Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 69


__ADS_3

Ruangan yang didominasi warna putih terasa begitu hening, dua manusia berbeda kelamin saling diam. Sibuk berlayar di pikiran masing-masing, tanpa ada yang mau membuka suara.


Aisyah menatap sekitar, rumah yang pernah dia kunjungi terasa sedikit berbeda. Sepertinya, sang pemilik banyak merubah ruangan utama ini.


“Hemm,” dehem Laska mengalihkan pandangan Aisyah.


“Sebenarnya aku mengajakmu ke sini, karena ada yang ingin aku bicarakan. Agar masalah ini cepat selesai,” sambung Laska. Wajah tampannya tampak begitu serius, membuat Aisyah bingung.


“Masalah apa? Memangnya ada apa Laska?” tanya Aisyah bingung.


Laska mencoba meredakan sesak di dada, berhadapan dengan Aisyah membuatnya sedikit gugup. Wajah alami wanita itu selalu bisa membuat hatinya bergetar, meski hanya sedikit.


“Sebenarnya aku sudah menikah,” ungkap Laska seraya mengangkat jemarinya yang terdapat cincin indah melingkar di sana.


Wanita berhijab yang duduk di depan Laska, menutup mulutnya tak percaya. Dia perhatikan dengan jelas cincin itu, terukir jelas huruf A dan A.


“A dan A?” Aisyah berusaha menghentikan air matanya agar tak terjatuh.


“Alaska dan Amira,” jawab Laska.


Pertahanan Aisyah roboh begitu saja, dia menangis. Menutupi wajah dengan tangan, Aisyah masih menangis. Dadanya terasa sesak, tidak gampang menerima kenyataan ini setelah dua tahun mereka menjalani hubungan dengan ikatan pertunangan.


“Maaf, bukan aku ingin menjadi pria pengecut. Ini semua takdir Allah, bahkan aku tidak tahu akhir dari cerita kita bakal begini. Jujur, aku mencintaimu tetapi, ada yang lebih harus aku cintai. Yaitu Amira.” Laska menatap sendu Aisyah.


“Aku mengerti, maaf,” lirih Aisyah masih dengan sesenggukannya.


“Seharusnya aku yang minta maaf Aisyah, sudah jadi lelaki bodoh.”


“Enggak Laska. Percuma kita saling menyalakan, rencana ini Allah yang merangkainya. Kita sebagai manusia bisa apa selain menerima.” Aisyah berusaha tegar meski hatinya sangat sakit.


Laska kembali terdiam. Mencoba mencari suasana yang bagus kembali, mungkin ungkapan ini akan menyakiti Aisyah. Terlebih lagi wanita itu sudah sangat berharap dengan perjodohan ini.


“Sebenarnya aku sudah membatalkan perjodohan kita beberapa bulan lalu, setelah aku menikah. Mungkin ayahmu tidak mau bilang karena akan mengganggumu yang sedang menuntut ilmu,”


“Tidak apa. Aku ikhlas. Kalau boleh tahu, istri kamu mana? Kenapa tidak ada di rumah?” tanya Aisyah sembari memandang sekitar. Wanita itu sudah tak menangis lagi.


“Dia aku pindahkan ke hotel selama kakek ada di sini. Aku tidak mau kakek menyakiti Amira, setelah tahu bahwa dia istriku,” jawab Laska.


“Kasihan sekali, pasti dia sangat bingung dengan situasi seperti ini.”


“Tenang, dia bahagia kok. Karena kamu mau menjadi temannya,” ucap Laska.


“Maksud kamu?”

__ADS_1


“Amira yang kamu ajak ke kafe, itu istriku.”


Entah harus bahagia atau sedih, Aisyah bingung. Di satu sisi, dia menyukai Amira karena baik. Di sisi lain, dia berpikir Amira adalah perusak hubungannya dengan Laska. Tapi, Aisyah mencoba menepis semua perasaan itu. Dia tersenyum, pura-pura bahagia meski tak seperti itu kenyataannya.


“Selamat ya, dia gadis baik. Kamu pasti beruntung,”


“Terima kasih Aisyah. Apakah boleh aku minta tolong padamu?”


“Minta tolong apa?”


“Berpura-puralah tak terjadi apa-apa, aku hanya tidak ingin kakek marah jika mengetahui ini semua,” lirih Laska.


“Maaf Laska, aku tidak mau. Berbohong buka hal yang baik, aku menolak. Pulanglah, katakan pada kakekmu tentang kebenaran ini. Aku juga akan membujuknya, agar mau menerima Amira,” ucap Aisyah akhirnya, setelah itu dia berjalan keluar meninggalkan Laska.


Laska beranjak, mengejar Aisyah. Baru saja mereka sampai di halaman rumah, Laska terkejut dengan kedatangan Amira. Wajah gadis itu tampak sedih, matanya menatap Laska dengan sayu, begitu jelas mengisyaratkan kekecewaan.


