
Keeseokan harinya, Evan datang terlambat ke kantor, nyaris siang baru dia bisa muncul. Mata pandanya tidak bisa disembunyikan. Begitu pun dengan Lala, sulit sekali memejamkan mata hingga ia hanya duduk di pintu mengarah ke balkon, menatap langit yang kali ini ditemani dengan bulan penuh yang memancarkan cahaya pekat.
"Selamat pagi pak !" Lala menyambut Evan dengan senyum ceria selayaknya bawahan.
Evan hanya menatapnya. Wajah Lala terlihat segar dengan bantuan the power of makeup meski tidak bisa menutupi matanya yang sedikit bengkak. Ia menangis sepanjang malam.
Memilih berlalu tanpa berkata-kata memasuki ruangannya, Lala tetap mengikuti.
"Pak, hari Senin nanti, perusahaan kelapa sawit mengundang anda dalam perayaan ulang tahun perusahaan mereka !" Ucap Lala.
"Baiklah, berikan detail pada Rizky !" Jawab Evan dingin tanpa menatap kearah Lala.
"Baik pak, permisi !" Lala segera keluar tak kuat dengan sikap dingin Evan.
Bertindak seolah semua baik-baik saja, tetap berjalan dengan sebagaimana mestinya walau sesungguhnya dalam hati Evan dan Lala gemuruh badai yang besar sedang melanda, memporak-porandakan tatanan hati masing-masing.
Tetap tersenyum, tetap profesional dalam bekerja dan menunjukkan kepada satu sama lain bahwa semua oke.
Mengalihkan perhatian pada pekerjaan, Lala yakin itu bisa membantunya untuk tidak terpuruk terlalu dalam karna patah hati.
Saat Lala sedang fokus pada berkas didepannya hingga tak sadar seseorang keluar dari lift dan mengendap-endap mendekat kearah Lala.
"DOR !" Teriak Tiwi kencang membuat Lala yang sedang membaca terjengkit kaget hingga kepalanya terpentok komputernya.
"Aduh sakit. NENEK GAYUNGGGGG !" Lala hendak beranjak saat Tiwi menahannya untuk tetap duduk.
"Sorry.. sorry. Sengaja !" Tiwi tertawa membuat Lala menatapnya ngeri.
"Jadi begini, bapaknya Ana bawain semangka banyak. Jadi aku berencana bikin lomba makan. Kamu jadi pesertanya !" Tiwi menyebut salah satu bawahnnya dan menunjuk Lala.
"Gak bisa. kerjaan aku banyak sekali jadi gak bisa ditinggal !" Jawab Lala.
"Yakin ? Hadiahnya oke banget lho. Yakin gak nyesal gak ikut !" Tiwi mengompori.
"Emang hadiahnya apaan ?" Tanya Lala antusias.
"Pokoknya hadiahnya keren !" Tampang Tiwi nampak meyakinkan.
Lala menganga dan Tiwi segera berlari memasuki ruangan Evan untuk minta ijin. Tiwi sudah muncul, berlari kearah Lala seraya menariknya untuk mengikutinya mengabaikan protesnya.
Dilantai dasar tempat meeting, suasana sudah amat ramai yang didominasi para wanita.
Meja yang sudah disusun dengan sedemikian rupa, Lala dan Ana sedang bertatapan dengan tajam. Ana adalah staf Tiwi dibagian pemasaran, tubuhnya cukup gembur namun cekatan. Bapaknya pengusaha semangka jadi sering membawa buah semangka ke kantor untuk dinikmati bersama.
"Oke, sekarang kita akan memulai pertandingan yaitu memakan semangka dan didepan kita sudah ada 2 peserta yang akan memenangkan hadiah menarik !" Tiwi sudah menjadi presenter dadakan.
"Oke, mana semangkanya !" Teriaknya lagi.
2 orang OB ditugaskan sebagai pemotong semangka. Saat itu 2 semangka sebesar bola basket, dipotong-potong kecil hingga menjadi jumlah banyak dan diletakkan didepan Lala dan Ana.
"Oke para peserta siap ?" Suara Tiwi histeris.
"Oke, mari kita hitung !" Kedua peserta bersiap.
" 1 2 3. Mulai !" Semuanya berhitung bersama membuat ruang meeting ribut sekali.
Seketika Lala dan Ana memakan semangka itu dengan tempo cepat dan penuh semangat. Suara sorak sorai yang menonton itu memberi semangat pada keduanya yang memakan semangka mengunyah sebentar dan langsung menelannya.
