
Sepertinya takdir sedikit memihak kepada Evan. Fajar langsung membaca pesan yang dikirim Rizky. Bercerita dengan sejujurnya tentang dia, Evan dan Lala serta keinginan utama untuk bertemu walau hal utama untuk mempertemukan Lala dan Evan. Untuk itu, Rizky meminta pihak Benki mengijinkan mereka berkunjung seolah-olah akan melakukan kerjasama tanpa sepengetahuan Lala.
Fajar membaca kata demi kata dengan pikiran kalut, pertama kali baginya mendapat email ajaib seperti ini membuatnya tidak berani mengambil keputusan apapun. Fajar pun memberitahukan kepada Benki tentang email itu, ingin tahu seperti apa reaksi sang bos.
"Kabulkan saja, mungkin ini saatnya mereka menyelesaikan apa yang yang belum terselesaikan !" ucap Benki setelah tertegun dan berpikir sejenak.
"Baik tuan !"
"Kudengar sekarang laki-laki itu telah bercerai jadi mungkin ini saatnya mereka mengambil keputusan yang tepat !"
Fajar hanya mengangguk, kemudian pamit keluar.
Benki menghela nafas, ia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit ruangannya. Jujur saja saat pertama kali melihat Lala, ia sempat tertarik pada gadis manis nan sopan itu namun cincin hitam yang mengunci rapat hatinya membuat Benki mundur perlahan dan semakin lama mengenal Lala, sifat pecicilan gadis itu cukup membuatnya yakin untuk menjalin pertemanan yang baik.
Sekarang Benki telah melupakan perasaannya pada Lala dan sekarang gadis yang dijodohkan orang tuanya itu membuatnya terus kepikiran. Senyum manis dengan tatapan bening disertai sikap sopan gadis itu langsung merebut hati Benki pada pandangan pertama.
Segera Benki meraih Hp-nya dan mengirim pesan pada gadis itu.
Fajar yang baru saja keluar dari ruangan direktur saat Lala tiba-tiba muncul dihadapannya.
"WAAAKKHHH !" Fajar berteriak kaget.
"Kyaaaaaaaaa !" Mendengar Fajar teriak otomatis Lala ikut teriak kaget.
"Bisa gak jangan bikin kaget !" Ucap keduanya bersamaan.
Benki yang sedang fokus dengan Hp-nya sempat ikut kaget namun kemudian tidak peduli.
"Ada apa ?" Tanya Fajar.
"Para model sudah datang dan sudah berada di ruang rapat !" Ucap Lala.
"Baiklah, beritahu bos !" Titah Rizky membuat Lala langsung masuk ke ruangan Benki yang masih asik berbalas pesan.
"Pak bos, para model untuk iklan produk baru kita sudah datang. Mereka sekarang berada di ruang rapat !" Lapor Lala.
"Baiklah, 5 menit lagi !" Benki melirik Lala sekilas dan kembali melanjutkan chat-nya. Lala keluar ruangan.
Tak lama Benki keluar menuju lift diikuti Fajar dan Lala, ketiganya turun ke lantai dasar dan memasuki ruang rapat.
Mata Fajar hampir keluar dari tempatnya saat melihat para gadis cantik nan seksi berada disana tersenyum manis menyambut kedatangan mereka.
"Wah !" Gumamannya terdengar jelas.
"Maaf, kalau kalian tidak keberatan. Masih ada satu model masih dalam perjalanan namun terjebak macet karena ada kecelakaan jadi kalau boleh di tetap berada disini !" Tanya sang manajer wanita paruh baya dengan hati-hati.
"Oh, tidak masalah. Selama dia cantik dan bening, pasti selalu bisa dimaklumi !" Rizky menyambar membuat Benki dan Lala saling pandang mengernyitkan dahi.
"Baiklah, sambil menunggu kedatangan model terakhir maka saya perkenalkan para model papan atas kami !" Sang manajer mulai memperkenalkan gadis-gadis itu satu persatu.
Kemudian Lala meletakkan di meja produk keripik kentang rasa keju terbaru yang akan segera dipasarkan.
"Ini produk terbaru kami dan akan segera dipasarkan. Tugas kalian adalah memperkenalkan produk tersebut dengan keahlian kalian masing-masing. Acting siapa yang bagus maka dialah yang akan terpilih menjadi model produk kami !" Ucap Benki tegas.
