Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
027


__ADS_3

Suasana pesta ulang tahun perusahaan kelapa sawit itu yang dirayakan disalah satu hotel bintang 5 tampak mewah dan dihadiri oleh para orang-orang berpengaruh.


"Selamat datang Van !" Sapa ramah Gilang Mahesa sang direktur utama. Dia tersenyum akrab pada Rizky.


"Terima kasih undangannya bro !" Ucap Evan membuat Gilang tersenyum semakin lebar.


"Ky, berikan hadiah ulang tahun untuknya !" Perintah Evan.


Rizky menyerahkan sebuah lukisan dengan lebar 2 x 1,5 meter dengan sentuhan yang sangat artistik buatan lukisan terkenal Perancis.


"Wow, thank you banget bro !" Gilang meraih lukisan itu, sejenak mengaguminya dan menyerahkan kepada asistennya.


"Silahkan dinikmati pestanya !" Ucap Gilang seraya berlalu menyambut tamu yang lain.


Evan dan Rizky memasuki dan mengitari ballroom hotel yang luas itu, sebuah kue ulang tahun 8 tingkat dengan didominasi warna putih dengan 1001 macam buah-buahan segar nan warna-warni yang tidak hanya memperindah atau mempercantik kue itu namun juga memukau siapapun yang melihatnya.


"Apa jika perusahaanku ulang tahun, aku juga harus merayakan di hotel berbintang ?" Tanya Evan menoleh pada Rizky.


"Ide bagus bos. Selama ini kita hanya merayakan bersama karyawan kita sendiri, sekali-kali ingin merayakan di hotel berbintang dan mengundang direktur dan CEO perusahaan ternama lainnya !" Rizky tertawa.


Keduanya menghampiri prasmanan dan mengambil minuman dan cemilan yang ada. Tak sedikit kolega yang menyapa Evan dan Rizky dan terlibat perbincangan tentang apa saja tentang pribadi maupun pekerjaan.


Musik mengalun dan dibawakan dengan begitu baik oleh penyanyi terkenal yang diundang ke acara itu. Evan menatap betapa merdunya suara penyanyi itu seraya menikmati camilan saat seseorang menyapa Evan.


"Pak Evan !" Sapa seseorang membuat Evan dan Rizky menoleh bersamaan.


"Oh, Pak Michael. Anda datang juga !" Evan basa-basi.


"Iya. Tidak menyangka bisa bertemu anda lagi disini !" Ucap Michael.


"Anda benar !" Evan.


"Oh ya ? Bagaimana dengan proyek penggalian ditengah kota ? Apa anda ikut ?" Tanya Michael.


"Evan dan Rizky saling pandang.


"Masih saya pikirkan karena penggalian ditengah kota pastinya berdampak besar pada arus lalu lintas yang sudah padat dan pastinya akan semakin kacau !"


"Benar juga !" Michael mangut-mangut.


"Anda sendiri ? Apa anda akan bergabung ?"


"Sepertinya tidak, saya sedang mengurus proyek lain !" Jawab Michael.


Tatapan micahel kesana-kemari jelas mencari seseorang.


"Apa kalian hanya datang berdua ?" Tanya Michael membuat Evan mengerutkan kening.


"Sekertaris anda apa tidak ikut ?" Tambahnya membuat Evan kesal.


"Dia sedang sakit jadi tidak bisa ikut !" Jawab Evan membuat Michael melotot panik.


"Oh ya ? Apa dia baik-baik saja ? Apa aku bisa.....!" Belum selesai bicara sudah dipotong Evan.


"Dia terkena cacar, jadi tidak ada yang berani dekati dia atau akan tertular juga !" Evan memperlihatkan mimik serius membuat Rizky menahan tawa.


Michael jadi bingung.


"Anda sendiri ? Apa datang sendiri ? Kemana sepupu anda ?" Rizky balas bertanya basa-basi.


"Oh, Jerry tidak ikut. Dia sedang sibuk, untuk sementara waktu tidak ikut menghandel perusahaan !" Jawaban santai Michael membuat Evan dan Rizky terkejut, keduanya saling pandang.


"Dimana dia berada sekarang pak Michael ?" Tanya Rizky spontan.


"Saya juga tidak tahu, dia sering pindah-pindah antara Indonesia dan negara P jadinya entah dia berada dimana sekarang !" Jelas Michael dengan mimik lelah.


"Itu artinya dia baik-baik saja ? Sehat-sehat saja !" Pertanyaan aneh Rizky membuat Michael mengurutkan kening seraya mengangguk.


