Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 73


__ADS_3

Peluh membasahi kening Laska dengan sempurna, dia memilih berhenti di warung pinggir kota hanya untuk melepas penat. Sudah hampir tiga jam dia berkeliling mendatangi berbagai perusahaan hanya untuk melamar kerja. Tapi sayang, tak ada satu pun yang menerimanya.


Laska tahu semua ini pasti kerjaan kakeknya. Meminta pada semua pemilik perusahaan di kota Jakarta Selatan untuk menolak dirinya. Laska sudah menebak itu.


Setelah menghabiskan satu botol air mineral, Laska kembali melanjutkan langkah kakinya, agar segera sampai di rumah. Dia butuh istirahat setelah berjalan jauh sekali, kakinya terasa begitu pegal.


“Laska!” Panggilan dari Hari menghentikan langkah kaki Laska. Dia dapat melihat sosok Hari tengah berlari ke arahnya.


“Kenapa ada di sini?” tanya Laska memandang ke arah Hari setelah itu minimarket yang tak jauh dari tempat dia berada.


“Membeli minuman,” jawab Hari. Dia memandang ke arah Laska dari bawah sampai atas.


“Lo kok amburadul begini?” sambung Hari.


“Tidak.” Laska mencoba merapikan bajunya kembali. Setelah itu berbalik dan berniat meninggalkan Hari.


“Laska! Kalau lo ada masalah, jangan sungkan bicara padaku!” teriak Hari kembali menghentikan langkah kaki Laska.


Menghirup udara dengan rakus, Laska berbalik badan. Memandang Hari dengan serius.


“Uangku masih ada padamu ‘kan?” tanya Laska.


“Ya masih ada. Apa kamu ingin mengambilnya?”

__ADS_1


“Simpan saja itu untuk Amira. Dia harus kuliah,” ucap Laska membuat Hari geleng-geleng kepala.


Hari terdiam. Dia memperhatikan wajah Laska yang kelihatan begitu lelah. Matanya tak sengaja menangkap dokumen yang Laska pegang.


“Lo lagi cari kerjaan?” Hari menunjuk ke arah dokumen di tangan Laska, yang langsung disembunyikan oleh pria itu.


“Aku harus kembali. Amira sudah menunggu.”


Tanpa menunggu jawaban hari. Laska langsung menyetop taksi dan naik ke dalam mobil berwarna biru itu. Dia bisa bernapas lega karena sudah terbebas dari Hari. Laska hanya tidak ingin sahabatnya itu terkena masalah karena sudah bertemu dengan dirinya. Dia sangat paham betul bagaimana sikap kakeknya yang sangat tegas terhadap siapa pun. Bisa saja sang kakek memecat Hari hanya karena bertemu dengannya.


**


Sejak tadi Amira masih betah menatap ke arah layar laptopnya. Dia sedang menyusuri kota Jakarta Selatan lewat media sosial hanya untuk mencari info lowongan kerja. Meski tidak yakin dia akan sanggup, Amira tetap mencoba.


Dering ponsel mengalihkan pandangan Amira, dengan cepat gadis itu meraih benda pipih miliknya yang tergeletak di kasur. Satu motif pesan dari teman sekelas dapat dia lihat dari tampilan layar. Tak sabar ingin membaca pesannya, Amira langsung membuka aplikasi berlogo gagang telepon berwarna hijau itu. Dia menyentuh kontak teratas.


@Afni


[Kalau kamu mau kerja di kafe, ada ini. Dari pagi sampai sore doang. Gimana?]


Amira melompat-lompat di atas kasur. Dia senang, akhirnya usaha seharian ini terbalas sudah. Amira langsung membalas pesan itu dengan jawaban ‘iya’.


“Akhirnya!” teriak Amira kegirangan.

__ADS_1


Dia berguling-guling di kasur, tersenyum-senyum sendiri. Membayangkan bagaimana hari pertamanya nanti bekerja. Pasti sangat melelahkan karena dia tidak pernah melakukan itu.


Saat masih sedang bahagia, Amira teringat akan pesan Laska. Bahwa dia tidak boleh bekerja. Senyum di bibir Amira menyurut.


“Baiklah. Om Laska tidak usah aku kasih tahu saja,” monolog Amira seraya mengangguk-anggukkkan kepala.


Dia segera menghapus riwayat di ponsel dan laptop. Setelah itu, Amira menyiapkan berkas-berkas yang akan dia bawa untuk melamar besok.


“Bismillah ya Allah, semoga rezeki aku di kafe itu.”


 


Bersambung


Hari ini othor UP dua bab ya.


Buat semua yang sudah pertemanin othor di FB. Maaf kalau othor belum konfir. Soalnya othor bingung dengan akun kalian. Akhir-akhir ini banyak yang minta pertemanan. Yang uda konfir fbku, tulis nama fb kalian di komentar biar othor tahu.


Buat yang belum. Cari akun Fb othor, Bae Lla. IG, dek_lla.


Gomawo


 

__ADS_1


__ADS_2