
Malam ini selepas salat isya, Langit beserta keluarganya akan pergi ke rumah Almaira untuk mengkhitbah gadis itu. Sebelumnya kedua orang tua mereka telah membahas, Bara dan Aisyah menerima kehadiran mereka dengan lapang dada.
Dalam perjalanan, tak henti-hentinya Langit mengucap istigfar. Dia juga terus berdzikir untuk menenangkan hatinya yang sejak tadi khawatir. Banyak sekali ketakutan-ketakutan yang kerap datang pada hati Langit, dia takut Almaira akan menolaknya. Meski gadis itu sudah menyetujuinya.
“Tenangkan dirimu Nak, banyak-banyak berdoa pada Allah. Percayalah, niat baik pasti akan berbuah baik pula,” seloroh umi sembari mengusap wajah Langit yang tampak basah oleh keringat.
“Iya Mi. Ini Langit berusaha untuk tenang,” balas Langit sambil tersenyum.
Abi yang duduk di sebelah sopir, hanya menggelengkan kepala. Dia tahu bagaimana perasaan Langit, karena dulu Abi juga pernah merasakan itu.
“Hemm, udah nggak sabar ya Bang?” tanya sang Abi membuat Langit malu.
“Enggak kok Abi, enggak.” Langit berusaha mengelak dengan terus menggelengkan kepala.
Mereka yang ada di sana hanya tertawa saja melihat tingkah Langit, sesekali umi juga menenangkan putranya saat merasa Langit gelisah.
“Kita ini hanya mau ke rumah Almaira loh, Bang. Bukan ketemu malaikat pencabut nyawa,” celetuk umi.
Langit yang sedari tadi menatap luar jendela dengan tak tenang, mengalihkan pandangannya. Dia membalas dengan cengiran saat melihat uminya geleng-geleng kepala.
“Entah tuh, dari tadi nggak bisa diam,” sahut adik Langit.
“Kamu nggak ngerasain. Kakak ini lagi gugup parah,” sewot Langit pada adik perempuannya.
Umi dan Abi yang melihat itu, menggelengkan kepala melihat kelakuan putra putrinya. Namun, dibalik itu mereka merasa amat bahagia, karena akhirnya sang putra akan mengkhitbah sosok gadis juga. Sudah lama mereka menunggu-nunggu momen ini.
“Setelah menikah nanti, kamu tinggal sama kami kan Nak?” tanya umi lagi.
“Kayaknya enggak deh, Mi. Soalnya, Langit udah beli rumah untuk kami nanti,” kata Langit.
“Ya, padahal kan Umi pengin banget, tinggal sama menantu.”
“Umi Umi, menikah juga belum,” celetuk adik Langit.
__ADS_1
Lagi-lagi umi tertawa. Perjalanan malam ini mereka habiskan dengan bercanda, sebenarnya mereka melakukan itu agar Langit tak khawatir dan gugup lagi. Hingga tidak terasa, gerbang yang berdiri kokoh dan tinggi itu sudah terlihat. Beserta bangunan indah milik keluarga Almaira.
Keluarga Almaira menyambut tamu mereka dengan ramah dan penuh akan kesopanan. Lalu mempersilahkan semuanya untuk duduk di sofa ruang keluarga, yang ternyata juga sudah ada kakek dan nenek Almaira.
Tanpa ingin berlama-lama lagi, Abi Langit segera menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka. Hingga membuat Langit kembali merasakan detak jantung yang bekerja begitu cepat, sama halnya dengan yang Almaira rasakan. Gadis itu memilih terus menundukkan kepala tanpa berani mendongak dan menatap semua orang di ruangan itu.
“Assalamualaikum. Bismillah, jadi begini, Bara. Maksud dan tujuan kami ke sini, ingin mengantar putra kami Langit untuk menyampaikan sesuatu pada kalian,” ucap Abi.
“Waalaikumsalam, dipersilahkan Mas,” balas Bara sambil tersenyum menatap Langit.
Menghembuskan napas perlahan, Langit berusaha menormalkan detak jantungnya. Setelah itu dia menatap semua orang yang berada di sana, hingga tatapannya terhenti pada Almaira yang masih menundukkan kepala.
