Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 065


__ADS_3

Pergelaran model catwalk peragaan busana di Paris ditunda karena faktor internal dari pihak sana membuat kerjasama yang dibuat di beberapa negara lain terpaksa ditunda, hal itulah yang kini didengar Tiara dari manajernya.


"Hah ? Kok bisa ? Memang apa yang salah ?"


"Gak tau, mereka gak ngasih alasan yang benar, yang jelas mereka akan segera memberi kabar begitu masalah dalam perusahaan mereka selesai !" Ujar sang manajer.


"Sial !" Umpat Tiara. Padahal demi kesempatan ini ia sudah keluar uang banyak untuk merawat tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Ya udahlah Ra, sabar aja nanti aku kasih tau lagi jika mereka udah ngasih kabar !" Setelah mengatakan itu, sang manajer keluar ruangan.


Tiara yang ditinggal sendiri mengumpat kesal dan memaki-maki seorang diri, mengutuk siapapun yang menyebabkan ini terjadi hingga Hp-nya berbunyi dan amarahnya sedikit menurun saat sang kekasih menelepon.


"Halo sayang !" Tiara menyapa dan terdiam saat sang kekasih mengatakan sesuatu hingga senyum terbit di bibirnya.


"Oke sayang !" Tiara segera beranjak dari duduknya, meraih tas dan melenggang pergi.


*****


Benki dan Fajar kembali menghadiri meeting di hotel yang sama. Suasana hotel hari ini sangat ramai, sepertinya seluruh ruangan dalam hotel telah full booked hari ini. Sekarang waktu makan siang, Benki dan Fajar menuju ruang makan.


"Lho, Benki ?" Seseorang memanggil membuat yang dipanggil menoleh.


"Syifa !" Balas Benki surprise.


"Apa kabar ?" Keduanya berjabat tangan.


"Aku baik, kamu sendiri apa kabar ?"


"Aku juga baik !"


"Kamu sedang apa disini ?" Tanya Benki.


"Aku ada seminar disini. Udah lama ya kita gak ketemu. Terakhir lulus SMA !"


"Iya, lulus SMA kamu langsung pindah. Jadi sekarang udah jadi dokter Syifa !" Goda Benki. Syifa tersenyum.


"Eum, aku juga dengar desas desus tadi kalau ada pangeran negeri dongeng sedang rapat, hm, ternyata kamu orangnya Tuan muda direktur !" Balas Syifa sambil terkekeh.


Keduanya terlibat obrolan seru seputar kisah peretemanan mereka di SMA hingga Syifa merasakan tatapan dari samping Benki dan melihat Fajar dengan wajah cool-nya menatap Syifa. Benki memutar bola matanya jengah saat menyadari penyakit mata keranjangnya Fajar kambuh.


"Kenalin, dia Fajar. Asistenku !"


"Fajar !" Fajar mengulurkan tangannya pada sifat dengan wajah mode tampan.


"Syifa !" Syifa menerima uluran tangan Fajar dengan kening berkerut.


"Mungkin kita bisa saling.....!"


"Gak bisa, dia udah punya calon suami !" Potong Benki langsung membuat Fajar melirik malas padanya.


Syifa terkejut kemudian tertawa mendengar itu, menurutnya Benki dan Fajar lucu.


"Bagaimana kalau kita makan bareng, mungkin setelah itu kamu akan berubah pikiran untuk memilihku dibanding calon suamimu itu !" Ucap Fajar membuat Benki dan Syifa menganga.


"Maaf Fa, dia ini buaya darat jadi berhati-hatilah dengannya. Dia bisa membuatmu hamil hanya dengan menatapnya !" Benki memiting leher Fajar membuat cowok itu memekik. Syifa tertawa melihat tingkah keduanya. Beberapa orang melirik kelakuan mereka.


"Mau makan bareng ?" ajak Syifa.


"Oke, Ayo !" Secepat kilat Fajar melepaskan tangan Benki dan menggandeng lengan Syifa membuat gadis itu melongo.


Benki geleng-geleng kepala melihat kelakuan Fajar dan mengikuti keduanya menuju barisan prasmanan.


Aulia yang kebetulan hendak melintas melihat keberadaan Benki sontak panik dan memutar badan sebelum cowok itu melihatnya. Dada Aulia berdetak kencang takut-takut Benki mengenalinya.


Setelah makan malam pertama mereka, mereka hanya berkomunikasi lewat Hp. Jika Benki mengajak bertemu atau makan malam lagi maka akan banyak alasan Aulia untuk menolak seraya mencari cara untuk membatalkan perjodohan yang terjadi dan juga menjaga perasaannya sendiri agar tidak jatuh cinta kepada Benki. Aulia mencoba sedikit mengintip Benki yang masih memilih makanan apa yang diinginkannya dengan mimik serius membuat Aulia terkagum dengan ekspresi wajah Benki yang dalam kondisi apapun selalu terlihat tampan.

