Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 51


__ADS_3

POV Alaska


 


Mataku tak lepas memandang nasi goreng di dalam piring, rasa hangat menyelusup di dalam hati. Saat berada di kafe tadi, tiba-tiba pelayan memberikan sepiring nasi goreng padahal aku tak pesan.


Saat aku bertanya, pelayan itu tampak gugup menjawabnya.


“Ini dari siapa ya Mbak? Saya tidak pesan,” ucapku kala itu, menatapnya penuh tanda tanya.


“Dari pengagum rahasia Bapak, gadis itu bilang, kalau tidak dimakan nanti mubazir dan akan berdosa,” jawabnya polos. Aku ingin tertawa.


“Kalau boleh tahu namanya siapa ya Mbak?” tanyaku kembali, pelayan tadi tampak gelisah dan berusaha menghindari tatapanku.


“Itu Pak, saya tidak bisa menjawab. Ini amanah.”


Aku bisa mengerti, mungkin dia takut melanggar janjinya pada Pengagum Rahasiaku itu. Namun, aku juga penasaran siapa gadis itu, dan mengapa memberiku nasi goreng?


Yang tahu aku suka nasi goreng, hanya umi dan ... Amira. Ya benar. Segera kukeluarkan ponsel dari dalam saku, mencari foto Amira yang bagus untuk kutunjukkan pada pelayan ini.


“Apa orang ini yang memesannya?” Aku menunjukkan foto Amira tengah tersenyum, pelayan tadi menunduk. Dia tampak ragu untuk menjawab, lalu bergegas pergi karena dipanggil oleh pelayan yang lain.


Aku hanya bisa mendengkus napas kasar, lalu menatap ke arah sepiring nasi goreng. Hari di depanku terus tertawa sembari mengejek.


“Makanya kalau udah cinta itu, jemput dia. Jangan biarkan orang lain merebut dia ya Laska. Lagian sudah cukup kamu menenangkan diri,” ucap Hari. Aku terdiam mencerna semua kata-katanya. Ada benarnya.


Kecewa itu memang sudah sirna dan terganti dengan rasa rindu yang benar-benar menggebu. Aku selalu teringat Amira saat akan ke dapur, kamar, bahkan ke kamar mandi.


“Aku pulang duluan,” kataku seraya beranjak dari duduk. Lalu meminta pada pelayan untuk membungkus nasi goreng ini.


Dalam perjalanan, tak henti-hentinya mataku menatap setiap jalan yang kami lewati hanya untuk mencari jejak gadis yang memberiku nasi goreng ini. Sampai pak sopir bingung melihat tingkahku.


Saat itu keadaan jalan sangat padat dengan kendaraan, akhirnya mobil yang kutumpangi berhenti. Karena merasa gerah, aku membuka jendela. Jujur saja, AC tidak cukup menghilangkan kegerahanku, jalan satu-satunya yang udara alami.


Sungguh aku ingin keluar dari mobil saat melihat mobil Alphard di samping mobilku yang sangat tidak asing. Aku mengenali betul mobil itu, ya, milik keluarga Amira. Namun sayang, dia kelihatan tidak ingin menatapku saat kulihat kembali, kacanya yang bening sudah tertutup dengan gorden.


“Kita langsung pulang Pak?” tanya pak sopir, aku mengangguk sebagai jawaban.


Mungkin Amira masih marah padaku, karena aku begitu egois karena tak membelanya. Aku menerima itu.

__ADS_1


Malam ini aku akan tidur di rumah, mengenang masa bersama Amira lagi. Andai aku bisa menghubungi dia, sudah pasti aku langsung menanyakan kabarnya. Akhir-akhir ini aku memang menyibukkan diri di kantor, tidak ingin berbicara pada siapa pun karena memang ingin menenangkan sejenak hati yang mulai kacau.


Selalu pergi pagi pulang malam, bahkan umi sampai marah padaku. Wanita terhebatku itu selalu bertanya kapan aku menjemput menantunya, aku hanya menjawab nanti. Sampai amarah ayahnya Amira padam.


Perlahan tanganku terulur untuk mengambil nasi goreng di meja, yang baru saja kupanasi tadi. Suapan demi suapan masuk ke dalam mulut, aku mengunyah perlahan sembari menatap ke sekeliling kamar Amira.


Bahkan harum parfum gadis itu masih tertangkap indera penciumanku.


Drt drt


Mendengar suara ponsel bergetar, aku langsung meriah benda pipih itu di meja.


