Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
Season 2 - 098


__ADS_3

Hari Aulia ijin tidak bekerja, ia hanya berbaring dikasurnya dengan hati kacau balau. Matanya bengkak sekali. Sejak kemarin ia selalu berusaha menelepon Benki namun cowok itu sekalipun tidak mengangkatnya atau langsung mereject-nya membuat air mata Aulia tak berhenti mengalir.


Begitu juga pesan yang ia kirim tapi tak satupun dibaca Benki. Aulia kembali menangis lagi dan lagi, akhirnya hal yang paling ia takutkan terjadi juga, sepintar apapun ia menyembunyikan atau hindari pada akhirnya hari ini datang juga.


Ibunya yang terkejut melihat keadaannya tak bertanya lebih lanjut sebab gadis itu terus terisak sambil memeluknya dan ia hanya membelai kepala anaknya berusaha menenangkan gadis yang terisak itu.


Tidak beda dari pemandangan itu, Benki pun nampak enggan beranjak dari tempat tidurnya. Cowok itu memandang langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Perasaannya juga kacau balau masih belum bisa menerima kenyataan ini. Sejak kemarin Hp-nya terus berbunyi memunculkan nama kekasih hatinya namun ia hanya acuh.


Mengapa seperti ini ? Saat dia telah yakin pada seseorang tapi malah ia dibohongi mentah-mentah.


'Aku mencintaimu tapi ternyata kamu pembohong !'


'Kenapa kamu gak jujur sejak awal ?'


Banyak hal yang Benki pikirkan, mengapa saat ia telah mencintai seseorang dengan sepenuh jiwa malah hal seperti ini terjadi.


Perjodohan yang ditentukan orang tuanya yang juga demi menghormati mereka Benki bersedia menemui calon istrinya itu dan saat pertama kali bertemu gadis itu berhasil memberi kesan yang dalam padanya membuat jiwa Benki penasaran dan akhirnya berusaha membangun komunikasi dengan gadis itu hari-hari berikutnya hingga gadis itu berhasil mencuri hatinya lewat tutur kata serta sikap sopan santunnya itu.


Tapi sekarang, disaat ia yakin untuk menjadikan gadis itu pelabuhan terakhirnya ia malah menemukan kenyataan jika gadis itu palsu dan telah mempermainkannya.


Benki kembali memejamkan mata, memeluk gulingnya berupaya menghalau perasaannya yang tidak jelas seperti apa bentuknya.


*****


Keesokan harinya, Aulia kini berada di ruang tamu rumah Tiara. Mama Tiara meneleponnya untuk datang. Aulia pun yakin jika mereka akan meminta penjelasan tentang kejadian di ulang tahun Tiara. Disebelahnya ada Tiara yang duduk dengan memasang wajah biasa saja.


"Sekarang jelaskan apa yang terjadi ?" Tanya mama Tiara pada Aulia.


Akhirnya Aulia menceritakan tentang Tiara yang menolak dijodohkan dan memintanya untuk menggantikan dia menemui calon suaminya, maka dari itu Benki tidak mengenali Tiara dan hanya dirinya.


"Lalu apa kamu berhasil memutuskan pertunangan mereka !"


"Nggak Tante lebih tepatnya belum karena saya gak sempat bicara apa-apa karena kak Benki orang sibuk jadi gak bisa diajak ngobrol lama-lama !" Jelas Aulia.


Mama Benki yang mendengar itu mengerutkan kening bingung begitu juga Tiara.


"Lalu ? kenapa Benki kemarin marah sekali ? Apa kalian pacaran ?" Cerca mama Tiara.


"Nggaklah ma, Aul kan cuma belum sempat aja jujur makanya Benki marah sekali karena Aulia udah bohong sama dia !" Tiara berusaha membantu temannya sebelum Aulia membuka mulut.


Mendengar itu mama Tiara mendengus kasar menatap nyalang pada keduanya.

__ADS_1


"Saya minta maaf Tante. Saya tidak bermaksud seperti ini !" Lirih Aulia menahan tangis.


