
Syifa membuka mata dan ruangan serba putih menyambut pandangannya. Tidak perlu bertanya, ia langsung tahu berada dimana. Apalagi ini tempat dimana dia bekerja.
Syifa memejamkan mata seraya mengelus rambutnya mencoba mengingat apa yang terjadi. Seketika ia melotot saat teringat ia hampir saja dirampok, sontak ia menunduk dan meraba lehernya. Gadis itu bernafas lega saat kalung mataharinya masih berada disana.
Ingatannya kembali pada pria tampan kebule-bulean yang menolongnya. Syifa berpikir dimana ia merasa pernah bertemu dengan cowok itu.
Detik berikutnya ia memekik saat ingat bahwa pria itulah pemilik kalung matahari ini. Syifa menggenggam erat kalungnya, penuh rasa syukur saat pria itu tidak mengambil kalungnya. Ia sudah cinta mati pada kalung ini jadi ia tidak rela kalung ini diambil darinya meski Syifa sangat sadar kalung ini bukan untuknya.
Pintu kamar terbuka memunculkan orang tua Syifa.
"Fa, kamu sudah sadar nak !" Sang mama segera menghampiri dan membelai lembut kelapa sang anak.
"Mau makan atau minum ?" Tanya sang papa
"Minum pa, haus !" Sang papa segera mengambilkan air minum dan sang mama menyiapkan makanan untuk sang anak.
"Pa, ma. Yang bawa Syifa ke rumah sakit siapa ?"
""Kami tidak tahu. Kami hanya ditelepon pihak rumah sakit kalau kamu pingsan karena hampir dirampok !" Ucap sang mama.
"Papa akan cari supir untuk kamu, supaya kejadian seperti ini tidak terulang lagi !" Geram sang papa.
"Gak usah Pa, lain kali Syifa akan hati-hati !"
"Tapi !"
"Syifa janji pa, lain kali Syifa akan lebih hati-hati !" Syifa tersenyum menatap orang tuanya bergantian.
"Andai yang kemarin tolongin bisa datang, jadinya Syifa bisa berterima kasih !" Ucap Syifa yang hanya bisa diangguki orang tuanya.
*****
Beberapa hari kemudian..
Bryan dan Jerry sudah bersiap pulang kembali ke negara P.
"Kalian kok sebentar sekali disini !" Keluh om Prana.
"Betul, harusnya kalian lebih lama disini, kalau perlu kalian tinggal disini saja !" Sambung istri Om Prana.
"Kita tidak tahu kapan lagi bisa lihat kalian ?" Om Prana sendu.
"Kami pulang cuma sebentar pi, mi. Kami masih ada urusan yang belum selesai. Nanti kalau urusan itu selesai baru kami datang kesini lagi !" Ucap Bryan. Hatinya mendengus saat diperlakukan selayaknya bocah.
"Baiklah. Kalian hati-hati dijalan !"
"Segera balik kesini !"
"Iya mi !"
"Papi dan mami sehat terus yah !" Bryan memeluk pasangan tua itu bergantian dengan Jerry.
"Hati-hati dijalan !" Michael memeluk Bryan dan Jerry bergantian.
Kakak beradik itu menuju bandara diantar supir Michael.
Selama perjalanan itu, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Bagaimana dan apa yang akan dilakukan agar tujuan mereka segera tercapai ?
Setelah melewati perjalanan belasan jam yang melelahkan, kakak beradik itu akhirnya sampai juga dirumah yang sudah 2 Minggu lebih mereka tinggalkan. Karena kelelahan, keduanya ambruk di kasur masing-masing dan langsung menuju alam mimpi.
Langit sudah gelap saat keduanya bangun dan rasa lapar langsung menghampiri.
"Kak, ayo pesan makanan !" Rengek Jerry memasuki kamar sang kakak.
Tidak menjawab, Bryan meraih HP-nya sedangkan Jerry menuju jendela kaca disana dan memerhatikan museum yang masih terdapat garis polisi yang terlihat baru akibat penyerangan beberapa waktu yang lalu.
Hingga pintu museum itu terbuka, 1 sosok masuk dengan waspada. Jerry segera mencari teropong sang kakak dan memantau keadaan di gedung itu. Bisa Jerry lihat sebuah mobil berhenti didepan sana dan tak lama, sesosok tadi keluar dengan celingak-celinguk kesana-kemari dengan waspada dan keluar membawa sebuah tas besar dan memasukkannya ke mobil kemudian pria itu kembali memasuki gedung dan membawa lagi tas yang sama besar kedalam mobil.
__ADS_1
Jerry terkesiap kemudian menoleh kearah sang kakak yang sedang asik berbicara tentang pemesanan makanan ditelepon. Tanpa sadar Jerry menjambak rambut Bryan hingga cowok mendongak seraya menjatuhkan Hp-nya ke lantai.
