Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 21


__ADS_3

Cinta itu tak dapat dipahami, dia akan datang dan menetap untuk orang itu sendiri. Kita hanya dapat merasakannya, ya, saat dekat dengan dia. Kita bisa merasakan nikmat cinta yang tak ingin dihentikan.


Begitulah Langit, sejak pertemuan pertamanya dengan Almaira. Langit merasa getaran-getaran aneh di dada, dia mencoba mengartikan itu biasa saja. Tapi, semakin lama rasa yang dianggap sepele berubah menjadi luar biasa.


“Jadi, mau kamu langsung nikah atau khitbah dulu, Le?” tanya umi. Langit terdiam.


Ya, keluarga Langit kini tengah berkumpul di ruang utama. Membahas perilah perjodohan Langit dan Almaira yang akan menuju tahap selanjutnya. Pria dengan kemeja maroon itu menggaruk tengkuk, sejujurnya Langit juga bingung.


“Langit ikut Abi sama Umi aja,” jawab Langit sopan seraya menundukkan kepalanya.


“Loh, yang mau nikah kan kamu. Piye toh?”


Gelak tawa memenuhi ruangan, pria yang berada di tengah-tengah orang tuanya ikut cengengesan saat beberapa orang di sana tertawa.


“Ya sudah, nanti Abi rembukan lagi sama om Bara,” ujar Abi yang langsung dibalas anggukan oleh Langit.


Ada rasa haru yang menyelinap dalam hati Langit, dia tidak tahu bagaimana skenario Tuhan. Namun, Langit selalu percaya rencana Tuhan lebih baik dari apa pun.


Memiliki Almaira, gadis berprestasi dan memiliki akhlak yang baik. Siapa yang tidak mau? Banyak pria mengidam-idamkan gadis itu. Hanya saja, selama ini Langit selalu memendamnya sendiri. Dia pasrah pada takdir Tuhan, tetap optimis.


Tapi sekarang, Almaira sudah ada di genggaman. Satu langkah saja, gadis itu akan menjadi miliknya selama-lamanya.


“Ngapain senyum-senyum sendiri, Kak?” Pertanyaan dari gadis berhijab biru langit, yang duduk di sofa tunggal membuat Langit tersadar.


“Eh, siapa?” tanya Langit bingung. Pura-pura sibuk.


“Ya situ lah, kan enggak mungkin Abi,” celetuk gadis itu. Adik perempuan Langit.


“Apa sih Naya? Kakak enggak senyum-senyum kok,” elak Langit. “Kalau gitu Langit ke kamar dulu ya, Mi Bi.”


Setelah mendapat anggukan dari kedua orang tuanya. Langit beranjak untuk ke kamar. Pipinya memanas, dia masih malu dengan pertanyaan adiknya tadi. Jadi, lebih baik dia menghindar saja.


Sesampainya di kamar, Langit menjatuhkan tubuhnya di kasur. Dia menatap langit-langit kamar dengan senyum mengembang. Membayangkan wajah Almaira di sana.


“Astagfirullah!” Langit mengusap wajahnya, dan melafazkan istigfar berulang kali.


Merasa salah dengan pikirannya sendiri. Tapi lagi-lagi senyum Langit terpancar, dia tak bisa menahan rasa bahagia itu.


“Atau aku kirim pesan saja ya, pada Almaira? Tanya sama dia, kapan siap aku datang ke rumahnya,” monolog Langit seraya bangkit dari tidur.


Pria itu meraih ponsel di nakas, lalu menghidupkan layarnya hingga terpampang walpaper sebuah lukisan. Langit langsung mencari kontak Almaira.


Dia mendadak bingung. Takut mengganggu gadis itu, tetapi tak sabar ingin bertanya. Akhirnya dia meletakkan ponsel kembali, beberapa menit di ambil lagi.

__ADS_1


“Hais, kenapa aku bingung begini ya? Cuma ngirim pesan doang aja kok, pasti bisalah,” gerutu Langit.


Dia berusaha untuk mengetik pesan di ponselnya, sesekali membaca isi pesan itu kembali. Takut ada salah kata.


[Assalamualaikum, Almaira. Hemm. Aku mau tanya, kapan kamu siap?]


Satu detik, dua detik belum juga dibalas. Langit masih setia menunggu, tentunya dengan pikiran yang positif.


Tring


“Itu pasti balasan Almaira.” Langit segera mengecek ponselnya.


[Wa’alaikumussalam, Langit. Siap ngapain ya?]


