Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 29


__ADS_3

Di kediaman keluarga Bara, semua orang tengah berkumpul di ruang utama. Sepasang suami istri itu menatap putrinya dengan berbarengan, membuat Almaira bingung.


“Bun, Yah, ada apa?” tanya Almaira sembari balik menatap.


“Enggak kok Sayang. Memangnya nggak boleh ya, orang tua mandangin anak gadisnya?” Bunda malah balik bertanya sambil tertawa kecil.


Tentu saja Almaira menggeleng, lalu detik berikutnya gadis itu mengerutkan bibir karena sebal dengan jawaban sang bunda. Dia pikir ada sesuatu yang penting, ternyata hanya candaan saja.


“Kirain ada apa,” lirih Almaira.


Tangannya beralih mengambil gelas di meja yang berisi macha latte. Almaira menghirup aroma daun teh melati, dengan mata terpejam.


“Tentang Alchan, benarkah istrinya sudah hamil?”


Tiba-tiba Bara membuka suara membuat Almaira yang hendak menyesap minumannya, tak jadi. Gadis itu kembali meletakkan gelasnya, lalu menatap sang ayah dengan saksama.


“Ayah tahu dari mana?” Almaira mengerutkan dahinya.


Selama ini ayahnya tak terlalu peduli dengan urusan seperti itu, tetapi kini malah seperti penasaran dengan kabar kehamilan istri Alchan.


“Alchan yang bilang sama Ayah,” jawab Bara. Almaira melototkan matanya.


“Ayah ketemu Kak Alchan? Kapan? Di mana?” tanya Almaira menggebu.


Menghembuskan napas kasar, Bara segera menjawab, “Tadi di acara syukuran Langit, kan ada Alchan di sana. Jadi, tidak sengaja kami terlibat percakapan.”


“Tapi Ayah nggak ngomong macam-macam kan?”


Almaira sangat takut. Dia tahu bagaimana ayahnya, selalu saja bersikap tegas dan sangat melindungi dia. Mungkin saja kalau sang ayah tahu tadi dia menangis di mobil, mungkin saja Bara sudah murka.


“Macam-macam? Ya nggaklah Sayang, kamu jangan khawatir.” Bara mengusap kepala putinya sambil tertawa renyah.


“Takut aja.”


Lalu ketiganya sama-sama tertawa. Aisyah yang sejak tadi diam, merasa lega ketika melihat putrinya kembali ceria. Dia sungguh tersiksa bila Almaira terus saja sedih, apalagi mengenai Alchan.


Dia baru tahu, bahwa sebegitu cintanya Almaira dengan Alchan. Ya, cinta diam-diam yang sudah mengakar, sampai butuh waktu untuk mencabut dari hati paling dalam.


“Bunda kenapa diam saja?” Almaira kembali membuka suara, lalu menyentuh wajah bundanya dengan jemari.


“Kayaknya lebih seru dengerin kalian cerita,” jawab bunda.


“Kok gitu sih? Padahal biasanya Ayah yang suka diam-diam. Iya, diam-diam menghanyutkan,” papar Almaira sambil tertawa.

__ADS_1


Mendengar itu, tentu saja Bara kesal. Putri dan istri sama saja, selalu meledek dia. Belum lagi orang sekitar, juga sama.


**


“Maaf ya, buat aku, kamu tetap orang lain.” Alchia berbicara sembari menatap Gladis dengan wajah datar.


Keduanya bertemu di kafe, sepertinya Alchan dan Gladis sedang makan malam berdua di sana. Sedangkan Alchia, gadis itu hanya ingin mencari hiburan.


Hingga dua perempuan yang saling berhadapan ini, tak sengaja bertabrakan di depan toilet.


“Iya enggak apa, aku tahu,” balas Gladis.


“Bagus, berarti kamu sadar. Andai saja ini bukan takdir Allah, sudah pasti aku akan memisahkan kalian dengan caraku,” lontar Alchia membuat Gladis terkejut.


“Maksud kamu?” tanya Gladis dengan bingung.


Alchia mengusap pelan wajahnya, lalu dia kembali menatap Gladis dengan senyum kecil.


“Memangnya siapa yang mau punya Kakak ipar dadakan?”


“Jujur, sudah ada wanita lain yang keluargaku dambakan,” sambung Alchia.


Tatapan Gladis berubah menjadi sendu. “Apa itu Almaira?” tanyanya.


“Ya. Maaf, aku duluan,” pamit Alchia sembari beranjak dari sana.


“Almaira Almaira, kenapa harus dia terus yang mereka puji? Memangnya sehebat apa gadis itu?” teriak Gladis kesal.


