Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 88


__ADS_3

Amira terbangun dengan kaget saat mendengar pintu berderit. Wanita itu langsung menatap ke arah pintu, terlihat sosok yang sudah dia tunggu sejak tadi terlihat lesu. Lalu mata Amira beralih ke jam di dinding, menunjukkan pukul 23.00 malam.


“Mas,” panggil Amira, Laska terkejut.


“Kamu belum tidur?” tanya Laska seraya menghampiri sang istri.


“Terbangun saat mendengar suara pintu terbuka. Mas kenapa pulangnya malam sekali? Apa pekerjaannya banyak?” cecar Amira sembari membuka dasi Laska.


Terdengar jelas Laska menghembuskan napasnya dengan kasar, lalu pria itu meminta Amira untuk duduk bersamanya di sofa. Perlahan Laska menaruh kepala Amira dibahunya, diusap dengan lembut rambut hitam itu. Berulang kali pula Laska menciuminya.


“Maaf ya, sudah buat kamu panik. Tadi, ada kerja tambahan. Jadi Mas tidak bisa kembali dengan cepat,” ungkap Laska masih terus mengusap kepala Amira.


“Kerjaan tambahan apa Mas? Bukannya Mas hanya ambil foto saja,” sela Amira.


“Produk yang akan kami pasarkan bermasalah, mau tidak mau Mas menunggu sampai masalah itu selesai. Alhasil, jam sembilan malam baru mulai pemotretan,” jelas Laska, Amira hanya mangguk-mangguk saja.


Kekhawatiran Amira perlahan memudar, wanita itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laska yang sangat dia rindukan. Tetapi, ada yang aneh. Sejenak Amira diam, lalu menghirup kembali. Dia mencium aroma parfum wanita di kemeja milik Laska.


“Mas,” panggil Amira seraya mendongakkan kepalanya.


“Ya, ada apa Sayang?”


“Kenapa ada harum parfum wanita di sini.” Amira menyentuh dada Laska menggunakan jari telunjuknya. Terlihat Laska gugup, dia berdehem dan meraih jemari Amira.


“Maaf Sayang, Mas belum sempat bilang sama kamu. Kalau Mas, kerjanya emang bareng wanita. Senior Mas,” ucap Laska membuat mata Amira melotot sempurna.


“Jadi, Mas fotonya bareng dia dong. Is, nyebelin!”


Berulang kali Amira memukul dada bidang Laska, tetapi tak dihentikan oleh pria itu. Dia juga salah, karena tak jujur pada istrinya. Sudah seharusnya Amira tahu, dari pada harus berujung pertengkaran kembali.


“Mas ngaku salah. Sudah ya, kamu enggak boleh marah-marah. Kasihan dedek bayinya,” kata Laska seraya mengusap perut rata Amira.


“Memangnya kapan aku hamil?” tanya Amira bingung. Memicingkan matanya ke arah Laska.


“Hahaha, kirain uda isi,”


“Baru juga sekali, mana bisa langsung jadi,” sahut Amira cepat.


“Oh, gitu ya. Kalau itu maunya, sekarang aja aku bom lagi biar cepat jadi.” Amira langsung mencubit pinggang Laska dengan kencang, membuat pria itu mengaduh sakit.


Akhirnya Laska bisa merasakan cubitan istrinya lagi, setelah pagi tadi dia dicuekin oleh wanita itu gara-gara keinginannya untuk bekerja di luar negeri. Ternyata Amira sudah mengerti, betapa senangnya Laska.


“Mas mau Amira buatan kopi?” tawar Amira seraya beranjak dari duduknya.


“Tidak perlu Sayang. Mas mau mandi aja, mau ikut?”

__ADS_1


“Ikut! Takut sendirian di sini, Ibu juga sudah tidur,” rajuk Amira.


Dia mengikuti langkah Laska, sembari memegang ujung baju pria itu. Banyak sekali rencana dalam kepala Amira sebelum Laska pergi. Dia ingin menghabiskan waktu dengan suaminya. Terutama malam hari seperti ini.


**


Kepulan asap dari kopi masih terlihat, tetapi Bara tetap meneguknya setelah meniup dengan pelan. Pria itu tidak bisa tidur dan memilih masuk ke ruangan kerja yang berada di kamar paling belakang, sengaja dulu dia kunci terus agar Cinta tak tahu.


Bara memang menyembunyikan semuanya dari Cinta terutama restoran dan kafe-kafe miliknya. Dia hanya mengaku bekerja di restoran orang, padahal, dialah bosnya.


Berulang kali Bara mencoba fokus pada berkas yang sudah berada di tangan, tetapi tetap saja tak bisa. Pikirannya malah tertuju pada sosok Aisyah, terbayang-bayang wajah cantik wanita itu dengan polesan make up tipis.


