Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
MM Season 2: Bab 13


__ADS_3

Ketika dusta tak lagi menggelayuti hati, maka rasa yang pernah singgah, sedikit terkikis oleh waktu.


Alchan baru saja selesai mandi, dia berniat mengajak Gladis untuk jalan-jalan sore. Selama menikah, dia tak pernah mengajak Gladis pergi ke mana pun. Ada rasa bersalah yang menyelinap di ruang hati Alchan, dan dia tidak mau semakin melebar.


“Memangnya kita mau ke mana sih, Chan?” tanya Gladis bingung.


“Jalan-jalan sore,” jawab Alchan seadanya.


Tak ingin banyak bertanya lagi, Gladis hanya mengikuti langkah Alchan. Mereka berjalan beriringan, tak menggambarkan sedikit pun bahwa mereka sepasang suami istri.


Berbeda? Tentu. Kebanyakan suami istri berpegangan tangan, saling tersenyum dengan tatapan hangat.


Berbeda dengan Alchan dan Gladis, mereka diam saja. Saling bungkam tanpa mau ada yang membuka suara lebih dulu.


Tidak terasa, mereka sudah cukup jauh berjalan-jalan di kota. Alchan menghentikan langkah kaki, saat melihat bangunan tempat menjual makanan dan minuman. Yang tak lain dan bukan adalah kafe.


“Kenapa selalu berhenti di kafe?” Baru saja ingin membuka suara, pertanyaan Gladis lebih dulu terlontar.


“Aku suka,” jawab Alchan cepat.


“Oh. Tapi ... menurutku lebih baik ke restoran saja. Kamu bebas memilih,” usul Gladis.


“Ya sudah, boleh deh.”

__ADS_1


Gladis tersenyum bahagia. Dia kembali mengikuti langkah Alchan, mencoba mengimbangi pria itu. Tak sengaja tangan mereka bersentuhan, tetapi tak ada respons dari Alchan. Sedangkan Gladis, wanita itu berhenti sejenak. Mencoba meredam rasa tak biasa di hati.


Dia ingin menggandeng tangan Alchan, tetapi malu.


“Gladis! Cepetan! Entar keburu malam,” teriak Alchan di ujung, membuat Gladis cepat-cepat menghampiri pria itu.


“Sabar ya.”


**


“Bukannya aku menolak, atau terlalu pilih memilih. Tapi jujur, sekarang ini aku hanya ingin fokus pada karier.” Almaira membuka bicara. Sesekali dia menatap pria yang tengah duduk di samping brankar.


Awalnya Almaira terkejut kedatangan pria berpakaian Koko dan peci di kepalanya. Tapi, beberapa menit kemudian. Dia berusaha mengenali pria itu, yang ternyata teman Alchan yang pernah bertemu dengannya dulu.


“Dan lagi, jangan panggil aku Almai. Karena panggilan itu, hanya boleh diucapkan oleh orang-orang terdekat saja,” tegur Almaira dengan tatapan tak suka.


“Maaf untuk itu juga.”


Langit hanya bisa menundukkan pandangan. Pertemuannya dengan Almaira tak berjalan baik, ternyata gadis itu sangat menolak keras perjodohan yang dibuat ayahnya dan ayah gadis itu.


Melihat ke belakang, Langit memberi kode pada sopirnya untuk keluar duluan. Dia memang sengaja meminta seseorang, sebagai saksi atas pertemuan keduanya.


“Kalau gitu, saya pamit pulang.” Langit berbalik, dan bersiap untuk pergi.

__ADS_1


Almaira yang melihat itu, memalingkan wajah sebentar. Lalu dia menghembuskan napas dan menggapai udara dengan tangannya.


“Langit,” panggil Almaira pelan, Langit menghentikan langkah dan melihat ke belakang.


“Iya? Butuh sesuatu?” tanya Langit dengan nada penuh kekhawatiran.


“Terima kasih sudah mengerti aku. Dan, jangan beritahu ini pada Alchan,” ucap Almaira.


Sebenarnya tanpa diminta pun, Langit pasti akan menutup aib ini. Pria blasteran Jepang-Indo itu, tak mungkin membeberkan sesuatu yang seharusnya memang tak boleh.


Langit tersenyum, manis sekali. Matanya menyipit. “Kamu tenang aja ya, aku bisa jaga rahasia kok,” ujar Langit.


Tampan dan mapan, pun agama yang cukup. Namun, memang tidak cinta, ya mau bagaimana lagi. Langit tak bisa memaksa Almaira untuk menerima perjodohan ini, dia memaklumi. Lagi pun, Langit memang tidak terlalu berharap. Karena dia tahu, siapa yang datang duluan, dan yang datang belakangan.


 


**


Welcome my crush. Langit Abgal Yasha❤️


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2