Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 22


__ADS_3

“Bunda, Almai, beli apa?” Alchan. Pria itu berjalan mendekati ibu dan anak yang tengah berusaha tersenyum.


Alchan merasa sangat senang karena bertemu dengan Almaira dan Aisyah. Dia segera menyalami bunda temannya itu.


“Ini Chan, Bunda lagi beli sayur,” balas Aisyah.


“Oh. Mau ke kasir ya Bun?”


“Hehehe, iya Nak. Alchan di sini ngapain? Sama siapa?” Aisyah celingukan, mencari seseorang.


Alchan baru sadar, dia telah meninggalkan Gladis di kasir. Tapi untungnya wanita itu masih ada di sana, hingga dia tak perlu mencari-cari lagi.


“Itu Bun, sama istri,” kata Alchan sembari menunjuk Gladis yang berdiri membelakangi mereka.


Aisyah mengangguk paham, lalu dia mengajak keduanya untuk mendekat pada kasir. Sejak tadi Almaira hanya diam, dia tak menoleh pada Alchan sedikit pun. Bukan karena enggan, hanya saja dia enggan rasa yang sempat menghilang kembali lagi.


Mereka lalu menghampiri Gladis, wanita itu tampak kaget tetapi setelahnya tidak lagi saat Alchan menjelaskan tentang siapa Aisyah.


“Salam kenal Tante,” sapa Gladis seraya menyalami Aisyah.


Wanita berhijab panjang itu tersenyum, mengusap kepala Gladis dengan lembut.


“Salam kenal juga Nak. Apa kabar?”


“Alhamdulillah Gladis baik Tante, baby di dalam sini juga baik,” jawab Gladis seraya mengelus perutnya yang masih kelihatan rata.


Raut wajah Aisyah berubah seketika, tetapi detik berikutnya dia mencoba untuk tersenyum. Lalu ikut mengusap perut Gladis dengan pelan.


Sedangkan Almaira semakin memalingkan wajahnya, dia tak sanggup mendengar kebenaran itu. Sungguh, dia ingin segera pergi dari sana.


“Sudah berapa bulan usianya Nak?” tanya Aisyah pada Gladis dengan lembut.


“Baru beberapa Minggu kok Tante,” jawab Gladis.


“Alhamdulillah, dijaga selalu ya Nak. Jangan lupa selalu jaga kesehatan,” imbuh Aisyah.


Gladis hanya mengangguk, tak lupa dia juga tersenyum dengan manis. Setelah semua pembayaran beres, Gladis mengajak Alchan untuk pulang. Sedangkan Aisyah dan Almaira gantian untuk membayar.

__ADS_1


“Kalau nanti sudah melahirkan, kabarin Bunda ya Sayang,” pesan Aisyah pada Alchan.


“Insya Allah Bunda. Lagian, masih lama juga,” ujar Alchan.


“Hahaha.” Aisyah hanya tertawa, begitu pula Alchan dan Gladis.


Setelah kepergian pasangan suami istri itu, Almaira bernapas lega. Sesekali dia mendongakkan wajahnya untuk menahan agar air mata tak jatuh menetes, dan berusaha untuk biasa saja.


Sang bunda yang mengetahui anaknya tidak baik-baik saja, langsung mengajak Almaira pulang setelah urusan dengan kasir selesai. Dalam perjalanan tak ada percakapan antara mereka, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


“Sesungguhnya, sesuatu yang kita harapkan belum tentu kita dapatkan. Percayalah Nak, skenario Allah itu lebih indah dari harapan kita. Karena kita berharap dengan cita-cita, sedangkan Allah memberikannya dengan cinta.” Aisyah membuka suara, membuat Almaira langsung menoleh.


“Jodoh, maut, rezeki itu tak bisa kita ganggu gugat. Terima takdir kamu, Allah itu maha adil,” sambung Aisyah lagi.


Almaira tak bisa menahan air mata, dia menangis di pelukan bundanya. Mengeluarkan segala sesak yang sejak tadi dia tahan.


“Iya Bunda, Almai akan berusaha untuk ikhlas. Karena Almai tahu, apa yang Allah beri itu pasti yang terbaik,” jawab Almaira sembari mengusap air matanya.


Aisyah tersenyum, lalu mengusap punggung putrinya dengan pelan. Dia percaya, Almaira pasti bisa melupakan Alchan, dan mencoba untuk menerima Langit. Sebenarnya dia tak tega melihat putrinya terluka seperti ini, tetapi apa daya, Aisyah yakin ini ujian dari Allah.


