
Amira mengusap air matanya seraya melambaikan tangan ke arah Laska. Pria itu sudah berjalan meninggalkan Amira, tetapi dia langsung berlari kembali. Memeluk tubuh istrinya dengan erat. Kalau bisa memilih, Laska ingin di rumah bersama Amira saja dari pada harus pergi ke negeri orang. Tapi, suatu cita-cita yang ingin dia sampai, membuatnya mau tidak mau harus memilih. Dan ini pilihannya, juga pilihan Amira. Berpisah, meski doa selalu tersirat dari keduanya.
“Mas jaga diri baik-baik di sana ya. Jangan lupa makan, dan tidur dengan teratur,” pesan Amira seraya mengusap pipinya asal. Ingin menghilangkan air mata yang masih terus mengalir dari pelupuk mata.
“Kamu juga jaga diri ya Sayang. Aku janji, akan segera kembali jika pekerjaan ini sudah selesai,” ucap Laska yang langsung dibalas anggukan oleh Amira.
Klakson taksi berbunyi, Amira mengurai pelukannya. Jemarinya memegang kedua pipi Laska, mengusap air mata di mata sang suami. Dia tersenyum, lalu mengangguk tanda dia siap untuk di tinggal.
“Assalamualaikum Sayang,” salam Laska seraya melambaikan tangannya.
“Waalaikumsalam, cepat pulang Mas!”
Amira dan Laska sama-sama terkikik. Belum juga pergi, sudah diminta pulang. Mata Amira tak lepas dari depan pagar, seketika air matanya kembali merembes saat taksi yang ditumpangi Laska bergerak perlahan meninggalkan jalanan depan rumahnya. Amira berlari mendekati pagar, dia melihat taksi itu dengan perasaan tak menentu.
“Aku pasti kuat, ini juga demi hidup kami,” lirih Amira sembari melangkah menuju rumahnya.
Gina sang ibu yang sejak tadi memperhatikan, ikut mengusap sudut mata yang terdapat buliran bening itu. Dia jadi rindu sang suami, meski pria itu sudah jahat padanya, dia tetap bagian dalam hidup Gina. Amira berlari memeluk sang ibu, menumpahkan segala kesedihannya di sana. Baru beberapa menit di tinggal, rasa rindu kian menggebu. Sedangkan jadwal kerja Laska, masih enam bulan.
“Doakan semoga Laska baik-baik saja sampai Korea,” ucap ibu.
“Aamiin ya Allah.”
Setelah melepaskan pelukan, Amira mengajak ibunya untuk masuk. Seketika mata Amira menerawang jauh ke penjuru ruangan keluarga. Bayangan wajah Laska terus saja mengganggu dia, Amira hanya bisa membuang napas kasar. Setelah itu memilih ke kamar.
Dia mengambil baju Laska dari dalam lemari, yang sengaja dia sembunyikan agar pria itu tidak tahu. Amira menghirup dalam-dalam aroma parfum yang masih tertinggal di sana, Amira tidak akan mencuci baju ini. Siapa tahu bisa mengurangi rindunya bila di peluk terus menerus.
**
Baru sehari ditinggal Laska, Amira merasa tidak enak badan. Sejak tadi dia bolak balik masuk ke kamar mandi, perutnya bergejolak. Tetapi tak ada yang keluar, hanya air pun sedikit.
Gina yang merasa khawatir pada Amira, mencoba mengetuk pintu kamar sang putri. Tapi tak ada jawaban dari dalam, semakin membuat hatinya tak tenang.
Berulang kali Gina mengetuk, hingga akhirnya pintu dibuka oleh Amira. Dia bisa melihat wajah putrinya sangat pucat, bibir wanita itu bergetar.
“Kamu kenapa Sayang?” Gina segera mengajak putrinya untuk masuk ke dalam kamar kembali dengan memapah tubuh lemah itu.
__ADS_1
“Enggak terlalu panas. Kamu kenapa Sayang?” tanya Gina sembari menempelkan punggung tangannya di kening Amira.
“Entahlah Bu, Amira bawaannya mau muntah terus,” tutur Amira seraya memijit pelipisnya.
“Muntah?”
“Iya. Tetapi tidak ada yang keluar, hanya air,”
Sang ibu tersenyum simpul, Gina punya ide. Dia segera membuka lemari sang putri, mencari jaket untuk Amira pakai. Sedangkan Amira, dia bingung melihat tingkah ibunya.
“Untuk apa Bu?” tanya Amira ketika mendapati ibunya tengah memakaikan jaket di tubuhnya.