Kesepuluh model itu menyebutkan nama dan usia, membuat Rizky berbinar-binar melihat gadis cantik tepat dihadapannya.
Satu persatu mereka memperagakan sedang memakan cemilan terenak didunia. Semuanya berusaha terlihat mempesona dan meyakinkan.
Fajar benar-benar tidak fokus, matanya hanya menelisik penuh pada wajah, dada dan bokong yang menurutnya semua sempurna. Benki dan Lala saling pandang hingga seseorang menerobos masuk dengan terburu-buru.
"Maaf, saya terlambat !" Ucapnya menundukkan kepala.
"Tidak apa-apa silahkan !" Fajar yang menjawab. Matanya bulat sempurna melihat seorang gadis cantik yang baru saja masuk.
Lala melengos dan Benki geleng-geleng kepala. Gadis yang baru datang itu segera menarik nafas setelah dirasa siap ia mulai memperagakan promosi iklan produk terbaru.
Sikapnya yang penuh percaya diri dan senyumnya yang pas serta gayanya yang tidak berlebihan dengan sekejap mencuri perhatian juri. Fajar langsung tepuk tangan dengan keras membuat Benki dan Lala terperanjat kaget.
"Baiklah, dalam beberapa hari kami akan memberikan jawaban, kami akan mendiskusikannya terlebih dahulu !" Ucap Benki.
"Oh ya, siapa namamu ?" Tanya Benki pada gadis yang baru datang sebelum acara selesai.
"Angel Mutiara !" Jawabnya.
"Nama yang cantik secantik orangnya !" Gombalan maut Fajar keluar seraya mengedipkan sebelah matanya.
Gadis itu hanya tersenyum malu sedangkan Benki dan Lala melengos. Berpikir ini berbahaya karena ulah Fajar yang bisa merusak citra perusahaan.
__ADS_1
"Pak Fajar, tadi istri anda telepon. dia bilang susu dan popok anak anda sudah habis dan minta pada anda untuk membelinya saat pulang kerja nanti !" Ucap Lala nyaring kepada Fajar seketika membuat suasana hening serta Fajar yang melotot ngeri.
Semua saling pandang.
"Ng, kalau begitu kami permisi. Kami menunggu jawaban baik dari anda !" Ucap sang manajer pada Benki kemudian dengan terburu-buru meminta para model untuk segera keluar.
Model terakhir itu tersenyum penuh arti pada Benki sebelum keluar.
Setelah hanya tersisa mereka bertiga diruangan itu.
"Maksud Lo ?" Semprot Fajar langsung, matanya melotot ngeri pada Lala.
"Menyelamatkan gadis-gadis itu dari buaya sepertimu !" Jawab Lala enteng. Fajar mengeram seperti harimau dan berniat mencakar-cakar gadis menyebalkan didepannya ini.
Ketiganya menaiki lift, wajah Rizky amat tidak bersahabat. Bisa Lala lihat itu lewat pintu lift yang seperti cermin.
"Memang kamu naksir yang mana tadi ?" Tanya Lala.
"Semuanya. Mau kujadikan istri !" Semprot Fajar. Benki fokus menatap gawainya mengabaikan Tom & Jerry dibelakangnya.
Lala menatap wajah Rizky yang masih terlihat kesal.
"Kamu itu paling gak bisa ya lihat cewek cantik, maunya disambar semuanya. Kamu menggoda semua gadis cantik yang ditemui siapapun dimanapun. Bahkan di kost pun kamu terkenal playboy, goda sana goda sini. Sampai aku pusing lihatnya. Bisa gak kamu tentuin pilihan yang tepat. Tapi aku penasaran, dari sekian cewek cantik yang kamu goda, kenapa kamu tidak menggodaku ?"
Ucapan Lala itu membuat suasana seperti berada di ruang hampa udara.
Benki yang terperanjat kaget seketika mengangkat wajahnya menatap dua orang dibelakangnya dari pantulan pintu lift. Sedangkan Fajar, ia menoleh seperti burung hantu dengan gaya slow motion.
"Kamu sendiri, apa tertarik padaku ?"
"Tidaklah !" Jawab Lala langsung.
"Trus ?"
"Cuma tanya aja ?"
Fajar terdiam menatap Lala tidak tahu harus mengatakan apa.