"Kau itu kenapa ?" Semprot Bryan kaget.
"Eh, maaf.. maaf.. itu ada pergerakan mencurigakan di museum. Ayo kita ikuti !" Jelas Jerry.
Tidak peduli dengan raut wajah Bryan yang kebingungan. Jerry menarik tangan Bryan hingga cowok itu berdiri juga menyambar jaket masing-masing dan menarik Bryan keluar menuju mobil mereka namun baru sampai tangga Jerry tampak mengingat-ingat sesuatu dan kembali berlari ke kamarnya. Meraih kotak hitam dalam lemarinya dan kembali berlari keluar diikuti Bryan.
Keduanya sudah memasuki mobil seraya mengintai mobil hitam didepan museum yang belum beranjak dari sana.
Hingga orang sejak tadi bolak-balik mengangkut tas cukup besar itu, ia nampak terdiam didepan mobil sambil memandang pintu museum menunggu seseorang yang akan keluar dari sana.
"Dia itu siapa ?" Tanya Bryan, penasaran juga dengan apa yang dilihatnya.
"Supir kali !" Jawab Jerry sekenanya.
Tak lama, seorang pria muncul disana dan pria yang menunggu tadi segera membukakan pintu belakang mobil untuknya. Dengan wajah angkuhnya, Keanu duduk dikursi belakang dan mobil itu berlalu.
Dengan jarak aman, Jerry mengikuti mobil itu. Ia sangat fokus takut kehilangan jejak mobil itu. Cukup lama mengikuti mobil itu dengan jarak aman hingga mobil hitam itu berhenti disebuah restoran.
Setelah memarkir dengan agak cepat, Jerry dan Bryan memasuki restoran yang langsung disambut ramah oleh pelayan cantik disana.
Bryan yang menjawab sebab mata Jerry liar menatap ke segala arah mencari Keanu dan didapatinya pria itu hendak memasuki private room.
"**** !" Makinya yang membuat Bryan dan pelayan menoleh kearahnya.
"Ada apa tuan ? Apa ada yang salah ?" Tanya Si pelayan.
"Jangan hiraukan dia, dia lapar dan PMS !" Ucap Bryan tersenyum ramah pada pelayan wanita itu.
"Oke sir !" Pelayan itu mengangguk dengan kening berkerut. Kemudian ia kembali berjalan untuk menunjukkan meja kakak beradik itu. Setelah duduk, pelayan memberi buku menu pada Bryan. Melihat-lihat sejenak, Bryan memesan makanan untuknya dan untuk Jerry.
Jerry yang sibuk memerhatikan private room itu, berpikir keras bagaimana caranya bisa masuk ke ruang pribadi itu. Bukan hanya itu, matanya menatap tiap sudut dimana cctv berada.
Jerry membuka kotak hitam yang sejak tadi dipegangnya. Memerhatikan sejenak isi kotak itu dan meraih sesuatu berwarna hitam juga baterai baru. Menyimpan kotak hitamnya di kursi sampingnya dan mulai memasang baterai pada benda hitam yang berukuran seperti korek api.
Hingga seorang pelayan membawa troli makanan dan berdiri didepan private room itu kemudian hendak memasuki ruangan itu saat Jerry dengan cepat berdiri dan melangkah kesana dengan ekspresi seolah-olah tidak peduli sebab dia sadar beberapa cctv memerhatikan langkahnya.
Jantung Jerry berdebar kencang saat ruangan itu perlahan terbuka dan ia dengan cepat melempar benda hitam itu kedalam seraya menjatuhkan diri diiringi teriakan kesakitan.
Berhasil. Semua mata menoleh kearahnya yang sedang berakting seolah-olah sedang terpeleset, bahkan siapapun yang berada di ruangan pribadi itu juga menoleh kearah Jerry dengan penasaran hingga tidak sadar sebuah benda kecil meluncur manis hingga mentok diujung tembok dibelakang kursi mereka.
"Aduh, tangan dan kakiku kram !" Jerry mengeluh saat beberapa pelayan pria menolongnya.
"Kami akan membawa anda ke rumah sakit !" Pelayan itu panik sebab kejadian ini bisa mempengaruhi reputasi restoran mereka.
"Oh, tidak perlu. Saya cuma kram. Tolong bawa saya kesana !" Tunjuknya pada meja dimana Bryan sedang menikmati makanannya dengan nikmat tanpa peduli pada Jerry.
Para pelayan itu menurut dan memapah Jerry yang pura-pura itu ke mejanya.
"Terima kasih !" Ucap Jerry pada para pelayan yang menolongnya.
