Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 48


__ADS_3

Di sebuah kafe, terlihat dua orang manusia berbeda jenis kelamin tengah menikmati minuman mereka. Alfa menatap Cinta sejenak, setelah itu memilih mengalihkan pandangan karena hatinya kembali berdenyut sakit.


“Aku mengajakmu ke sini, untuk merencanakan suatu hal,” ucap Alfa membuka percakapan. Cinta langsung mengangkat kepalanya dengan pandangan bingung.


“Apa?” tanya Cinta dengan suara lirih.


“Kita harus menyatukan Laska dan Amira kembali.”


“Memangnya kenapa dengan mereka?” Cinta kembali bertanya, kali ini dengan nada penuh kekhawatiran.


“Amira sudah ketahuan bahwa dia tidak hamil. Laska kecewa, dan ayahnya marah. Sampai Amira dibawa pulang oleh orang tuanya,” jelas Alfa, dia menjeda kalimatnya untuk mengambil napas. “Tapi aku rasa, dia bakalan disiksa oleh ayahnya.”


“Jangan suuzan Kak, enggak baik!” sentak Cinta membuat Alfa terkejut.


“Kalau kamu melihat kejadiannya, pasti kamu juga akan berpikir seperti itu. Kalau ayah baik, seharusnya tak memisahkan anaknya, bahkan dia akan mengurus perceraian anaknya,”


“Serius Kak? Astagfirullah.” Cinta menutup mulut tak percaya sembari menggeleng-gelengkan kepala.


Alfa memilih diam sejenak, dia meraih jus di meja lalu menyesapnya dengan pelan.


“Aku minta tolong, kamu datang ke rumah Amira. Hibur dia, jangan biarkan dia tertekan karena keadaan ini,” pinta Alfa dengan wajah melas. Dia melanjutkan ini untuk membalas budi pada Amira, sebab gadis itu pernah membuatnya mengerti.


“Enggak bisa Kak, bahkan aku dilarang untuk bertemu Amira,” balas Cinta cepat.


“Kenapa?”


“Tadi aku mengirim pesan pada Amira, tetapi mendapat balasannya sungguh aku terkejut. Tertulis jelas aku tak boleh ke rumahnya dan bertemu dia, Kakak tahu, yang membalas bukan Amira tetapi ayahnya. Awalnya aku tak tahu, tetapi ayahnya bilang, ini demi kebaikan Amira. Aku sungguh tak mengerti.” Cinta berucap panjang lebar membuat Alfa melongo tak percaya. Sebegitu kejamkah ayah Amira hingga tak memperbolehkan gadis itu bertemu dengan siapa pun.


“Sekarang apa yang harus kita lakukan Cinta? Aku bingung. Laska pun seperti tidak peduli, dia selalu pergi pagi dan pulang malam.” Alfa tampak frustrasi.

__ADS_1


“Cinta juga bingung Kak. Kenapa semuanya berakhir seperti ini? Kasihan Amira,” lirih Cinta.


“Ya sudah. Kita pikirkan itu nanti. Kepalaku sakit sekali,”


“Kakak sakit? Mau ke rumah sakit?”


“Tidak perlu. Kamu jangan khawatir, sekarang lebih baik kita pulang. Aku antar kamu,” ucap Alfa seraya bangkit, diikuti oleh Cinta.


Keduanya berjalan beriringan. Cinta merasa canggung berada dekat dengan Alfa. Sedangkan sang pria hanya diam saja, jujur kepalanya benaran terasa sakit karena terus memikirkan masalah abangnya.


**


“Dua hari lagi teman Ayah mengajak bertemu, kamu harus tampil cantik karena Ayah akan mempertemukanmu dengan anak teman Ayah,” ucap ayah Amira ketika sudah bisa membuat anaknya keluar dari kamar.


Amira terkejut, masalahnya belum selesai. Tetapi ayahnya sudah merancang hal seperti itu. Bahkan pun, Amira sekarang masih sah istri orang.


“Enggak! Amira ini masih istri om Laska Yah. Ayah gak bisa sembarangan seperti itu!” tolak Amira dengan tegas. Ibunya terus menggenggam jemarinya, memberikan semangat lewat usapan penuh kasih sayang.


