
Mobil Alphard keluarga Amira berhenti di depan kafe Flower. Ibunya turun terlebih dahulu, baru disusul oleh Amira. Dan jangan lupakan lima orang bertubuh kekar dan besar juga yang keluar dari mobil berbeda.
“Kamu yakin ini kafenya Sayang?” tanya Gina sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
“Iya Bu, sudah tenang saja. Amir hafal kok, lagian ini tidak jauh dari kantor om Laska,” bisik Amira sambil tersenyum ke arah ibunya.
Dia mulai memilih tempat duduk, telunjuknya mengarah ke kursi ujung dekat dinding yang sangat jauh dari pintu. Biasanya akan aman jika dia duduk di sana.
Setelah mereka duduk, Amira mengambil buku menu dan meminta ibunya untuk pesan.
“Expresso sama cheesecake saja,” ucap ibunya, lantas Amira mengangguk. Dia pun memesan makanan yang sama.
Lama sekali menunggu dengan kepala terus celingukan ke sana kemari, akhirnya mata Amira bisa menangkap sosok pria yang sedang jalan di tengah-tengah ruangan bersama satu orang pria juga. Hatinya berdebar, rasa senang menyeruak dalam jiwa. Hampir saja Amira memanggil Laska kalau tak ingat ada pengawal ayahnya.
“Itu om Laska, Bu,” bisik Amira seraya menunjuk ke arah Laska.
“Ouh, iya. Dia kelihatan lebih tampan kalau lagi berjalan ya,” balas ibunya. Mereka berdua sudah seperti pencuri yang tengah memerhatikan barang target.
Sayang sekali Amira hanya bisa melihat sebentar, sebab Laska sudah masuk ke ruangan paling belakang. Dia ingin menyusul, tetapi tidak bisa. Menghela napas kasar, Amira menyesap kopinya dengan perasaan kesal.
“Sabar Sayang, ini ujian.” Gina mengusap punggung Amira, dengan senyuman memberi semangat.
“Iya Bu. Amira tahu itu,”
Dalam hati Amira berucap lega. Setidaknya Laska sekarang baik-baik saja, tidak sakit. Namun, melihat wajah dingin pria itu, membuat hatinya sakit bagai teriris pisau.
“Ayo pulang Bu,” ajak Amira sembari mengambil tasnya di meja.
“Loh, bukannya mau lihat suami kamu,”
“Sudah. Amira cuma mau mastiin keadaanya baik atau tidak, ternyata baik-baik saja kok,” ujar Amira cepat.
“Tapi Ibu merasa dia agak kurusan,” timpal Gina sambil memasukkan sepotong cheesecake miliknya.
“Benaran Bu? Astaga!” Amira kembali duduk. Lalu meraih buku menu, dia menelusuri gambar-gambar makanan plus namanya di sana dengan jemari.
“Om Laska paling suka nasi goreng, baiklah, Amira bakalan pesanin nasi goreng buat om Laska,” ucap Amira pada ibunya, yang dibalas anggukan oleh Gina.
“Jangan menyia-nyiakan waktumu Sayang.” Wanita itu mengangkat jari jempolnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Amira memanggil pelayan, lalu mulai berbicara pada gadis berpakaian khusus itu, “Saya pesan nasi goreng spesial satu Mbak, tapi tolong berikan pada pelanggan yang bernama Alaska Lencana yang duduk di ruangan belakang.”
“Pak Laska?” tanya pelayan itu dengan tatapan bingung.
“Nah, iya. Kamu kenal?”
“Dia pelanggan tetap kami. Lagian siapa juga yang tak kenal anak dari pengusaha sukses itu. Baiklah Mbak, saya akan memberikan pesanan Mbak pada pak Laska. Apa ada pesan tertinggal untuk pria itu?”
“Ah, tidak ada. Bilang saja dari pengagum rahasianya, kalau tidak dimakan bakalan mubazir dan mendapat dosa,” celetuk Amira yang mendapat senggolan pelan dari ibunya.