“Astaga, apa yang aku pikirkan,” gerutu Bara sambil memukul pelan kepalanya.


Tangan Bara meraih benda pipih yang dia anggurin dari tadi. Menggeser layarnya hingga terlihat foto dia dan Cinta di sana. Bara memilih memencet aplikasi berlogo gagang telepon, melihat kontak paling teratas.


Saat melihat bacaan ‘aktif’ di bawah nama Aisyah, dengan segera Bara mengetikkan sesuatu di keyboard ponselnya.


@Bara


[Belum tidur?] Centang dua abu-abu perlahan berubah menjadi biru. Dengan bahagia Bara menunggu jawaban dari Aisyah di seberang sana.


Tring


@Aisyah


Bara mendesah kesal saat melihat panggilan yang Aisyah tulis di sana. Bapak? Yang benar saja, wanita itu pikir dia sudah bapak-bapak apa. Bara benar-benar kesal.


@Bara


[Bapak? Kamu pikir saya, ayah kamu?]


@Aisyah


[Jadi, aku harus memanggil Bapak dengan sebutan apa?]


@Bara


[Terserah. Asal jangan Bapak.]


@Aisyah


[Kakak gimana?]


@Bara

__ADS_1


[Saya bukan kakak kamu!]


@Aisyah


[Serba salah. Terserah kamu saja lah!]


Bara tertawa pelan saat membaca balasan Aisyah. Dia jadi membayangkan selucu apa wajah Aisyah sekarang. Pasti sangat menggemaskan, sungguh Bara malah ingin bertemu dengannya. Andai saja ini sudah pagi, dia pasti akan langsung menemui Aisyah.


Bara segera menyimpan ponselnya, pria itu memilih menjatuhkan kepalanya di meja kerja. Perlahan, Bara menutup matanya. Berharap dia bisa tertidur dan akan bangun pagi hari. Sebab, Bara sudah tak sabar lagi ingin melihat wajah Aisyah yang menurutnya sangat lucu bila merajuk.


“Jantungku berdebar. Aku tidak tahu maksudnya ini apa, tetapi, aku selalu memikirkan Aisyah. Apa aku mulai jatuh cinta?” Pertanyaan konyol Bara menjadi kalimat terakhir sebelum matanya benar-benar terpejam.


**


Sebelum tidur, Laska mengusap-usap punggung Amira dengan lembut sembari bercerita tentang hari ini dia di kantor. Amira mendengarkan dengan saksama, sesekali dia mengusap dada Laska lembut. Nyaman sekali rasanya, bila Amira sudah menyandarkan kepalanya di sana.


“Maaf ya, Mas tidak punya waktu luang buat kamu dan Ibu,” ucap Laska yang langsung dibalas gelengan oleh Amira.


“Mas ngomong apa sih? Lagian, Mas kayak gini juga buat kami. Makasih ya Sayang,” jawab Amira.


“Kamu enggak marah lagi ‘kan?” tanya Laska seraya mengusap pipi Amira.


“Enggak kok! Amira ‘kan sudah dewasa, harus bisa berpikir dewasa juga. Maaf ya Mas, selama ini Amira selalu berpikir seperti anak-anak hingga membuat Mas lelah,”


“Hey! Apa sih kamu ini? Bagi Mas, itu semua tidak ada masalahnya. Kamu tetap menjadi kebanggaan dan cintanya Mas sampai kapan pun itu. Jangan berpikir seperti itu lagi ya,” pinta Laska. Amira segera mengangguk.


Keduanya berpelukan dengan erat, Laska menciumi pucuk kepala Amira berulang kali. Sembari mengucapkan kata-kata cinta untuk wanita itu.


“Besok Amira mau datang ke kafe, buat ngajuin surat memundurkan diri dari sana,” ujar Amira yang langsung dibalas senyuman oleh Laska.


“Makasih Sayang.”


“Sama-sama Mas. O ya, Amira juga sudah putuskan. Kalau Mas, boleh kerja di Korea. Amira tidak melarang,” sambung Amira lagi.


“Kamu ikut?”


“Tidak. Amira di sini saja, ‘kan yang penting doa dan cinta Amira tetap banyak untuk Mas,” ucap Amira.


Laska tersenyum, mendekatkan wajahnya pada Amira. Di kecup berulang kali bibir merah ranum milik istrinya itu. Hingga berakhir menjadi *******. Amira mengalungkan tangannya di leher Laska, menikmati setiap sentuhan dari suaminya.


Terima kasih atas pendamping hidup yang engkau berikan. Amira sangat bersyukur ya Allah.


 


Bersambung

__ADS_1


 


Jangan lupa pencet like, komen, dan vote guys. Kalau kalian menyukai cerita ini, berikan kembang atau kopi. Othor gak maksa, tapi ya gitu... Pokoknya harus kasih kembang😂😂


__ADS_2