
Matahari sudah turun, berganti dengan senja yang begitu indah. Cahayanya sangat jingga di cakrawala. Amira baru saja kembali dari kafe, dia begitu bahagia karena bisa menyelesaikan pekerjaan dengan baik. Di dalam taksi Amira terus saja tersenyum, dia ingin menceritakan pengalaman pertama masuk kerja, tetapi takut Laska akan marah.
Pria itu pasti akan memintanya untuk berhenti bekerja, maka dari itu lebih baik di sembunyikan saja dulu.
Sampai di rumah, Amira langsung disambut oleh ibunya. Wanita paruh baya yang tengah berdiri di ambang pintu memang sudah tahu, kalau putrinya bekerja di kafe.
Awalnya Gina juga marah, tetapi Amira terus membujuk hingga dia tak bisa berbuat apa-apa.
"Anak Ibu sudah pulang, pasti lelah," ucap Gina sembari mengusap lembut rambut Amira.
Gadis itu hanya tersenyum, matanya melirik ke dalam rumah. Memastikan kalau Laska belum pulang.
"Om Laska belum pulang 'kan Bu?" tanya Amira dengan nada khawatir.
"Belum Sayang. Mungkin Laska dapat pekerjaan," jawab Gina. Amira hanya mengangguk sebagai jawaban.
Sudah beberapa hari mencari pekerjaan, Laska memang belum mendapatkan perusahaan yang mau menampungnya. Semua menolak dengan alasan tidak ada lowongan kerja lagi. Laska yakin itu semua hanya kebohongan mereka, dia tahu sang kakek yang berbuat ini. Meminta semua perusahaan menutup lowongan untuk dia.
Tidak lama Amira sampai, dari arah yang sama taksi datang dan berhenti di depan pagar rumah Gina. Laska keluar dari mobil, dengan wajah sumringah.
"Assalamualaikum," salam Laska dan langsung menyalami tangan Gina. Setelah itu dia mengecup pucuk kepala Amira pelan.
Melihat tingkah Laska yang sedikit aneh, membuat Amira penasaran ada apa sebenarnya.
"Om kenapa?" tanya Amira seraya memperhatikan wajah Laska.
__ADS_1
"Ada kabar gembira Sayang," jawab Laska cepat.
"Kabar apa Om? Kasih tahu Amira dan Ibu dong,"
"Aku diterima kerja!" ungkap Laska dengan girang.
"Serius Om! Yeay!"
Amira ikut kegirangan. Dia langsung memeluk tubuh Laska yang dibalas oleh pria itu. Gina tersenyum bahagia, dia sangat senang melihat rumah tangga anaknya baik-baik saja seperti ini.
"Di perusahaan mana Nak?" tanya Gina membuat Amira melepaskan pelukannya.
"Perusahaan kosmetik Bu," jawab Laska.
"Yang akan mempromosikan produknya, Bu," balas Laska lagi.
Bola mata Amira mau lepas dari tempatnya. Gadis itu menatap Laska dengan tidak percaya. Yang benar saja, apa suaminya bisa bergaya seperti artis?
"Jangan bilang Om artis yang menyamar sebagai orang miskin," tuding Amira sambil menunjuk wajah Laska.
"Suamimu ini memang pengin jadi artis Sayang. Doain ya," ucap Laska sembari mengecup kening Amira.
"Enggak mau! Nanti banyak yang naksir. Apalagi netizen, pasti banyak banget!"
**
__ADS_1
Bara baru saja sampai di rumah. Bukannya membersihkan diri, pria itu malah duduk melamun di kursi makan. Sudut bibirnya sedikit tertarik ketika mengingat wajah cemberut milik Aisyah, wanita itu begitu menggemaskan dimata Bara.
"Astaga, apa yang kupikirkan," gerutu Bara sambil memukul pelan kepalanya.
Jujur saja, Aisyah wanita berbeda dari banyaknya wanita yang sudah Bara temui. Meski tak berbuat apa-apa, tetapi sikap sopan Aisyah bisa meluluhkan hati pria. Wajah yang cantik alami, sungguh memikat hati Bara. Sayangnya pria itu terlalu tak peduli dengan hati, membiarkan debaran-debaran kecil itu menghilang tanpa mau mengartikan.
"Tidak mungkin aku suka dengan wanita itu. Dasar menyebalkan. Tapi, jantung ini selalu berdebar saat bersamanya? Ya Tuhan, ada apa denganku?"
Bersambung
Udalah mas Bara, kalau suka bilang aja. Ngapain pake segala gengsi lagi.
Yeay! Om Laska uda dapat kerjaan. Berarti satu lagi yang harus Lasma gapai. Anak.
Tunggu ya, othornya bentar lagi tujuh belas tahunπππ
Β
Β
Β
Mas Bara lagi mikir. Lamar gak ya? Lamar gak ya? ππ
__ADS_1