“Ayah jahat! Aku benci Ayah!” Amira berlari menaiki anak tangga. Gadis itu langsung mengunci pintu kamarnya setelah berada di dalam. Dia menangis dengan terus menyebut nama Laska.


“Aku mohon om! Jemput Amira!” teriak Amira disela-sela tangisnya.


Gina yang masih berada di ruang keluarga bersama suaminya, bergejolak amarah dalam dada. Dia menahan untuk tidak melabrak suaminya, karena itu akan menyebabkan dosa untuk dirinya sendiri.


“Yakinkan anakmu untuk bisa pergi!” Setelah berucap begitu, ayah Amira lantas beranjak meninggalkan Gina sendirian di ruang keluarga.


Wanita itu menangis, dia bingung dengan sikap suaminya yang terus berubah. Dulu suaminya bukan lelaki seperti itu, dia selalu memprioritaskan semua keinginan Amira dan dirinya. Tetapi sekarang, dia berubah bak monster yang menakutkan.


**

__ADS_1


“Aku benci ayah! Benci!” Amira terus membanting semua barang yang ada di kamarnya.


Dia menangis histeris, sembari terus membuang apa yang dia bisa buang. Kini tatapannya tertuju pada album foto yang menempel di dinding, senyumnya terukir melihat keluarga bahagia.


Foto kecilnya bersama sang ayah dan ibu. Di sana dia tampak bahagia karena dipeluk oleh kedua orang tuanya, tetapi kini dia menangis karena pria yang tengah tersenyum di dalam foto itu.


“Apa aku sanggup menyebut kamu ayah kembali? Sedangkan kamu sudah menghancurkan segalanya, hati, jiwa dan ragaku! Aku sakit ayah! Sangat sakit!” teriak Amira dengan keras. Dia memukul-mukul bingkai foto yang berada di depannya.


“Kenapa kamu berubah ayah? Kenapa? Kamu sudah tak pernah menganggap ibu sebagai ratu dan aku seorang putri lagi! Kamu menganggap kami barang sekarang! Yang bisa kamu gadaikan sesuka hatimu!”


“Banyak orang bilang, keinginan seorang ayah adalah hal yang baik. Sebagai anak kita harus selalu menurutinya, tetapi, aku tidak mau. Bukankah ayah juga pelindung yang baik, dia pasti akan mendukung anaknya. Bukan hanya sibuk dengan keinginan sendiri! Aku benci kamu ayah!”


Brak


Foto penuh keluarga bahagia itu terjatuh, kacanya pecah berkeping-keping. Sedangkan fotonya, terkoyak sempurna ditangan Amira. Dia tersenyum penuh kemenangan, hatinya terasa bahagia, sedangkan jiwanya terasa sangat sedih.


“Kalau kamu sedang ada masalah, sebut nama Alllah. Jangan kamu biarkan amarah itu menguasai diri kamu. Ingat Amira, bila tak ada orang yang mengerti kamu, masih ada Allah. Dia ada di dekatmu, orang-orang yang senantiasa mau berdoa pada-Nya.”


Tiba-tiba ucapan Laska berdengung ditelinganya. Amira semakin terisak, dia rindu sangat rindu. Gadis itu merosot ke lantai, memeluk lututnya dengan erat. Dia berpikir, mungkin ini karma untuknya. Ya, Amira yakin itu.


Dengan langkah gontai, Amira membuka pintu kamar mandi. Selama dia berada di rumah orang tuanya, sekali pun dia tak pernah melaksanakan salat kembali. Dalam sepi dia menangis, memohon ampunan pada yang Maha Kuasa.


Air mulai mengaliri tangannya, wajahnya dan seluruh tubuhnya. Dia menangis, dalam kungkungan penuh dosa.


Untuk apa ayah menjodohkan aku dengan seorang ustaz, tetapi dengan cara sekasar ini?


 


Bersambung

__ADS_1


Othor geram ma ayahnya Amira. Santai bat ngomongnya😂


__ADS_2