Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
part 40


__ADS_3

Evan melangkah maju tepat di hadapan Alvin yang sedang menyentuh pipi nya yang perih. "Tutup mulut busuk mu sebelum aku merobeknya" Evan tersenyum sinis menatap Alvin yang tersungkur di atas lantai.


Suara beberapa asisten mengalihkan asitensi Araya lalu menghampiri jendela dan melihat apa yang terjadi di bawa sana. Araya melotot dengan sempurna sembari membungkam mulut nya dengan tangan nya sendiri saat melihat Evan yang sedang memukul wajah Alvin.


"Jika kau tidak bisa membahagia kan nya maka aku dengan suka rela menggantikan posisi mu" Evan yang tadi nya ingin pergi kini menghentikan langkah nya dan menoleh pada Alvin.


"Kau memang suka dengan sesuatu yang bekas" desis Evan lalu melanjutkan langkah nya namun kali ini langkah nya terhenti lagi karena kalimat menohok Alvin.


"Kau pikir Araya menikahi mu karena rasa cinta?" Alvin tertawa mengejek Evan. "Araya terpaksa menikahi mu agar perusahaan paman nya tidak bangkrut". Alvin berhenti tertawa dan melanjut kan ucapan nya.


"Kau tidak pantas untuk nya! Kau hanya pria tidak berguna dan hanya membebani keluarga dan istri saja!"


Perkataan Alvin membuat Evan tersenyum tipis lalu menaikan lengan kemeja nya sampai siku dan menghampiri Alvin. "Pantas atau tidak, itu bukan urusan kau dan jangan perna ikut campur dengan masalah ku jika kau masih sayang dengan nyawa mu" Evan menyeket leher Alvin lalu mengangkat nya tinggi hingga wajah Alvin berubah menjadi merah.


Tap


Tap


Suara langkah kaki Araya menggema di mansion itu. "Apa yang anda lakukan" teriak Araya dengan mendorong keras tubuh Evan hingga mundur beberapa langkah. "Apa anda sudah gila!" sambung Araya saat cekikan Alvin terlepas dari tangan Evan.


"Kau kesini hanya untuk membela pria ini?" Evan menunjuk dada Alvin. "Apakah kau ingin melihat aku membunuh pria bre*sek ini! Hah!!" baru kali ini Evan membentak Araya dengan sangat keras lalu menggenggam tangan Araya dengan kuat hingga pergelangan tangan Araya merah.


Araya menangis sesegukan. "Evan!! Kau jangan kasar pada wanita" Alvin menggenggam tangan Araya yang sebelah kiri dengan lembut.


"Singkirkan tangan mu atau aku benar-benar akan mematahkan nya" tatapan Evan sangat mematikan hingga nyali Alvin menciut dan segera melepas tangan Araya.


Evan lalu menarik tangan Araya namun dengan cepat Araya menghempas kan tangan Evan. "Mengapa anda marah? Anda bahkan tidak menyukai ku dan sering mengusirku" Araya menjeda ucapan nya.


"Sikap anda yang seperti ini terlihat seperti suami yang sedang cemburu. Apakah anda cemburu?" Araya lalu mengusap kasar wajah nya untuk menghampus sisa air mata yang menetes di wajah cantik nya.


Sedangkan Evan hanya menatap Araya dan tatapan mereka bertemu hingga beberapa saat lalu meninggalkan Araya di sana bersama Alvin.


Araya yang melihat Evan pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan nya. Kini mengikuti langkah Evan dengan mata yang berkaca-kaca menahan tangis.


Araya pikir Evan akan kembali ke kamar mereka namun nyata nya salah. Saat Araya membuka pintu kamar nya Evan tidak ada di sana.


Araya menoleh menatap Lili. "Di mana Tuan Muda" tanyak Araya pada Lili yang sedari tadi mengikuti langkah Araya.


"Maaf Nona tapi sebaiknya anda jangan menemui Tuan Muda dulu" saran Lili. "Biarkan Tuan Muda tenang dulu" sambung Lili memcoba membujuk Araya agar tidak ke kamar Tuan Muda.


"Tunjukan di mana kamar nya".


Sebuah permintaan yang tidak bisa mereka tolak dan dengan terpaksa mengantar Araya ke dalam kamar pribadi milik Evan. Kini Araya sudah berdiri di depan kamar Evan dengan gusar saat mendengar suara barang berjatuhan dari kamar Evan, seperti nya penyakit Evan sedang kambuh.


