
Amira terbangun sekitar pukul satu malam. Dia langsung menatap ke samping, tetapi tak menemukan sosok yang dia cari. Laska tidak ada di sana. Amira bangun untuk mengambil ponsel, dia langsung menghubungi kontak Laska.
“Om di mana?” tanya Amira setelah telepon tersambung.
“Di rumah umi Sayang. Kamu kok bangun malam-malam begini?” Suara Laska terdengar parau di seberang sana. Sepertinya pria itu baru saja terbangun dari tidurnya karena dering ponsel.
“Kirain di mana. Kenapa om enggak tidur di hotel saja? Lagi marah sama Amira ya?”
“Tidak Sayang. Hanya saja tadi aku ketiduran di rumah umi setelah makan malam di sana. Sebenarnya umi juga mengajak kamu, tapi, kamu ‘kan juga sudah tidur.”
“Gitu ya? Ya sudah. Om tidur lagi, maaf Amira sudah ganggu,” ucap Amira sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
“Tidak apa Sayang. Ya sudah, om mau tidur. Kamu juga tidur ya?”
“Oke.”
Amira langsung memutuskan sambungan telepon, dia tersenyum. Senang karena sudah bisa mendengar suara Laska, dia merasa sangat bahagia.
“Good night om Laska,” ucap Amira sebelum menutup matanya kembali.
**
Tidak terasa, pagi sudah menyapa kembali. Gadis yang masih berada di dalam gelungan selimut, menguap. Menggeliat dengan pelan, Amira mencoba mengembalikan nyawanya yang belum terkumpul sempurna.
“Hoam, sudah pagi,” ucap Amira seraya turun dari kasur.
Gadis itu berjalan gontai keluar kamar, sampai di ruang tengah. Dia melihat ibunya tengah duduk.
“Ibu sudah bangun sejak lama?” tanya Amira sembari menuang air ke dalam gelas.
“Lumayan. Amira, duduk sini Nak. Ibu ingin bicara,” pinta Gina yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Amira.
Gina terdiam, setelah itu dia mengambil makanan dan menyodorkan pada Amira.
“Apa tidak sebaiknya kita pergi dari sini, Nak. Terlalu lama tinggal di hotel, akan menghabiskan biaya sangat banyak,” tutur Gina dengan suara pelan.
Amira bungkam. Dia juga menginginkan itu, tetapi Laska berkata padanya, agar dia tetap berada di hotel. Tidak mungkin Amira keluar tanpa perintah dari Laska.
“Kita tunggu sebentar saja ya Bu. Sampai om Laska yang bawa kita keluar dari hotel ini,” jawab Amira. Dia memegang tangan ibunya, mencoba meyakinkan wanita iitu
“Sampai kapan Nak? Kita sudah dua hari berada di sini. Ibu merasa ada sesuatu yang Laska sembunyikan, tapi kita tidak tahu itu.”
“Ibu kenapa bicara seperti itu, tidak mungkin om Laska menyembunyikan sesuatu,” sahut Amira.
__ADS_1
“Tetapi kenapa dia tak pernah menginap di sini? Laska selalu pergi di saat kamu tertidur, dan tidak kembali,” ucap Gina kembali.
“Itu karena umi yang meminta om Laska untuk menginap di sana. Amira yakin om Laska tidak berbohong.” Amira tetap kekeuh.
“Ya sudah.” Gina tak bertanya kembal. Dia memilih masuk ke dalam kamarnya.
Amira juga memilih masuk ke dalam kamar, dia berniat membersihkan diri. Ucapan ibunya tadi terus terngiang-ngiang di kepalanya. Dia mengakui, yang dikatakan sang ibu memang ada benarnya. Laska seperti menyembunyikan sesuatu, tetapi Amira memilih untuk tak peduli.
**
“Laska! Lihat ini!”
Hari berlari masuk ke dalam ruangan Laska dengan napas yang sudah tak normal. Pria itu langsung duduk dan menghirup udara banyak-banyak.
“Jangan berisik Hari,” tekan Laska merasa terganggu.
“Halah. Lo liat dulu ini, pasti bakalan panik kaya’ gue juga,” ujar Hari tak memedulikan permintaan Laska.
“Apa sih? Paling juga diskon,” celetuk Laska yang langsung mendapat gelengan keras dari Hari.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Hari langsung meletakkan ponselnya di meja. Terpampang jelas foto di layarnya, dan Laska sangat mengenali dua orang berada di dalam sana.
“Jadi, Amira dan Aisyah saling kenal?” tanya Laska dengan wajah panik. Hari segera mengangguk.
“Sepertinya kebohongan kamu sebentar lagi terkuak Laska. Amira pasti akan tahu,”
“Gue saranin, mending Lo jujur aja. Dari pada si Amira tahu dari Aisyah. Lebih berabe urusannya,” sambung Hari.