Mama Tiara hanya menatap Aulia tajam kemudian beralih pada anaknya.


"Baiklah, mulai sekarang kalian jangan bertindak gegabah lagi. Mama akan coba cari jalan keluar dari masalah ini. mengerti ?"


"Iya ma..!


"Iya Tante !"


Mama Tiara pergi meninggalkan kedua gadis itu.


"Kekamar yuk !" Ajak Tiara seraya beranjak dan menuju kamarnya. Tanpa kata Aulia mengikutinya.


"Aku udah pikirkan baik-baik, kalau aku akan mengambil Benki kembali !" Tiara to the point.


"Mengambil Benki kembali ?" Aulia membeo.


"Iya, aku akan menuruti orang tuaku untuk menikah dengan dia. Kalau aku menikah dengan dia nantinya karir modelku akan semakin bersinar. Benki mampu bantu aku untuk mendobrak kancah internasional !"


Aulia terperangah mendengar itu, tidak menyangka Tiara akan semudah itu mengatakan akan mengambil Benki kembali.


"Maksudmu ? Aku gak ngerti Ra ?" Ucap Aulia, Tiara menoleh kearah temannya dan menatap dalam gadis itu.


Aulia terpana, ia tahu jika Benki kaya hanya dengan melihat rumah mewahnya tapi ia tidak pernah tahu apa pekerjaan pria itu apalagi reputasinya yang katanya bagus dan sekarang setelah semakin banyak yang terungkap semakin ia sadar bahwa ia tidak pantas untuk Benki.


"Jadi mulai sekarang jauhi Benki. Jangan pernah menghubunginya lagi. Mulai sekarang aku mau perjodohan kami berlanjut dan terima kasih karena belum memutuskan pertunangan kami !" Datar sekali mimik wajah Tiara saat mengatakan itu.


Aulia terdiam, perasaannya teriris mendengar itu. Bagaimana mungkin ia dengan mudah melupakan Benki setelah banyak hal-hal indah yang sudah mereka lewati bersama. Ia memang membohongi Benki tentang identitasnya tapi tidak dengan perasaannya.


"Aku pulang dulu Ra !" Aulia langsung keluar dari kamar itu dan dengan langkah cepat ia meninggalkan kediaman sahabatnya. Sulit sekali menuruti keinginan Tiara. Bagaimana caranya ia bisa melupakan cowok itu dengan mudah ?


Tiara hanya menatap temannya yang melangkah pergi dari kamarnya dengan ekspresi tidak terbaca.


*****


Saat Bryan membuka mata, suasana sudah sangat terang membuatnya seketika panik dan langsung terbangun. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan sudah jam 9 pagi kemudian melirik Jerry yang masih terlelap dengan damai. Cowok itu segera lompat dari tempat tidurnya dan membuka sedikit pintu kamarnya mengintip kamar pertama disana. Sepi, bahkan bodyguard kemarin tidak terlihat berjaga.


Bryan kembali masuk dan langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu ia mengenakan pakaiannya kembali kemudian membangunkan Jerry untuk bersiap-siap.


Jerry menuju kamar mandi sedangkan Bryan kembali mengintip keluar seraya bertanya-tanya apakah Perdana Menteri itu sudah pergi atau masih berada disana ? Lalu kemana perginya bodyguardnya ? Hingga Jerry selesai di kamar mandi dan ikut mengintip dengannya, sama dengan Bryan cowok itu juga bingung apakah Perdana Menteri itu masih berada disana atau sudah pergi.

__ADS_1


Suasana lenggang di lantai VVIP itu membuat kakak beradik itu semakin bingung dan bertanya-tanya.


"Makanya kalau tidur tu jangan kayak kebo !" Jerry menyalahkan kakaknya.


"Eh, sadar. Kamu juga tidur kayak kebo plus ileran lagi !" Sengit Bryan tidak mau kalah.


Keduanya terus berdebat hingga beberapa saat dan suasana lantai itu terus saja lenggang membuat keduanya yakin jikalau sang Perdana Menteri sudah tidak berada di hotel ini.