"Kapan terakhir kali anda berkomunikasi dengan Jerry ?" Tanya Rizky.


"Kemarin !" Michael kembali mengerutkan kening mendengar pertanyaan Rizky namun tertangkap netranya kalau Evan dan Rizky melotot gelisah saat mendengar jawabannya.


"Apa saya bisa minta nomor kontak Jerry. Saya ada keperluan yang belum terselesaikan dengannya !" Rizky berusaha terlihat normal.


"Maaf, saya tidak pernah menelepon Jerry hanya dia yang selalu menghubungiku dengan nomor berbeda. Jadi saya tidak bisa memberikan anda kontaknya karena aku sendiri pun tak punya !" Jawab Michael. Dia bertanya-tanya melihat reaksi 2 pria didepannya yang sedikit berlebihan.


Terdengar suara yang memanggil Michael.


"Kalau begitu saya permisi !" Tanpa menunggu jawaban 2 pria didepannya, Michael berlalu dari hadapan keduanya.


Saat proses pencarian tubuh kakak beradik itu, Rizky yang bertanggung jawab membereskan segalanya dan berusaha keras agar identitas Bryan dan Jerry tidak muncul dipublik. Jadi saat media hanya meliput hanya mendapat inisial BF dan JF.

__ADS_1


Melihat reaksi Michael tadi, jelas dia tidak tahu jika kedua sepupunya tercebur ke laut dan hilang.


"Jika Jerry masih hidup itu berarti Bryan juga masih hidup !" Ucap Evan seraya menatap tajam Michael yang sedang tertawa bersama koleganya.


"Benar bos, sepertinya mereka berhasil menemukan cara untuk menyelamatkan diri malam itu !" Tambah Rizky.


"Waspadalah Ky. Ada kemungkinan mereka akan kembali menemui keluargaku !" Pinta Evan.


"Baik bos. Saya akan menyelidiki dan mencari tahu keberadaan mereka !" Ucap Rizky.


*****


Lala sampai ditempat tujuan saat lewat isya, mengedarkan pandangan sekitar dan langsung menemukan rumah kost yang dicarinya. Rumah itu persis seperti di foto.


Rumah 2 tingkat. Lantai bawah adalah rumah sang pemilik dan lantai 2 dirombak menjadi beberapa kamar untuk disewakan.


Tok.. tok.. tok..


Lala mengetuk pintu, tak lama seorang gadis kira-kira seusia dengannya muncul dari balik pintu.


"Iya, mau cari siapa yah ?" Tanya seraya menelisik Lala dari ujung kaki hingga ujung rambut.


"Fitrinya ada ? Saya Mirela, orang mau ngekost disini !" Ucap Lala.


"Oh iya saya, saya pikir kamu datang besok. Kalau begitu ayo saya antar ke kamar kamu !" Ucapnya menutup pintu dan mulai berjalan diikuti Lala.


Keduanya menaiki tangga dan berhenti di kamar dengan angka nomor 2 dipintunya. Pandangan Lala menelisik sekitar. Semua kamar berjumlah 10 dengan lorong yang cukup luas.


Keduanya memasuki kamar dan melihat 3 tas besar Lala sudah menyambut.


"Maaf ya ngerepotin !" Ucap Lala sambil menepuk tas besarnya.


"Tidak masalah. Mungkin kamu tidak percaya kalau ibu-ibu yang bawa tas kamu naik kesini !" Jawaban itu membuat Lala melongo.


Lala memerhatikan seluruh kamar, kamar ini cukup luas lebih luas dari kamarnya yang lalu. Walau harganya lebih mahal karena sudah disertai fasilitas tempat tidur, kipas angin, lemari dan meja kaki pendek.


"Kalau boleh tau apa kegiatanmu sekarang ? Kuliah atau sudah kerja !" Tanya Fitri membuat Lala terdiam sejenak.


"Saya pengangguran. Hehehehe !" Jawab Lala membuat Fitri menaikkan alisnya.


"Saya datang ke kota ini mau memulai hidup baru dan secepatnya mencari pekerjaan !" Jelas Lala membuat Fitri mangut-mangut.


"Memang kamu berasal dari mana ?" Tanya Fitri. Membuat Lala sejenak berpikir.


Fitri membuka pintu menuju balkon diikuti Lala. Balkon itu cukup luas dengan tinggi sebatas dada juga bisa selain untuk menjemur pakaian dan bersantai, Lala juga bisa meletakkan peralatan masak disitu.