"Nona, mohon urung kan niat anda untuk...."


"Aku ingin masuk" potong Araya begitu yakin.


June yang baru saja keluar dari kamar Evan kaget melihat Araya yang memaksa untuk masuk. "Maaf Nona, demi keselamatan anda mohon agar anda kembali ke kamar". June berdiri tepat di depan pintu menahan langkah Araya.


Araya melangkah lebih dekat pada June lalu berbisik di telinga June. "Siapa kau yang berani menentang ku?" Araya dengan angkuh membungsungkan dada nya dengan tatapan tajam.


Entah sejak kapan keberanian ini muncul, semua pelayan terkejut saat keangkuhan Tuan Muda mereka seperti nya menular juga pada istri kecilnya.


Lili dan June yang tadi nya tunduk kini mengangkat wajah nya dengan raut wajah keget. "Minggir" tegas Araya lalu mendorong tubuh June ke samping dan segera masuk ke dalam kamar sang suami dan menutup pintu nya rapat-rapat lalu mengunci nya dari dalam.


Araya terdiam sejenak bersandar di balik pintu menetralisi kan perasaan nya lalu mengambil nafas panjang dan menghembuskan nya perlahan lahan mengurangi rasa gugup.


Perlahan lahan Araya melangkah menghampiri Evan yang sedang duduk sembari bersandar di dipan ranjang dengan tangan yang terikat di sisi ranjang.


Evan yang tadi nya menunduk kini mengangkat kepala nya. "Keluar dari kamar ku" satu kalimat yang menusuk hati Araya namun Araya tetap melangkah mendekati Evan.


Araya melihat keringat yang mengucur deras di dahi Evan, nafas yang sesak serta tangan yang terus gemetaran. "Menjauh dari ku".


Gadis nakal itu sama sekali tidak gentar dengan apa yang dia lakukan. "Aku ke sini hanya ingin mengobati luka anda" dengan berani Araya membuka ikatan tangan Evan.


Brak..


Tepat setelah kedua ikatan tangan Evan lepas, Evan mendorong tubuh Araya lalu mengunci nya di bawa tubuh nya. "Mengapa kau perduli padaku?" tatapan mereka bertemu dalam sesaat mereka saling menatap.


"Aku.."


"Aku membenci mu gadis bodoh!!" bentak Evan namun terdengar seperti orang putus asa. "Jangan perna tunjukan perhatian mu pada ku karna itu sangat menyakit kan bagi ku"


Deg


Deg


Araya menatap wajah Evan saat sebuah cairan bening jatuh ke pipi nya. "Dia menangis" batin Araya saat melihat mata Evan memerah.


"Pergilah gadis bodoh, aku membenci mu!!!" berkali kali Evan mendarat kan pukulan di atas ranjang tepat di samping kepala Araya. "Aku membenci mu lebih dari hidupku sendiri, apa kau mengerti!!" suara Evan memelan dan lirih.


Sekali lagi air mata Evan kembali jatuh di pipi mulus Araya. "Aku tidak ingin pergi. Tolong jangan mengusir ku lagi" tangan mungil Araya mendarat di bibir seksi Evan. "Biar kan aku mengobati luka anda terlebih dahulu" suara Araya seperti obat bagi Evan untuk memenangkan amarah nya.


Evan membisu saat mendengar kata-kata lantang istri nakal nya yang tidak perna takut pada Evan."Mengapa kau pergi bersama pria lain tanpa seijin ku" guman Evan namun masih terdengar jelas oleh Araya.


Evan yang masih berada di atas tubuh mungil istri nya dengan kesadaran yang penuh mengucapkan kalimat yang membuat jantung Araya berdetak begitu cepat.


Mata Araya terbelalak. "Anda cemburu?"


Tes


Tes


Di saat yang bersamaan hujan turun sangat deras dengan angin kencang membuat kedua insan yang masih berada dalam posisi intim itu saling tatap dalam diam.


Beberapa saat kemudian Evan berdiri dan turun dari ranjang tanpa menjawab pertanyaan Araya. "Keluar dari kamar ku" kata Evan sembari berdiri di beranda kamar membelakangi Araya yang masih berbaring di atas kasur.


Araya bangun lalu duduk di sisi ranjang. "Bagaimana kalau aku tidak mau"


"Pergi" tanpa menatap Araya Evan terus saja mengusir Araya. "Pergilah dari hidup ku jika kau ingin bahagia" suara Evan bergetar saat mengatakan kalimat ini dengan rasa sesak di dada nya.


