
Hari ini mama Benki akan mengadakan makan malam besar bersama dimana keluarga yang lain akan kembali datang termasuk 3 bocah ribut itu. Sang mama mengundang Tiara calon menantu dan juga meminta Benki mengundang asistennya. Tentu saja Benki menjadi antusias, karena ia bisa menghabiskan waktu yang lama bersama pujaan hati. Apalagi Aulia menawarkan bantuan untuk membantu sang calon mertua menyiapkan makan malam membuat hati sang mama sangat senang karena merasa tidak salah memilih calon menantu.
Di kantor, Benki sedang fokus pada pekerjaannya di laptop saat ponselnya berbunyi. Diraihnya benda itu dan senyum langsung terbit dibibirnya melihat siapa yang mengiriminya pesan.
Aulia : Hai kak, lagi apa ?
Benki : Memikirkanmu yang jauh disana.
Aulia : Idih, dasar gombal.
Benki : Nanti malam gimana ? Jadi ?
Aulia : Iya kak, pulang kerja nanti aku langsung ke rumah kakak.
Benki : Oke, nanti aku suruh supir untuk jemput dan antar kamu kerumah.
Aulia : Eh, gak usah. Nanti aku berangkat sendiri aja.
Benki : Yakin ?
Cukup lama tidak ada balasan ia meletakkan kembali Hp-nya seraya kembali fokus ke layar laptopnya. Merasakan sebuah pergerakan didekatnya membuatnya melirik sekilas kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.
Hp-nya kembali berbunyi dan segera diraihnya benda itu dengan senyuman mengembang.
Aulia : Yakin kak. Kakak fokus aja dulu kerja nanti aku buatkan makanan yang enak untuk kakak.
Benki : Oke deh ayang.. mmuaachhh..
Pesan itu terbaca namun tak mendapat balasan, Benki bisa membayangkan seperti apa reaksi Tiara saat membacanya membuatnya terkekeh. Saat tangannya terulur hendak meraih cake coklatnya tapi didapatinya, spot itu kosong membuatnya mengeram jengkel.
Bersamaan dengan itu, Fajar memasuki ruangan dengan membawa beberapa dokumen untuk ia tanda tangani namun Benki malah menuduhnya mengambil kuenya dan keduanya berdebat sengit.
Hingga Lala muncul mengejutkan keduanya yang sibuk berdebat dan ketahuan gadis itulah yang mengembat kue Benki. Pada akhirnya ia dihukum untuk membeli kue yang tokonya berada cukup jauh dari kantor.
Setelah datang, Benki dan Fajar menikmati kue yang dibeli Lala dengan wajah yang menyebalkan membuat gadis itu senewen.
"Nanti malam, kalian datang ke rumahku makan malam !" Undang Benki yang langsung disetujui keduanya.
*****
Sejak pulang dari kantor, Benki sudah stand bye di dapur rumahnya. Menatap sang pujaan hati meski dengan penampilan berantakan sedang memotong sayur atau mengulek sambal malah terlihat mempesona di mata Benki.
Aulia yang sedang sibuk pun nampak risih dengan tatapan Benki dan mencoba mengusir cowok itu.
"Kak, udah ih. Lebih baik kakak mandi atau mau kubuatkan kopi atau teh ? Jangan liatin gitu ih !" Sungut Aulia.
"Tiara, entah kenapa sekarang kamu terlihat mempesona !" Benki mengedipkan mata membuat pipi Aulia memerah.
"Cieeeeeeeee !" 2 pembantu yang berada disana seketika meledek membuat Aulia semakin malu.
__ADS_1
"Kakak ih, jangan duduk disitu deh, ganggu banget !" Ucap Aulia.
"Betul, kamu itu ganggu sekali. Jadi sekarang naik ke kamar kamu dan jangan ganggu Tiara !" Ucap sang mama yang baru muncul di dapur dan memukul bahu Benki.
"Tapi ma... !"
