Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 14


__ADS_3

Di bawah langit jingga, Alchan dan Gladis tengah menikmati es krim. Keduanya duduk di taman kota. Sesekali Alchan melirik ke arah sang istri, tersenyum gemas melihat wanita cantik itu.


“Kamu kenapa lirik-lirik ke arahku?” tanya Gladis yang menyadari tatapan Alchan.


“Cantik.” Satu kata yang keluar dari mulut Alchan membuat Gladis bingung.


“Maksudnya?” tanya Gladis sekali lagi.


“Kamu cantik,” ucap Alchan sambil tersenyum.


Udara seakan berhenti berembus, Gladis kesusahan bernapas mendengar penuturan Alchan. Memang sudah banyak sekali pria yang memuji dia cantik, tetapi ketika Alchan yang mengucapkan semua terasa berbeda.


Dengan tenang Gladis menjawab, “Ya iyalah, kan aku perempuan.”


“Padahal tadi nggak gitu konsepnya,” sahut Alchan kelihatan kesal.


Dia memalingkan wajahnya, lalu melipat kedua tangan di dada. Alchan pura-pura merajuk karena jawaban Gladis, membuat wanita itu jadi merasa bersalah.


“Alchan,” panggil Gladis sambil menepuk pelan bahu Alchan.


Bungkam. Tak ada jawaban dari pria itu. Sekali lagi Gladis menepuk bahunya, tetap saja.


“Jangan ngambek dong. Iya iya, aku minta maaf,” ujar Gladis seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


Alchan membalikkan badannya, lalu tertawa terpingkal-pingkal. “Kamu lucu kalau ketakutan begini ya,” ejek Alchan.


“Ih, Alchan! Iseng deh!” teriak Gladis.


“Ampun, ampun.”


Mereka berdua sama-sama tertawa, hingga Alchan tak sengaja menyentuh pipi Gladis. Membuat tawa yang sempat terdengar, kini terhenti. Keduanya saling tatap, dengan perasaan tak menentu.


“Kan sudah kubilang, lebih baik Kakak di kamar rumah sakit saja. Kak Alchan itu sudah berubah, dia tak peduli pada kita lagi,” ucap Alchia pada Almaira di balik pohon rindang.


Mereka berdua datang untuk bertemu Alchan, karena ada sesuatu hal yang ingin Almaira bicarakan. Gadis itu bela-belain kabur dari kamar demi Alchan, tetapi lagi-lagi dia merasa bodoh dengan caranya.


Almaira lupa, Alchan sudah bukan pria seperti dulu. Sekarang pria itu lebih mementingkan Gladis, ya, karena dia istrinya. Dan seharusnya Almaira tahu itu.


“Tidak apa Chia, Kak Chan nggak salah kok. Kan mereka suami istri, jadi wajar kalau berduaan terus,” sahut Almaira dengan tenang.


“Tapi gara-gara itu, dia nggak pernah jenguk Kakak.” Alchia kembali bersuara, dengan wajah penuh kekesalan.


“Lah, kamu mau pernikahan Kak Chan berantakan? Seharusnya kita mendukung, bukan malah ingin memisahkan keduanya,” jawab Almaira.


Alchia diam sejenak, memikirkan setiap kalimat yang terlontar dari mulut Almaira. Jujur, dia memang tidak suka dengan Gladis. Dan ingin memisahkan kakaknya dengan wanita itu.


“Aku ikhlas Chia. Percuma aku ingin menentang takdir, jika memang bukan nama Alchan yang tertulis di lauhul mahfuz, aku bisa apa? Dunia ini milik-Nya, begitu pun dengan kita.”


Almaira menunduk, menahan air mata agar tak jatuh. Mencoba tegar di atas derita yang telah dia rasakan, dan berharap semoga Allah segera menyembuhkan hatinya.

__ADS_1


“Kak Almai!” Alchia memeluk Almaira dengan erat, menumpahkan segala kesedihan bersama gadis itu.


**


Kecerobohan kabur dari rumah sakit, mengundang kemarahan ayahnya. Almaira diam saja, saat Bara terus berbicara. Bahkan saat pria itu memarahi Alchia. Dia terlalu lelah, mulutnya terasa keluh untuk mengucap satu kalimat saja.


“Seharusnya kamu tahu, Kak Almai itu sedang sakit. Kenapa malah dibawa pergi begini,” tegas Bara pada Alchia.


“Maaf, Yah. Chia ngaku salah,” lirih Alchia dengan kepala tertunduk.


Meski Bara sedikit membenci Alchan, tetapi dia menyayangi Alchia. Baginya, gadis itu sudah seperti anak yang juga harus dia lindungi.


“Jangan diulangi lagi,” ingat Bara.


