
Hanya hawa AC yang terus berembus di dalam mobil, tak ada satu pun dari tiga manusia membuka suara. Mereka memilih fokus dengan pikiran masing-masing. Begitu pun Aisyah, sejak tadi dia hanya diam dan terus menundukkan kepalanya. Hanya melirik ke arah Bara sebentar, setelah itu memilih mengalihkan pandangan.
“Kamu kenapa?” tanya Bara ketika mendapati Aisyah seperti tak tenang.
“Ah, tidak,” jawab Aisyah cepat. Tersenyum simpul lalu kembali menundukkan kepalanya.
Bara berniat mengajak Aisyah ke restorannya. Sekalian ingin mentraktir wanita itu untuk makan di sana. Bara dan Aisyah duduk berdua di jok penumpang, sedangkan di depan, seorang pria paruh baya tengah mengemudi.
“Kamu ingin punya rumah seperti apa?” Bara kembali membuka suara, membuat Aisyah terkejut dan langsung mengangkat kepalanya.
“Maksud Mas?” tanya Aisyah bingung.
“Ingin beli rumah seperti apa? Bergaya Eropa atau ingin seperti apa?”
“Tidak perlu!” Aisyah segera menggelengkan kepalanya.
“Kamu yakin?” tanya Bara memastikan.
“Seharusnya Mas tanya, aku mau mahar apa. Bukan ingin punya rumah seperti apa. Nikah saja belum.”
Asiyah tertawa renyah membuat Bara tak mengalihkan pandangannya sama sekali. Pria itu tersenyum saat melihat wajah Aisyah yang sangat menggemaskan.
“Oke oke. Kamu mau mahar apa?”
“Yang paling murah,” jawab Asiyah.
“Kenapa harus yang paling murah? Katakan saja seusai keinganmu. Jangan menahan diri,” ujar Bara.
“Untuk apa? Aisyah sudah punya uang, bisa membeli semuanya. Tapi satu hal yang tidak bisa Aisyah beli.” Aisyah menjeda kalimatnya, membuat Bara penasaran.
“Apa itu?”
“Lantunan surah Ar-Rahman yang keluar dari bibir Mas.”
__ADS_1
Bara terdiam, matanya menatap intens manik Aisyah. Dia mencari kebohongan di sana, tetapi justru binar keinginan yang begitu menggebu yang dia lihat. Dengan cepat Bara mengangguk, lalu menyimpulkan sedikit senyum di bibir tipis yang begitu menawan.
“Aku pasti akan memberimu mahar Ar-Rahman. Pasti.”
Wanita yang kini menutup mulutnya, tak bisa berkata-kata lagi. Bolehkah Aisyah bahagia? Dia sungguh bahagia mendengar jawaban Bara. Tak ada gentar dari kata-kata pria itu, malah justru begitu yakin kalau dia bisa.
Aisyah menunduk, agar Bara tak melihat air mata yang jatuh dari sudut matanya. Dengan cepat wanita itu mengusapnya, lalu tersenyum manis ke arah Bara. Satu persatu keinginan Aisyah terkabul. Dia yakin, Tuhan punya caranya sendiri. Setelah pernikahan sebelumnya gagal, kini dengan cepat Tuhan mendatangkan Bara sebagai pria yang siap mempersuntingnya meski belum ada cinta di hati pria itu. Tetapi Aisyah tetap bersyukur, suatu saat nanti, tak ada yang tak mungkin.
**
Amira memilih duduk di balkon setelah kembali dari supermarket. Matanya menatap lurus ke arah langit, cuaca siang ini cukup terik. Matahari mulai tinggi, hingga cahayanya begitu terang. Dia meraih jus di meja, menyesapnya dengan pelan. Menikmati sensasi dingin yang mulai menjalari kerongkongan.
Saat merasakan pelukan dileher, Amira langsung menoleh ke samping. Harum parfum Laska menyapa indra penciumannya, Amira tersenyum dan memejamkan matanya.
“Suka banget lihat langit. Ada apa sih di sana?” bisik Laska masih memeluk Amira dari belakang.
“Melihat wajah bayi yang sangat menggemaskan,” jawab Amira asal. Keduanya tertawa.
“Mungkin. Kalau iya, bahagia atau tidak?”
“Bahagialah. Mana ada seorang Ayah yang tak bahagia, mendapat hadiah yang begitu berharga.” Laska berpindah jadi duduk di samping Amira. Pria itu menarik kepala Amira agar bersandar di bahunya.