Semangat keduanya berkobar kencang, belum ada 10 menit, setengah semangka itu sudah ludes. Saat memakan setengah lagi kecepatan menguyah keduanya berkurang sedikit sudah tidak secepat awal hingga menghabiskan potongan terakhir keduanya melemah dengan mulut belepotan dipenuhi biji semangka.
Skor keduanya seri karna mampu menghabiskan 1 buah semangka bulat.
"Menyerah ? Silahkan angkat tangan !" Pekik Tiwi dan keduanya masih bertahan walau dengan wajah meringis dan terlihat sudah duduk tidak nyaman.
"Oke, potong lagi !" Teriak Tiwi.
Menunggu semangka dipotong lagi, keduanya berusaha mengatur nafas, perut keduanya terasa penuh dan terasa ingin melesak keluar. keduanya saling tatap berharap lawan mengalah.
Evan dan Rizky yang tadinya berniat keluar seketika berhenti dan menghampiri keributan di ruang meeting serta ikut menonton perlombaan itu sejak awal.
"Wow, dia tidak takut sakit perut ?" Tawa Rizky. Dia takjub dengan kecepatan makan Lala seperti kilat.
Evan hanya menatap Lala tak berkedip. Cara gadis itu tersenyum, tertawa dan meringis membuat hatinya meronta-ronta meminta Lala kembali. Rindu kembali menyeruak memenuhi hatinya yang kalut.
Saat Lala meminta perpisahan, Evan mencoba berpikir jernih dan mencoba merelakan hingga ia bisa benar-benar berpisah dari Cleo dan kembali pada Lala.
Namun hatinya menentang, ia ingin Lala terus berada disisinya dalam keadaan apapun. Saat pikiran dan hatinya bertentangan, Evan mencoba mencari jalan tengah namun hatinya tidak ingin mengalah bahkan memaksa pikirannya untuk sejalan dengannya.
Evan menyadari sangat menyadari hatinyalah yang menang dan menumbuhkan egonya.
Masih menatap Lala yang mulai disuguhkan kembali semangka. Kedua peserta memakannya kembali dengan tempo cepat tapi hanya bertahan beberapa detik saat keduanya yang sudah memakan 1 buah semangka bulat mulai merasa mual dan kantung kemih mulai penuh dan ingin segera dibuang.
__ADS_1
Perlahan, pelan tapi pasti kecepatan makan keduanya mirip siput bahkan lebih lambat. Memakan potongan semangka 1 hingga potongan lainnya, Ana sudah mulai tidak sanggup memakan semangka itu, tubuhnya gelisah seperti layangan putus dan akhirnya Lala yang tetap memakan potongan terakhir dan 1 potong lagi membuatnya jadi pemenang.
Gemuruh sorak Sorai penonton memenuhi ruang rapat itu, mengelukan Lala yang meringis. Dia sudah tahan karna pertahanannya hampir jebol. Segera berlari ke toilet, hampir menabrak Evan, sesaat terpaku dia cepat berlalu sebelum ngompol ditempat.
"Oke, apa hadiahnya ?" Tanya Lala antusias saat ia kembali keruang rapat. Para penonton sudah membubarkan diri untuk pergi makan siang. Tersisa cleaning service yang membersihkan sisa perlombaan.
"Sabar dong. Nanti aku bawa hadiahnya ke ruanganmu oke !" Tawar Tiwi membuat Lala setuju.
Saat muncul dilantai direktur, Tiwi membawa plastik putih besar berisi beberapa kotak.
"Ini hadiahnya !" Tiwi memberi Lala 1 kotak.
Saat membuka kotak itu, Lala melongo melihat menu nasi Padang.
"Ini hadiahnya ? Gak ada yang lain ?" Tanya Lala heran.
"Memangnya kamu mau hadiah apa ?" Tanya Tiwi.
"Emas gitu atau motor !" Ucap Lala membuat Tiwi mencibir.
"Maaf anda kurang beruntung. Memang hanya itu hadiahnya !" Tiwi tergelak melihat wajah cemberut Lala.
"Eh kunyuk, kalau hadiahnya cuma begini lebih baik aku gak ikut lomba !" Lala melotot, Tiwi hanya menaikkan bahunya.
"Eh, kita makan sama-sama diruangan bos !" Lala terdiam. Tiwi menuju ruangan Rizky.
Tok.. tok.. tok..