“DM Aisyah, minta dia datang ke rumahku,” ucap Laska akhirnya.
“Kok Aisyah? Bukannya Amira?”
“Pertama-tama aku mau bilang ke Aisyah dulu. Kalau pertunangan kami sudah batal sejak beberapa bulan lalu, aku yakin, papahnya gak kasih tahu dia. Makanya Aisyah masih nganggap aku tunangannya,” jelas Laska.
“Benar juga kamu,” sahut Hari. “Oke. Aku DM Aisyah dulu!”
Setelah kepergian Hari, Laska meraup wajahnya frustrasi. Dia kembali memikirkan cara yang pas untuk jujur sama Amira tanpa diketahui kakeknya. Dia hanya tidak mau, kakeknya membuat Amira sakit hati. Apalagi mengingat sang kakek sangat keras kepala.
**
Siang ini Amira berniat pulang ke rumah Laska. Ada barang yang harus dia ambil karena sangat penting. Sebelumnya, dia sempat mempertimbangkan ini. Tapi karena barang itu sudah dipertanyakan oleh teman sekelasnya, mau tidak mau Amira kembali ke rumah meski harus mendengar omelan Laska nantinya.
Baru sampai depan gerbang, Amira sudah disuguhkan dengan pemandangan yang sangat menyakitkan. Dia melihat Laska berjalan masuk dengan wanita. Mereka seperti pasangan meski tak saling menautkan jemari. Amira mencoba biasa saja, dia berusaha berpikir positif. Bisa saja itu tadi teman kerja Laska atau penanggung jawab renovasi rumahnya.
__ADS_1
“Pak!” Amira memanggil satpam yang menjaga gerbang, tetapi tak ada tanda-tanda lelaki paruh baya itu keluar dari tempat istirahatnya.
Sekali lagi Amira memanggil, tapi belum juga ada pak satpam di sana. Akhirnya dia memilih menunggu sebentar, sambil menghubungi Laska agar pria itu yang membukakan pintunya.
“Nona Amira!” Hari sudah berdiri di samping Amira, membuat gadis itu terkejut.
“Eh, Om. Ngapain di sini?” tanya Amira sembari melihat ke sana kemari.
“Oh saya? Tidak ada. Nona sendiri sedang apa?”
“Aku mau ambil barang Om. Tapi gerbangnya gak dibukain, padahal aku udah panggil pak satpam berulang kali,” jawab Amira.
Hari menelan ludah dengan susah payah, tiba-tiba dia teringat pesan Laska. Bahwa Amira tidak boleh dulu kembali ke rumah. Tak sengaja mata Hari menangkap Laska dan Aisyah di ambang pintu utama. Dengan segera dia menarik lengan Amira untuk menjauh dari gerbang.
“Nona mau tidak temani saya beli kado, soalnya ibu saya sebentar lagi ulang tahun,” ucap Hari. Amira merasa bingung.
“Kenapa harus dengan aku, Om?” tanya Amira.
“Kalian ‘kan sama-sama perempuan, pastilah Nona tahu kesukaan perempuan itu apa.”
Amira mempertimbangkan ajakan Hari, cukup lama dia diam akhirnya mengangguk. Hari merasa cukup lega, dia langsung mengajak Amira untuk masuk ke dalam mobil.
Sampai di mal, Amira langsung mengajak Hari ke tempat tas-tas branded.
“Biasanya ibu-ibu suka tas branded,” ucap Amira.
“Iyakah? Baiklah, saya akan beli tas saja.” Hari pura-pura memilih tas, tetapi matanya tak hentinya melirik ke arah Amira.
“Tadi aku melihat om Laska dan seorang perempuan masuk ke dalam rumah. Kira-kira perempuan itu siapa ya?” Amira membuka suara, membuat Hari mengalihkan pandangannya seketika.
“Perempuan? Mungkin teman kerjanya Nona,” jawab Hari.
“Tapi katanya rumah lagi direnovasi habis? Otomatis tidak ada yang boleh masuk dong, takutnya terjadi sesuatu.”
“Mungkin ada ruangan khusus untuk mereka berdua,” celetuk Hari tanpa sadar.
“Ruangan khusus? Maksudnya?”
Amira memandang intens Hari membuat pria itu kebingungan mau menjawab apalagi.
“Tidak ada Nona. Yuk ke sana, kaya’nya jam juga kesukaan perempuan.” Amira menahan tangan Hari, mau tidak mau membuat pria itu berhenti.
“Katakan padaku ada apa sebenarnya? Jangan sembunyikan apa pun itu, karena aku bukan lagi anak kecil yang bisa kalian bohongi.”
__ADS_1