
“Almai! Jangan ganggu aku, bisa tidak?!”
Alchan menatap gadis berhijab yang tengah tertawa di depannya dengan tajam. Dia sangat kesal dengan tingkah Almaira, yang selalu mengganggunya sejak tadi.
“Aku cuma bantu pilihin warna kok,” jawab Almaira santai, tetapi masih tertawa karena melihat wajah Alchan.
“Biar aku saja yang memilihnya. Lebih baik kamu pergi sana, ganggu saja,” usir Alchan.
Almaira melipat kedua tangannya di dada, bibir gadis itu sudah maju lima senti. Alchan hanya bisa mendengkus kesal, pria yang tengah memegang kuas, meletakkannya. Dia mengambil cokelat dari dalam tas dan menyodorkan pada Almaira.
“Biasanya kalau anak kecil lagi merajuk, suka sama cokelat. Nih, buat kamu.”
“Kak Chan! Jahat!” teriak Almaira.
Meski umur sudah dewasa dan sudah cukup untuk menikah, dua manusia berbeda jenis kelamin itu selalu saja bertengkar layaknya anak-anak. Sampai-sampai Alchia—adik Alchan pusing melihat kakak-kakaknya.
“Kalian ini jangan berantem terus dong, entar jodoh baru tahu rasa,” ucap gadis yang duduk di sofa dekat jendela.
“Ngawur kamu,” sahut Alchan.
“Aku tim amin paling kenceng!” Almaira kembali membuka suara. Gadis itu sudah ceria lagi.
Jarak rumah Almaira dan Alchan hanya beberapa meter saja. Lulus sebagai sarjana desainer tak membuat Almaira lupa akan teman-temannya, bahkan dia lebih sering menghabiskan waktu dengan Alchan dan Alchia dari pada menggambar pola-pola baju.
“Pulang sana, kerja. Sudah dewasa juga, main-main saja,” cibir Alchan. Dia beranjak dari duduk setelah mengembalikan kuas pada tempatnya.
Keseharian Alchan hanya melukis, dan menjual lukisannya bila sudah jadi. Tapi, kadang kala dia juga keluar untuk mencari bahan buat lukisan. Alchan paling suka melukis fajar, dari berbagai jenis lukisannya, Alchan selalu menempelkan lukisan fajar di kamarnya.
__ADS_1
Dia menyukai fajar karena sangat indah, ia juga bisa menikmati fajar sesuka hati tanpa ada banyak orang yang melihatnya.
“Aku sudah bosan kerja. Pengin nikah, tetapi belum ada calonnya,” jawab Almaira, mengambil botol Aqua dari kulkas.
“Dasar jomblo!” ejek Alchan sambil tertawa.
“Halah! Yang bilang juga jomblo!” Almaira pun tak mau kalah.
Dekat selalu bertengkar, bila jauh merindu satu sama lain. Meski keduanya sudah dewasa, tetapi tetap menjalin pertemanan dengan baik. Kadang, tetangga mereka sering bilang, bahwa Alchan dan Almaira sangat cocok bila menikah.
“Aku akan pergi malam ini. Kalian mau ikut?” tawar Alchan pada dua gadis yang duduk di depannya.
“Enggak deh, Chia ada tugas kelompok nanti malam,” jawab adiknya.
“Kalau Chia nggak ikut, aku juga. Soalnya, dua orang yang bukan mahram sangat diharamkan untuk berdua-duaan,” ucap Almaira.
“Ya sudah. Lagian aku juga tidak memaksa,” balas Alchan.
**
Jalanan kota Jakarta Selatan cukup padat, Alchan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria berusia dua puluh empat tahun itu, berniat pergi ke pameran temannya.
Sebenarnya niat dia hanya melihat lukisannya yang di pamerkan, tidak lebih. Alchan mengaktifkan hpnya, seketika sederet pesan dari Almaira masuk ke hpnya.
Tidak ingin terjadi sesuatu, Alchan mengabaikannya. Dia akan membuka pesan itu nanti saja, pikirnya.
Tidak terasa, Alchan sudah sampai di depan hotel yang menjadi tempat pameran kali ini. Dia merapikan jasnya, pun dengan celana. Saat semua sudah rapi, Alchan segera pergi untuk memasuki hotel itu.
__ADS_1
Keramaian hal pertama yang Alchan lihat setelah masuk ke tempat yang sudah ditentukan. Dari berbagai lukisan tertempel di sana, ada juga yang ditaruh di tempat khusus.
“Hei, Alchan! Datang juga Lo, Bro,” sapanya temannya. Alchan membalas tos-san tangan.
“Kamu kan sudah undang aku, jelas datanglah,” jawab Alchan ramah.
“Gimana, lukisan Lo gue taruh tempat bagus kan?” ucap temannya lagi sambil menunjuk lukisan yang ada di dalam lemari kaca.
“Thanks, bagus banget,” puji Alchan.
Lalu keduanya berkeliling untuk melihat lukisan lain, Alchan begitu terpesona melihat semuanya. Meski lukisan dia yang paling dominan di sana, tetap saja Alchan mengagumi karya tangannya sendiri.
“Lo mau minum-minum? Sebagai tanda keberhasilan Lo, tenang aja, gue yang bayar,” ajak Arsel—teman Alchan.
Alchan tertawa ringan, lalu menjawab, “Kamu lupa ya, aku kan nggak boleh minum begitu. Agamaku sangat melarangnya.”
“Astaga, gue lupa Chan. Maaflah,” tutur Arsel. Alchan hanya mengangguk.
Arsel memang seorang Nasrani, tetapi tidak membuat Alchan tidak mau berteman dengannya. Mereka saling menjaga satu sama lain, meski kadang Arsel lupa.
“Enggak apa, maklum kok. Nggak semua orang tahu aturan dari agama lain,” papar Alchan seraya tersenyum.
**
Selamat membaca.
Salam Cinta dari babang Alchan.
__ADS_1