Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit

Mencintaimu Dibawah Indahnya Langit
026


__ADS_3

Lala mengemasi barang-barangnya, memastikan semua sudah terpacking. Ia duduk memainkan hp-nya. Kembali melirik barang-barangnya yang menjadi 3 tas besar, Lala kembali berpikir apa ini sudah keputusan yang tepat ? Apakah dia sanggup ? Harus sanggup.


Pada akhirnya Lala mengikuti pemikirannya mengabaikan hatinya yang meronta-ronta protes dengan keputusan Lala.


Lala menghubungi pihak jasa supir mobil yang bersedia mengantar barang dalam jarak dekat maupun jauh yang hanya barangnya tidak berserta pemiliknya agar mobil bisa menampung banyak barang otomatis lebih banyak uang didapatkan.


"Halo pak, tolong datang ke alamat kost H dan nanti barangnya dikirim ke kota B !" Ucap Lala ditelepon.


Setelah melalui negosiasi dari berat barang hingga biaya yang harus dibayar Lala, keduanya sepakat dan akan segera datang mengambil barang Lala.


Lala duduk dengan pikiran menerawang saat pandangannya mengarah pada amplop surat yang tergeletak didekatnya. Surat yang sudah dibuatnya kemarin.


Lala merebahkan tubuhnya didekat surat itu, menatap dengan mimik perih. Air matanya kembali mengalir deras seperti tidak sanggup untuk melakukan rencananya.


Hatinya seperti bunglon. Terkadang dia pikir keputusannya sudah tepat namun kadang disatu sisi ia tidak rela untuk pergi dari sini terutama dari Evan.


Namun lagi dan lagi, Lala meyakinkan hati bahwa keputusan ini untuk kebaikan bersama.


*****


Evan baru saja muncul dari lift, berjalan dengan gagah menuju ruangannya. Matanya melirik meja Lala yang masih kosong, menghela nafas berat.


Rizky yang tidak masuk dalam pandangan atasannya langsung mengikuti dan kemudian membacakan apa saja kegiatan penting yang akan Evan lakukan.


Evan menatap bingung pada Rizky yang masih asik mengoceh setelah itu menutup memonya seperti yang biasa dilakukan Lala.


"Mana Lala ?" Tanya Evan.


"Dia belum masuk bos, saat saya mencoba meneleponnya tapi tidak pernah dia angkat !" Jelas Rizky.


Selama ini semua yang akan berurusan dengan Evan pasti akan melewati Lala dahulu tapi sekarang saat banyak dari mereka sulit mencoba menghubungi Lala maka dari itu mereka semua menghubungi Rizky membuat cowok itu pusing tujuh keliling karena kini pekerjaannya jadi double.


"Baiklah, kamu boleh keluar Ky !" Ucap Evan.


"Baik bos, permisi !" Rizky melangkah keluar.


Evan menutup wajahnya dengan dua tangannya. Tadinya ia pikir bisa bertemu Lala dan meminta maaf padanya kemudian memulai hubungan baik sampai dia akan menemukan ide yang lebih baik untuk hubungan mereka kedepannya.


Evan mengadahkan pandangannya menyandarkan kepalanya. Rasa gelisah kembali datang menerpanya.


"Aku kangen kamu La !" Lirih Evan.


*****


Keesokan harinya


Hari ini Lala tidak masuk lagi, saat Evan baru datang dan meja itu masih kosong sekosong hatinya membuatnya tidak bersemangat.


Biasanya pemilik meja itu datang lebih awal dan saat melihat Evan muncul Lala akan senantiasa berdiri menyambut seraya tersenyum kepada Evan. Hal yang sangat dirindukan Evan kini.


Evan memandangi handphonenya, berpikir apakah harus menghubungi Lala atau tidak. Karna sampai sekarang ia masih belum berani menelepon Lala sejak kejadian itu.


Evan berpikir memberikan Lala sedikit waktu untuk menata hatinya akibat ucapannya yang berlebihan. Setelah itu ia akan mengabulkan keinginan Lala untuk kembali seperti awal.


Ya, Evan sudah memutuskan untuk mengabulkan keinginan gadis itu. Membiarkan hubungan mereka sejenak terputus dan menunggu waktu yang tepat untuk meraih gadis itu kembali.


