangkai kata-kata apa yang akan ia katakan nanti, ia sudah membayangkan ekspresi terkejut kekasih hatinya yang membuatnya jadi tidak sabaran.
Dan malam harinya, setelah bersiap-siap Benki berjalan-jalan disekitar ballroom yang ramai itu dengan mengenakan masker. Terlihat beberapa staf bolak-balik membawa bunga segar atau apapun yang akan mempercantik ruangan itu.
Dengan masker yang menutup setengah wajahnya, Benki mengintip sejenak kedalam ruangan itu. Ia tersenyum melihat betapa indahnya ruangan yang sudah di dekorasi sedemikian rupa tapi senyum Benki langsung surut saat melihat seseorang yang amat ia kenal sedang membantu mendekor disana dengan senyum manisnya.
Benki memicingkan mata berusaha meyakinkan diri jika yang dilihatnya itu sang kekasih hati. Cukup lama Benki berdiri disana dan saat beberapa orang keluar, Benki segera menjauh dan bersembunyi dibalik pilar yang tidak jauh dari sana menunggu apa yang terjadi selanjutnya.
Pintu ruangan itu tertutup dan tak lama seseorang yang menjadi model Snack perusahaannya berjalan mendekat dan membuka lebar ruangan itu dan Benki bisa mendengar dengan begitu jelas teriakan surprise didalam sana.
Benki bingung, mencoba mencerna apa yang terjadi. Bukankah ini acara ulang tahun kekasih hatinya ? Lalu mengapa Angel yang berada disana ? Apa ia salah tempat ? Demi memastikan Benki bertanya kepada salah satu staf disana dan benar hanya itu satu-satunya acara ulang tahun yang ada disana. Bahkan yang membuat Benki terkejut adalah yang berulang tahun itu adalah anak pemilik hotel ini.
Benki semakin bingung dan memutuskan untuk masuk kesana. Membuka pintunya sedikit dan melonggokkan kepala. Dilihatnya Angel yang ia kenal sedang dikerumuni banyak orang untuk mengucapkan selamat kepadanya yang disambut ramah dan senyum manis oleh gadis itu, begitu juga dengan kekasih hatinya yang mendekat dan memberi kado kepada Angel.
"Aulia !" Benki mendengar itu dengan jelas dan kekasih hatinya melirik keasal suara dimana cewek-cewek yang berseragam sama sepertinya berdiri dan gadis itu menghampiri, berbicara sebentar kemudian mereka beramai-ramai menghampiri si pemilik acara.
Sudah tidak tahu seperti apa perasaan Benki sekarang, ia segera menelepon Fajar untuk minta dijemput dan memintanya menunggu diluar. Ia perlahan melepas maskernya dan melangkah semakin dekat.
"Benki !" Wanita yang dia yakini mama Tiara menyapanya.
Saat itulah, sang kekasih hati menoleh kearahnya dengan wajah yang luar biasa kaget, gugup, takut dan menatapnya nanar. Kini Benki menemukan fakta bahwa gadis yang selama ini ada disampingnya bukanlah Tiara. Seketika amarah memenuhi hati Benki mengetahui selama ini ia dibohongi.
Suasana jadi kacau, gadis itu pun mulai menangis berusaha ingin menjelaskan segalanya, sedangkan Tiara asli hanya terdiam gemetar. Benki yang dikuasai emosi tanpa sadar merogoh kantongnya, meraih kotak beludru kecil disana dan melemparnya kearah Aulia. Semua yang melihat itu terkejut kemudian pria itu pergi dari sana dengan menelepon Fajar untuk menjemputnya sekarang.
Benki melangkah keluar dengan penuh amarah, mengabaikan Aulia yang mengejarnya dan terus memanggil namanya dan saat gadis itu berhasil memeluknya seraya meminta maaf sambil terisak membuat Benki terdiam tak berkata-kata, berusaha menahan diri untuk tidak memukul gadis itu apalagi saat gadis itu mengetuk-ngetuk jendela mobilnya dengan isakan yang menyayat hati membuat Benki menulikan telinganya.
Flashback off
Fajar menganga mendengar penjelasan Benki yang berapi-api, terlihat jelas betapa cowok itu sedang dikuasai amarah.