"Kamu jangan berada disini nanti Tiara gak fokus masak gara-gara lihat kamu yang merusak pemandangan !"
"Lho, kok gitu ?" Benki protes namun malah dipelototi sang mama.
"Iya, iya aku naik !" Benki melangkah menuju kamarnya namun sebelum itu ia sempat mengedipkan mata kepada Aulia membuat gadis itu tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
Malamnya, makanan mulai tersaji di meja makan. Aulia yang sejak sore berada dirumah Benki dan membantu sang mama memasak tidak bisa bercengkrama dengan pujaan hati dengan leluasa akibat kesibukan memasak.
Dan sekarang, Benki menganga melihat penampilan Aulia yang terlihat turun dari kamar orang tuanya. Gadis itu menjelma dari Upik abu menjadi seorang putri dengan penampilan cantik dan mempesona. Menyadari Benki sedang menatapinya, Aulia hanya tersenyum seraya melewati cowok itu begitu saja menuju dapur membuat Benki melongo.
Para sepupu sudah datang dan tak lama Fajar dan Lala datang, memenuhi meja makan termasuk Melati dan 3 bocah yang sangat susah sekali diam. Setelah selesai membantu menata makanan di meja, Aulia bergabung duduk disamping Benki.
"Tiara, bagaimana pekerjaan papamu ?" Tanya papa Benki kepada Aulia.
"Baik-baik aja om !" Jawab Aulia hati-hati.
"Memang pekerjaan orang tuamu apa ?" Tanya Benki pada Aulia.
"Ng.... !" Aulia bingung menjawab malah menatap lekat wajah Benki.
"Ki, nanti juga tahu sendiri, Tiara jangan ditanya dulu. Oke !" Sahut sang mama.
"Eh, maksudnya Tante ?"
"Modeling kan ketat, banyak tuntutannya. Apa kamu baik-baik aja ?"
"Ng... Baik-baik aja Tante. Saya menikmati semuanya !" Ucap Aulia hati-hati.
"Kapan-kapan kita makan malam bareng dengan orang tua kamu ya Ra, supaya kamu dan Benki bisa cepat-cepat menikah !"
"Setuju ma, setuju !" Benki menyahut cepat.
"Doengg, maunya !" Ledek Lala membuat Fajar tertawa seraya melirik gadis cantik yang duduk tak jauh darinya.
Benki menatap ngeri kepada bawahannya yang hanya acuh seraya menikmati makanan masing-masing. Sedangkan Aulia, ia yang awalnya kaget kini tidak nyaman dengan pembicaraan yang mengarah ke pernikahan ini. Tidak bisa ia bayangkan jika Benki sekeluarga tahu jika ia bukan Tiara entah seperti apa kemarahan mereka dan Aulia belum siap jika itu terjadi.
"Iya Tante, papa dan mama pasti senang bisa makan malam dengan om dan Tante !" Jawab Aulia gugup dengan senyum dipaksakan. Jantungnya berdebar kencang saat mengatakan itu.
"Om dan Tante benar-benar senang kalau kalian berdua saling suka jadinya perjodohan ini gak sia-sia. Om dan Tante juga gak sabar menjadikan kamu menantu !" Ucap mama Benki tersenyum pada Aulia.
Mendengar itu Aulia tidak tahu harus berkata apa, ia hanya bisa tersenyum seraya menatap satu persatu orang-orang yang berada di meja itu. Papa dan mama Benki yang tersenyum hangat padanya lalu Melati, Tasya dan yang lainnya yang juga tersenyum hangat padanya membuat hatinya menangis. Rasa bersalah karena membohongi keluarga ini seketika menyeruak memenuhi hatinya.
Makan malam berlangsung dengan khidmat. Selesai makan, Aulia langsung ditarik ketiga bocah itu untuk bermain bersama membuat Benki keki dibuatnya karena lagi-lagi kebersamaan mereka terjeda.
__ADS_1
Lala bergabung bersama ketiganya meninggalkan Benki dan Fajar yang membicarakan entah apa.
