
Setiap lorong rumah sakit Alchan lewati dengan jantung yang berdegup kencang, dan rona kekhawatiran yang juga begitu tampak.
Gladis sampai kewalahan saat mengejar Alchan, alhasil dia sering berhenti. Melihat itu, Alchan berhenti sejenak. Lalu dia berbalik dan menggandeng tangan Gladis.
“Harusnya kamu duluan saja,” tegur Gladis.
“Aku datang dengan kamu. Kenapa harus sendiri?”
Keduanya kembali berjalan untuk segera sampai di ruangan Almaira. Alchan menghembuskan napas lega saat melihat keluarga Almaira tengah menunggu di luar ruangan.
“Assalamualaikum Ayah Bunda,” salam Alchan pada kedua orang tua Almaira. Dia memang memanggil Bara dan Aisyah dengan sebutan ayah bunda.
“Waalaikumsalam, Alchan,” jawab Aisyah ramah. Sedangkan Bara hanya diam, bahkan lirikan pria itu amat sinis pada Alchan.
“Kenapa datang?” Bara membuka suara. Alchan hanya menundukkan kepala.
“Setelah menyakiti putriku, untuk apa kamu datang lagi? Pulanglah Alchan, dia tak membutuhkanmu,” sambung Bara lagi. Aisyah segera menahan lengan Bara, dan menggelengkan kepala berulang kali.
“Ayah nggak boleh gitu,” ingati Aisyah.
“Tapi benar kata Ayah kan Bun? Almaira memang tak membutuhkan Alchan lagi. Jadi, untuk apa dia ada di sini? Lebih baik pergi saja.”
Karena tak ingin terjadi perdebatan, Gladis menarik pelan tangan Alchan. Mengajak pria itu untuk pergi, tetapi Alchan menolak.
“Bagaimanapun Almai temanku. Saat aku sakit, dia selalu ada di sampingku. Kini, giliran aku yang harus melakukan itu,” jelas Alchan dengan suara pelan pada Gladis.
“Tapi Ayahnya tak menginginkan kamu. Lebih baik kita pergi saja, dari pada harus ada pertengkaran di sini,” bujuk Gladis.
Beberapa saat Alchan berpikir, sampai akhirnya dia mengangguk. Menatap sebentar pintu ruangan itu, lalu berbalik untuk pergi.
“Alchan pulang Bun, Yah,” pamit Alchan sebelum benar-benar pergi.
__ADS_1
“Iya Sayang. Hati-hati di jalan,” ucap Aisyah.
Dia merasa tak enak dengan Alchan. Padahal niat pria itu baik, ingin menjenguk Almaira. Namun, Aisyah juga setuju dengan suaminya. Jika Almaira melihat Alchan bersama Gladis, pasti gadis itu akan sedih kembali.
“Ayah melakukan ini demi putri kita Bun. Jadi, jangan hentikan Ayah untuk membuat Almai bahagia,” ujar Bara.
“Tetapi cara Ayah salah,” sangkal Aisyah.
“Apa pun itu. Ayah tak peduli.”
Bara pergi ke bangku di dekat pintu. Menjauh dari Aisyah, membuat istrinya hanya bisa menghembuskan napas kasar.
**
“Kamu mau aku masakin apa buat makan malam?” tanya Gladis ketika Alchan ke dapur untuk mengambil minum.
“Tidak perlu Gladis. Aku tidak lapar, kalau kamu mau masak. Sesuai dengan keinginanmu saja,” jawab Alchan.
“Aku nggak apa.”
Gladis hanya mengangguk patuh, lalu membiarkan Alchan pergi ke ruang utama. Dia mengerti perasaan suaminya, pasti sedang khawatir dengan keadaan Almaira.
Gladis tak bisa melarang, meski hatinya sedikit iri dengan sikap Alchan. Namun, dia harus sadar. Almaira lebih dulu yang datang ke kehidupan pria itu, bukan dia.
Di ruang utama, Alchan menatap TV yang menyala dengan pikiran entah ke mana. Ponsel selalu tergenggam, menunggu balasan chat dari adiknya.
Tring
Dering ponsel membuat Alchan kelabakan, dengan gesit dia membuka benda pipih itu. Dan melihat pesan teratas dari Alchia.
@Chia
__ADS_1
[Alhamdulillah kak Almai sudah sadar. Tapi ... tadi dia sempat tanyain tentang kakak sama aku.]
Alchan merasa bersalah karena tak ada di sana.
[Aku pasti akan jenguk dia, tapi bukan sekarang. Titip salam aja.] Balas Alchan.
@Chia
[Oke. Jangan lupa kirim doa juga ya. Di seperti malam.]
[Kenapa harus di sepertiga malam?]
@Chia
[Aku masih berharap. Kak Almai bisa jadi bagian dari keluarga kita. Titik gak pakai koma.]
Bersamaan dengan itu, Gladis datang. Pandangan Alchan langsung teralihkan. Dia merasa bersalah pada Gladis, karena sudah membicarakan wanita lain di belakangnya.
[Aku punya Gladis. Dia jodohku, dan takdirku.]
Alchan segera menyimpan ponselnya setelah mengirim pesan pada Alchia.
__ADS_1