"Aku tidak akan pergi tanpa anda" Araya maju mendekati Evan lalu memeluk tubuh Evan dari belakang. "Mengapa kita tidak pergi sama-sama saja dan hidup bahagia dengan keluarga kecil kita" Araya menangis di balik punggung Evan seperti anak kecil. "Anda adalah sumber kebahagian ku" lanjut Araya dengan terisak.


"Dimana pun aku, aku tidak punya tempat bahkan di keluarga ku sendiri"


"Tapi anda punya tempat di hati ku. Apa itu tidak cukup untuk pergi dari sini?"


Evan menepis tangan Araya yang memeluk pinggang nya dari belakang lalu memojok kan Araya di tembok di dalam kungkungan nya. "Berhentilah berpura pura perduli pada ku! Ini melukai ku Araya. Aku tidak bisa tidur karena terus mengingat mu. Mengapa kau melakukan ini" Evan mengatakan ini dengan sangat lembut untuk pertama kalinya.


"Aku..."


Evan kembali meninju tembok berkali kali tepat di samping kepala Araya. "Kau selalu bertingkah peduli pada ku tapi di belakang ku kau tertawa bersama pria lain, kau menghianati perasaan yang kau ciptakan ini!! Kau pergi bersama nya dan tertawa bahagia dengan nya, bahkan dia menyentuh bibir mu dengan lembut di depan mata ku, apakah kau tau aku sangat terluka" untuk pertama kali nya Evan mengucapkan kalimat yang lumayan panjang dengan air mata yang terus saja mengalir di wajah tampan nya.


"Tuan aku..."

__ADS_1


"Kau menang Araya, kau berhasil menghancurkan hati ku yang ..."


"Aku mencintai anda" dengan tangisan yang sama dengan suara lantang Araya mengatakan perasaan nya pada Evan "Aku memang terpaksa menikah dengan anda tapi siapa sangka jika aku jatuh cinta pada anda"


Tes


Tes


Hujan dan gemuruh bersahut sahutan setelah Araya mengatakan ini. Evan yang tadi nya sangat emosional kini melemah sendiri lalu menatap wajah Araya dengan tatapan sendu.


"Katakan sekali lagi" lirih Evan.


"Aku mencintai anda"


Cup


Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir mungil Araya, Evan lalu memegang pinggul sang istri memainkan insting buasnya dan memainkan bibir Araya dengan cara yang seksi.


Araya tidak melakukan perlawanan, dia memejam kan mata nya menikmati sentuhan Evan. Beberapa detik kemudin Evan melepas ciuman nya dan melihat Araya yang sangat pasrah. "Katakan sekali lagi" nafas hangat Evan menyeruak di leher Araya yang dingin.


Dengan spontan Araya membuka mata nya. "Aku mencintai anda" tangan Araya berpegangan kokoh di pundak Evan yang sedang menunduk menikmati tengkuk sang istri.


"Sekali lagi" Evan masih menikmati permainan nya saat ini.


"Aku mencintai anda.. Aahh" tanpa sadar sebuah ******* kecil lolos di bibir mungil Araya.


Evan melepas permainan nya lalu menatap wajah Araya dengan tersenyum tipis. "Aku sangat mencintai mu Araya, bersumpah lah kau tidak akan perna meninggalkan ku"


Dengan cepat Araya meraih wajah Evan. "Aku tidak akan perna meninggalkan anda" dengan agresif Araya memberikan ciuman di bibir Evan berkali kali.


Evan tersenyum lalu menggendong tubuh istri kecil nya ke atas ranjang dan merebahkan nya dengan sangat hati-hati. "Araya boleh aku.."


"Anda suami ku, mengapa anda menahan diri?"


Setelah mendapat izin dari Araya, Evan tersenyum lalu meletakkan tangan nya di leher Araya dan memberikan ciuman tiga kali lipat lebih sensual dari pada sebelum nya.


"Aahh Eehmm" Araya terus mend*sah di bawah kungkungan Evan yang sedang mencium bibir dan leher nya dengan sangat sensual.


Satu, dua, tiga hingga semua kancing kemeja Evan di lepas oleh Araya dan menampakan dada bidang yang sangat seksi membuat mata Araya terbelalak dengan pipi yang bersemu merah.