Niat hati ingin memberi kejutan spesial untuk kekasih hati malah dia yang diberi kejutan menyakitkan. Benki sudah tidak tahu seperti apa perasaan dia sekarang.
Benki memasuki rumahnya dengan gusar, dengan langkah tergesa-gesa menaiki tangga menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Mendengar itu sang mama diikuti papa Benki dengan koyo di pelipis keluar kamarnya karena kaget.
"Fajar, Ada apa ? Benki kenapa ?" Tanya sang mama menatap bingung asisten anaknya.
__ADS_1
Mau tidak mau Fajar pun menceritakan sama seperti yang Benki ceritakan padanya membuat mama dan papa Benki tambah kaget mendengar itu.
"Dia bukan Tiara ?" Mama Benki memastikan.
"Bukan Tante, dia teman Tiara, kalau gak salah namanya Aulia dan dia juga kerja di hotel keluarga Tiara !" Jawab Fajar.
"Dan kenapa dia bisa yang bersama Benki ?"
"Kalau itu saya tidak tahu Tante !" Fajar tersenyum kecut.
Kini Fajar mengerti dari semua pertanyaan yang ada dikepalanya saat pertama kali melihat "Tiara". Gadis yang sopan, lembut dan selalu tersenyum manis yang jauh dari kata seorang model dan anak orang kaya tapi ternyata hanya pegawai hotel biasa.
"Ya ampun, padahal Tante pikir dia baik, cantik dan lembut. Dia juga terlihat seperti calon istri yang pas untuk Benki !" Sang mama mendesah kecewa.
Mama Benki sudah sangat suka pada gadis yang ia anggap Tiara itu, caranya bicara, tersenyum dan sikapnya yang penuh sopan santun plus masakannya yang lumayan enak membuat mama Benki sangat yakin untuk segera meminang gadis itu menjadi menantu. Tapi sekarang kenyataan apa yang ia terima ? Bahwa gadis yang selalu datang ke rumahnya bukanlah Tiara yang asli tapi orang lain.
Rasa kecewa dan marah ikut menyelimuti wanita tua itu seraya menatap kearah kamar sang anak yang pastinya berkali-kali lebih kecewa.
Aaaaaaaarrrrrrrrggggghhhhhhh..
Benki berteriak menggelegar meluapkan semua emosi dihatinya. Siapapun yang mendengar teriakan itu tidak bisa berbuat apa-apa, kekasih hatinya benar-benar menoreh luka pada harga dirinya karena membohonginya mentah-mentah.
*****
Sementara itu, Aulia yang sudah berada dirumahnya mengendap-endap memasuki kamarnya agar ibunya tidak melihat wajahnya yang sembap. Setelah mengunci kamarnya, air matanya kembali mengalir saat mengingat Benki tadi.
Pertama kalinya melihat Benki marah membuat Aulia yang merasa bersalah kembali menangis deras. Bukan hanya Benki yang kecewa, Aulia pun kecewa pada dirinya sendiri, dirinya yang begitu pengecut untuk mengakui siapa dia dan terus menunda-nundanya hingga akhirnya ketahuan dengan cara seperti ini.
Andai saja dulu ia langsung memutuskan pertunangan Tiara !
Andai saja dulu ia tidak membiarkan dirinya sendiri jatuh cinta pada Benki !
Andai saja dulu ia tidak datang kerumah benki !
Andai dulu ia berani jujur pada Benki !
Mungkin saja keadaan mereka sekarang ini tidak seperti ini tapi entahlah, rasanya Aulia tidak menyesal melewati itu semua, mengenal dan mencintai Benki meski sekarang ia harus menerima kebencian cowok itu.
Aulia teringat sesuatu dan meraih tasnya. Mengambil kotak beludru kecil yang tadi dilemparkan benki padanya. Ia membuka kotak kecil itu dan air matanya kembali mengalir deras saat melihat isinya.
__ADS_1
Cincin berlian merah muda itu sangat cantik nan indah tapi malah membuat Aulia semakin sedih.
