
Akhir pekan telah tiba, Amira masih berada di dalam kamarnya. Dia tak pernah keluar kecuali untuk sarapan pagi. Matanya tak lepas menatap dedaunan pohon mangga yang bergoyang.
Semilir angin menerpa wajahnya, menghadirkan rasa sejuk untuk Amira. Gadis itu memejamkan matanya sekejap, setelah itu kembali dia buka.
Seharusnya akhir pekan ini dia bisa pergi ke bioskop untuk menonton film bersama Laska, tetapi harus sirna karena masalah rumah tangganya belum juga kelar.
Amira mencoba memahami keadaan, dia berulang kali membebaskan napasnya ke udara. Setelah itu menghirup kembali.
“Sayang.” Panggilan sang ibu membuyarkan lamunan Amira. Dengan cepat gadis itu mengalihkan pandang dengan senyum merekah.
“Iya, Bu?” Dia menarik pelan jemari ibunya agar segera duduk di sampingnya.
“Kamu melamun terus di balkon, tidak muak apa melihat pohon mangga terus-menerus?” Ibunya tertawa pelan sambil mencolek pipi Amira gemas.
“Enggak Bu, malah Amira senang,” ujar Amira dengan antusias. Membuat senyum Gina terbit seketika.
Keduanya memandang ke depan, matahari mulai meninggi. Hingga cahayanya begitu terang menerangi bumi. Sejak pagi Amira tak bosan duduk melamun di balkon, gadis itu terus memandang ke arah langit, membayangkan wajah Laska yang ada di sana.
“Ayo Nak turun, kamu belum makan siang loh,” ucap ibunya, Amira langsung mengangguk.
Gina menggenggam jemari sang putri, mereka berjalan beriringan menuju dapur. Di meja makan sudah ada banyak makanan yang terhidang, Amira langsung duduk, dan mengambil piring.
“Kamu mau makan pakai apa Sayang?” tanya Gina pada Amira.
“Aku sekarang lagi suka sama nasi goreng, jadi Mira pilih itu. Bdw Ibu masak nasi goreng sengaja ya, biar bisa mengenang om Laska yang tampan itu? Upss.” Amira langsung menutup mulutnya spontan. Membuat Gina menggeleng sembari tertawa.
“Benar, biar kamu tidak sedih lagi,” tutur Gina penuh kelembutan, hingga membuat mata Amira berbinar dan langsung memeluk ibunya.
__ADS_1
“Terima kasih Ibu.” Amira semakin mengeratkan pelukannya, tetapi segera dia lepas karena akan memulai acara makan siang.
Ayahnya memang tak pernah pulang saat waktu makan siang, pria itu selalu makan siang di kantor. Bahkan mengabaikan bekal yang istrinya bawakan. Dia selalu menikmati masakan restoran, karena menurutnya, membawa bekal seperti anak kecil.
“Enak banget Bu,” ucap Amira dengan mulut penuh.
“Syut. Kalau lagi makan tidak boleh berbicara Sayang,” peringati Gina, yang langsung dibalas anggukan oleh Amira.
Setelah menghabiskan makan siangnya, Amira membantu sang ibu mencuci piring. Setelah itu dia memilih kembali ke kamar, diikuti juga oleh ibunya. Lagi-lagi Amira memilih duduk di balkon, gadis itu semakin menikmati semilir angin yang tertiup.
“Kamu suka banget duduk di balkon ya Sayang?”
“Iya Bu, menurut Amira sangat menyenangkan. Kita bisa melihat langit,” jawab Amira masih terus menatap ke arah langit. Mengagumi ciptaan Tuhan.
Gina memilih diam, dia ikut menikmati apa yang Amira nikmati. Sedikit demi sedikit bebannya terempaskan, terganti dengan kelegaan. Pikiran Gina pun mendadak blong saat angin menerpa wajahnya.
“Kenapa kamu bicara seperti itu Sayang? Justru Ibu senang, karena ayahmulah kamu bisa lahir ke dunia,” jawab Gina.
“Tapi Ibu tak pernah dihargai oleh ayah. Ibu tak dijadikan ratu di rumah ini. Om Laska bilang, istri itu adalah ratu, yang harus di ayomi dan sayangi sepenuh hati,” tutur Amira dengan suara lirih.
Sang ibu yang mendengar itu, hanya bisa menundukkan kepala. Hatinya terasa teriris, ucapan Amira seperti belati yang menorehkan luka. Gina mengalihkan pandangan untuk mengusap air mata yang mulai jatuh dari sudut mata.
“Tidak Sayang. Justru Ibu sangat sangat ratu di rumah ini,” bohong Gina, hanya untuk membuat anaknya senang.
Amira mendengkus kesal, dia tahu ibunya berbohong. “Jangan berbohong Bu, Amira tahu betul seperti apa ayah. Kalau memang dia menjadikan Ibu ratu, mana mungkin tega ayah berkata kasar pada ibu,” papar Amira.
“Sudah, kamu jangan pikiri itu. Lebih baik kita ke taman yuk, melihat bunga-bunga di sana,” ajak Gina untuk mengalihkan pembicaraan Amira, agar gadis itu tak terus-terusan bertanya.
__ADS_1
“Is, Ibu. Ya sudahlah ayo!”
**
Malam ini Amira memilih menonton drama Korea di laptopnya. Dia duduk memeluk lutut di atas ranjang. Matanya tak teralih dari layar sedikit pun.
Saat mendengar suara ketukan di pintu balkon, seketika bulu kuduk Amira meremang. Dengan hati-hati dia beranjak dari kasur, mengendap-endap seperti maling.
Ketukan kedua semakin membuat jantung Amira berdegup dengan kencang, besusah payah dia menetralkan detak jantungnya agar tak khawatir.
“Hantu itu tidak ada, ya tidak ada,” gumamnya sembari mengambil kemoceng dari meja.
“Ehem.” Suara deheman pelan dari luar semakin membuat Amira ketakutan. Dia berhenti di dekat dinding, menempelkan punggungnya di sana dengan napas yang tersengal-sengal.
“Baiklah Amira, tidak akan terjadi apa-apa,” monolognya seraya berjalan kembali.
Pertama-tama dia mengintip dari jendela, tetapi tak melihat siapa pun. Akhirnya Amira berinisiatif untuk membuka pintunya saja.
Kriet
Suara pintu ditarik terdengar, Amira menggerutu dalam hati karena tak perlahan. Matanya melirik kanan kiri, tetapi tak mendapati siapa pun.
“Assalamualaikum,” salam dari seseorang yang baru keluar dari persembunyian membuat Amira kaget. Dia nyaris berteriak kalau saja seseorang itu tak menutup mulutnya.
“Om Laska! Ngapain di sini?” pekik Amira setelah tangan Laska lepas dari mulutnya.
__ADS_1