“Assalamualaikum Umi,” sapaku pada umi.


“Wa’alaikumussalam salam Sayang. Kamu di mana? Kok enggak pulang?” Umi mencerca dengan banyak pertanyaan. Aku tertawa pelan, yang semakin membuat umi kesal.


“Maaf Umi, malam ini Laska mau tidur di rumah,” kataku dengan suara pelan dan lembut.


“Sendirian? Kenapa tidak tidur di rumah Umi saja Sayang?”


“Lagi rindu rumah Umi.” Aku mencoba meyakinkan umi.


Kudengar tawa umi dan Abi di seberang sana. Mereka memang selalu bisa membuat aku tersenyum. Setidaknya malam ini aku bisa tertawa meski hanya lewat sambungan telepon bersama umi.


“Jangan lam-lama sendirinya Sayang. Jemput Amira. Kemarin Alfa telepon Amira lewat ibunya, dia bilang ingin dijemput kamu,” ucap umi. Aku terdiam, hatiku semakin teriris mendengar penuturan umi.


Lama aku terdiam, mengabaikan panggilan umi. Kepalan tanganku pun semakin mengerat, menahan gejolak di dada.


“Iya Umi, insyaAllah secepatnya,” ujarku.


“Ingat Sayang. Pernikahan itu sakral, jangan pernah menganggapnya sepele. Kamu mengerti?”


“Iya Umi, Laska mengerti.”


Umi menyudahi teleponnya, aku kembali menaruh ponsel di meja. Setelah itu menyuapkan nasi kembali ke mulut. Rasanya sedikit mirip dengan masakan Amira, lagi-lagi aku merindukan gadis itu. Istriku.


Setelah kejadian dua hari yang lalu, aku menyesal karena tak bisa merebutnya dari ayah mertua. Aku tak bisa menahan Amira agar tak pergi, aku malah diam. Merenungi hatiku sendiri, padahal Amira juga tersiksa.


“Gue mau pulang, lo gak ikut?” Tiba-tiba Alfa sudah berada di depanku. Pria itu sudah tampak rapi.

__ADS_1


“Aku tidur di rumah,” jawabku seadanya.


“Merenungi kesalahan?” Aku memilih diam, tak menanggapi decihannya.


“Aku pasti akan jemput dia Alfa,” kataku mencoba meyakinkan Alfa.


“Kapan?”


“Sebenarnya, ayah Amira mengancamku.”


Aku sudah tak bisa menutupi semuanya. Jujur, aku memang pernah menelepon Amira untuk meminta maaf. Namun, bukannya dia yang mengangkat melainkan ayahnya. Lelaki itu langsung mengancamku, jika aku tak menjauhi Amira, maka dia akan memisahkan kami selama-lamanya. Ternyata benar perkataan Alfa, ayah Amira begitu berambisi.


“Mengancam? Dia juga melakukan itu pada Cinta.” Sepertinya Alfa tertarik dengan masalahku. Dia ikut duduk di tepi kasur Amira dengan pandangan terus mengarah ke aku.


“Jadi apa yang akan kamu lakukan?”


“Aku tidak tahu, Al. Aku bingung.”


“Kamu terlalu bodoh Laska. Bawa dia kabur, jauhkan dia dari ayahnya.” Ucapan Alfa membuatku terkejut. Aku tidak bisa begitu, walaupun Amira istriku tetap saja aku tak bisa berbuat itu.


“Tidak Al. Aku tidak mau menyakiti ibu Amira,”


“Aku yakin tante Gina pasti setuju,”


“Antahlah. Aku bingung dengan takdir ini, tetapi aku harus bisa menerimanya. Mungkin sebentar lagi masalah kedua akan timbul,” ujarku sembari berjalan ke arah meja belajar Amira.


“Maksudmu apa?”


“Aisyah akan kembali dua bulan lagi.”


“Apa? Ini gawat Laska! Aku yakin kakek akan mendesakmu untuk menikahinya!” Aku menundukkan kepala, mengurai rasa sakit yang semakin terasa di hati.


“Tapi aku cinta sama Amira,” lirihku bahkan nyaris tak terdengar.


“Untuk kali ini aku dukung lo, ini juga karena Amira udah sering bantu gue.”


“Terima kasih, Al. Gue percaya kamu baik.”


Aku dan Alfa sama-sama diam. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku jadi teringat kakek, lelaki paruh baya itu pasti akan gencar memaksaku.

__ADS_1


 


__ADS_2