
Sudah dua hari Almaira berada di rumah sakit, dan dia amat sangat bosan. Meski sudah menghabiskan waktu dengan menggambar desain untuk baju, tetap saja seketika bosan itu datang kembali.
Beberapa kali Almaira membujuk bundanya agar mau membawa dia pulang ke rumah, tetapi sayang sang bunda menolak. Tentu saja, Aisyah sangat takut putrinya kenapa-kenapa lagi kalau sampai di paksa saja.
“Bunda, ayolah kita pulang,” bujuk Almaira kembali. Dia menarik lengan baju Aisyah, seperti bocah meminta jajan.
“Sabar Sayang, mungkin beberapa hari lagi. Kamu ini kan masih proses penyembuhan, jadi harus dirawat sampai benar-benar sembuh,” imbuh Aisyah seraya mengusap kepala Almaira penuh sayang.
“Tapi Bun ....” Almaira kembali merengek.
“Hust, mending kamu bobo ya,” ujar Aisyah sembari menaikkan selimut hingga dada Almaira.
Baru saja akan duduk sambil membacakan ayat-ayat untuk Almaira, ketukan pintu membuat aktivitas Aisyah terhenti. Wanita itu berjalan ke arah pintu, lalu membukanya sambil menjawab salam dari luar.
“Nyonya Dam? Langit?” sapa Aisyah kaget. Pasalnya dia kedatangan tamu penting.
“Ayo, silakan masuk,” ajak Aisyah sembari memberikan jalan untuk dua orang itu.
Langit menuntun uminya untuk masuk ke dalam ruangan Almaira, lalu membantu uminya kembali saat akan duduk. Langit memang selalu begitu, meski sang umi baik-baik saja, tetapi dia selalu siaga.
“Assalamualaikum Nak Almaira,” salam umi Langit. Almaira yang akan memejamkan mata langsung terkejut.
“Wa’alaikumussalam, Tante,” salam balik Almaira.
Umi Anna, berdiri dari duduk dan menghampiri Almaira yang berada di brankar rumah sakit. Tak lupa wanita paruh baya itu, meletakan parcel buah yang dia bawa di meja.
“Bagaimana keadaan kamu, Nak?” tanya umi Anna.
“Alhamdulillah Tante, Almaira sudah baik-baik saja.” Almaira tersenyum sembari meraih tangan umi Anna untuk ia cium.
Sedangkan Langit tengah mengobrol dengan Aisyah, sesekali pria itu juga menatap ke arah uminya dan Almaira. Senyum Langit terbit, melihat senyum manis milik anak teman ayahnya itu.
“Ehem, belum muhrim,” tegur Aisyah sambil berdehem.
Langit salah tingkah, dia lekas menunduk. Ketika dipanggil kembali, Langit gelagapan menjawab Aisyah.
“Langit lucu ya, kalau ke tangkap basah seperti ini,” kata Aisyah sambil tertawa renyah.
“Hahaha, iya Tante,” balas Langit juga tertawa.
Sambil mengobrol, Aisyah tak lupa menjamu dengan minuman dan buah-buah yang kemarin dia beli. Ada juga makanan ringan.
“Sekarang Langit kerja apa?” tanya Aisyah setelah lama keadaan di antara mereka hening.
“Alhamdulillah, masih bertahan di perusahaan Ayah, Tante.”
__ADS_1
“Alhamdulillah. Umi dan Ayah pasti bangga punya anak kaya’ Langit ini,” tutur Aisyah.
“Tante bisa aja,” sahut Langit malu-malu.
Melihat sikap Langit yang sopan dan bertutur kata lembut, membuat Aisyah nyaman saat berbicara dengan pria itu. Tiba-tiba saja pemikiran untuk menjodohkan Almaira kembali, terlintas di benaknya. Namun, dengan cepat dia menepis.
Karena Aisyah tak mau memaksa Almaira, apalagi putrinya sudah pernah menolak Langit.
“Sebentar lagi azan Dzuhur akan berkumandang, Langit bisa salat di musala rumah sakit,” saran Aisyah pada Langit.
“Iya Tante. Kalau gitu Langit pamit ke musala,” ucap Langit.
Dengan sopan dia berjalan mendekati uminya, berniat meminta izin untuk pergi ke musala.
“Mi, Langit pergi ke musala ya? Mau salat Dzuhur,” izin Langit setengah berbisik di samping telinga uminya.
“Ya sudah. Tetapi jangan lupa nanti balik ke sini lagi ya,” ingati sang umi.
