Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 4


__ADS_3

Suasana kota Jakarta Selatan begitu indah di pagi hari, lalu lintas belum padat. Sedangkan lampu kota masih tampak menyinari jalanan.


Almaira baru saja sampai di butik miliknya, gadis itu sengaja pergi pagi untuk menghindari sang nenek. Meski ini masih jam setengah enam, dia tak peduli.


Setelah membuka pintu butik, Almaira memilih duduk di bangku depan butik. Gadis itu memegang kertas dan pensil, sambil menatap jalanan kota dia juga menggambar desain yang akan dia kembangkan.


Semakin lama, Almaira malah semakin oleng. Bukannya menggambar, gadis itu malah memikirkan seseorang. Wajah Alchan selalu saja memenuhi ruang pikirannya, membuat Almaira segera mengucap istigfar berulang kali.


“Astagfirullah, apa yang aku pikirkan? Sadar Almai, itu dosa,” ucapnya seraya mengusap dada pelan.


Bohong jika Almaira tidak memiliki rasa pada Alchan. Pertemanan mereka sudah lama sekali, bahkan dari keduanya kecil. Kebersamaan mereka membuat benih-benih cinta tumbuh di hati Almaira, tetapi gadis itu mencoba untuk menutupi.


Meski Almaira percaya takdir, tetapi dia mencoba melupakan semua keinginannya. Alchan terlalu baik untuk dia, pun sepertinya pria itu tidak menyukai dia.


Jika Alchan bersama gadis lain, Almaira sangat merasa cemburu. Makanya dia selalu mengikuti Alchan, ke mana pun pria itu pergi.


“Assalamualaikum Kak Almai,” salam seseorang membuat Almaira tersadar dari lamunannya.


“Waalaikumsalam,” balas gadis itu.


“Ngelamun aja, nggak baik tahu,” ucap Alchia sambil menjatuhkan bokongnya di bangku sebelah Almaira.


“Eh, kamu kenapa bisa ada di sini?” tanya Almaira bingung, dia menatap ke sana kemari seperti mencari seseorang.


Embusan napas kasar terdengar dari bibir Alchia, gadis itu mengubah posisinya lalu menjawab, “Bisalah, kan aku tanya Bunda Aisyah. Lagian, Kakak pagi-pagi juga sudah ada di sini.”


“Aku kan anak rajin,” sahut Almaira.


Gadis itu tertawa, membuat Alchia kesal sendiri. Alchia memang dekat dengan Almaira, dia juga sudah menganggap teman kakaknya itu sebagai kakaknya sendiri. Almaira juga tidak marah, malah dia senang karena memiliki adik angkat seperti Alchia.


“Iya-in aja deh.”


“Hahaha, kamu enggak ke kampus?” tanya Almaira lagi.


“Nantilah Kak, masih jam berapa ini? Duh, sepertinya Kakak sedang bad mood, makanya serba salah,” seloroh Alchia.


“Sok tahu kamu mah!”


“Alchia kan emang selalu tahu!”


Keduanya tertawa bersamaan. Almaira merasa senang karena ada teman di butik, begitu pun Alchia. Dia jadi tak bosan lagi, karena sekarang sudah ada teman bercanda. Berbeda dengan Alchan, biasanya jam segini, pria itu tengah sibuk dengan lukisan.


**


Sebuah pemandangan di atas bukit, terlihat indah dan nyata di atas kanvas. Tangan lihai yang terus memberikan warna, berhenti saat jam berdering. Alchan menghentikan aktivitasnya setelah melihat jarum pendek jam sudah di angka tujuh. Dia bergegas membuka celemek khusus untuk melukis, lalu berjalan meninggalkan ruangannya.

__ADS_1


Sudah saatnya untuk dia joging, Alchan segera mengganti baju dan memakai sepatu. Tak lupa dia pergi ke dapur dulu, untuk bertemu sang mamah.


“Mamah sayang, Alchan pergi joging dulu ya,” pamit Alchan sembari mengecup singkat pipi Amira.


“Tidak sarapan dulu Sayang?” tawar Amira.


“Nggak deh. Lebih seru joging dulu,” canda Alchan.


Pria itu menatap sekitar, mencari seseorang. Amira tahu apa yang putranya cari, tetapi dia memilih diam saja.


“Macan,” panggil Alchan.


“Kok macan sih Sayang?” rajuk Amira tak suka.


“Mamah cantik maksudnya.” Alchan tertawa renyah, membuat Amira juga ikutan tertawa.


“Oh, kirain macan benaran.”