Evan tersenyum, kagum dengan pemikirannya sendiri. Ia kagum dengan dirinya yang jenius.


Saat sibuk dengan pikirannya sendiri, Rizky masuk dan melihat dengan jelas Evan senyum-senyum tidak jelas.


"Em, bos. Kita ada rapat di hotel W setengah jam lagi dan jika berangkat sekarang maka kita bisa tepat waktu !" Ucap Rizky hati-hati. Rizky pikir bosnya gila gara-gara diputusin.


"Oke, ayo !" Evan beranjak keluar diikuti Rizky.


"Bagaimana keadaan Lala ?" Tanya Evan saat mereka berdua berada di lift.


Rizky memandang Evan lama sebelum menjawab.


"Telepon saya tidak pernah diangkatnya bos. Jadi saya tidak tau seperti apa keadaannya !" Jawab Rizky.


Evan terlihat gusar dengan jawaban Rizky, ia menjadi gelisah tidak nyaman.


"Ya kamu bisa pergi ke kost-nya. Bicara langsung sama dia !" Evan memberi ide.


"Saya tidak tau dimana dia tinggal bos !" Rizky menjawab polos membuat Evan berdecak.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Tiwi ? Mungkin aja Lala mau bicara sama dia ?" Evan antusias.


"Justru Tiwi sering datang keruangan kita karena teleponnya juga tidak dijawab oleh Lala !" Jawaban Rizky itu membuat Evan lemas.


"Aku benar-benar khawatir dengan dia. Aku kangen mau dengar suaranya, genggam tangannya, melihatnya ketawa dan juga memeluknya !" Evan curhat tanpa sadar membuat Rizky membulatkan matanya tidak percaya.


Evan tersadar dan menoleh kearah Rizky yang melongo menatapnya.


"Lupakan apa yang sudah kamu dengar !" Evan berucap tajam menutup rasa malunya seraya menatap Rizky dengan mimik ngeri. Rizky langsung mengangguk.


"Saya mengerti kalau anda sedang kasmaran bos !" Tawa Rizky hampir meledak saat melihat wajah sangar Evan memerah.


"Kamu akan mengerti kalau jatuh cinta Ky. Makanya cobalah jatuh cinta !" Saran Evan.


Keduanya telah berlalu menaiki mobil menuju hotel W.


Beberapa menit kemudian Lala terlihat keluar dari taksi dan terdiam memandang perusahaan besar dihadapannya.


Dengan keputusan yang ia paksa untuk bulat serta memberanikan diri, Lala mendatangi kantor. Berjalan pelan memasuki kantor.


Satpam dan resepsionis yang awalnya menyambut Lala dengan hangat seketika mengerutkan kening melihat penampilan Lala yang memakai jins 3/4 dan kemeja lengan pendek biru muda serta sepatu kets putih membuatnya terlihat seperti anak kuliahan.


"Selamat siang Bu Lala !" Sapa sang satpam tidak bermaksud meledek.


"Siang juga pak Rohim !" Balas Lala.


"Pak Evan dan pak Rizky baru saja keluar untuk rapat di hotel W !" Kata Mirna si resepsionis memberikan informasi yang tadinya Rizky sendiri memberi info jika ada yang mencari mereka, membuat Lala tertegun lalu tersenyum.


"Terima kasih infonya Mir !" Ucap Lala. Mirna hanya mengangguk.


"Kalau begitu saya naik dulu !" Pamit Lala.


"Silahkan !" Satpam dan resepsionis membalas bersamaan.


Lala menaiki lift, bukan menuju lantai ruang direktur tapi menuju lantai personalia. Saat sampai semua juga menatap heran dengan penampilan Lala yang tidak biasa tapi mereka tetap menyambut hormat sang sekertaris.


Lala langsung menuju ruangan manajer personalia.


"Eh, selamat siang sekertaris. Silahkan duduk ?" Sapa Sindi Manajer personalia.


"Ada apa La ?" Tanya Sindi karna tidak biasanya Lala datang kesini dan waktunya biasa habis menemani Evan.


"Ini !" Tanpa basa basi lagi Lala menyerahkan amplop surat didepan Sindi.


Sindi mearih surat itu dan membukanya. Seketika matanya melotot dan menatap Lala tidak percaya.


"Ada apa ini La ?" Tanya Sindi memastikan.