“Bismillah, dengan izin Allah dan Abi Umi. Saya ... Langit Abgal Yasha, ingin mengkhitbah putri Bapak untuk dijadikan pendamping hidup,” lontar Langit dengan tenang. “Menjadikan dia wanita satu-satunya dalam hidup saya, dan juga ibu dari anak-anak saya kelak.
“Kepada Nak Langit, saya merasa senang dengan niat baik kamu. Namun, tetap saja, saya sebagai seorang Ayah tak bisa memaksa Almaira. Jadi, biarkan saja anak saya yang menjawabnya.” Bara menatap putrinya.
Mendengar ucapan itu, Almaira segera mengangkat kepalanya, lalu dia menatap ayahnya. Almaira sungguh tak bisa berkata-kata, akhirnya dia kembali menundukkan dan mengangguk samar.
“Alhamdulillah!” Semua orang yang ada di sana, mengusap wajah mereka dengan rasa syukur.
Sedangkan empat orang tua itu, ikut menyetujui. Namun, mereka tetap menyerahkan semua ini pada Langit dan Almaira. Bagaimanapun, mereka juga berhak menentukan.
“Bagaimana Langit, Almaira, apakah kalian setuju bila pernikahan akan dilangsungkan dua Minggu lagi?” tanya Bara pada dua orang yang saling menunduk hingga membuat Langit dan putrinya mendongak.
“Langit ikut saja,” balas Langit seraya tersenyum.
“Kamu Nak?” Kini Bara beralih pada putrinya, dia mengusap kepala Almaira yang tertutup hijab dengan lembut.
“Almaira ... juga ikut Ayah saja.”
Akhirnya finis, pernikahan akan dilangsungkan dua Minggu lagi. Kedua keluarga itu tampak sangat bahagia, karena akhirnya mereka akan segera menjadi besanan.
Langit hanya berdoa, semoga semua akan berjalan dengan lancar. Dia tahu, Almaira pasti sedikit terpaksa menerima ini, tetapi Langit mencoba untuk ikhlas. Dia juga yakin, Allah adalah maha membolak-balikkan hati manusia.
__ADS_1
**
“Bunda Almaira pasti orang baik?” Gladis bertanya sembari meletakkan teh dan camilan di meja.
Lalu wanita itu ikut duduk di dekat Alchan, menatap wajah suaminya lama.
“Sangat. Bunda Aisyah itu orang baik,” jawab Alchan.
“Beruntung sekali Almaira mempunyai Bunda sebaik itu,” sambung Gladis kembali
“Semua orang pasti beruntung mempunyai seorang ibu. Tidak mungkin ada yang tidak beruntung,” ucap Alchan.
“Ada. Aku tidak beruntung memiliki ibu,” sanggah Gladis.
Alchan langsung mengalihkan pandangannya dari layar TV, dia menatap wajah Gladis dengan tak percaya.
“Maksud kamu?”
“Ibuku bukan orang baik. Mana ada ibu yang tega membuang anaknya, demi kesenangan dunianya sendiri,” ucap Gladis dengan wajah memerah, menahan amarah.
Alchan menggelengkan kepala berulang kali, menyangkal ucapan Gladis karena itu memang salah.
“Seseorang yang meninggalkan, tentu saja karena memiliki sebuah alasan. Bisa jadi ibu kamu pergi karena alasan, dan membuat dia mau tak mau harus meninggalkan kamu.”
“Karena sejatinya, tidak akan ada ibu yang tega membuang atau membunuh anaknya. Kecuali dia gila,” sambung Alchan.
Gladis tertunduk, dia merasa sedih. Namun, juga ada rasa kecewa dan sakit hati. Sudah lama dia ingin bertemu ibunya, tetapi wanita itu bagai ditelan bumi. Meski ada selembar foto yang dapat dia gunakan, tetap saja, dunia ini terlalu luas untuk Gladis mencari ke setiap penjurunya.
“Ibuku tak menginginkan aku. Aku yakin itu,” ujar Gladis lagi.
“Aku hanya bisa mendukung. Meski ibu kamu begitu, tetapi kamu tidak boleh Gladis. Jika nanti anak kamu sudah lahir, sayangi dia, dan berikan dia begitu banyak cinta. Karena itu anugerah yang Allah berikan untuk kita jaga,” papar Alchan sembari mengusap pipi Gladis yang terdapat air mata.
“Ya, aku janji akan menjadi ibu yang baik dan istri yang baik pula untuk kamu.
__ADS_1