“Iya Ayah, Chia janji nggak akan ngulangi lagi,” jawab Alchia cepat.


Aisyah yang berada di dekat Alchia, segera memeluk gadis itu. Sesekali dia mengecup pucuk kepala yang terbalut hijab.


“Sebaiknya Chia pulang, entar Mamah nyariin lagi,” saran Aisyah.


“Iya Bunda. Kalau gitu, Chia pulang ya. Assalamualaikum,” pamit Alchia seraya keluar dari ruangan.


“Wa’alaikumussalam,” jawab ketiganya bersamaan.


Kini giliran Almaira yang akan mendapat omelan lagi, dia pastikan itu. Karena ayahnya orang yang amat tegas, apalagi menyangkut kesehatannya.


Almaira menggeleng dengan cepat, lalu berhambur di pelukan Bara.


“Maaf sudah buat Bunda dan Ayah marah,” ucap Almaira sembari mengecup punggung tangan kedua orang tuanya secara bergantian.


Suasana mendadak cerah kembali. Keluarga bahagia itu masih saling peluk, dengan sayang. Almaira sangat beruntung bisa lahir ditengah-tengah keluarga yang amat menyayanginya.


**


“Langit, masuk Nak. Sudah mau Magrib ini.” Suara wanita menyadarkan Langit dari lamunannya.


“Iya Mi, sebentar lagi,” sahutnya dengan lemah lembut.


Masih betah berlama-lama Langit duduk di tepian kolam renang. Gara-gara pembicaraan dengan Almaira tadi, dia jadi tak bisa berpikir normal selain gadis itu.


Entah mengapa, Langit masih penasaran dengan sosok Almaira. Dia ingin bertemu kembali, tetapi sepertinya Almaira yang tak mau.


“Apa aku sudah jatuh cinta?” tanya Langit pada dirinya sendiri.


Dia segera tertawa kecil saat menyadari kebodohannya. Sambil geleng-geleng kepala Langit beranjak dari duduk, memilih masuk ke dalam rumah sebelum mendengar panggilan uminya lagi.


**


“Alhamdulillah.” Alchan mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan.

__ADS_1


Baru saja mereka selesai melaksanakan salat Magrib, Alchan sangat bersyukur saat Gladis mau menjalankan kewajibannya.


Dia mengambangkan tangan ke udara, menunggu sambutan tangan Gladis. Ternyata wanita itu mengerti, dia meraih tangan Alchan dan menciumnya dengan takzim.


“Ternyata rasanya seperti ini,” lirih Gladis seraya menundukkan kepala.


“Apa yang kamu rasakan Gladis?”


“Tenang,” jawab Gladis.


Dia tersenyum, jemarinya tak henti-henti memilin mukena yang dia kenakan. Kesunyian kembali mendera, selalu saja begini. Keduanya belum bisa berdamai dengan hati, gugup saat akan memulai lebih dulu.


Karena bingung harus berbuat apa, Alchan berdiri dan melipat sajadah yang dia gunakan.


“Makan malam yuk,” ajak Alchan sembari mengulurkan tangan ke depan Gladis.


“Yuk. Biar aku siapin!” balas Gladis antusias. Menggapai tangan Alchan dan menarik pria itu keluar dari ruangan salat.


Mereka menuju meja makan, Gladis meminta Alchan untuk duduk. Sedangkan dia menyiapkan makanan yang sudah dia masak tadi, masih menggunakan mukena. Alhasil Gladis agak kesusahan saat berjalan.


“Buka dulu mukenanya, biar aku yang lipat,” ujar Alchan.


“Sudah, tak perlu,” tolak Gladis pelan.


“Terserah kamu saja lah.”


Setelah semua siap terhidang, Gladis langsung meminta Alchan untuk mencoba semuanya. Dari tumis kangkung sampai ayam goreng, ada di meja. Meski menu sederhana, Alchan tetap menikmati.


“Alchan,” panggil Gladis membuat pria itu langsung mengalihkan pandangannya.


“Iya?” tanya Alchan.


“Kenapa kamu tidak meminta hakmu, sebagai seorang suami?”


Sendok dalam genggaman berhenti, Alchan terdiam sejenak. Berusaha menormalkan detak jantungnya yang mulai bertalu-talu.


“Apa karena aku wanita kotor?” sambung Gladis dengan wajah sedih.


Menghembuskan napas pelan, Alchan menjawab, “Bukan karena itu. Melainkan kamu kini tengah mengandung. Sangat tidak diperbolehkan aku menyentuhmu. Begitulah hukum Islam. Aku hanya boleh menjagamu, hingga anak itu lahir ke dunia ini.”


Seketika, Gladis semakin tertunduk dalam.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2