"Bangunan disamping itu adalah kost cowok !" Tunjuk Fitri pada bangunan disamping yang hanya berjarak 5 meter.


"Eh, kost cowok !" Lala tersentak, mulai berpikir akan sulit melakukan apapun jika bersebelahan dengan cowok.


"Kamu tenang aja, cowok-cowok disebelah ini rata-rata baik suka menolong hanya saja... !"


"Hanya saja.....!" Lala mengulang.


"Mereka rada genit !" Fitri tertawa melihat wajah melongo Lala.


Itu rumah didepan juga warung menjual dari berbagai macam sayur ikan ayam dan kebutuhan sehari-hari !" Tunjuk Fitri pada rumah yang cukup besar persis berdiri didepan antara kost cewek dan cowok.


"Harap maklum kalau ribut. Karena biasanya orang-orang disini suka teriak saling ledek atau cowok sebelah godain cewek sini. Sepertinya kamu akan jadi target godaan selanjutnya !" Ucap Fitri tertawa membuat Lala ikut tertawa.


"Oke, mari kita bicarakan peraturannya. Dilarang keras membawa teman pria masuk ke kamar. Tolong jaga ketenangan supaya tidak ada konflik antara sesama anak kost. Tidak boleh telat bayar kost eh boleh deh !" Ucap Fitri membuat Lala tertawa.


"Dibawah dekat pagar, aku udah sediakan tempat duduk jika ada tamu cowok datang jadi benar-benar gak boleh naik bahkan sampai teras juga gak boleh. Oke !" Titah Fitri, Lala mengangguk mengerti.


"Oke ini kuncinya dan aku akan biarkan kamu istirahat !" Fitri memberikan kunci pada Lala dan menuju pintu keluar. Tapi Fitri berbalik lagi.


"Oh ya, didaerah ini banyak ibu-ibu tunggal atau orang yang tinggal sebatang kara. Biasanya mereka cari uang dengan bantu-bantu anak kost sekitar sini. Buatkan makanan, belikan perlengkapan sama buruh cuci !"


"Dan yang mengangkat barangmu ini diangkat 7 orang ibu-ibu. Yang paling besar ini diangkat 3 orang !" Ucap Fitri.


"Mereka juga yang membersihkan kamar dan mengganti sprei itu !" Tunjuknya pada kasur bersperai biru muda itu.


"Wow !" Lala terkejut.


"Jadi kalau kamu butuh apa-apa bisa minta tolong mereka. Mereka anti mengemis jadi jika kita bisa membantu dengan menyewa jasa mereka itu lebih baik !" Ucap Fitri.


"Baiklah !" Lala tersenyum


"Kalau begitu silahkan istirahat. Saya turun dulu !" Fitri keluar kamar.


"Terima kasih !" Pekik Lala. Membongkar tasnya mencari handuk dan peralatan mandi serta baju tidurnya. Setelah itu masuk kamar mandi membersihkan diri.

__ADS_1


Lala keluar kamar mandi dan meraih tas Selempangnya ingin mengambil handphone-nya saat matanya fokus pada kotak beludru navy miliknya dibukanya dan ditatapnya sebentar kemudian ditutupnya lagi.


Meraih handphone-nya yang sejak lama dia nonaktifkan. Membuka casing dan melepas simcard-nya, melipat dan membuangnya. Dia akan membeli nomor baru yang juga membantu menghilangkan jejak dirinya.


Lala mematikan lampu dan membaringkan tubuhnya di kasur dan memeluk guling, dalam gelap kamar ingatan Lala kembali tertuju pada Evan yang sukses membuat hatinya diterobos rasa rindu yang membuatnya kembali menangis.


Lala menghapus air matanya dan memejamkan mata dan terlelap.


*****


Keesokan harinya, Lala sedang membongkar barangnya menatanya di lemari dan meja saat pintu kamarnya diketuk.


Fitri datang membawa roti dan buah apel ditangannya.


"Ini buat kamu !" Fitri menyodorkan semua yang dibawanya pada Lala.


"Ya ampun aku ngerepotin nih !" Lala meraih makanan itu.


"Masuk yuk !" Tawar Lala pada Fitri yang sejenak gadis itu terdiam dan akhirnya masuk.


Dilihatnya barang-barang Lala yang berserakan sebagian sudah ditata rapi.


"Aduh aku gak enak ini !" Lala memegangi roti kemasan yang terlihat enak.