“Ya nggaklah. Oh iya, ngomong-ngomong Alchia ke mana?” tanya Alchan.


“Biasalah, sudah pergi ke rumah Almai,” jawab sang mamah. Alchan hanya mengangguk, lalu mengecup pipi mamahnya sekali lagi.


“Ya sudah kalau gitu. Alchan pergi dulu Mah!” teriak Alchan sambil melambaikan tangannya.


Amira hanya menggeleng melihat tingkah putra semata wayangnya itu, benar-benar sangat mirip dengannya dulu. Duh, dia jadi malu bila mengingat masa mudanya.


“Biarin, yang penting baik hati,” sahut Amira.


“Hahaha, iya deh. Istri aku emang selalu benar,” ucap Laska seraya mengecup pipi Amira.


“Duh, Pah. Uda deh, ingat umur!”


“Kita juga butuh mesra-mesraan tau Mah.”


“Papah!” teriak Amira sambil menodongkan pisau dapur ke arah Laska.


“Iya Mah! Ampun!”


**


Meski terik matahari mulai tampak, tak membuat Alchan menghentikan larinya. Pria itu terus berlari seraya menatap jalanan yang mulai padat. Joging memang kesukaan Alchan, sejak dulu pria itu selalu melakukannya.


Seketika lari Alchan berhenti tepat di depan butik milik Almaira, pria itu menatap sekeliling. Sudah kelihatan ramai, beberapa mobil tampak terparkir di halaman butik itu.


“Chia pasti di sini?” tebak Alchan. Sebab, tadi dia sudah mampir di rumah Almaira untuk mencari adiknya. Namun gadis itu tak ada di sana.

__ADS_1


“Tapi kalau aku masuk ke dalam, pasti Si Almai bakalan ke-pede-an. Entar dikira aku menghampiri dia lagi,” sambung Alchan sambil menggelengkan kepala.


Dua puluh menit waktunya habis untuk berpikir, akhirnya Alchan memilih untuk masuk ke dalam butik. Dia sudah menyiapkan kuping setebal mungkin untuk mendengar ocehan Almaira nanti.


Baru saja memasuki butik, tatapan para pengunjung langsung mengarah padanya. Ada yang memuji, ada juga yang berbisik sambil menjelek-jelekkan Alchan.


Ya, orang-orang cukup kenal dengan seorang Alchan. Si pelukis yang namanya sudah terkenal, apalagi dia putra mahkota keluarga Lencana. Juga pewaris perusahaan kosmetik milik Alaska Lencana.


Tidak mau membuang waktu terlalu lama, Alchan langsung menuju ruangan khusus milik Almaira yang memang sudah dia ketahui. Sebab, gadis itu sendiri pernah mengajaknya dan Alchia masuk ke sana.


Benar saja, setelah pintu terbuka Alchan langsung melihat Alchia tengah mengobrol dengan Almaira.


“Pagi-pagi sudah ngegibah, dasar perempuan!” cibir Alchan sambil melangkah masuk.


“Iri? Bilang bos!” sahut Alchia.


“Mana ada bos iri, yang ada bawahannya.” Alchan pun tak mau kalah.


“Kak Alchan mau minum apa? Kayaknya capek banget, abis joging ya?” tanya Almaira, dia bangkit dari duduk dan mendekati Alchan.


“Iya ni, haus banget. Kayaknya jus oranye aja deh, buatin tolong ya,” ujar Alchan dengan tingkah seperti bos. Alchia mendelik tajam ke arah kakaknya.


Melihat tingkah adik kakak itu, membuat Almaira tersenyum. Dia segera mengangguk ke arah Alchan, dan pergi dari sana.


“Dasar gak sopan!” sinis Alchia.


“Orang dia yang nawarin diri, ya sudah langsung gercep deh.” Jawaban Alchan semakin membuat Alchia kesal.


Almaira datang membawa satu gelas jus yang Alchan pinta tadi. Gadis itu langsung meletakkan jusnya di meja, dan meminta Alchan untuk segera menikmati.


“Kakak datang mau lamar aku ya?” Almaira membuka suara, dia mengedipkan sebelah matanya ke arah Alchan.


Membuat pria itu tersedak-sedak jus.


“Astagfirullah!” Sontak Alchan mengelus dadanya.


“Kok astagfirullah? Dikira Almai setan apa?” sewot Almaira kesal.


“Sebelas dua belaslah.”


“Kak Alchan!”


 **


Oke, waktunya othor bobok😂

__ADS_1


 


 


__ADS_2