Dress indah yang di kenakan oleh Araya di robek oleh Evan hanya dalam satu tarikan tanpa sadar membuat Araya mengaga.


Kini dua bukit yang tidak terlalu besar terpampang nyata di mata Evan membuat Araya sangat malu. "Apakah kau yakin" bisik Evan di telinga Araya sembari menjilat ujung telinga Araya.


Araya mengangguk. "Iya.. Aahhh".


Setelah medapat jawaban dari Araya, Evan mendarat kan kecupan cukup lama di kening Araya membuat Araya tersenyum bahagia. "Aku sangat mencintai mu" kata Evan setelah lama mengecup kening istri nya lalu kembali mencium bibir Araya dengan lebih bernafsu.


Malam ini di bawah hujan yang deras mereka menikmati dingin nya malam bersama sama dengan menyalurkan rasa cinta mereka berdua.


Hampir satu jam Araya berkutak di dalam dapur dengan tatapan Nyonya Lusy yang terus menatap nya dengan sinis.


"Ayo letakkan di atas meja" kata nya pada Araya.


Araya mulai menata hidangan sarapan pagi untuk seluruh keluarga dengan rasa takut dan canggung yang luar biasa sedangkan semua pelayan di mansion itu hanya melihat Araya dari kejauhan.


"Biar aku membantu anda Nona" Lili mencoba membantu Araya merapikan piring-piring cantik yang berisikan makanan lalu menata rapi di atas meja.


Tak lama kemudian satu persatu anggota keluarga datang untuk sarapan begitu pun dengan Evan yang datang bersama Vina untuk sarapan.


"Selamat pagi Tuan dan Nona" sapa para pelayan saat Varrel, Vina, Alvin dan Evan melewati mereka semua lalu menghampiri Araya yang masih sibuk menata beberapa alat makan di atas meja.


Araya lalu menarik kursi untuk Evan. "Silahkan duduk suami ku" kata Araya lembut lalu duduk di samping Evan.


"Apa Araya yang memasak semua nya" kata Alvin lalu mencoba ayam pedas manis buatan Araya. "Emm ini enak sekali" sambung nya sembari mengunyah.


"Araya sangat pandai memasak. Evan pasti senang punya istri yang cantik dan pintar seperti mu"


Araya melirik Alvin lalu tersenyum dengan malu-malu karena telah memuji masakan Araya.


Brak..


Evan yang ingin mengambil nasi tanpa sengaja menyenggol gelas yang berada di samping nya. "Anda ingin apa" tanyak Araya dengan lembut.


"Araya masakan mu enak sekali"


"Terimakasih kak" kata Araya sembari melirih Alvin lalu kembali tersenyum.


Prang..


Evan lagi-lagi menjadi pusat perhatian seluruh keluarga karena menjatuhkan sendok yang dia gunakan. "Masakan seperti ini kau bilang enak?".


Gleg


Setelah lama diam akhir nya suara Evan yang menggelegar mengunci mulut semua orang. Araya menoleh pada suami nya yang secara langsung mengatakan jika masakan nya tidak enak. "Ada apa dengan nya" batin Araya.


"Kau tidak menyukai nya?" balas Alvin segit.


Evan yang tadi nya sedang mengunyah kini terhenti saat mendengar ucapan Alvin lalu menyunggingkan senyuman tipis yang mematikan.


Semua orang melongo melihat Evan yang tersenyum seperti ini dalam sejarah apapun Evan tidak perna tersenyum dan ini yang pertama kali nya mereka melihat Evan tersenyum walaupun senyuman itu terkesan sinis.


"Jika aku tidak menyukainya, kau ingin mengambil nya dari ku?" Evan menjawab apa yang di tanyakan oleh Alvin setelah mengakhiri senyuman mematikan nya.


Evan dan Alvin saling memberikan tatapan tajam nya. "Mungkin saja. Apa yang tidak mungkin di dunia ini". seketika atmosfer berubah dingin dan panas di saat bersamaan saat kedua saudara tiri itu saling melempar pandangan tajam nya.


Semua orang terbelalak mendengar ucapan mereka berdua lalu beberapa detik kemudian tawa Alvin menggelegar. "Hahaha, aku hanya bercanda makanlah dengan banyak agar cepat sembuh" kata Alvin lalu mengambil lauk di hadapan nya.


Araya terus menatap Evan tanpa bisa berkedip menolak pesona sang suami yang terlihat sedang cemburu karena masakan istri nya di puji oleh pria lain.