Bahkan dia sampai meninju dinding untuk meluapkan amarahnya. Lalu langkahnya kembali bergerak meninggalkan toilet untuk pergi menghampiri Alchan.


Suasana di kafe Refsya ini sangat ramai. Pengunjung berdatangan dengan berbondong-bondong, dan kebanyakan adalah anak muda. Gladis segera duduk, dia menatap Alchan dengan senyuman.


“Kok lama sih?” tanya Alchan sembari menyesap jus miliknya.


“Iya, tadi soalnya kebelet banget,” jawab Gladis berbohong.


“Oh, gitu ya?”


Gladis hanya mengangguk. Tatapan wanita itu mulai berubah saat ucapan Alchia tadi kembali terngiang di kepala, seorang Almaira yang selalu saja dipuji-puji semua orang.


“Chan,” panggil Gladis, membuat Alchan langsung menoleh ke arahnya.


“Iya, ada apa?”

__ADS_1


“Aku pengin tahu tentang Almaira, boleh?” tanya Gladis dengan takut-takut.


Alchan tampak mengerutkan dahinya, lalu setelahnya dia mengangguk seraya tersenyum.


“Almaira itu, gadis baik, cantik dan memiliki jiwa yang sangat lembut. Selama aku berteman dengan dia, Almaira selalu saja menguatkan aku saat aku sedang berada di titik paling dasar. Dan yang paling aku ingat, saat dia menolongku ketika aku kecelakaan dan tak mempunyai semangat hidup lagi,” jelas Alchan. Awalnya wajah pria itu gembira, tetapi kini berubah menjadi sedih.


“Aku sudah menghanguskan mobil papah. Aku juga sudah menghancurkan semua lukisan itu, aku menghancurkannya Almai!”


Alchan beberapa bulan lalu, terus saja berteriak. Merasa bersalah dengan kecelakaan yang terjadi, hingga menyebabkan seseorang harus merelakan nyawanya.


 “Ini takdir, kamu nggak perlu terus menyalahkan diri kamu,” ucap Almaira.


“Tapi ibu itu, ibu itu meninggalkan karena aku juga! Aku benci diriku! Hidupku!” teriak Alchan sambil menjambak rambutnya.


Sore itu Alchan akan pergi ke tempat temannya untuk menyerahkan beberapa lukisan, untuk dipajang saat pameran nanti.


Sayangnya, kejadian tak terduga membuat mobil Alchan harus rela menabrak pohon, karena mobil dari lawan arah rem blong. Hingga tak ada pilihan buat dia, selain membelokkan stir ke arah pohon.


Tapi dengan mobil yang hampir menabraknya, malah menghantam pembatas jalan dengan kuatnya, hingga membuat mobil itu terbalik.


Satu orang tewas, sedangkan satu lagi luka parah. Meski ini bukan salah Alchan sepenuhnya, tetapi dia merasa sangat bersalah. Apalagi ketika tahu yang tewas adalah ibu-ibu yang tengah mengandung.


“Kamu harus tenang Alchan. Kamu adalah korban. Seharusnya kamu tidak perlu menyalahkan dirimu, karena memang ini takdir. Rem mobil mereka blong, hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi.” Almaira masih berusaha menjelaskan, dengan harapan agar Alchan segera tenang.


“Aku sungguh merasa bersalah Almai. Anak dan ibu itu tidak bisa tertolong. Bagaimana dengan suaminya? Pasti dia sangat sedih.”


“Percayalah. Allah punya rencana sendiri. Kita harus berdoa, agar bapak itu bisa tabah dan menerima dengan ikhlas.”


Kata-kata itu, yang selalu membuat Alchan tenang. Seorang gadis yang begitu bijak dalam merangkai kata-kata, hingga membuat siapa pun akan tenang saat mendengarnya.


“Sebegitunya kah? Pantas saja semua orang selalu memuji Almaira,” ucap Gladis. Membuyarkan lamunan Alchan ketika membayangkan kejadian beberapa bulan lalu.


“Dia juga seorang desainer hebat. Namanya sudah tersohor karena karyanya selalu membuat semua orang terpukau,” lanjut Alchan.


“Kamu bisa berteman dengan dia. Aku yakin, Almaira pasti akan mengajarimu banyak hal, seperti aku dan Alchia,” sambung Alchan.


Gladis hanya mengangguk saja. Meski hatinya sangat panas, tetapi sebisa mungkin dia menyembunyikan semua itu.


Aku pasti akan berteman dengan dia Alchan. Namun, dalam hal yang lain.


 


**

__ADS_1


Maaf, gak bisa balas komen kalian satu-satu.


 


__ADS_2