"Gak apa-apa kok. Aku kerja di toko roti biasanya bawa pulang banyak roti. Aku kerja bareng Tika anak kost disini juga. Kamarnya nomor 4 !" Jelas Fitri.


" Wow, oke tuh kerja dikelilingi makanan enak !" Lala meletakkan roti dan menyambar apel dan langsung menggigitnya.


"Aku kerja sambil kuliah. Jadinya ada kesibukan lain !"


"Oh ya ? Kuliah dimana ?"


"Pascasarjana universitas K !"


"Wow keren tuh !"


Fitri berjalan kearah balkon menikmati sinar mentari pagi saat matanya melirik seorang gadis yang sedang berbelanja di warung depan.


"Itu yang namanya Tika !" Tunjuknya membuat Lala langsung menatap gadis bergaun biru Dongker selutut itu yang membelakangi mereka.


Tiba-tiba sebuah suara mengagetkan keduanya.


"Hei kau yang disana, yang sedang berbelanja di warung mang Ujang. I love You Fullllllll !" Godanya.


Seorang laki-laki tampan berkulit putih seumuran Rizky yang hanya mengenakan boxer kuning bergambar macan sedang duduk di balkonnya seraya menatap menggoda pada warung didepan.


Gadis bernama Tika berbalik dan mendelik kearah si boxer macan.


"Aduh tatapanmu dek, membuatku serasa ditembak panah asmara !" Ucapnya lebay sambil memegang dadanya membuat Lala dan Fitri saling pandang.


"Pagi-pagi jangan gangguin orang !" Semprot Tika berkacak pinggang kearah si boxer macan.


"Aduh, kamu galak-galak gitu makin cantik neng. Buat aku jadi gimana-gimana gitu ya !" Si boxer macan mengedipkan mata.


"Pake bajumu, gak malu telanjang begitu dilihat orang !" Tika masih menyemprot.


Tapi si boxer macan malah memberikan pose sexy dengan meletakkan kedua tangannya dibelakang kepala membusungkan dada serta perut sixpack-nya membuat Lala dan Fitri terperangah amat sangat.


Tika pun terlihat sempat terpana dan segera tersadar, memilih kembali fokus pada belanjaannya dan membelakangi si boxer macan.


"Ayang Tika, pagi ini engkau seperti sinar mentari, bercahaya begitu indahnya menyinari hatiku yang gelap karena kejamnya cinta !" Si boxer macan mencoba puitis.


Tika diam menggeleng-gelengkan kepala jengah, setelah melakukan pembayaran dan akan melangkah saat sebuah angin kencang tiba-tiba datang dan menerjang Tika. Semua terjadi secepat kilat, angin mesum itu membuat rok Tika terangkat hingga pinggang.


Fitri dan Lala menganga saat dengan jelas mereka melihat gambar Spongebob dibalik rok yang terangkat angin itu.


Tika memekik kaget menarik turun roknya dan refleks duduk saat angin didekatnya membuat rambut panjangnya berantakan.


Untung si penjual mang Ujang tidak ikut melihat karena langsung membelakangi Tika selesai gadis itu membayar belanjanya.


"Wow, ternyata kamu suka Spongebob ya ?" Si boxer macan juga sadar dari kekagetannya.


Wajah Tika merah padam, berjalan cepat seraya menunduk menuju kamarnya. Fitri dan Lala bisa merasakan Tika yang berjalan tergesa-gesa serta menutup pintunya keras.


Fitri dan Lala saling pandang kemudian bersama jatuh terduduk menutup mulut rapat menahan agar tidak tertawa kencang hingga puas, setelah itu keduanya masuk diiringi tatapan si boxer macan.


"Itu tadi namanya Fajar, bisa dibilang dia paling ganteng di kost itu tapi juga paling genit. Dia suka banget godain cewek-cewek cantik yang dikenal maupun gak dikenal tapi orangnya baik kok cuma hati-hati aja jangan sampai jatuh cinta sama dia !" Ucap Fitri membuat Lala menganga.


"Oh tenang aja, aku sudah punya orang yang kusukai. Dia Tampan, berwibawa punya senyum seindah biru langit !" Ucap Lala tersenyum membayangkan wajah Evan yang membuat hatinya kembali nyut-nyut. Fitri ikut tersenyum.


"Oke kalau begitu aku pergi dulu mau berangkat kuliah. Nikmati rotinya !" Fitri berlalu.

__ADS_1


"Terima kasih Fit !"


__ADS_2