
Amira baru saja selesai mandi saat melihat Laska sudah rapi. Seperti biasa, pria itu akan pergi ke kantor. Masih dengan rambut yang basah, Amira memeluk suami dari belakang. Mengecup berulang kali punggung Laska.
“Ada apa Sayang?” tanya Laska seraya mengusap tangan Amira yang berada di pinggangnya.
“Rindu,” ucap Amira.
“Belum juga pergi, uda rindu aja,” ledek Laska.
Amira segera melepaskan pelukannya, lalu berdiri tepat di depan Laska. Dia menatap wajah tampan itu dengan cemberut, ada rasa tak rela melepas Laska untuk pergi bekerja. Tetapi rasa tak boleh egois, hidup butuh uang untuk membeli makanan.
“Pokoknya Amira selalu rindu. Pengin terus di samping Mas, sambil peluk-peluk,” jawab Amira cemberut.
Laska hanya bisa tertawa geli, lalu dia mencubit gemas hidung Amira. Terpaksa Amira mengalami Laska, setelah itu merelakan suaminya pergi. Baru dia mengerikan rambut, karena hari ini Amira berniat pergi untuk bertemu umi Laska.
Rasa rindu begitu menggebu, dia ingin merasakan pelukan Kia kembali begitu pun wejangan dari wanita yang dia panggil umi. Amira langsung bergegas keluar rumah setelah sudah menyisir rambutnya rapi, berniat pamit pada ibu.
Pas sekali, ibu juga baru keluar dari kamar. Terlihat jelas gurat keterkejutan di mata hitam legam milik ibu.
__ADS_1
“Kamu mau ke mana Nak?” tanya ibu dengan wajah bingung.
“Ke rumah Umi, Bu. Amira rindu,” jawab Amira jujur. Dia tak ingin menyembunyikan apa-apa lagi.
“Sebaiknya jangan Ra. Ibu takut Kakek Laska bakalan marah sama kamu,”
“Bu, tenanglah. Amira pasti bisa jaga diri kok.” Amira berusaha meyakinkan ibunya, bahwa dia baik-baik saja.
Karena merasa tak ada celah untuk melarang, akhirnya Gina membiarkan putrinya pergi dengan dalih harus hati-hati. Setelah itu Amira memilih langsung pergi dengan taksi yang sudah menunggu di depan.
Dalam perjalanan, Amira banyak menghembuskan napas. Dia mendadak kurang yakin untuk ke sana, takut dengan ucapan sang ibu. Kakek Laska pasti masih ada di sana, kemungkinan besar dia pasti akan terkena masalah. Tapi Amira mencoba biasa saja, bagaimanapun rindu mengalahkan itu. Dia tetap harus pergi.
Rumah besar bergaya Eropa sudah terlihat, taksi sudah berhenti di depan gerbang rumah orang tua Laska. Amira gegas membayar tarif, setelah itu baru keluar. Dia memperhatikan ke halaman yang sangat asri, pintu utama tertutup. Begitu pun gerbang, Amira mencoba memanggil satpam. Tetapi tak ada jawaban.
“Loh. Mbak Amira?” Pak satpam terlihat kaget melihat Amira.
“Iya Pak. Tolong bukain pintu, Amira mau ketemu Umi,” ucap Amira.
Pak satpam itu diam. Dia tampak menimbang-nimbang untuk dengan ucapan Amira. Pak satpam hanya takut, terjadi keributan antara Amira dan Tuan besar.
__ADS_1
“Tapi Nona. Ada Tuan besar di dalam,” balas Pak satpam takut-takut.
“Tidak apa Pak. Saya memang berniat untuk bertemu Kakek juga,” jawab Amira cepat.
“B-baiklah Non.”
Akhirnya Amira bisa masuk, dia langsung berjalan ke arah pintu utama. Entah mengapa, Amira merasa jantungnya berdetak dengan kencang. Ada rasa takut yang menyelinap dalam kalbu, tetapi Amira mencoba menepis dengan berulang kali menghembuskan napas.
Tok tok
Amira mengetuk pintu berulang kali, tetapi tidak ada jawaban. Hingga ketukan terakhir. Pintu terbuka, terlihat pria sepuh berdiri di sana, dengan tatapan begitu tajam.
“Mau apa kamu?!”
***
Bismillah cerita ini sebentar lagi bakalan tamat. Adakah yang sudah tidak sabar menunggu endingnya. Atau tidak sabar menunggu Novel si Cinta, Rasya dan Alfa?
__ADS_1
Hahaha.
Othor kasih bocoran tentang Novel Cinta. Isinya bakalan sad semua. Sebenarnya sedih sih, tapi othor suka bikin personil Novel tersiksa🤣