__ADS_1


Tersadar, Aulia segera pergi dari tempat itu apalagi banyak yang melirik aneh kepadanya.


Syifa telah duduk dimeja makan setelah mengambil makanan yang diinginkan, sejenak memerhatikan Benki dan Fajar yang masih memilah-milah makanan apa yang diinginkan saat Hp Syifa berdering.


"Halo ma !"


"Kamu kapan balik kesini ?"


"Besok, memang kenapa ma ?"


"Fa, mama mau kenalin kamu ke anak teman mama. Dia duda tapi masih muda kok trus juga gak ada anak !" Sang mama to the point.


"Eh, maksudnya bagaimana ?"


"Iya, teman mama itu lagi cari jodoh untuk anaknya, kebetulan kamu kan jomblo jadi mama dan teman mama berniat kenalin kamu ke dia. Dia direktur PT. Samudera Api. Jangan sia-siain nak !" Suara sang mama terdengar senang.


"Oke ma, nanti Syifa coba ketemu sama dia ya !"


"Oke, mama tunggu kepulanganmu !"


Setelah itu, sambungan telepon terputus dan sambil menghela nafas, Syifa kembali menikmati makanannya.


*****


Aulia sedang berada di kamar Tiara, rebahan manja sambil membuka akun media sosialnya sedangkan si pemilik kamar juga berbaring disampingnya sambil perawatan masker wajah. Hp Aulia berdering, terlihat nama Benki disana membuat Aulia bimbang mengangkat atau tidak, diliriknya Tiara sejenak dan akhirnya diputuskan untuk mengangkatnya.


"Assalamualaikum. Halo kak !" Sapanya.


"Waalaikumsalam Ra, kamu lagi apa ?"


"Aku lagi santai aja ini. Kakak sendiri lagi apa ?"


"Aku juga lagi santai. Oh ya Ra, apa besok malam kamu senggang. Mau datang ke rumahku makan malam ? orang tuaku mau ketemu sama kamu !" Ujar Benki. Aulia terdiam mendengar itu.


"Iya kak !"


"Jadi gimana ? Mau datang ? Nanti kamu dijemput sama supirku !"


"Eh, gak usah kak. Nanti aku datang sendiri aja !"


"Yakin ? Atau aku aja yang jemput ?"


"Serius kak, besok aku datang sendiri deh !" Aulia meyakinkan.


"Oke deh, sampai jumpa besok. Kalau memang butuh telpon aja ya, nanti aku jemput !"


"Iya kak, terima kasih !"


Setelah sambungan telepon berakhir, Aulia langsung bangkit dari acara berbaringnya, berjalan mondar-mandir gelisah, berpikir bagaimana menghadapi keluarga Benki, ia khawatir jika kehadirannya tidak disukai oleh keluarga Benki. Jadilah pikiran Aulia berkelana tak tentu arah.


"Ada apa ?" Tiara yang pusing melihat tingkah Tiara bertanya.


"Kak Benki besok undang aku makan malam di rumahnya besok. Gimana dong ?"


"Ya datang aja kok repot !" Sahut Tiara enteng.


"Kita kan rencananya mau batalin perjodohan ini, aku takutnya sulit batalin kalau dia malah mau kenalin ke keluarganya !"


Tiara terdiam mendengar itu, pikirannya pun bekerja ekstra keras untuk mencari solusi untuk Aulia akan hal apa saja yang harus dilakukan. Saat keheningan melanda keduanya Hp Tiara berdering.


"Halo bun !" Sapa halus Tiara pada manajernya.


"Ra, lusa nanti ada casting model iklan makanan. Kamu harus ikut karena ini salah satu perusahaan besar di Indonesia jadi kalau kamu bisa terpilih jadi model iklan kamu bakal lebih terkenal. Gimana say ?"


"Eh, oke Bun. Oke aja. Selama ini memuluskan karirku aku pasti ikut !" Sambut Tiara girang.

__ADS_1


"Oke Sayangku, jaga kebugaran tubuhmu dan jangan lupa rawat wajah cantikmu. Oke Ra nanti aku akan kasih info lagi !"


"Oke Bun, Thank you infonya ya !


Setelah mematikan teleponnya, Tiara mematut dirinya di cermin dan tersenyum puas dengan penampilannya sekarang, tidak sia-sia perawatan mahalnya yang tadinya untuk tampil di luar negeri.


"Ra, jadi gimana dong !" Suara memelas Aulia membuat Tiara menoleh cepat ia melupakan keberadaan temannya itu.


"Gini deh Ul, kamu penuhi aja undangan makan malamnya trus kenalan deh dengan semua keluarganya. Nah disitu kamu harus cari tahu apa yang gak disukai sama mereka. Kalau udah tahu kamu lakuin deh apa yang gak mereka sukai supaya 1 keluarga ilfil sama kamu dan perjodohan ini batal deh !" Tiara tersenyum puas dengan solusi yang diberikannya.