Lala sekarang menyerahkan surat pengunduran dirinya. Membuat Sindi otomatis terkejut. Menurut sepengetahuannya Lala selama ini tidak ada masalah dengan siapapun di perusahaan ini.


"Kamu berantem sama pak Evan ?" Tanya Sindi lagi dengan mimik bingung.


"Aku gak berantem sama pak Evan. Aku ingin melanjutkan pendidikan ditempat lain dan sulit jika masih bekerja jadinya gini !" Lala mengangkat bahu. Berbohong agar semua bisa mudah selesai.


"Tapi kamu yakin ?" Tanya Sindi karena posisi Lala sekarang ini amat menakjubkan dan menjadi impian banyak gadis yaitu seorang sekertaris salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.


"Yakin, tolong langsung diproses ya !" Ucap Lala seraya berdiri tak ingin mendengar Sindi bertanya lagi.


"Semoga kita bisa bertemu lagi dengan keadaan yang lebih baik !" Ucap Lala membuat Sindi mengerutkan kening.


"Oke Sin, aku balik dulu. Ini terakhir kali aku kekantor !" Lala pamit dan segera berbalik pergi sebelum sempat Sindi membuka suara.


Beberapa langkah Lala berjalan ia berbalik lagi menghampiri Sindi.


"Tolong jangan kasih tau siapapun dulu termasuk Evan ya Sin nanti aku yang akan kasih tau dia sendiri !" Pesan Lala langsung berbalik pergi meninggalkan Sindi yang kebingungan.


Lala kembali menaiki lift menuju lantai direktur utama setelah mendapatkan slip gaji terakhirnya. Saat pintu lift terbuka ia memang tidak asing dengan ruangan ini namun tak dipungkiri ia bergetar saat berpikir ini terakhir kali dia melihat ruangan ini.


Dia menuju mejanya, membereskan serta memilah-milah barang yang mana miliknya pribadi dan mana milik perusahaan. Setelah itu meletakkannya di meja.


Melangkah pelan membuka pintu ruangan Evan dan memasukinya. Sontak saja air mata Lala kembali jatuh menatap ruangan itu dimana kemarin-kemarin mereka makan bersama dan tertawa bersama serta berbagi kasih rahasia antara direktur utama dan sekertarisnya.


Lala duduk di kursi kebesaran Evan, merasakan aroma tubuh pria itu yang menempel pada sandaran kursi sejenak mengijinkan rasa damai menyeruak memasuki hatinya.


Sekejap merasakan kebesaran Evan serta memuaskan matanya untuk menatap semua ruangan ini untuk yang terakhir kali. Tangan Lala meraba dadanya dan mengeluarkan kalungnya. Cincin hitamnya dan Evan bergerincing.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Evan Setyawan !" Ucap Lala menatap bingkai foto kecil Evan disudut meja.


Diletakkannya amplop berisi salinan surat pengunduran dirinya dengan tidak rela, dengan berusaha keras Lala membujuk hatinya bahwa ini yang terbaik.


Gadis itu beranjak memutuskan pergi, saat berada diambang pintu ia berbalik kembali menatap ruangan Evan. Air matanya jatuh saat merasakan sesak di dadanya. Ditutupnya pintu dan menuju mejanya, diraihnya barang-barangnya dan menuju lift sudah tak ingin membiarkan hatinya sesak mengingat orang yang dicintai.


Saat berada di lift, Lala bimbang apakah akan menemui Tiwi atau tidak, mengingat respon gadis itu yang bisa ia duga maka Evan akan segera tahu kedatangannya. Akhirnya Lala mengurungkan niatnya untuk bertemu Tiwi.


Lala berjalan santai keluar saat tiba-tiba mobil Evan muncul membuat ia kaget seketika berlari bersembunyi dibalik guci besar yang terletak di ruang tunggu namun dengan gerak gerik seolah-olah mengambil barangnya yang jatuh menggelinding


"Apa-apaan ini ? Bagaimana bisa rencana seperti ini dilakukan !" Suara gerutu Evan yang menatap beberapa map ditangannya terdengar jelas ditelinga Lala.


Rasa rindu kembali menyeruak membuat Lala ingin menangis. Setelah memastikan Evan menaiki lift Lala bergegas keluar. Melewati satpam resepsionis.


"La, baru aja pak Evan dan Rizky masuk !" Lapor Mirna.


