
Pagi ini Alchan tengah bersiap-siap untuk pergi menyetor lukisannya pada sang teman, terutama Langit. Pria itu begitu menyukai lukisan Alchan, bahkan Langit sampai memajangnya di dalam kamar.
Sesuatu yang Alchan tuangkan dalam sebuah lukisan, terkesan hidup dan estetik sekali. Hingga mampu menarik banyak orang.
“Aku pergi dulu. Ingat, jangan capek-capek,” pesan Alchan pada Gladis sebelum dia pergi.
“Iya Chan, aku ingat. Lagian, aku juga bukan anak-anak lagi. Kamu nggak perlu khawatirlah,” ucap Gladis sembari menyalami Alchan.
Meski belum sepenuhnya mengerjakan perintah Allah, tetapi Gladis selalu ingat akan kewajibannya pada suami. Dia selalu menyalami Alchan ketika akan pergi dan pulang. Sebagai bentuk kehormatan istri kepada suaminya.
Taksi pesanan Alchan sudah tiba, pria itu segera meninggalkan apartemen untuk turun ke bawah. Dia langsung meminta sopir untuk laju ketika sudah berada di dalam mobil.
Sejenak Alchan menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, sesekali dia memejamkan mata. Lelah, ya Alchan mengakui sekarang dia sering lelah. Bekerja lembur untuk menyelesaikan lukisan, agar gaji yang dia dapatkan dapat mencukupi kebutuhan. Karena sekarang bukan hanya dia yang butuh makan, Gladis dan babynya juga.
Pertama, Alchan berniat mengantar lukisan ke rumah Langit dulu. Biasanya jam segini temannya itu belum berangkat kerja, jadi Alchan bisa memberikannya secara langsung kepada Langit.
Beberapa menit di perjalanan, akhirnya taksi berhenti di depan gerbang rumah orang tua Langit. Alchan segera membayar taksi, lalu turun dari sana.
Dia memencet bel di dekat gerbang, menunggu ada satpam yang membukakan gerbang ini.
“Den Alchan?” Tiba-tiba sosok lelaki paruh baya datang menghampiri, dengan pakaian khusus satpam.
“Iya Pak. Langitnya ada Pak?” tanya Alchan langsung.
“Ada Den. Silakan masuk,” ucap satpam itu setelah membuka gerbang.
Alchan diantar sampai di depan pintu utama, lalu dia memencet bel kembali. Cukup lama menunggu, barulah pintu terbuka memperlihatkan wanita berpakaian syar’i. Yang Alchan ketahui adalah umi Langit.
“Assalamualaikum Tante,” salam Alchan sambil menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
Umi Langit juga melakukan hal yang sama, seraya menjawab salam Alchan, “Waalaikumsalam.”
“Langitnya ada Tante? Soalnya ini, Alchan mau antar lukisan,” ucap Alchan.
“Ouh, ada kok Nak. Ayo masuk,” ajak umi Langit. Dengan segera Alchan mengikuti wanita berhijab itu, masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Alchan menunggu di ruang utama saat umi Langit memanggil putranya. Tak lama terlihat ibu dan anak itu turun melalui tangga membuat senyum Alchan merekah.
“Apa kabar Chan?” Langit segera menyalami Alchan.
“Alhamdulillah baik, kamu sendiri?” tanya balik Alchan.
“Alhamdulillah baik juga. Duduk duduk.”
Mereka berdua duduk, sedangkan umi pergi ke dapur untuk membuatkan minuman. Suasana di ruangan itu hening, Alchan maupun Langit belum ada yang membuka suara.
Sampai minuman yang dibawa umi datang, keduanya belum juga saling mengobrol. Umi tak ingin ikut campur, setelah menaruh minuman dia segera pergi dari sana. Memberi ruang untuk keduanya.
“Oh, iya. Ini lukisan kamu.” Alchan menyodorkan sebuah lukisan yang cukup besar, dengan senang hati Langit menerimanya.
“Uangnya nanti aku transfer aja ya?” seloroh Langit.
“Boleh boleh. Nggak masalah,” jawab Alchan.
“Minum dulu tehnya, nanti keburu dingin,” ujar Langit. Lalu keduanya sama-sama meraih gelas milik mereka.
“Kamu seperti gelisah, atau ada sesuatu yang ingin ditanyakan?” Alchan membuka suara, membuat Langit terkejut.