Tangan Evan menghancurkan hidangan yang ada di piring nya hingga semua orang yang melihat Evan hanya diam tanpa ingin bertanyak karena saat ini Evan benar-benar terlihat sangat marah.


"Araya kapan kau berencana memiliki seorang anak" pertanyaan Nyonya Lusy sontak mengalihkan asitensi semua orang termasuk Evan.


Uhuk.!!


Araya tiba-tiba saja terbatuk saat Nyonya Lusy menanyakan seorang anak. "Aku akan memberikan anak untuk nya" bukan Araya yang menjawab melain kan Evan yang menjawab dengan tegas.


Araya yang sedari tadi menatap Evan kini mata nya membola dengan sempurna saat sebuah kalimat tegas Evan katakan.


"Pelayan" teriak Evan sembari berdiri dari duduk nya.


"Ya Tuan" jawab salah satu pelayan dengan menunduk saat berada di samping Evan.


"Bawakan masakan istri ku ke dalam kamar, aku ingin makan berdua dengan nya".

__ADS_1


Deg


Deg


Araya mematung diam dengan tangan yang menggenggam sendok dan garpu dengan kokoh. Baru kali ini Araya mendengar kata manis Evan. Pria itu apakah benar ingin sarapan dengan nya berdua saja?.


"Kenapa harus ke kamar? Lebih baik kita sarapan bersama.."


"Araya antar aku ke kamar" Evan menyelah ucapan Alvin. Dengan spontan Araya berdiri lalu menggandeng tangan Evan.


Rasa nya Araya ingin berteriak dengan keras saat Evan berkata manis seperti ini pada nya. Sungguh jantung Araya saat ini seperti ingin melompat keluar dari tempat nya. Evan seperti memberi kan lampu hijau pada Araya untuk menyentuh tubuh nya yang selama ini tidak ingin di sentuh oleh siapa pun.


"Ayo suami ku" dengan sekuat tenaga Araya menahan senyuman nya. "Mengapa jantung ku berdetak seperti ini" batin Araya.


Araya melirik yang lain nya lalu sedikit membungkuk memberi hormat pada kedua mertua nya dan perlahan lahan menuntun Evan.


"Araya" suara Tuan Abraham sontak menghentikan langkah Evan dan Araya lalu kembali menoleh pada Tuan Abraham. "Duduk dan lanjut kan sarapan kalian" semua orang tahu betapa Tuan Abraham sangat berkuasa dan tak ada seorang pun yang berani melawan perintah nya.


"Jalan Araya" Araya terlihat bingung karena dua perintah ini tidak mungkin dia tolak dan harus memilih antara mertua atau sang suami.


Merasa istri kecil nya diam saja dan sudah pasti akan memilih Tuan Abraham. "Tidak perlu mengantar ku" Evan menepis tangan Araya.


Araya malah menggenggam dengan kuat lengan Evan. "Maaf ayah, aku akan makan bersama suami ku di dalam kamar" semua orang menatap Araya tidak percaya apa yang sudah Araya katakan.


Vina dan Varrel yang sedari tadi sibuk menyantap makanan nya kini menghentikan kegiatan mereka dan menatap Araya dengan mata terbelalak.


"Aku permisi" kata Araya lalu kembali menuntun Evan namun lagi-lagi suara Tuan Abraha menghentikan langkah mereka.


"Araya kembali" Tuan Abraham tidak mau kalah dan terus memaksa Araya untuk kembali.


"Biarkan saja mereka sarapan di kamar" Vina yang sedari tadi hanya diam kini mulai membuka suara.


"Aku hanya kasihan pada Araya yang harus mendampingi pria buta dan arrogant seperti nya"


"Mereka memang cocok. Bukan kah Araya juga sama bodoh nya dengan Evan yang malang? Araya mungkin kasihan pada Evan jadi biarkan saja"


Evan yang sudah muak mendengar hinaan mereka menepis tangan Araya lalu berdiri dan berbalik arah.


Buk


.


.


.


Buk..


Satu pukulan mendarat di wajah tampan Alvin hingga terjatuh bersama kursi nya di lantai. "Kak Alvin" Vina yang panik berlari menghampiri Alvin.


Entah mengapa tubuh Araya tidak bisa bergerak sama sekali sejak tadi. Araya terdiam saat sang suami memberikan bogeman mentah pada adik tiri nya.