"Oh ya. Tadi aku udah ketemu kok !" Bohong Lala.


"Aku keluar dulu !" Pamitnya kemudian berlari kecil meninggalkan kantor.


Saat akan tiba dibelokan Lala berhenti dan berbalik memandangi perusahaan itu, tidak menyangka dia dengan sendirinya memutuskan mengundurkan dirinya saat dulu ia begitu bahagia saat terpilih sebagai sekertaris dan sekarang dengan berta hati ia memilih mundur dari pekerjaannya juga dari hidup Evan.


Lala segera berbalik, menyetop taksi dan menuju pulang.


"Yang bener aja Ky. Masa kita menggali di tengah kota !" Evan masuk ke ruangannya masih menggerutu dan langsung melemparkan dokumen ditangannya di meja hingga tergeletak tepat diatas amplop Lala.


Hasil rapat tadi membuatnya marah, saat pihak sana mengajukan kerjasama untuk menggali dipusat kota dimana telah diselidiki bahwa tertanam sejenis batu mahal nan langka, untuk itu dibutuhkan banyak tenaga yang berpengaruh besar agar semua bisa sukses namun Evan kembali menolak mereka yang sama dulu ingin menggali di tanah makam.


"Mereka juga kemarin memberikan tawaran untuk menggali didaerah makam !" Tambah Rizky.


"Dan sekarang ditengah kota. Yang benar aja. Tidak ditengah kota juga. Negara kita sudah sangat macet dan pastinya akan semakin macet jika proyek itu benar berjalan !" Evan senewen.


"Siapa yang memikirkan ide konyol seperti itu ?" Tanya Evan membuat Rizky menggeleng.


"Sudahlah Ky. Tolak kerjasama ini. Aku gak mau ambil resiko didemo banyak orang jika melakukan ini !" Putus Evan seraya duduk dikursi kebesarannya memejamkan mata serta memijat keningnya.


"Baik bos !"


*****


Lala duduk didepan rumah kost menunggu mobil travel yang akan menjemputnya.


Barang-barang Lala sudah dibawah tadi pagi dan kini di siang terik ini Lala menunggu mobil travel yang akan membawanya menuju tempat barunya.


Beberapa teman kost-nya mengucapkan salam perpisahan dengan memeluknya.


"Hati-hati di jalan !"


"Disana nanti tinggal dimana ?"


"Perhatikan barang-barangmu, awas banyak copet !"


"Ini obat mabuk !"


"Ini cemilan untuk dimakan di jalan !"


Begitulah ucapan dari teman-teman kost-nya. Meski jarang berkumpul tapi mereka menjalin pertemanan dengan saling menghargai satu sama lain.


Biasanya mereka berkumpul dan bercanda jika ibu kost membuat pesta dirumahnya.


"Bu, terima kasih selama ini baik sama Lala !" Ucap Lala menyalami Bu Siti, pemilik kost-kostan. Bu Siti tinggal berdua suaminya sedang kedua anak perempuannya kuliah di luar kota.


"Iya nak, kalau ada waktu main-mainlah kemari !" Jawab Bu Siti.


"Iya Bu. Kalau begitu Lala permisi. Assalamualaikum !" Kata Lala sebelum naik mobil travelnya.


"Waalaikumsalam !" Balas semua yang berada disitu seraya melambaikan tangan pada mobil travel yang perlahan menjauh.


Perjalanan membutuhkan waktu selama 7 jam. Selama itu Lala bisa tidur siang dan menikmati pemandangan yang membuat perhatiannya sedikit teralihkan.


Dipegangnya kalungnya dan tersenyum.


'Kubawa Cintamu Bersamaku !' Lala terkekeh dengan pemikirannya sendiri membuat penumpang travel menoleh padanya. Tersadar Lala hanya nyengir.


Pandangan Lala terarah didepannya, sepasang muda-mudi sedang duduk tertidur dengan saling bersandar satu sama lain membuat Lala tersenyum. Ia kembali memandang keluar jendela memandang apapun yang dilewati.

__ADS_1


Lala kembali menyentuh kalungnya, memainkan kedua cincin hitamnya dengan jari-jarinya hingga ia merasa tidak sendirian dalam perjalanan ini. Memejamkan mata seolah Evan berada disampingnya dengan terus meraba cincinnya.


__ADS_2