Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 75


__ADS_3

Rumah megah bak istana sudah terlihat. Hari menepikan mobilnya di depan gerbang rumah Aisyah. Pria itu turun dari mobil, memutari kuda besi miliknya untuk membukakan pintu kursi penumpang.


“Hati-hati Nona,” ucap Hari.


“Iya terima kasih sekretaris Hari,” balas Aisyah sambil tersenyum manis.


“Panggil saja Hari, Nona. Biar lebih akrab lagi.” Hari tertawa renyah. Dia menutup pintu mobil kembali, lalu berjalan mendekati bel gerbang.


Tak lama bel berbunyi, seorang pria paruh baya yang berpakaian khusus satpam datang dan langsung membukakan pintu untuk Aisyah dan Hari.


“Mau mampir dulu, Hari?” tawar Aisyah.


“Tidak perlu Nona. Takutnya nanti kakek menunggu,” kilah Hari. Padahal dia hanya takut bertemu orang tua Aisyah.


“Baiklah. Hati-hati di jalan.”


“Iya Nona.”


Setelah Hari masuk ke dalam mobil, Aisyah pun juga masuk ke dalam gerbang. Dia berjalan dengan riang di halaman rumah. Meskipun rasa sakit di hati belum juga menghilang, tetapi Aisyah mencoba mengalihkannya dengan tetap tersenyum dan bersikap layaknya tak terjadi apa-apa.


**


Andara Restauran


Pria yang memakai kemeja berwarna hitam beserta celana berwarna putih berjalan cepat memasuki restoran. Wajahnya sedatar jalan tol, dengan sikap dingin yang selalu bisa membuat semua orang bungkam dan tak berani mengatakan apa pun.


Dialah Bara. Pria itu baru saja sampai di restoran miliknya setelah kembali dari perusahaan sang teman.


Bara langsung menuju ke ruangan khusus miliknya, setelah mengecek dapur untuk memastikan semua bahan-bahan masih ada. Sebenarnya, para pelayan sudah melarangnya untuk ikut campur dalam urusan dapur. Tapi Bara selalu menolak, dia bosan bila terus duduk dan berkutat dengan berkas.


“Permisi Bos.” Pria berpakaian kantoran berdiri di ambang pintu ruangan Bara. Menunduk, untuk memberi hormat.


“Iya Pak Agus ada apa?” tanya Bara dingin seraya melihat ke arah pria yang dia panggil pak Agus tadi.

__ADS_1


“Begini. Restoran ini mendapat pesanan sejumlah dua ribu makanan kotak, apa kita menerimanya?” tanya pak Agus seraya menunjukkan kertas yang terdapat tulisannya tadi.


Bara memperhatikan dengan detail kertas itu. Matanya menyipit saat melihat nama yang tertera di ujung kertas.


“Aisyah Humairoh?”


“Iya Bos. Itu nama pemesan. Dia bilang, dua minggu lagi acaranya akan diadakan,” ucap pak Agus. Bara hanya mengangguk paham.


“Terima. Ini rezeki untuk kita.”


Pak Agus tersenyum puas. Setelah mengambil kertas itu kembali, dia permisi untuk keluar dari ruangan. Bara kembali menyenderkan kepalanya di sandaran kursi, menatap langit-langit ruangan dengan mata hampir terpejam.


Baru dua hari ditinggal Cinta ke Semarang. Bara sudah sangat rindu dengan gadis itu. Dia juga ingin menyusul ke sana, tetapi pekerjaan membuatnya tak bisa pergi.


“Aisyah Humairoh,” gumam Bara dengan mata menyipit.


Nama itu terus mengganggu kalbunya. Padahal, dia baru tadi mendengar nama yang sangat asing baginya. Tapi, seakan sudah kenal sejak lama.


**


“Ibu baru pulang?” tanya Laska seraya menyalami tangan Gina.


“Iya, Nak. Amira mana?”


“Masih di kamar Bu. Sebentar lagi pasti keluar,” jawab Laska.


Benar saja, tak lama Amira terlihat keluar dari kamar. Gadis itu tampak imut dengan piama tidur motif kartun. Membuat Laska geleng-geleng kepala sambil tersenyum.


“Ibu dari mana saja sih, jam segini kok baru pulang?” Amira langsung mencerca Gina membuat wanita itu tertawa.


“Dari butik. Kenapa Sayang?”


“Amira khawatir tahu Bu,” ujar Amira dengan wajah cemberut.

__ADS_1


Melihat itu, Gina langsung memeluk tubuh Amira. Yang langsung dibalas oleh sang putri. Acara pelukan berakhir, Gina meminta agar Laska dan Amira duduk untuk menikmati makanan yang dia pesan di restoran tadi.


Selama makan malam, tak ada pembicaraan sama sekali. Amira membantu sang ibu mengurus piring kotor, setelah itu mereka kembali kumpul di ruang tamu.


“Ibu mau bilang sesuatu sama kalian.” Gina memasang wajah serius saat berbicara.


“Bicara apa Bu?” tanya Amira penasaran.


“Sebaiknya kita pindah dari sini. Terlalu lama tinggal di hotel, akan menghabiskan biaya yang sangat banyak. Ibu tidak tega melihat Laska, kasihan dia harus bekerja hanya untuk membayar hotel saja,” ujar Gina.


“Tapi Bu, kita mau pindah ke mana?” tanya Amira lagi. Laska masih diam, dia bingung harus merespons seperti apa. Yang dikata Gina memang ada benarnya. Hotel memang bukan tempat yang pas untuk mereka tinggali setiap hari.


“Ke rumah Ibu yang berada tak jauh dari sini. Kalian mau ‘kan?”


“Memangnya Ibu punya rumah?”


Amira masih tak percaya dengan ucapan ibunya. Selama ini dia tak pernah melihat ibunya keluar dari rumah, bekerja bahkan memiliki rumah. Amira masih belum percaya. Dia hanya tahu, ibunya mendapat uang dari ayahnya. Dan dilarang keras oleh sang ayah untuk bekerja.


“Punya Sayang. Peninggalan kakekmu. Karena Ibu anak satu-satunya, otomatis itu menjadi rumah Ibu.”


“Amira baru tahu loh,”


“Tapi apa tidak merepotkan Ibu?” Laska merasa tak enak. Dia belum bisa memberikan yang terbaik untuk Amira dan ibunya. Dan sekarang, mereka harus pindah kembali.


Gina mendekati Laska. Dia memeluk tubuh pria itu. Tak sadar, air mata Gina mengalir. Dia menangis sesenggukan di bahu Laska, membuat pria itu bingung.


“Laska, jangan pernah berpikir seperti itu. Ibu melakukan semua ini ikhlas dan untuk membalas budi kamu. Karena dulu pernah memberi tumpangan untuk Ibu. Maaf, kalau selama ini Ibu dan Amira belum menjadi yang terbaik untuk kamu,” lirih Gina masih dengan isak tangis. Mengundang tangis Amira juga.


“Tidak perlu membalas budi, Bu. Laska lakukan semua ini, karena kalian tanggung jawab Laska. Orang-orang yang Allah titipan untuk Laska.”


Bersambung


Mas Bara sok cool. Padahal dulu, bar-bar banget loh😂

__ADS_1


__ADS_2