"Aku tidak suka model pakaian dalammu, seperti nenek-nenek !" Jawab Rizky membuat tawa Benki nyaris meledak. Sedangkan Lala menganga mendengar itu.
*****
Evan telah berada di sebuah restoran steak bersama Syifa. Sang mama telah mengatur kencan keduanya membuat Evan tak kuasa menolak. Setelah duduk dan memesan makanan keduanya terdiam dengan pandangan mengitari ruangan.
Evan memandang intens gadis cantik didepannya, normalnya ia akan langsung jatuh cinta dengan gadis cantik yang mempesona, lembut dan memiliki senyum yang manis namun lagi-lagi Syifa tidak bisa menggeser posisi Lala dihati Evan. Entah sihir apa yang sudah ditanamkan Lala padanya sehingga ia sulit melupakan gadis itu.
"Apa kamu tahu aku pernah menikah ?" Tanya Evan membuka pembicaraan.
"Iya kak !" Syifa mengangguk.
"Apa kamu tidak keberatan ?" Evan menatap ekspresi didepannya dan gadis itu hanya tersenyum.
"Fa, maaf.. sebenarnya aku......!"
"Yank, eh mas Evan !" Sebuah panggilan membuat ucapan Evan terhenti.
Keduanya menoleh ke asal suara, dilihatnya Cleo dan Rizky mendekat. Rizky melirik ngeri pada Cleo saat mendengar sapaan gadis itu.
Cleo mengerutkan kening menatap Syifa.
"Boleh gabung ?" Tanyanya.
Evan dan Syifa saling pandang kemudian gadis itu tersenyum setuju.
"Silahkan !" Ucap Evan namun pandangannya tertuju pada Rizky yang salah tingkah.
Cleo dan Rizky duduk, memanggil pelayan dan memesan makanan. Setelah itu terdiam dengan melirik satu sama lain.
"Kalian darimana ?" Tanya Evan menyelidik.
"Dari nonton !" Jawab Cleo jujur.
"Kenalin, Cleo. Saya mantan istrinya mas Evan !" Cleo mengulurkan tangan pada Syifa.
Mendengar itu Syifa terkejut namun detik berikutnya ia terlihat normal menyambut uluran tangan Cleo dengan senyum manis.
"Syifa. Saya ng... Teman barunya kak Evan !" Hati-hati sekali Syifa berbicara membuat Cleo dan Rizky menahan tawa.
__ADS_1
Cleo dan Syifa mulai mengobrol, berusaha mengakrabkan diri. Evan dan Rizky pun terlihat berbisik-bisik dengan raut wajah serius.
"Oh, kamu dokter. Kayaknya cocok. Mas Evan ini tipe pekerja keras jadi sering kelihatan letih dan lesu. Jadi kalau tidur tu ngorok-nya kencang apalagi kalau lembur itu volumenya mengalahkan dangdut orkestra !" Ucap Cleo membuat Syifa sontak tertawa.
Evan mendelik pada Cleo, sedangkan Rizky, dadanya mulai bergemuruh saat Cleo mengenang masa lalunya.
Tanpa memperdulikan raut wajah 2 pria itu, Cleo semakin gencar membuka aib Evan.
"Pernah juga tengah malam dia ngigau 'eh, burungku lepas trus bagaimana dong caranya ganti burung'.
Syifa menutup mulutnya menahan tawa, Evan mengerutkan kening.
"He, kapan itu ? Aku gak ingat ?" Sergah Evan.
"Ya iyalah gak ingat mas, kan mas Evan tidur nyenyak tapi aku yang kebangun dan dengar semuanya. Aish, sayangnya waktu itu aku lupa ngerekam. Coba aku ingat ngerekam pasti seru !" Ucapan Cleo membuat Evan melotot sadis padanya namun wanita itu malah cuek.
Mimik wajah Rizky jangan ditanya, sudah merah kuning hijau. Menatap Cleo dengan gemas ingin mencubit kedua pipi wanita itu.
"Aku ke toilet dulu !" Pamit Syifa berjalan menuju toilet. Berbelok menuju toilet wanita saat seseorang tiba-tiba keluar dari toilet pria yang berhadapan tepat dengan toilet wanita.
Syifa yang tidak siap seketika limbung kebelakang, heels yang dikenakannya semakin mempermudah jatuh tubuhnya. Syifa menutup mata berpikir kepala dan punggungnya akan menghantam lantai.