“Dari mana kamu tahu?” sahut Langit.
“Gelagatmu Langit. Aku sudah bisa menebaknya. Kalau ada yang mau ditanyakan, ya sudah langsung saja jangan takut,” ujar Alchan.
Mungkin tidak apa dia menanyakan pada Alchan. Pikir Langit. Pria itu segera mengubah duduknya, agar lebih menghadap pada Alchan.
“Boleh aku tanya tentang Almaira? Begini, kamu kan temannya sejak kecil, pasti tahu banyak tentang dia,” lontar Langit. Raut wajah Alchan berubah seketika.
“Silakan,” balas Alchan seraya tersenyum.
“Apa makanan kesukaan Almaira? Warna? Hobi?” tanya Langit menggebu.
“Oke oke, aku jawab. Makanan kesukaan Almai itu spaghetti. Sedangkan warna, dia suka warna biru muda. Kalau hobi, tentu saja hobi dia menggambar,” jelas Alchan.
__ADS_1
“Kenapa dia suka biru muda?” Langit kembali melayangkan sebuah pertanyaan.
“Karena dia suka langit.”
Langit tersentak mendengar jawaban Alchan, tetapi sejurus kemudian dia tertawa. Membuat Alchan mengerutkan dahinya karena bingung.
“Seharusnya namaku tak perlu sama dengan langit, jadinya aku berharap.” Langit masih tertawa.
“Seharusnya kamu beruntung karena namamu Langit. Dua ciptaan Allah ini sangat indah dan memesona, Almai pasti akan menyukai Langit satunya lagi, ketika dia sudah mengenal lebih jauh. Seperti dulu, saat dia kecil, Almai lebih menyukai bumi, tetapi ketika dia beranjak dewasa. Langit adalah hal yang paling dia sukai, setiap hari Almai selalu menyempatkan untuk melihat langit,” timpal Alchan panjang lebar.
Langit tertegun mendengar itu. Dia menunduk karena malu.
“Percayalah Langit. Cinta itu sempurna, aku yakin ketika kalian berjodoh. Allah akan memberikan cinta di hati kalian berdua, kamu tidak perlu khawatir,” nasihat Alchan sambil mengusap punggung Langit pelan. Dia sudah berpindah duduk.
“Kamu tidak apa-apa?” Langit bertanya seraya menatap Alchan dengan saksama.
Alchan segera tersenyum. “Aku baik-baik saja. Aku sadar, jodohku itu Gladis. Mulai sekarang aku harus berusaha mencintai dia, dan menyayangi seperti pasangan lain di luaran sana,” ucap Alchan.
“Makasih Chan untuk waktunya. Kamu adalah teman terbaik, tak pergi meski sesuatu yang berharga bagimu kuambil begitu saja,” lirih Langit.
“Aku senang, karena cara kamu memandang Almai juga penuh akan kasih sayang. Aku yakin, kamu bisa menjaga dia. Aku hanya bisa berdoa, semoga sesuatu yang sudah kalian rencanakan akan berjalan lancar,” tutur Alchan.
“Aamiin ya Allah,” balas Langit.
Mereka sama-sama tersenyum, lalu kembali menyesap teh milik mereka masing-masing. Karena sudah cukup lama berada di rumah Langit, Alchan akhirnya pamit untuk mengantar pesanan lukisan ke lain tempat.
Langit mengantar Alchan sampai depan, lalu membiarkan temannya pergi dan naik ke dalam taksi. Pagi ini, dia mendapat banyak pelajaran dari Alchan. Masih sama seperti dulu, Alchan selalu peduli dengannya.
Dalam perjalanan Alchan terus menghembuskan napas perlahan, untuk meredakan sesak yang masih ada sedikit di hati. Sudah lama, dia belum juga bisa melupakan Almaira. Kenangan mereka terus menjadi bayangan bagi Alchan.
Tapi Alchan akan terus berusaha, setidaknya mengganti posisi Almaira dengan Gladis. Dia tak akan melupakan gadis itu, sebab Almairalah yang membuat dia bisa berada di posisi ini.
“Semoga kamu bahagia selalu Almai. Aku percaya pada Allah, jodohmu pasti akan lebih baik dari aku. Sejauh apa jarak kita nanti, kamu tetap temanku, adik perempuan yang selalu aku jaga.”
__ADS_1