“Suatu kehormatan bagi sepasang manusia yang sudah berjuang, dan akhirnya hadiah itu diberikan dalam rahim calon seorang ibu. Menjaga, merawat, sungguh beruntungnya sepasang manusia itu. Aku juga ingin kita seperti itu, memberikan kasih sayang untuk dia nanti, bila sudah ada di perut kamu,” ujar Laska yang langsung diangguki oleh Amira.
Tak terdengar lagi suara mereka, keduanya menikmati udara yang bergerak liar menerpa tubuh mereka. Memberikan kenyamanan tiada tara. Jemari Laska tak berhenti mengusap jemari Amira, menyampaikan kasih sayangnya yang begitu banyak untuk sang istri.
Amira merasa bahagia hari ini, Laska bisa kembali cepat. Dan dia bisa menikmati momen berduaan dengan pria itu. Amira mengangkat kepalanya dengan gerakan cukup cepat, membuat Laska terkejut.
“Ada apa Sayang?” tanya Laska.
“Mas, coba sebutkan alasan Mas mencintai Mira?” Amira menatap intens Laska.
“Memangnya mencintai butuh alasan? Bagi aku tak ada alasan untuk mencintai seseorang, bila itu yang terbaik dari Allah. Aku akan selalu mencintainya setulus hati, menjaga dengan sekuat tenaga. Dan selalu memberikan kasih sayang untuknya.” Laska menghentikan ucapannya, tangannya meraih jemari Amira lalu mengecupnya dengan sayang.
__ADS_1
“Sayang, dengar Mas. Jangan pernah meragukan cinta ini, tidak ada wanita lain selain kamu dan Umi di hati Mas. Sekali pun ada gadis lebih cantik dari kamu datang, menawarkan sebongkah berlian untuk Mas. Satu yang kamu ingat, Mas akan tetap memilih mutiara yang selalu Mas jaga. Ingat itu Sayang,” sambung Laska. Amira tak bisa berkata-kata, matanya sudah berkaca-kaca saat mendengar ucapan Laska.
“Tapi Amira anak dari nara pidana Mas,” ucap Amira lagi. Dia merasa belum puas.
“Apa pun itu. Karena Ayah pasti punya alasan untuk melakukan hal kejahatan, jadi tidak bisa aku sangkut pautkan dengan hati.”
Sudah puas dengan semua jawaban sang suami, Amira menenggelamkan kepalanya di dada bidang pria itu. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Laska, sembari mencari kenyaman di sana.
Tolong jaga Amira untukku, ya Allah.
**
Di dalam restoran, Aisyah malah bingung harus berbuat apa. Dia memilih duduk di salah satu kursi, sembari melihat hilir mudik para pelayan mengantar makanan karena ini jam makan siang. Sudah pasti banyak pengunjung datang untuk mengisi perut mereka setelah berjuang dengan pekerjaan.
Bara yang baru keluar dari ruangannya mencari Aisyah, pria itu bolak balik di dapur tetapi tak melihat calon istrinya. Padahal wanita itu bilang tadi, ingin melihat chef memasak.
“Apa kamu melihat Nona Aisyah?” tanya Bara pada salah satu pelayan.
“Nona Aisyah ada di depan Bos. Duduk di kursi nomor 53,” jawab pelayan wanita yang Bara panggil. Setelah mengucap terima kasih, pria itu langsung pergi ke depan.
Saat akan menghampiri Aisyah, dia tak sengaja bertabrakan dengan seorang wanita. Jus yang wanita itu pegang, menumpahi jas kerja mahal milik Bara. Membuat pria itu menggeram marah.
“Maaf maaf Mas, saya tidak sengaja,” ucap wanita yang menabrak Bara. Mendengar suara yang tak asing di telinga, Bara segera mengangkat kepalanya.
Dan benar saja, hatinya kembali berdenyut saat melihat orang yang justru tak ingin dia temui kembali. Tapi Tuhan seperti merancang skenario untuknya, hingga dia dipertemukan kembali dengan mantan.
“Mas Bara! Ada apa?”
Wanita bergamis dan hijab lebar datang tergopoh-gopoh setelah melihat keributan yang tak jauh dari tempat dia berada. Bara dibuat bingung, matanya mengisyaratkan kekhawatiran saat Aisyah sudah berlari ke arahnya.
__ADS_1