
Angin berembus dengan kencang menerpa dedaunan pohon jambu, gadis dengan balutan kaos oblong dan celana pendek tengah duduk di sofa balkon. Gadis itu menaruh dagunya di lutut, menikmati angin yang semakin bergerak kencang.
“Amira, Nak! Turun makan!”
Ini sudah kesepuluh kalinya sang ibu meminta dia untuk turun, tetapi Amira selalu mengabaikan. Gadis itu masih ingin sendiri di balkon, dengan perasaan kacau.
“Amira!”
Masih di tempat yang sama, Amira semakin menenggelamkan wajahnya disela-sela kedua lutut. Tak terasa air matanya mengalir, membasahi pipi.
“Ayah jahat! Semua orang jahat!” lirih Amira dengan suara tertahan akibat menangis.
**
Di bawah, Laska baru saja menepikan mobilnya. Dia langsung keluar, tak lupa mengambil makanan yang baru dia pesan tadi di restoran. Baru berjalan sampai teras rumah, ibu Amira datang dengan tergopoh-gopoh.
“Laska!”
“Iya Bu? Ada apa?” tanya Laska, dia menatap mertuanya yang kelihatan begitu khawatir.
Gina menghembuskan napas perlahan, barulah dia cerita.
“Amira. Amira tidak mau keluar dari kamar sejak pulang sekolah tadi, bahkan dia belum makan apa-apa dari siang,” ucap Gina dengan nada khawatir. Mendengar itu, Laska langsung berlari masuk ke dalam rumah.
Pria tampan yang masih mengenakan pakaian kantor, berlari menaiki tangga. Setelah itu dia berhenti di depan pintu berwarna hitam. Mengetuk pelan seraya memanggil nama istrinya.
“Amira,” panggil Laska, tetapi tidak ada jawaban dari dalam.
“Amira, buka pintunya Sayang.” Laska masih berusaha. Namun sayang, Amira belum mau membukakan pintu.
Dengan perasaan yang sudah kacau, Laska berjalan menuruni tangga. Pria itu keluar dari rumah dan berjalan ke samping, tepat di bawah balkon kamarnya.
Dia mencari tangga untuk naik, karena balkon tidak terlalu tinggi. Jadi mudah untuk Laska memanjatnya.
__ADS_1
“Aku manjat ya?” Tidak mendapat jawaban juga, akhirnya Laska benar-benar memanjat.
Dia terkejut saat sudah sampai di pembatas balkon, Amira duduk di sofa dengan kepala yang sudah tenggelam di antara kedua sisi lutut.
“Kamu kenapa?” Laska menyentuh kepala Amira, membuat gadis itu langsung mengangkat kepalanya.
“Om sudah pulang?” tanya Amira, dia tersenyum mencoba menyembunyikan kesedihannya.
“Sudah. Kenapa mengunci diri di kamar?”
“Maaf, aku ketiduran,” bohong Amira.
Dia menarik pelan tangan Laska untuk dicium, setelah itu membantu suaminya membuka jas yang masih melekat ditubuh Laska.
Sebenarnya Laska masih belum percaya kalau Amira baik-baik saja, tetapi untuk saat ini dia masih belum ingin tahu. Laska hanya takut Amira kembali marah karena dia berusaha mencari tahu pribadi gadis itu.
Laska coba memikirkan cara untuk membujuk Amira agar tak murung, tetapi sampai sekarang dia belum menemukan ide apa pun.
Bukannya menjawab, Laksa malah menarik Amira agar duduk di tepi kasur.
“Aku membelikanku spaghetti dan nasi goreng, ada di bawah. Nanti kita makan bersama,” tutur Laska seraya mengusap pipi istrinya.
“Amira tidak lapar,” tolak Amira dengan suara pelan. Memang benar, dia belum lapar. Kejadian di sekolah tadi masih terngiang-ngiang di pikirannya, hingga membuat nafsu makannya hilang.
“Tapi kata ibu, kamu belum makan sejak siang tadi,”
“Mending Om mandi, Amira ingin istirahat sejenak.” Amira mengalihkan pembicaraan, gadis itu naik ke atas ranjang dan berbaring di sana.
Laska sudah tak bisa berkata apa-apa, dia memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
**
Pukul 19.30, Amira baru bangun dari tidurnya. Saat matanya terbuka sempurna, dia melihat Laska yang sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.
__ADS_1
“Astagfirullah! Aku sudah tidur lama sekali!” Amira berteriak spontan saat melihat ke arah jam dinding. Gadis itu langsung turun dari ranjang dan menghampiri Laska.
“Om kenapa enggak bangunin Amira?” tanya Amira seraya berdiri di depan Laska.
“Kamu tidur terlalu pulas, aku tidak tega,” jawab Laska tanpa mengalihkan pandangan dari benda di depannya.
“Om!” rengek Amira dengan bibir mengerucut.
“Ya?”
“Lapar.” Amira memasang wajah imut, membuat Laska mengalihkan pandangannya ke samping.
“Akan aku ambilkan, lebih baik kamu mandi dulu sana,” ujar Laska sembari meletakkan laptopnya di meja.
Amira mengangguk, tetapi belum pergi dari tempatnya berdiri. Gadis itu masih menatap ke arah Laska, yang semakin membuat suaminya bingung.
“Ada lagi?” tanya Laska karena melihat Amira belum juga pergi.
“Ada. Om lupa sama ciu—“
“Aku segera kembali. Mandilah.”
Laska langsung berlari keluar dari kamar dengan cepat, membuat Amira tertawa kecil.
__ADS_1