“Ke rumah sakit Sayang,” jawab Gina.
“Untuk apa?”
“Sudahlah. Kamu tenang saja.”
Setibanya di rumah sakit, Gina langsung mengajak Amira untuk ke ruangan Dokter. Sebelumnya wanita paruh baya itu, bertanya pada resepsionis. Apakah ada jadwal konsultasi hari ini.
“Langsung saja ya Bu, tadi saya juga sudah diberi tahu oleh pihak resepsionis. Ayo Bu, kita periksa.”
Sungguh Amira semakin bingung, tetapi dia tetap beranjak untuk mengikuti buk dokter. Setelah diperiksa, Amira di minta tidur di brankar.
“Tubuh Buk Amira terlalu lemah, jadi, saya akan beri vitamin. Dan juga, jangan terlalu lelah. Itu bisa membahayakan janin yang ada di dalam perut Ibu,” jelas sang dokter. Amira membulatkan matanya tak percaya.
“Maksud Dokter?” tanya Amira masih belum percaya.
“Ibu hamil. Usianya masih sangat muda. Tolong dijaga ya Bu.”
Ada rasa bahagia memenuhi ruang hati Amira. Tapi rasa sedih lebih mendominan, dia jadi teringat Laska. Kehamilan pertama, dia jauh dari suami. Amira tidak yakin sanggup.
Yang bisa dia lakukan adalah, melangit-langitkan doa untuk suami dan anaknya. Agar senantiasa selalu baik-baik saja.
**
__ADS_1
Malam ini, Amira berniat untuk menghubungi Laska. Dia ingin memberitahu pria itu tentang kehamilannya. Amira memilih menghubungi melalui panggilan video, agar Laska percaya setelah melihat alat pengecek kehamilan ini.
Lima menit dia menunggu sambungan dari Laska, akhirnya terjawab juga. Senyum langsung merekah di bibir keduanya.
“Assalamualaikum Papah,” salam Amira sambil senyum-senyum. Laska mengerutkan keningnya saat mendengar panggilan Amira. Tidak biasanya.
“Waalaikumsalam. Kok Papah?” tanya Laska bingung. Sangat jelas terlihat di wajahnya yang terpampang jelas di layar ponsel Amira.
“Kan emang uda mau jadi Papah,” sambung Amira. Semakin membuat Laska bingung.
“Maksud kamu apa Sayang? Mas nggak ngerti.”
Amira mengeluarkan alat itu dari dalam saku baju, dia menampilkan sedikit ujung tespek di layar. Laska mmemicingkan mata untuk melihat benda itu, seketika matanya melebar saat Amira menampilkan semuanya.
“K-kamu h-hamil?” ucap Laska dengan gugup. Tubuhnya sudah gemetar.
“Alhamdulillah. Iya Mas.”
Saat itu juga, air mata Laska jatuh. Dia menangis. Amira jadi ikutan menangis, berulang kali mencoba mengusapnya, tetap saja terus jatuh.
“Anak Papah baik-baik saja di sana ya. Papah janji akan segera kembali,” lirih Laska seraya mengusap layar ponsel pelan.
“Iya Papah.” Amira menjawab dengan meniru suara anak kecil.
“Aku jadi semangat bekerja, agar segera kembali.”
“Aku selalu menunggu kamu, Mas. Jangan lupa jaga kesehatan.”
Ancaman demi ancaman dalam rumah tangga, telah mereka lalui bersama. Amira dan Laska mencoba tegar, berusaha menjadi lebih dewasa untuk mempertahankan rumah tangga mereka. Hingga akhirnya, Allah mengijabah doa-doa orang baik. Kini, kebahagiaan itu semakin lengkap karena sebentar lagi akan ada makhluk kecil yang akan membawa kedamaian dalam rumah tangga mereka.
Amira menatap langit malam dari balkon kamar, menatap bulan yang sudah menampakkan dirinya di tengah-tengah ribuan bintang. Dia menyesal telah melakukan hal bodoh dulu, tetapi karena perlakuannya, dia bisa bertemu Laska dan menikah dengan pria itu.
Sekarang dia hanya ingin, semuanya tetap berjalan dengan baik. Sampai nanti, akhir hayat. Karena ini semua, belum usai. Masih akan ada hal yang bisa dia ceritakan pada anaknya, entah itu tentang dia atau pun Laska.
Bersambung
__ADS_1
Akhirnya cerita ini tamat. Extra part akan menyusul hari ini. Dan kisah Cinta, akan publish besok. Ok. Terima kasih.