"Aku minta maaf kak.. aku minta maaf. Aku mencintaimu !" Aulia memeluk cincin itu seraya rebah dilantai sambil terisak dengan begitu memilukan.
Perasaanya kepada Benki juga tidak main-main, meski ia tahu tidak boleh jatuh cinta sebab Benki menganggapnya orang lain tapi ia tidak bisa menahan hatinya untuk tidak jatuh cinta pada pria itu.
Menikmati dinginnya lantai kamarnya, Aulia terus saja menangis, terisak dengan sejuta penyesalan dan sekarang ia harus menerima kebencian Benki, pria yang dicintainya.
Sedangkan Tiara, orang tuanya marah besar saat tahu jika ia tidak pernah bertemu dengan Benki tapi malah meminta Aulia untuk menggantikan dia sehingga sekarang mereka mengerti mengapa Benki bisa semarah itu.
"Kenapa kamu lakuin itu ? kamu tahu tidak Benki itu siapa ?" Bentak sang mama.
"Ya, aku gak tahu ma, kan mama dan papa juga gak ngasih tahu aku siapa Benki !" Kilah Tiara tidak ingin terus disalahkan.
Sang mama terdiam saling lirik dengan suaminya, mereka pun tidak tahu jika Benki sekaya itu, seterhormat itu karena calon besan mereka sudah sepakat biar anak-anak yang saling mengenal saja.
"Coba kemarin kamu bilang sama mama dan papa bukan malah nyuruh Aulia gantiin kamu, lihat kan ? sekarang semuanya kacau !" Sang mama kembali membentak.
"Aku minta maaf ma, pa. Kemarin aku belum siap aja karena bisa menggangu karir model aku jadinya ya gitu !"
"Makanya kan papa sudah bilang, berhenti jadi model dan ikut mengurus hotel kita !" Sang papa angkat bicara setelah sekian lama terdiam.
"Pa, ma. kalian kan tahu karir model aku itu segala-segalanya. Aku gak bisa lepas begitu aja apalagi untuk pernikahan, aku gak mau !" Tiara merengek. Tidak menceritakan jika Rafly juga menjadi alasan dia menolak perjodohan itu.
"Tapi pa, ma. Sekarang aku mau, aku mau nikah sama Benki karena dengan reputasinya itu dia bisa bantu aku buat jadi model papan atas !" Tambah Tiara sebelum orang tuanya kembali menyalahkannya.
"Maaf, aku menyesal karena tidak menemui Benki tapi sekarang aku mau pa, ma. aku mau nikah sama dia dan mulai sekarang aku janji akan patuh sama mama dan papa untuk menikah dengan Benki !" Tiara meyakinkan.
Kedua orang tuanya terdiam seraya menarik nafas dalam, percuma saling menyalahkan toh semua sudah terjadi dan sekarang harus menemukan solusi untuk menyelesaikan ini semua.
"Oke, Papa dan mama akan bicara dengan orang tua Benki. Sekarang masuk ke kamarmu !" Perintah sang mama.
Tiara langsung menuju kamarnya dan menguncinya. Kini gadis itu, berjalan bolak-balik dikamarnya, memikirkan semua ini.
Tiara awalnya terkejut saat melihat Benki datang ke pestanya dan sempat berpikir cowok itu juga memberi kejutan padanya. Tapi saat melihat reaksi wajah cowok itu dan Aulia sempat membuatnya bingung.
Dan sekarang ia tahu jika pria itu si pemilik salah satu perusahaan terbesar di Indonesia adalah orang yang akan dijodohkan dengannya. Tiara awalnya sempat shock dan kaget mengetahui fakta itu seraya menatap tidak percaya pria yang sedang diselimuti emosi itu. Tau begitu, ia tidak akan repot-repot menyuruh Aulia pergi menggantikannya dan dengan senang hati ia akan menikah dengan pria itu.
Sekarang Tiara berpikir bagaimana menyelesaikan kesalahpahaman ini dan memulai perjodohan mereka. Dengan senang hati Tiara akan mengiyakan apapun jika berhubungan dengan Benki. Ini adalah kesempatan baginya untuk memiliki Benki yang juga akan membantunya mewujudkan mimpi-mimpinya.
__ADS_1