Tuan Abraham yang sedari tadi menahan emosi kini menggenggam kemeja Evan dengan tangan yang bergetar juga wajah yang penuh kemurkaan lalu mendorong tubuh Evan hingga terjatuh ke lantai.


"Ayah" teriak Varrel lalu menghampiri Evan.


"Pengawal" teriak Tuan Abraham yang menggelegar di seluruh mansion dan beberapa pengawal pun menghampiri Tuan Abraham.


"Bawa mereka semua pergi dari sini, kecuali Evan" perintah Tuan Abraham dengan tegas.


"Ayah apa yang akan kau lakukan" kata Varrel dengan cemas saat beberapa pengawal menarik nya dengan paksa.


"Lepaskan aku" Vina memberontak.


"Jangan menyentuh ku, aku bisa jalan sendiri" kata Nyonya Lusy lalu membantu Alvin untuk berdiri dan pergi meninggalkan Tuan Abraham bersam Evan.


Sedangkan Araya yang sedari tadi hanya diam kini mulai memberontak saat dua orang pengawal memegang tangan nya dengan paksa lalu menuntun nya kembali ke dalam kamar.


Byurr..


Tuan Abraham menyiram wajah Evan dengan segelas susu hangat yang barada di atas meja. "Kau pikir kau siapa? Hah!" kata Tuan Abraham lalu kembali menarik kerah kemeja Evan.


Buk..


Buk..


Buk..


Tuan Abraham meninju wajah Evan berkali kali. Jika Evan mau Evan bisa saja membalas pukulan ayah nya berkali kali lipat namun Evan hanya diam saat ayah nya terus menghujani wajah nya dengan pukulan.


Gadis nakal itu menoleh saat suara beberapa barang berjatuhan dan betapa kaget nya Araya saat melihat Tuan Abraham yang sedang memukul Evan tanpa ampun hingga Evan lemas tak berdaya di atas lantai.


Dengan spontan Araya mendorong kedua pengawal itu hingga terjatuh dari tangga lalu menerobos semua pengawal dan pelayan yang berjaga.


Bahkan Nyonya Lusy, Vina, Varrel dan Alvin terperanjak mendegar suara kegaduhan dan segera menoleh melihat Araya yang berlari menghampiri Evan.


"Ya ampun" ucap Nyonya Lusy kaget dengan mata yang membola sempurna.


"Hentikan Tuan"


Buk.


Pukulan yang harus nya untuk Evan kini salah sasaran saat gadis nakal itu berdiri di hadapan Tuan Abraham dan menjadi tameng untuk Evan. Araya yang terkena pukulan lansung tersungkur di samping Evan dengan hidung yang mengeluarkan banyak darah.


"Apa yang dia lakukan" Tuan Abraham tergucang hebat saat menyadari kepada siapa pukulan itu mendarat.


"Araya" Evan dengan cepat menghampiri sang istri yang tidak jauh dari nya tergeletak lalu meraih tubuh sang istri dan menggendong nya.


Brak.


Evan manabrak Tuan Abraham lalu menggendong sang istri menuju kamar nya. Semua orang sangat kaget hingga tidak bisa melakukan apapun dan hanya diam di tempat memandang Evan yang dengan gagah nya menggendong sang istri.


Padahal baru saja mereka melihat Evan lemas tak berdaya setelah di hantam beberapa kali pukulan oleh Tuan Abraham dan lihat lah kini keajaiban cinta mereka yang mampu mengalah kan rasa sakit itu.


"Pelayan, ambilkan kompres untuk istri ku" teriak Evan menggema lalu membaring kan tubuh Araya dengan sangat lembut di atas ranjang.


Araya yang sebenarnya masih setengah sadar dapat melihat raut wajah Evan yang sangat khawatir dan mendengar suara Evan yang terdengar panik.


Evan meletakan tangan nya di atas hidung Araya mengusap darah yang terus keluar dari hidung Araya menggunakan tisu. "Kenapa kau bodoh sekali" lirih Evan namun Araya masih dapat mendengar nya dengan baik.


Setelah membersihkan darah Araya. Evan lalu menatap Araya cukup lama dan memberikan kecupan agak lama di kening Araya lalu berdiri untuk menghampiri sang ayah di ruang tamu.


Meski mata Araya terpejam dan bibir nya bungkam tanpa suara. Araya dapat merasakan nafas Evan yang mencium kening nya. Lalu setelah itu Araya pun pinsang.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2