Langit menggaruk tengkuk yang tak gatal, dia lupa menjelaskan pada Almaira. Pasti gadis itu kebingungan.


[Aku datang ke rumahmu? Menyampaikan niat baik untuk menjadikan kamu milikku seutuhnya?]


Gerogi, tapi harus disampaikan. Begitulah Langit sekarang, sesekali pria itu melirik layar ponselnya.


Tring


[Insya Allah, kapan kamu datang. Aku siap.]


Mendapat balasan seperti itu, hati Langit berbunga-bunga. Dia merasa amat bahagia, bahkan luasnya lautan tidak bisa menggambarkan kebahagiaannya.


Langit segera beranjak, dia ingin memberitahu orang tuanya. Meminta mereka untuk menemani dia datang ke rumah Almaira, mengkhitbah gadis itu.


**


Baru beberapa langkah mendekati kamar, Gladis terpergok Alchan yang akan keluar. Pria itu mengerutkan dahinya, dengan pandangan sukses menatap lekat Gladis.


“Kamu ... sudah selesai melukis?” tanya Gladis dengan kepala menunduk karena malu.


“Sudah. Baru saja selesai,” ungkap Alchan.


Pria itu seperti menggoda, dia masih berdiri di ambang pintu. Tangannya menyanggah tubuh, dengan tatapan yang semakin membuat Gladis salah tingkah.


“Hemm, aku ... aku mau ajakin kamu keluar,” cicit Gladis.


“Keluar mana?”


“Ke supermarket. Aku ingin buat cake, tapi nggak ada bahan-bahannya. Kamu mau kan, temani aku?” tanya Gladis.

__ADS_1


Alchan hanya tersenyum, dia gemas dengan tingkah Gladis. Padahal supermarket itu lumayan dekat, tapi Gladis mengajaknya. Tidak biasa dia seperti itu.


“Oke. Bentar ya, aku bersih-bersih dulu.” Alchan pergi dari ambang pintu menuju kamar.


Dia akan mengganti bajunya karena tadi kena cat. Sambil menunggu, Gladis memilih duduk di sofa. Sesekali matanya melirik ke arah pintu kamar mereka.


Ketika Alchan keluar, hanya kata ‘wow’ dan tatapan terpesona yang Gladis pancarkan. Sebab, pria itu selalu saja tampan meski memakai semua baju.


“Kemauan baby lagi?” Alchan membuka suara, yang diangguki oleh Gladis.


“Maaf ya, selalu ngerepotin kamu.” Gladis sungguh merasa tidak enak.


“Enggak masalah. Kamu itu kan istri aku. Lagian, anak kamu anak aku juga,” ucap Alchan sembari memegang kedua pipi Gladis.


Ucapan Alchan selalu saja membuat Gladis terharu. Apa mungkin perasaan itu mulai tumbuh, Gladis tak bisa memastikan. Karena sejauh ini, sosok pacar berprestasi yang ada di hati Gladis.


**


“Ayo Sayang, kita pergi ke supermarket. Soalnya Bunda lupa beli sesuatu untuk buat makanan spesial,” ajak Aisyah pada putrinya.


“Minta aja Mbok yang beli Bunda,” saran Almaira.


“Uda nggak perlu, kasihan Mbok nanti harus bolak balik.”


“Tapi apa Bunda nggak capek?” tanya Almaira khawatir.


“Enggak Sayang, Bunda baik-baik saja kok.”


Akhirnya Almaira mengangguk, dia meminta bundanya menunggu. Sedang dia beranjak ke kamar untuk mengganti hijab. Setelah selesai, Almaira menemui bundanya.


“Ayo Bunda,” ajak Almaira. Keduanya berjalan beriringan.


Sampai di halaman supermarket, Aisyah langsung mengajak Almaira masuk. Mereka pergi ke bagian daging terlebih dahulu. Almaira membantu bundanya memilih, agar cepat selesai.


Mereka kembali berjalan, kali ini ke tempat sayur-mayur. Aisyah hanya membeli kol saja, setelah itu pergi dari sana. Tentunya Almaira selalu mengikuti.


Saat akan menuju kasir, mata Almaira menyipit saat melihat sosok yang tak asing di matanya. Dunia memang sesempit ini, dia berusaha menghindar tetapi keadaan yang mempertemukan mereka.


“Bunda, Almai, beli apa?” Alchan. Pria itu berjalan mendekati ibu dan anak yang tengah berusaha tersenyum.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2