Namun sebuah tangan dengan cepat meraih pinggangnya dan menariknya dengan keras, saking kerasnya bibir Syifa hinggap di pipi pria itu. Keduanya mematung dengan posisi pria itu yang memeluknya erat dan Syifa yang mencium pipi pria itu.
"Cieeeeeeeee !" 3 gadis ABG yang baru saja berbelok hendak menuju toilet namun mendapat pemandangan romantis begitu seketika meledek.
Kedua orang yang tidak saling mengenal itu tersentak dan refleks melepaskan diri masing-masing.
"Maaf !" Ucap Syifa malu. Tentu saja malu mencium pria yang tidak dikenalnya.
"It's ok !" Ucap pria itu.
Keduanya sejenak berpandangan, Syifa tertegun melihat wajah tampan didepannya dengan tatapan mata yang teduh yang lagi membuatnya terpikat.
"Kau baik-baik saja ?" Tanya pria itu membuyarkan lamunan Syifa.
"Eh, oh iya.. saya tidak apa-apa. Terima kasih sudah menolong saya !" Ucap Syifa sopan.
"Oke, kalau begitu permisi !" Ucap pria itu seraya berlalu tanpa sadar sesuatu jatuh dari lehernya.
Sebelum berbelok ia berbalik lagi menoleh kearah Syifa, gadis itu masih disana tersenyum manis padanya saat pandangan keduanya bertemu. Pria itu lalu pergi dan Syifa pun berbalik melanjutkan langkahnya menuju toilet saat ia merasa menginjak sesuatu.
Syifa melirik kebawah dan sebuah kalung tergeletak disana. Syifa berjongkok meraihnya, kalung titanium silver dengan bandul berbentuk koin bertulis huruf B.
Sedangkan pria itu yang berjalan menuju pintu keluar seraya memakai masker saat pandangannya mengarah kepada wanita yang sedang duduk bersama 2 pria.
Cleo pun menyadari tatapan pria itu dan langsung mengenalinya. Tatapan keduanya bertemu sesaat sebelum pria itu melangkah keluar restoran dan kembali membuat dada Cleo terasa sesak.
Tak berapa lama, Syifa juga muncul dari toilet. Tatapannya menelisik seluruh pengunjung saat tak didapatinya pria itu, dia yakin kalau kalung ini ada milik pria tadi membuatnya ingin melihat keluar restoran mencari pria itu untuk mengembalikannya disaat tatapan Evan tertuju padanya.
Ia pun memutuskan menyimpan kalung itu dan berjalan menuju meja mereka.
"Kamu lagi cari apa ?" Tanya Evan saat tadi melihat ekspresi Syifa.
"Tadi gak sengaja nabrak orang depan toilet trus aku cari buat minta maaf tapi kayaknya dia udah pergi !" Jawab Syifa membuat Evan mangut-mangut.
Tak lama kemudian makanan mereka tersaji dan keempatnya menikmati dalam diam.
Setelah makan kedua pasangan itu memutuskan pulang.
"Oke kita pisah disini !" Ucap Evan.
"Iya, hati-hati dijalan. Dadah Fa !" Cleo melambaikan tangan pada Syifa dan Evan yang dibalas lambaian tangan juga oleh Syifa.
Sesampai didepan rumah Cleo, wajah Rizky tertekuk sejak meninggalkan restoran.
"Kamu kenapa ?" Tanya Cleo menyadari mimik wajah Rizky.
"Bisa gak Cle, kalau kita lagi sama-sama kamu jangan bicarain masa lalu kamu. Aku gak suka, kesannya kamu masih belum bisa move on dari bos !" Rizky to the point.
Cleo terdiam mendengar itu, fokus menatap wajah Rizky yang mengeras. Merasa tidak ada tanggapan dari Cleo Rizky menoleh kesampingnya.
Saat itulah Cleo memegang kedua pipi Rizky, menariknya dan menautkan bibir mereka. Rizky membeku seraya melotot tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.
Cukup lama, Cleo tersadar dan secepat kilat melepaskan diri dan segera turun dari mobil tanpa berkata apa-apa lagi.
Rizky tersenyum menatap tubuh Cleo yang semakin menjauh dan akhirnya hilang dari pandangan.
__ADS_1