**


Almaira berjalan ke arah meja kerjanya, gadis itu mengambil kertas dan pensil lalu menaruh di meja. Almaira ingin mencoba untuk menggambar pola desain untuk bajunya.


Saat masih sibuk dengan imajinasinya, Almaira harus menghentikan kegiatan itu ketika mendengar dering ponsel miliknya. Segera mungkin Almaira menghampiri nakas, dan mengecek.


Dia mengernyitkan dahi saat melihat pesan dari nomor tak dikenal, akhirnya dengan inisiatif, Almaira membuka pesan itu.


[Tatap ke depan, masa depanmu masih panjang. Jangan terus mengejar seseorang yang sudah jauh dari kamu.]


Seperti itulah isi pesan yang baru saja masuk, Almaira semakin bingung. Dia tak mengerti dengan maksud dari isi pesan itu.


Memangnya siapa yang dia kejar? Almaira terus bertanya-tanya dalam hati, hingga dia menyimpulkan. Kalau pesan ini dari orang terdekat, yang tahu masalah yang terjadi dengannya.


[Maaf, Anda siapa?] Almaira balik mengirim pesan pada nomor tak dikenal itu.


[Kamu tidak perlu tahu. Saya hanya ingin mengingatkan, fokus saja pada masa depanmu. Karena jodoh itu sudah ditentukan.]

__ADS_1


Setelah pesan balasan terkirim, lalu nomor Almaira di blokir dengan sang pengirim. Semakin membuat dia bingung, karena tak ingin lelah dengan pikiran. Akhirnya Almaira memilih untuk mengabaikan saja.


Kini Almaira kembali fokus pada aktivitasnya yang tertunda, meski sudah berusaha untuk fokus, tapi tetap saja kata-kata dari pesan tadi terus mengganggu Almaira.


“Apa itu Alchan, atau Gladis?” monolog Almaira. Namun dia langsung menggeleng, tak ingin suuzan dulu. Bisa saja itu orang iseng.


**


“Alein tunggu! Aku ingin bicara!”


Alchia terus berlari mengejar pria yang  berjalan di depannya dengan langkah cepat. Entah mengapa dia merasa aneh dengan Alein, tiba-tiba pria itu menghindari dia.


“Alein!” teriak Alchia lagi berusaha menghentikan Alein.


Tapi sayang, pria itu malah semakin cepat. Menghindari Alchia yang berada di belakangnya, Alein segera keluar dari gerbang kampus.


Dia segera mencari angkot untuk pulang. Bukan karena sengaja Alein melakukan itu pada Alchia, hanya saja dia tak ingin membuat ibunya kecewa. Akhirnya Alein menuruti keinginan sang ibu, untuk menjauhi teman perempuannya itu.


Alchia tertunduk sedih saat tak melihat Alein lagi, dia memilih duduk di bawah pohon mangga dekat gerbang kampus. Sungguh Alchia tidak percaya ini, padahal hubungan mereka baik-baik saja beberapa hari yang lalu. Namun, tiba-tiba Alein menjauhinya bahkan tak membalas saat dia menyapa.


“Salah aku apa ya?” tanya Alchia pada dirinya sendiri.


Setelah cukup lama duduk, Alchia beranjak. Dia sudah berusaha menelepon sang teman, tetapi Alein selalu menolak panggilan. Alchia juga sudah mengirim pesan, tetapi tak dibalas.


Masih dengan wajah sedih, Alchia memilih untuk menuju mobilnya. Dia berniat untuk pulang, dan menenangkan diri di rumah. Alchia juga ingin mencoba mengingat, kesalahan apa yang telah dia perbuat pada Alein, hingga membuat pria itu marah. Ya, dia harus melakukan itu.


Drt


Tiba-tiba ponselnya bergetar, Alchia segera mengambil dari tas dan melihat pesan masuk dari siapa. Seketika dia senang ketika melihat nama Alein di layar ponselnya.


Tapi sejurus kemudian, senyum yang sempat terkembang, hilang begitu saja ketika sudah membaca isi pesan itu.


[Maaf, sebaiknya kita jangan berteman lagi. Aku tahu, mungkin ini menyakitimu, tetapi begitulah kenyataannya. Aku cuma ingin fokus dengan kuliah, jadi, tolong jangan ganggu aku lagi.]


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2