“Baik Mbak, terima kasih.” Pelayan itu pergi setelah Amira mengangguk.
Gina menatap anaknya sambil tersenyum-senyum, membuat Amira malu sendiri. Alhasil dia menghindari tatapan ibunya.
“Lebih baik kita pulang Bu, takutnya nanti ketahuan sama om Laska,” saran Amira.
“Benar Sayang. Ibu juga khawatir ayahmu sudah kembali. Ayo,”
“Ayo.”
Keduanya berjalan pergi setelah membayar makanan mereka. Gina masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, setelah itu baru Amira. Dia menatap ke belakang sejenak, ada rasa tak rela bila harus meninggalkan kafe ini. Amira masih ingin menatap wajah Laska meski hanya sebentar saja.
“Jika Allah menghendaki, kamu bakalan bertemu dengan Laska kembali. Ibu yakin dia juga rindu padamu,” ucap Gina seraya menggenggam jemari putrinya.
Amira menatap ke luar jendela, lalu lintas mulai padat akan kendaraan. Hingga menimbulkan kemacetan. Mobil yang dia tumpangi berhenti, menunggu kendaraan lain di depan sana berjalan.
Saat menatap ke samping kembali, Amira melihat Laska di balik kaca mobil yang sedang berhenti juga di samping mobilnya. Mata gadis itu melotot sempurna.
“Bu, om Laska,” ucap Amira dengan gagap sambil menunjuk ke arah jendela.
“Syut, jangan sampai ketahuan pengawal ayahmu. Tutup gordennya Sayang,” bisik Gina memberi perintah, yang langsung dilakukan oleh Amira.
Semua terasa sakit, apakah Amira harus terus begini? Ingin melihat suaminya saja dia harus sembunyi-sembunyi. Seperti maling.
Mobil kembali melaju, kali ini kendaraan mulai bergerak cepat. Tak ada lagi macet, hingga membuat sopir mobil Amira mengendara dengan kecepatan sedang.
Menatap ke belakang, Amira melihat mobil Laska berbelok ke arah lain. Dia menahan tangis saat tahu akan ke mana pria itu. Ternyata Laska masih tinggal di rumah mereka dulu.
Semoga setelah ini om jemput Amira.
__ADS_1
**
“Dari mana saja kalian?” Suara dingin nan tegas yang pertama kali Amira dan ibunya dengar saat memasuki rumah. Jinon—ayah Amira sudah berdiri tak jauh dari pintu.
“Kita habis dari kafe,” jawab ibu Amira.
“Jangan berbohong!” sentak sang suami, membuat Amira memejamkan matanya.
“Tanyai bodyguardmu jika tak percaya. Ayo Sayang.” Gina menarik tangan putrinya menuju ke kamar.
Jinon menggeram kesal, setelah itu dia berjalan keluar untuk menemui semua suruhannya.
“Apa benar mereka hanya ke kafe?” tanya Jinon dengan nada tegas penuh penekanan.
“Benar Tuan, nyonya dan nona hanya ke kafe,” jawab salah satu pria besar di depan Jinon.
“Bagus. Tetap kawal mereka ke mana pun mereka pergi, jangan biarkan Amira bertemu dengan Laska,” perintah Jinon.
“Baik Tuan. Kami mengerti!” jawab semuanya serempak.
Jinon menyunggingkan senyum penuh kemenangan, akhirnya apa yang dia inginkan terkabul.
Bersambung
Akhirnya rasa rindu othor dan mbak Amira tersampaikan. Bisa melihat mas Laska walaupun tak bisa memeluknya. Hihi😂😂
Mas Laska sudah keluar dari pertapaannya. Sebentar lagi dia pasti jemput Amira. Jihaaa😂
Othor hari ini lagi baik.
Yang minta POV-nya mas Laska untuk bab berikutnya acungkan tanganmu.
InsyaAllah kalau othor ingat, up cepat.
Duh, kalau gak ingat, ingatin dong.
Dan siapa yang mau berteman dengan othor di media sosial boleh banget.
__ADS_1
FB: Bae Lla
IG: dek_lla