Tapi tidak dengan Aulia, gadis itu menganga mendengar nasehat aneh itu, yang ada dia bakal di cap kurang ajar jika melakukan itu meski belum tahu apa yang keluarga Benki tidak suka.


"Gak begitu juga kali !" Aulia memukul lengan Tiara membuat gadis itu memekik.


"Ya udahlah, kamu pikirin gih sendiri. sorry, lusa aku ada casting model iklan makanan ringan jadi aku harus banyak berlatih supaya terpilih karena katanya perusahaan mereka salah satu perusahaan terbesar di Indonesia lho !" Tiara kembali mematut dirinya di cermin dan mulai berlatih.


Aulia menghela nafas berat melihat tingkah Tiara, mau tidak mau dia sendiri yang harus berpikir bagaimana menyelesaikan masalah nenek sihir yang lagi bercermin itu.


"Aku pinjam gaun yah !"


"Silahkan, pake yang mana aja yang kamu mau !" Ucap Tiara tanpa menoleh kearah Aulia.


Dan keesokan harinya dengan meminjam dress milik Tiara, Aulia kembali tampil dengan cukup memikat. Menggunakan taksi ia kini sampai dikediaman Benki. Ternyata pria tampan itu sudah menunggunya dan tersenyum hangat menyambut kedatangannya. Aulia menganga melihat rumah Benki yang terlihat mewah itu dan siapapun yang melihat rumah ini pasti yakin jika pemiliknya pasti bukan orang sembarangan.


"Kamu cantik !" Ucap Benki menelisik gadis didepannya dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Terima kasih kak !" Pipi Aulia memerah.


"Ayo masuk, semua udah menunggu didalam !" Tanpa sadar Benki merangkul punggung Aulia membuat gadis itu tersentak, Benki yang juga ikut menyadari kelakuannya menjadi bingung harus apa tapi tidak melepaskan rangkulannya.


Sampailah keduanya di meja makan. Disana ada kakek nenek, orang tua, adik dan sepupu serta 3 keponakan lucu menyemarakkan meja makan. Aulia mulai berkeringat gugup melihat semua mata melirik kearahnya.


"Kenalin ini Tiara !" Ucap Benki.


"Itu kakek, nenek, papa, mama, adikku Melati, Sepupuku Tasya dan suaminya Ari. Nah itu bocah paling gede umur 5 tahun namanya Ali, yang kedua umur 3 tahun Andi dan yang paling kecil namanya Arka !" Benki memperkenalkan seraya menunjuk satu-satu orang yang disebutnya yang hanya disenyumi oleh Aulia.


Terlihat orang tua Benki saling pandang dengan kening berkerut dan kembali menatap intens gadis disamping anaknya itu.


"Ayo duduk nak, jangan berdiri aja !" Sambut mama Benki tersenyum ramah.


"Terima kasih Tante !" Ucap Aulia sopan.


Benki menarik kursi untuk Aulia kemudian ia duduk di ujung meja berhadapan dengan ayahnya.


"Bagiamana pekerjaanmu nak ?" Tanya mama Benki pada Aulia.


"Eh, baik-baik aja Tante !" Jawab Aulia.


"Dunia modeling pasti sulit, harus dituntut untuk tampil sempurna dan pastinya itu butuh perjuangan kuat !"


"Itu betul !" Jawaban Aulia pendek.


"Sudah, ayo kita makan dulu !" Sela papa Benki dan semuanya seketika meraih berbagai hidangan di meja untuk disantap.


Aulia menikmati sebagian besar makanan di meja itu, makan dengan standar sopan santun tanpa sadar banyak yang melirik cara makannya dimana ia memakan semua yang berada di meja dan terlihat tanpa pantangan yang biasanya dimiliki hampir seluruh model.


Setelah makan malam selesai, Aulia kembali ngobrol ringan dengan keluarga disana yang berusaha mengenalnya lebih dalam, sifat sopan Aulia membuat orang-orang disana berdecak kagum pada pilihan orang tua Benki ini, tak jarang suara canda tawa menghiasi ruang keluarga itu kemudian Aulia beralih bercengkrama dengan keponakan-keponakan lucu Benki sambil menggendong balita paling bungsu yang berusia hampir setahun itu berusaha mengakrabkan diri pada ketiganya.


"Kamu suka anak-anak ?" Benki menghampiri keempatnya.


"Suka !" Jawab Aulia dengan wajah berbinar.


"Sering-seringlah main kesini supaya kamu bisa sering ketemu mereka !" Ucap Benki yang diangguki Aulia dan ikut bergabung bercanda ria dengan bocah-bocah lucu itu.


Dan tak jauh dari mereka, orang tua Benki memerhatikan interaksi keduanya kemudian saling tatap dan berbalik menuju kamar.

__ADS_1


__ADS_2