Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 58


__ADS_3

Saat pertama kali membuka mata, wajah Amira yang menjadi objek pandangan Laska. Pria itu tersenyum, memerhatikan wajah cantik dan menggemaskan milik istrinya. Dicubit pelan pipi Amira, gadis itu langsung menggeliat.


“Apa sudah pagi, Om?” tanya Amira dengan mata setengah terbuka. Laska malah tertawa kecil.


“Masih malam,” jawabnya kemudian.


“Hahah, baguslah.” Amira kembali menarik selimut hingga dada. Gadis itu mencari kenyamanan kembali dan tertidur.


Melihat itu Laska geleng-geleng kepala, dia memilih masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu. Setelah itu baru membangunkan Amira kembali.


Saat Laska keluar dari kamar mandi, Amira masih diposisinya. Membuat Laska mau tidak mau harus menghela napas dengan kasar.


“Amira bangun, salat,” ucap Laska seraya menggoyang pelan bahu Amira.


“Hmm, nanti,” jawab gadis itu parau.


“Sekarang atau ....”


“Iya iya aku bangun,” tukas Amira cepat sambil bangkit dari tidurnya. Gadis itu langsung masuk ke dalam kamar mandi dengan perasaan kesal.


**


Di meja makan, berbagai macam masakan sudah terhidang. Laska memilih duduk, dia membantu ibu Amira menyusun piring.


“Tidak perlu Laska, kamu langsung duduk saja,” ujar Gina berusaha menghentikan aktivitas Laska.


“Tidak apa Bu, hanya piring.”


“Tetap saja tidak perlu, Nak.”


Laska mengangguk, dia mengambil satu roti dan mengolesnya dengan selai cokelat. Matanya tak lepas memandang ke arah pintu tengah—antara dapur dan ruang tengah. Amira belum juga terlihat, padahal gadis itu sudah bangun sejak tadi.


“Maaf aku telat,” ujar Amira seraya menjatuhkan bokongnya di kursi. Baru saja dipikirkan, sudah datang juga. Batin Laska.


“Makanlah. Bu, sini duduk,” pinta Laska pada Gina.


“Ha, iya,” balas Gina cepat.

__ADS_1


Ketiganya menikmati sarapan pagi mereka, Amira makan dengan lahap setelah kemarin sangat tidak berselera. Sedangkan Laska, gantian pria itu yang tidak berselera. Bahkan dia hanya memakan sedikit roti selai buatannya.


“Om sakit?” tanya Amira khawatir.


“Tidak,”


“Jadi? Kenapa tidak makan?” tanya Amira kembali, dia mengambil roti Laska dan menyodorkannya pada pria itu.


“Sedikit saja,” pinta Amira.


“Baiklah.” Akhirnya Laska membuka mulutnya kecil, menerima suapan dari Amira.


Acara sarapan pagi mereka telah berakhir, Laska lebih dulu keluar dari dapur. Sedangkan Amira membantu ibunya terlebih dahulu membereskan dapur. Setelah itu dia baru mengambil tas dan keluar untuk pergi ke sekolah.


Sampai di luar, dia masih melihat Laska di teras. Pria itu berdiri seraya memegang ponselnya.


“Kenapa masih di sini Om?” tanya Amira bingung. Gadis itu mengambil sepatu dari rak dan memakainya.


“Aku antar kamu ke sekolah.”


“Enggak perlu, Mira bisa berangkat sendiri,” tolak Amira dengan halus.


 Dia masuk ke dalam mobil Laska dengan malas, memasang sabuk pengaman setelah itu memilih diam. Tak lama Laska juga masuk, pria itu langsung menghidupkan mesin mobilnya dan mengemudi keluar dari halaman rumah.


“Marah?” tanya Laska memecah keheningan. Dia sebenarnya juga sangat bingung melihat Amira hanya diam, tidak biasa.


“Tidak! Ngapain marah!” cetus Amira dengan wajah cemberut.


“Itu, bicaranya terlalu ketus. Apakah bisa dibilang tidak marah?”


“Hais, Om ini enggak peka banget sih!”


“Aku salah?” Laska menunjuk wajahnya sebentar, setelah itu fokus mengemudi kembali.


“Jelaslah. Aku tidak mau pernikahan kita ketahuan, tapi Om terlalu memaksa untuk mengantar,” omel Amira membuat Laska tertawa.


“Aku bisa mengantarmu sampai halte bis,”

__ADS_1


“Tapi aku capek jalan!”


“Sampai depan gerbang,” ucap Laska lagi.


“Nanti ketahuan!”


Okelah. Laska memilih diam dan fokus saja mengemudi. Dia terlalu lelah berdebat dengan Amira, gadis itu terlalu cerewet hingga membuatnya pusing.


Setengah jam berada dalam perjalanan, Laska menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah Amira. Belum terlalu banyak siswa yang berlalu lalang di sana, membuatnya bisa bernapas lega.


“Pulang naik taksi ya, soalnya aku sibuk jadi tidak bisa menjemput,” ujar Laska yang diangguki malas oleh Amira.


Gadis itu melambaikan tangannya sebagai salam perpisahan, setelah itu memilih masuk ke dalam sekolah. Amira tersenyum kecil, dia menyemangati dirinya sendiri.


“Semangat Amira!” serunya seraya menggerakkan kaki dengan cepat.


Di lorong sekolah, berbagai pasang mata menatap Amira tanpa berkedip. Bisik-bisik pun terdengar di telinga gadis itu. Membuat Amira mengepalkan tangannya, siap meninju siapa saja yang ada di sekitarnya.


Untungnya Cinta langsung menghentikan itu sebelum Amira benar-benar berbuat hal berbahaya. Dia langsung menarik tangan Amira, untuk dibawa ke kelas.


“Amira jangan dengarkan mereka,” pinta Cinta.


“Tapi mengapa mereka tahu? Pasti ada yang menyebarkan berita ini!”


“Aku tidak tahu siapa, yang pasti dia hanya ingin iseng. Dan membuat kamu menjadi down kembali,” ucap Cinta sembari mengelus pelan punggung Amira.


Amira memilih duduk di bangkunya, gadis itu menutup wajah dengan tangan. Kejahatan ayahnya menjadi berita panas di sekolah ini, begitu pun dengan sebutan anak nara pidana.


Sekeras mungkin Amira berusaha menahan tangisnya agar tak turun, tetapi dia tidak bisa. Bulir bening itu sudah jatuh dari sudut matanya dengan deras, semakin membuat bahu Amira berguncang hebat.


“Amira jangan menangis. Mereka tidak layak ditangisi.” Cinta masih berusaha menenangkan Amira, meski dia tahu tak akan berhasil.


“Kenapa dengan anak nara pidana?! Kenapa mereka begitu jahat padaku? Aku baru saja tertimpa musibah!” teriak Amira dengan suara tertahan.


Syukur saja di dalam kelas hanya ada mereka berdua, jadi tidak semakin membebani Amira jika ada yang menjahilinya kembali.


“Menangislah. Kadang kala, kita juga butuh menangis untuk meluapkan segala kesesakan yang ada didada. Bukan berarti karena kita lemah, hanya saja kita lelah,” ucap Cinta seraya mengelus pelan rambut Amira.

__ADS_1


 Maaf baru up guys, soalnya tadi pagi author sakit. Lagian pun naskah belum ada, tetapi sekarang Uda up kok.


selamat membaca, kesayangannya othor dan seluruh personil Mendadak Menikah❤️


__ADS_2