“Kenapa harus berbohong Tuan Alaska Lencana?!” tekan Amira menatap Laska dengan mata yang sudah berair.


“Amira, aku bisa jelasin.” Laska berjalan mendekati Amira yang berada di samping Hari.


Aisyah bingung harus melakukan apa, dia tidak tahu bahwa Amira akan ke sini. Dan tentunya, dengan masalah yang sedang terjadi.


“Aku bisa mundur kalau Om bilang, bahwa Om sudah mempunyai tunangan! Kenapa harus berbohong? Apa karena kebohonganku? Om mau balas dendam?” Amira terus berucap, menepis tangan Laska yang berusaha memeluknya.


“Apa yang mau Om jelasin? Renovasi rumah? Perjodohan? Atau pernikahan yang bahkan Minggu ini akan terlaksanakan? Coba jelaskan!”


“Ok, aku ngaku salah. Aku bingung Amira! Di satu sisi aku harus jadi anak yang penurut, tapi di sisi lain, ada kamu yang harus aku hormati sebagai istri! Aku harus gimana?”


Laska mengusap kasar air matanya yang sudah jatuh membasahi pipi.


“Aku enggak bisa hidup tanpa kamu, aku juga enggak bisa hidup tanpa kakek. Selama ini, aku berada dalam kungkungannya.”


“Kalau Om jujur, Amira pasti bakal mengerti Om,” ujar Amira tak lepas dari air mata juga.


“Kamu hanya perlu belajar, biarkan aku yang menyelesaikannya.” Jawaban Laska membuat Amira menggelengkan kepalanya.


“Om Hari, antar Amira pulang,” pinta Amira seraya memandang Hari. Dia tak peduli pria itu menggeleng, yang penting dia bisa sampai rumah dan mengeluarkan semua air matanya.


“Amira, dengar dulu!”


Laska terus mengejar Amira, berusaha menggapai tangan gadis itu tapi langsung ditepis. Aisyah, yang sejak tadi hanya diam, ikut mengejar Amira.


“Amira,” panggil Aisyah membuat gadis itu berhenti dan langsung menatap ke belakang.

__ADS_1


“Kak Aisyah?”


“Kamu enggak boleh marah sama Laska. Karena dia, memilihmu. Dia yang akan memperjuangkanmu. Datanglah nanti malam ke rumah ini, kamu harus bertemu dengan kakek Laska,” ucap Aisyah.


“Aisyah! Apa yang kamu lakukan?!” bentak Laska tak suka.


“Dia harus tahu kebenarannya Laska. Dan semua ini harus selesai, kamu harus jadi lelaki yang tegas.”


“Oke. Amira akan datang.”


Setelah mengucap itu, Amira langsung pergi meninggalkan Laska. Dia bingung sekarang, setelah mendengar cerita dari Hari. Bahwa Laska telah dijodohkan, Amira merasa bersalah sekaligus kecewa. Seharusnya Laska bisa jujur, agar dia tak terus berharap padanya.


Bila Amira mengetahui ini lebih cepat, dia pastikan akan mundur dan pergi meninggalkan Laska. Sekarang, dia bingung. Cintanya begitu banyak untuk Laska, tetapi jika dia egois, ada banyak hati yang akan terluka.


Di dalam mobil, Amira masih terus menangis. Dia tak peduli tatapan Hari yang sudah khawatir. Amira hanya ingin mengeluarkan segala rasa sakit yang mengimpit dada.


“Nona Muda, tolong jangan menangis lagi. Saya bingung harus berbuat apa,” ucap Hari dengan wajah khawatir.


“Om cukup fokus menyetir saja, biarkan aku menangis sepuasku!” tegas Amira dengan suara bergetar.


“Sudahlah Nona Muda. Tuan Laska juga sudah membatalkan perjodohan ini,” sambung Hari kembali.


“Karena itu aku menyakiti hati kak Aisyah. Padahal kami baru berteman kemarin,” jawab Amira.


“Takdir tetap ada Nona.”


“Apa yang harus aku lakukan Om, mundur atau tetap bertahan.”


Hari mengerem secara mendadak, hingga tubuh Amira yang tak menggunakan sabuk pengaman, terpental ke depan hingga kening gadis itu terbentur kursi tempat Hari berada.


“Kumohon jangan bicara begitu, kasihan Tuan Laska. Dia sudah berusaha sejauh ini, sudah mengumpulkan banyak uang, demi kemungkinan semua fasilitasnya akan disita oleh kakek. Jika pria sepuh itu tahu, Tuan Laska sudah menikah.”


“Tapi aku akan menyakiti kakek,” lirih Amira pilu.


“Percayalah Nona Muda, Tuan Laska bisa meyakinkan kakeknya.”


 


Bersambung


Kasihan Aisyah. Othor jahil mau jodohin dia sama Hari atau Bara--abang Cinta😂


 

__ADS_1


__ADS_2