"Ky, ayo makan bareng !" Gedoran keras tak berperikemanusiaan dipintu ruangan Rizky membuat cowok itu keluar dengan wajah kaget.
"Ya ampun kukira penagih utang. Ada apa ?" Tanya Rizky malas.
"Ini ada nasi Padang !"
"Ya ampun, tumben baik !"
Tiwi mendelik
"Kubawa balik nih !"
"Oke.. oke.. ayo makan !"
"Ayo keruangan bos !" Tiwi menuju ruangan Evan diikuti Rizky dan Lala.
Semuanya makan dengan diam. Hanya Tiwi yang makan dengan santai tanpa sadar ada perang hati antara direktur utama dan sekertarisnya.
Semeja seperti ini sungguh tidak nyaman untuk Lala, berapa kali pandangannya dengan Evan bertemu namun dengan tatapan yang sulit diartikan membuat ia gelisah hingga ***** makannya benar-benar hilang.
Hanya Rizky yang menyadari itu hanya cuek saja.
Jam pulang kantor.
Lagi-lagi Evan meminta Lala tidak pulang dulu dan harus keruangannya. Saat Lala memasuki ruangan direktur, Evan sedang berdiri didepan jendela kaca menatap lalu-lintas dibawahnya yang terlihat padat merayap.
"Apa yang bisa saya bantu bos ?" Tanya Lala sopan saat berada dibelakang Evan.
Evan berbalik, menatap Lala datar lalu berjalan kearah gadis itu, melewatinya dan memeluknya dari belakang.
Lala terkejut, refleks berontak namun tenaga Evan lebih kuat, semakin dia mencoba melepaskan diri semakin erat Evan memeluknya. Akhirnya Lala menyerah tidak lagi berontak, percuma.
"Pak, tolong lepas !" Pinta Lala lirih.
"Tidak !"
"Apa mau anda ?"
"Aku gak mau putus !"
Lala terbelalak, kali ini ia berontak dengan keras hingga pelukan Evan terlepas. Ia berbalik dan menatap tajam pria itu.
"Tolong, berpikir jernihlah. Ini sudah berakhir, tolong terima itu !"
"Tapi La........!"
"Apa kamu mencintaiku ?" Tanya Lala membuat Evan langsung mengangguk mantap.
"Mau mengabulkan permintaanku ?" Evan menganggu lagi.
"Tolong lupakan aku dan cintailah istrimu !" Ucap Lala tegas membuat raut wajah Evan menjadi pias.
"Apa artinya aku buat kamu ?" Evan balas bertanya.
__ADS_1
"Tidak ada, biasa aja !" Setelah mengatakan itu hati Lala tersayat.
Keduanya bertatapan, Evan benar-benar kecewa dengan jawaban Lala. Sedangkan Lala, tanpa kentara tangannya meremas erat roknya saat menatap wajah Evan.
Lala ingin roboh di lantai dan menumpahkan air matanya kembali meluapkan pedih hatinya namun didepan Evan dia harus kuat, dia harus menunjukkan pada laki-laki ini bahwa dia baik-baik saja.
"Tatap mataku dan katakan kau tidak mencintaiku !" Sentak Evan, wajahnya memerah menahan gejolak amarah.
Lala mematung, bagaimana mungkin dia sanggup melakukan itu. Yang ingin dia katakan bahwa betapa dia mencintai laki-laki ini.
Namun bayangan Cleo dan kehamilannya seketika merubah pendirian Lala. Ditatapnya mata Evan dan dengan mencengkram kuat roknya.
Memikirkan suatu hari nanti Evan menjadi seorang ayah. Saat Cleo melahirkan bisa dipastikan wajah Evan pasti sangat bahagia. Bersama Cleo mendidik dan membimbing anaknya dimasa pertumbuhannya agar menjadi orang yang hebat seperti Evan.
"Maaf, aku sudah tidak mencintaimu lagi !" Ucap Lala lancar walau dalam hatinya ribuan duri menerjam perasaannya.
Evan tidak percaya dan sangat yakin kalau Lala juga mencintainya hanya entah apa yang membuatnya berubah pikiran. Namun tak dipungkiri juga jawaban Lala itu sontak membangkitkan emosinya.
Dengan cepat diraihnya gadis itu, dipeluk dan diciumnya tepat di bibir. Lala sempat membeku tidak percaya hingga ia kembali berontak memukul dada dan punggung Evan.