"Kalau dia jatuh lagi, jangan ditolong ya !" Ucap Bryan membuat para pelayan itu melongo.
"Dia sudah dewasa jadi bisa bangkit sendiri gak perlu ditolong !" Ucap Bryan sadis.
"Kalau begitu kami permisi dan silahkan nikmati makanan anda !" Ucap pelayan itu kemudian berlalu dari sana.
"Ya, terima kasih atas ketidak pedulian anda !" Jerry menatap ngeri pada sang kakak yang hanya dicueki oleh Bryan.
Keduanya larut dalam menikmati makanan masing-masing.
Cukup lama berlalu sampai private room itu terbuka. Pria angkuh itu keluar diikuti 2 pria yang memakai topi serta masker, berlalu meninggalkan restoran.
Saat melihat pelayan memasuki ruangan itu, Jerry juga ikut masuk kesana.
"Maaf, sepertinya mainanku tergelinding masuk kesini tadi !" Ucapnya pada pelayan yang bingung melihatnya.
__ADS_1
"Oh iya. Saya bantu cari tuan !" Tawar pelayan cantik itu. Mau tidak mau Jerry mengangguk.
Keduanya mulai mencari mainan yang dimaksud. Jerry sebenarnya langsung menemukannya namun berakting beberapa waktu agar si pelayan tidak curiga.
"Sudah ketemu !" Jerry memperlihatkan sedikit benda hitam itu. "Kalau begitu saya permisi !" Jerry langsung ngacir keluar.
*****
Sesampainya di rumah, Jerry menuju kamarnya diikuti Bryan yang penasaran dan langsung mengeluarkan benda itu.
"Ini alat perekam !" Jerry seperti bisa membaca pikiran Bryan.
"Oh !"
Jerry langsung menekan tombol on dan suara-suara cukup jelas terdengar.
"Langsung saja, bagaimana keadaanya ?" Suara Keanu terdengar duluan.
"Dia masih pingsan !"
"Habisi dia !"
"A.. apa ?
"Tapi tuan, perjanjian kita kan tidak seperti ini ?"
"Lakukan saja dan uang yang sangat besar menanti kalian !"
"Tapi ?"
"Jika kalian melakukannya maka kupastikan Perdana Menteri akan memuluskan bisnis kalian juga. Penawaran yang cukup bagus kan ? Kalian dapat uang banyak sekaligus jalan bisnis yang mulus !"
"Jujur saja, saya takut !"
"Maka dari itu, lakukan dengan cantik agar tidak ketahuan siapapun termasuk polisi. Mengerti ?"
Kedua pria itu terdiam mendengar itu.
"Ini, berikan obat ini pada pria itu !"
"Jangan bertanya ini apa, lakukan saja !"
Masih tak terdengar satu katapun dari lawan bicaranya.
"Aku anggap pembicaraan ini sudah mencapai kesepakatan dan jika kalian berhasil maka kesuksesan sedang menanti kalian !" Ucap Keanu dingin.
Hening, hanya dentingan sendok dan garpu pada piring yang cukup lama hingga terdengar kemudian suara pamitan ketiganya.
Bryan dan Jerry saling pandang dengan kening berkerut.
"Siapa yang mau dihabisi ?" Tanya Bryan.
"Entahlah !" Jawab Jerry polos.
Dan hari setelah besok datang..
Bryan yang baru bangun saat matahari telah berada tepat diatas kepala langsung membersihkan diri kemudian menuju meja makan dimana sang adik sedang menyiapkan makanan untuk mereka.
Menunggu hingga semua benar-benar terhidang, Bryan menyalakan televisi dan mencari Chanel berita internasional namun Chanel berita nasional langsung mengurungkan niatnya dan menyampaikan berita yang membuat Bryan dan Jerry melotot maksimal.
"Tadi pagi, seorang nelayan menemukan sesosok tubuh yang mengambang di lautan dengan tubuh membiru saat ia hendak mencari kepiting. Setelah diselidiki identitasnya, mayat pria itu bernama Rexano, salah satu anggota mafia yang dikenal sebagai pengedar narkotika. Masih diselidiki penyebab kematiannya juga para polisi masih berusaha mencari titik terang dengan mewawancarai pihak keluarga korban juga teman-temannya. Demikian sekilas info"
Bryan dan Jerry saling pandang mendengar itu.
"Sepertinya kita harus waspada sebelum Perdana Menteri tahu tentang kita dan menargetkan kematian kita juga !" Ucap Bryan.
"Iya kak, aku akan menyusun rencana yang lebih matang lagi !"
__ADS_1
"Berhati-hatilah, jangan sampai ia berhasil menemukan kita dan menghancurkan kita sebelum kita menghancurkan dia !" Tambah Bryan yang hanya diangguki Jerry.