"Tante, gendong !" Ujar si sulung.
"Aku juga !" Si tengah menimpali.
"Endong !" Si bungsu ikutan.
Ketiga bocah itu seketika mengerumuni Aulia untuk segera digendong dengan teriakan membahana membuat gadis itu pusing.
"Sini, Tante Lala yang cantik yang gendong !" Lala berusaha meraih si bungsu yang awalnya enggan kini berada dipelukan Lala dengan paksa.
Aulia pun meraih si sulung dan menggendongnya.
"Aku lari nanti kamu ngejar ya sambil gendong dia !" Ucap Aulia pada Lala.
"Oh gitu, oke !"
Aulia langsung berlari memutari sofa, dimana Ali yang berada di gendongannya menjerit-jerit senang sambil memeluk erat leher Aulia melihat ia dikejar adiknya plus Lala.
Beberapa putaran berlari, mereka berhenti sejenak apalagi Andi sudah merengek ingin digendong juga. Menurunkan Ali, Aulia meraih Andi dan kembali memutari sofa yang dikejar Ali juga Arka digendongan Lala. Suara jeritan senang anak-anak ditambah 2 gadis membuat suasana ramai sekali.
Dan sekarang giliran si bungsu yang dikejar, Lala mulai berlari dikejar oleh Aulia dan kedua bocah itu diiringi jeritan kencang Arka sambil menjambak rambut Lala saking senangnya melihat ia dikejar.
Benki dan Fajar tertawa melihat ekspresi wajah Lala yang kesakitan dijambak bocah. Aksi kejar-kejaran antar bocah yang berlangsung seru dan lama serta sangat ribut itu harus terhenti sebab Tasya muncul meminta ketiga bocah itu untuk tidur.
Dengan berat hati ketiga bocah itu menurut pada sang mama membuat Benki girang dan langsung membawa Aulia pergi dari sana menuju halaman belakang dan duduk di bangku panjang seraya menikmati bintang-bintang malam.
"Aku mau kita bisa sering-sering seperti ini !" Ucap Benki seraya merebahkan kepalanya di bahu Aulia.
"Seperti apa ?"
"Ya berdua gini, kapanpun kita mau, dimanapun kita mau. Mungkin lebih baik aku cepat-cepat ketemu orang tuamu ya untuk segera menikahimu !" Ucap Benki membuat Aulia tercekat.
"Oh ya, memangnya apa pekerjaan orang tuamu ? Mama dan papa gak pernah mau kasih tahu aku ?" Benki mendongak menatap Aulia.
"Kakak benar-benar mau tahu ?" Tanya Aulia gugup.
"Hmmm, jangan deh nanti aja kalau kita ketemu untuk melamarmu dengan resmi, hehehe !" Ucap Benki membuat Aulia tersenyum lega.
"Kalau boleh tahu, kakak sendiri apa pekerjaannya ?" Aulia balik tanya.
Benki mengangkat kepalanya dan menatap lekat wajah Aulia.
"Kalau bisa kamu jangan tahu sekarang, nanti aja kalau aku sudah resmi melamarmu. Aku pasti kasih tahu apa pekerjaanku. Oke !"
Aulia mengangguk membuat Benki tersenyum. Diraihnya kepala gadis itu dan direbahkan di dadanya, sejenak menegecup kening gadis itu kemudian memeluk bahunya seraya menikmati keindahan malam didepan mata tanpa tahu gadis yang berada didekapannya kini justru pikiran dan hatinya berkecamuk akibat ucapannya.
Aulia berharap hari dimana Benki bertemu orang tua Tiara tidak datang dalam waktu dekat agar kebersamaan mereka bisa lebih lama. Jujur, Aulia tidak siap dengan reaksi Benki yang tahu jika nanti ia ketahuan membohonginya.
__ADS_1
'Aku harap semoga kak Benki tidak pernah tahu jika aku bukan Tiara !' Doa Aulia dalam hati.