Namun Evan semakin mengeratkan pelukannya dan menyapu seluruh area bibir Lala. Menyesapnya dengan penuh amarah. Lala tidak menyerah trus berontak bahkan memalingkan wajahnya menghindari wajah Evan namun pria itu menahan kepalanya dan kembali menyesapnya.
Lala merasa kehabisan nafas, ia terus berontak dan berontak. Mungkin bosan dengan penolakan Lala, Evan mendorong gadis itu hingga rebah di sofa dan langsung kembali menciuminya seraya melepaskan jasnya.
Lala merasa terhina, tidak menyangka Evan tega melakukan hal ini padanya. Ciuman pertamanya bersama pria yang dia cintai justru dilakukan atas dasar paksaan.
Evan memasukkan tangannya dibalik kemeja Lala dan meraba kulit halus itu hingga merambat naik. Mata Lala membulat sempurna saat merasakan tangan Evan akan masuk dibalik bra-nya.
Seketika Lala berontak hebat walau tenaga kuat Evan membuat upayanya sia-sia.
"Berpikir.. berpikir La !" Lala memejamkan mata bukan untuk menikmati kecupan Evan.
Lala menggigit keras bibir Evan hingga pria itu berteriak, refleks ia menjauh dari wajah Lala. Kesempatan itu Lala gunakan untuk mendorong keras tubuh Evan hingga pria itu berdiri. Secepat kilat Lala bangkit dari tidurnya.
PLAKKKKK
Sedetik Evan berdiri, Lala langsung menamparnya dengan mengerahkan seluruh tenaga.
"Teganya kau !" Lala menangis keras.
Evan bergeming meski merasakan darah diujung bibirnya. menatap gadis didepannya. Rambut berantakan, kemeja dan rok kusut.
Amarah Evan menutup rasa iba-nya saat melihat Lala menangis pilu.
"Well, mungkin ini aku yang sebenarnya !" Sahutnya enteng menatap remeh pada Lala.
Lala menatap Evan tidak percaya dengan air mata berderai.
"Lakukan apapun perintahku dan jangan pernah membantah !" Evan duduk di sofa santai
"Maksudmu ?"
"Berikan apa yang aku inginkan !"
"Dasar gila !" Umpat Lala. Pikirannya miring.
Evan bangkit dari duduknya, menatap tajam gadis didepannya.
"Ini perusahaanku, siapapun yang terikat dengan perusahaanku artinya harus menuruti apapun keinginanku !"
"Terutama kau !" Tunjuknya pada Lala.
"Pak direktur, anda bajingan !" Maki Lala.
Mendengar itu emosi Evan datang lagi.
"Mirela Tania, jangan pernah membantahku atau kau pergi dari perusahaanku !" Mendengar itu Lala membeku.
"Kau dengar, apapun keinginanku bahkan jika aku meminta tubuhmu. Kau harus berikan, jika tidak silahkan kau angkat kaki dari perusahaanku !" Teriak Evan, laki-laki itu tak terkendali. Ia melepaskan cincin hitamnya dengan kasar dan melemparkan kearah Lala hingga membentur dadanya.
Lala terperangah, benar-benar tidak percaya mendengar kata-kata Evan. Pria itu mengancamnya dengan kekuasaannya. Berpikir bahwa dia tidak benar-benar mengenal Evan karna perkataannya yang menyakitkan.
Setelah mengatakan itu Evan langsung keluar tanpa meraih jasnya berlalu dengan membanting pintu dengan keras mengagetkan Lala.
Kini tubuh Lala luruh di lantai, tak kuat menahan bobot tubuhnya sendiri, air matanya jatuh tak terkendali, ia terisak. Hatinya sakit, sakit sekali. Menangis dan terus menangis meluapkan seluruh perasaannya dan sakit hatinya.
Setelah cukup lama menangis, Lala masih berusaha menenangkan diri diantara isakan pelannya. Diraihnya cincin Evan dan digenggamnya kuat.
Hatinya hancur, tak menyangka semuanya jadi seperti ini, semua tidak berjalan sesuai keinginannya. Bahkan untuk berpisah saja banyak drama yang dilewati.
Ia bangkit memutuskan untuk pulang saat pandangannya tertuju pada jas Evan yang teronggok di lantai. Diraihnya jas itu dan dipeluknya merasakan aroma Evan. Air matanya mengalir lagi.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Evan Setyawan !" Lirihnya seraya menghapus air matanya dan berjalan keluar sambil masih memeluk jas itu.