
“Gladis,” panggil Alchan. Pria itu menatap Gladis lekat.
“Iya?” jawab Gladis seraya menundukkan kepalanya.
“Ayo hijrah.”
Sontak kepala Gladis terangkat, mata beningnya menatap jauh mata Alchan. Seketika hatinya berdebar, sesuatu tak biasa datang menghampiri.
Cukup lama Gladis hanya diam, bingung akan perasaannya. Sebentar dia menatap Alchan, pria itu hanya tersenyum.
“Maaf ....” Gladis mengusap wajahnya pelan, lalu mengangkat wajah. “Hatiku belum terketuk,” sambung Gladis membuat senyum Alchan menyurut.
Jawaban Gladis membuat Alchan kecewa, tetapi dia juga tidak bisa memaksa. Karena semua keputusan memang ada di Gladis, bila memang Allah belum memberi hidayah, ya mau bagaimana lagi.
“Tuhan belum memberiku hidayah,” ucap Gladis.
“Sebenarnya kita bisa menjemput hidayah itu, tetapi dengan hati yang memang sudah berniat untuk berada di jalan-Nya. Aku harap, kamu segera mendapat hidayah itu. Kamu adalah orang baik, aku yakin Allah sayang padamu,” kata Alchan membuat Gladis malu.
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Kita berteman?” tawar Alchan sambil mengulurkan tangannya ke arah Gladis.
Gladis menatap lekat Alchan, keningnya berkerut karena tak percaya dengan ucapan Alchan. Pria itu mengajaknya berteman, mungkin saja ingin mengenal satu sama lain. Pikir Gladis. Tanpa basa basi, dia langsung menjabat tangan Alchan.
“Boleh? Baiklah, kalau begitu kita temenan,” ucap Gladis antusias.
Dua manusia berbeda jenis itu tertawa kecil, Alchan dapat melihat kebahagiaan di mata Galdis. Berbeda saat ijab kabul terlaksanakan kemarin, seakan tak ada semangat hidup di mata wanita itu.
**
Sedangkan di tempat lain, seorang gadis tengah melamun di tepi kolam renang. Hijab yang ia gunakan berkibar karena tiupan angin yang cukup kencang. Jari jemari tak henti menyentuh air, membuat air yang semula tenang menjadi bergelombang.
__ADS_1
Almaira menghembuskan napas lelah, lalu dia beranjak dari tepi kolam menuju bangku yang berada tak jauh dari kolam itu.
Dia tak berniat pergi ke butik meski karyawannya terus menghubungi. Mood Almaira sedang tidak baik, dia hanya butuh istirahat.
“Kak Almai!” Panggilan seseorang membuat Almaira segera menoleh ke sumber suara.
Saat melihat Alchia tengah berjalan ke arahnya, Almaira segera tersenyum. Seolah-olah tak terjadi sesuatu padanya, sangat berbeda dengan hati, yang malah ingin menangis.
“Kamu datang kenapa tidak menghubungi Kakak dulu?” tanya Almaira saat Alchia sudah berada di bangku sebelahnya.
Gadis berhijab yang baru kembali dari kampus itu, mendesah kesal. Sangat terlihat gurat kesal di wajah Alchia, apalagi ketika menatap Almaira.
“Yang benar saja, Chia udah hubungi Kakak sejak tadi, tetapi tak di jawab,” ucap Alchia.
“Oh, iya lupa. Ponsel Kakak di dalam,” jawab Almaira sambil tertawa renyah.
“Tuh kan.”
“Kamu mau minum apa?” tawar Almaira.
“Enggak perlu Kak, Chia nggak mau ngerepotin Kakak,” ucap Alchia sungkan.
Sebenarnya gadis itu datang hanya untuk menemani Almaira. Dia sangat tahu, teman kakaknya ini pasti sangat terpuruk. Alchia juga tahu bahwa Almaira memiliki rasa pada Alchan, sebab bisa dilihat dari pandangan gadis itu.
“Yakin nih?” tanya Almaira lagi, dia tertawa pelan.
“Iya loh Kak, nggak usah.”
“Ya sudah deh,” balas Almaira.
Tak ada percakapan di antara keduanya. Alchia masih bingung harus memulai dari mana, sedangkan Almaira, memilih diam.
__ADS_1
“Maaf ya Kak.” Alchia membuka suara, membuat Almaira bingung.
“Maaf untuk apa?” tanya Almaira dengan wajah bingung.
“Kak Alchan,” cicit Alchia.
Almaira tersenyum, lalu membalas, “Kak Alchan nggak salah kok, lagian memangnya Kak Alchan ngapain harus minta maaf?”
“Aku tahu Kak Almai suka sama Kak Alchan. Tapi sayang, Kakakku tidak sepeka itu,” sambung Alchia lagi, semakin membuat Almaira bingung dan terkejut.
“Maksud kamu apa sih, Chia? Kakak nggak suka kok,” kilah Almaira.
“Jangan bohong Kak. Chia bukan anak kecil lagi, untuk bisa dibohongi. Andai takdir Allah tidak seperti ini, pasti aku sangat bahagia bila Kak Almai yang menjadi Kakak iparku,” papar Alchia.
“Bukankah takdir Allah yang terbaik? Jangan mengeluh Alchia, harapan kamu tak seindah skenario Allah. Terima apa yang telah Dia gariskan,” tandas Almaira.
“Tapi ini tidak adil.” Alchia menundukkan kepalanya.
“Tidak adil di mananya?”
“Kak Almai yang menemani Kak Alchan dari nol, tetapi kenapa wanita itu yang menjadi teman hidupnya?”
“Defenisi sahabat sejati memang begitu. Susah senang bersama, tetapi tidak harus bersama selama-lamanya. Ada kalanya sahabat itu akan berpisah, oleh waktu atau kematian,” jelas Almaira.
Mulutnya boleh berkata seperti itu, tetapi hatinya tidak. Jujur, hati Almaira juga menangis. Merasa tidak terima dengan takdir, tetapi dia mencoba untuk menahannya dengan terus beristigfar.
Dia yang terlalu berharap, bukan takdir yang jahat. Ya, Almaira berharap pada manusia bukan Tuhannya.
__ADS_1