“Aman Mi. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Setelah kepergian Langit, Aisyah ikut bergabung dengan umi dan Almaira. Mereka mengobrol sepintas kesehatan, lalu berlanjut ke pekerjaan sambil menunggu azan berkumandang.
**
Seorang gadis cantik baru saja keluar dari ruangan kampusnya, Alchia langsung menuju parkiran untuk segera pulang. Untung saja dia bawa mobil, jadi tak perlu repot-repot untuk memesan taksi.
Saat akan membuka pintu mobil, panggilan seseorang menghentikan gerakan tangan Alchia.
“Lah, kamu bawa mobil, Chi?” tanya seorang pria itu.
“Menurutmu?” balas tanya Alchia jutek.
“Hehehe.”
“Uda deh, sebenernya kamu mau ngomong apa si Alien!” tukas Alchia dengan wajah cemberut. Kesal karena teman satu fakultasnya itu, terlalu lama hingga membuat dia kepanasan.
“Alein bukan Alien,” sahut pria itu.
“Halah, sama aja. Kamu juga mirip Alien.” Alchia tak mau kalah.
Alein hanya menghembuskan napas kasar melihat temannya, dia harus ekstra sabar dengan Alchia.
“Enggak jadi deh. Kayaknya aku belum berani,” ujar Alein setelah lama hanya diam saja.
__ADS_1
“Astagfirullah Alien! Kalau dari tadi bilangnya, mungkin aku sekarang sudah sampai di rumah. Buang-buang waktu saja, tau gak!” omel Alchia sambil menunjukkan wajah kesalnya.
Alein hanya tertawa renyah.
“Ya sudah kalau gitu, aku balik duluan,” pamit Alchia sembari memasuki mobilnya.
Tak lama kuda besi itu bergerak meninggalkan parkiran kampus. Alein menatap sampai mobil Alchia menghilang di kelokan, dengan tatapan sedih.
Sebenarnya ada yang ingin dia katakan pada Alchia, tetapi Alein takut akan merusak pertemanan mereka. Bagaimanapun, ketika sudah menyangkut perasaan pasti akan canggung nantinya.
Apalagi dia tahu, Alchia hanya menganggapnya sebagai teman tak lebih. Jadi, sekarang dia hanya perlu sadar diri saja.
“Kata Ibu, kalau belum dicoba kita tak akan tahu hasilnya. Tapi, aku yakin Alchia pasti tak suka padaku,” monolog Alein. Langkah kakinya pelan menyusuri jalanan.
**
“Insya Allah, Mah. Nanti Alchan main ke sana.”
Alchan memutus sambungan setelah berucap pada mamahnya. Dia menghembuskan napas kasar, menimbang-nimbang permintaan Amira untuk dia datang ke rumah orang tuanya itu.
Dia hanya takut papahnya masih marah, dan keadaan semakin runyam. Apalagi kalau harus mengajak Gladis, Alchan rasanya tak ingin pergi. Sebab, semua orang tampak tak suka dengan Gladis.
“Ada apa, Chan?” tanya Gladis ketika baru kembali dari dapur.
“Enggak ada kok,” kilah Alchan sambil tersenyum.
Gladis hanya menanggapi dengan ‘oh’ saja. Dia tak mau ikut campur dengan urusan Alchan, meski tak percaya dengan penuturan pria itu.
“Kamu setelah ini mau ke mana?” tanya Alchan.
“Habis ini ya? Kayaknya aku mau pergi ke supermarket untuk membeli bahan dapur. Mumpung sore cerah,” jawab Gladis.
“Oh, gitu ya. Maaf aku nggak bisa temenin,” ujar Alchan tak enak.
Gladis hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Iya nggak apa. Lagian aku bisa sendiri kok.”
“Tapi kamu harus tetap hati-hati. Dan jangan terlalu kecapaian, takutnya akan berpengaruh dengan janin kamu,” nasihat Alchan dengan nada sedikit khawatir.
“Iya Alchan, aku pasti akan baik-baik saja.”
Alchan membalas dengan anggukan, dan tak lupa mengembangkan senyum. Mungkin dia bisa pergi ke rumah orang tuanya sore ini, lagi pun Gladis bisa pergi sendiri tanpa harus dia temani. Jadi Alchan bisa meluangkan waktunya untuk sang mamah.
**
Bismillah, di novel ini ada tiga kisah cinta.
__ADS_1
Othor gak pernah maksa buat semuanya baca. Terima kasih yang sudah mampir.