"Kita pergi saja ?" Putus Jerry melirik sang kakak.


"Ya udah, ayo !" Jawab Bryan.


Pucuk dicinta ulam pun tiba. Lift terbuka dan memunculkan Ron disana, Bryan dan Jerry yang sudah hampir keluar seketika panik dan kembali masuk ke kamar sebelum Ron melihat mereka. Keduanya mengintip sedikit dibalik pintu dan bisa melihat Ron memasuki kamar pertama itu dengan santai.


"Bagaimana sekarang ?" Tanya Jerry. Bryan tidak menjawab, Otaknya berputar apa yang harus ia lakukan.


"Jadi begini !" Bryan menceritakan apa yang ada dikepalanya. "Kalau gak berhasil kita beralih ke rencana B !" Tambahnya.


Hampir 1 jam menunggu, akhirnya Ron terlihat keluar dari kamar pertama itu dengan wajah berbinar sambil memegang sesuatu, sambil bersiul ia menuju lift. Saat menunggu pintu lift terbuka seseorang memanggilnya membuatnya menoleh seraya memasukkan apa yang dipegangnya kekantong kemejanya.


Ron mengerutkan kening melihat seorang pria dengan masker yang menutupi setangah wajahnya dengan rambut yang basah berantakan menutup dahi dan pelipisnya hingga matanya nyaris tak terlihat membuat Ron sempat berpikir orang itu adalah maling.


"Iya tuan, ada yang bisa saya bantu ?" Ron menghampiri pria itu dan bertanya sopan.


"Televisi dikamarku rusak. Aku kecewa dengan fasilitas hotel ini !" Jerry pura-pura marah.


Ron terlihat panik, matanya melotot. Lantai VVIP semuanya disertai dengan fasilitas terbaik sehingga hal kecil seperti itu sangat mustahil tapi kalau iya bisa merusak reputasi hotel.


"Bisa saya lihat televisinya, mungkin bisa saya perbaiki ?" Ron berkata sopan.


"Masuklah !" Ucap Jerry.


Ron masuk dan menuju televisi besar dikamar itu. Sedangkan Jerry, ia mengetuk pelan kamar mandi hingga Bryan keluar dari sana dan berjalan mengendap-endap mendekati Ron.


Ron meraih remote televisi dan mulai menyalakannya. Tivi itu menyala dengan baik dan tidak mengalami kerusakan apapun. Baru saja Ron hendak berbalik untuk bertanya pada pemilik kamar saat sesuatu yang keras menghantam punggungnya dan membuatnya seketika ambruk pingsan.


Jerry langsung memeriksa kantong pakaian Ron saat Bryan berhasil memukul pingsan pria itu. Dikantong kemeja dan kantong celana panjang Ron, ia menemukan banyak kamera kecil serta kartu memori. Memasukkan semua itu kekantongnya sendiri. Jerry kemudian mengangkat tubuh Ron dan membaringkannya di kasur kemudian melepaskan seluruh pakaiannya hingga polos dan menutupinya dengan selimut. Kemudian Jerry merendam seluruh pakaian Ron di bak mandi.


"Kamu yakin dia tidak akan menuntut kita kalau dia sadar nanti ?" Tanya Bryan saat melihat betapa santainya Jerry.


"Kalau dia pintar, dia tidak akan lapor polisi karena itu bisa membongkar rahasianya yang suka pasang kamera tersembunyi apalagi dikamar Perdana Menteri. Bayangkan hukuman apa yang akan dia dapatkan !" Jelas Jerry membuat Bryan mengangguk menyetujui ucapannya.

__ADS_1


"Baiklah, Kita pergi sekarang !" Ucap Bryan setelah memastikan tidak ada barang-barang mereka yang tertinggal. Kembali mengenakan maskernya dan meninggalkan hotel itu dan meninggalkan pria yang lagi-lagi gagal rencananya untuk memeras Perdana Menteri.


__ADS_2