Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 87


__ADS_3

Senja mulai menampakkan dirinya di cakrawala, membiasakan cahaya jingganya yang begitu indah. Dua pria berpakaian yang hampir sama, turun dari mobil. Disusul lima pria berbadan kekar lainnya dengan membawa masing-masing seserahan yang sudah Bara persiapkan. Pria itu menghembuskan napas berulang kali, mencoba menetralkan detak jantungnya yang terus berdebar dan membuatnya semakin gugup.


“Apa kita akan terus di sini saja, Bara?” tanya pria paruh baya yang sejak tadi setia berdiri di samping Bara.


Pak Jefri, sosok yang sudah Bara anggap sebagai ayah sendiri. Pak Jefrilah yang membantu dia mengembangkan restoran dan memberi bantuan untuk Bara. Dia sangat berterima kasih pada pria itu.


“Sebentar Pak. Jantung saya tidak berhenti berdebar, rasanya begitu gugup,” jawab Bara gugup, membuat Pak Jefri tertawa mendengarnya.


Ini kali pertama Pak Jefri mendengar Bara berbicara panjang lebar. Biasanya hanya satu kata, dan terus terucap. Melihat Bara yang begitu gagah dengan jas berwarna hitam yang dipadu dengan kemeja putih, semakin menambah ketampanan pria itu.


“Kalau gugup, kita pulang saja,” gurau Pak Jefri.


“Jangan dong Pak! Nanti Aisyah bisa ngamuk,” ujar Bara. Pak Jefri semakin tertawa.


Perlahan tapi pasti, Bara melangkah diikuti Pak Jefri dan lima anak buahnya. Dari dalam, keluar dua pria yang akan menyambut Bara. Mereka tersenyum seraya memberi jalan agar Bara segera masuk.


“Selamat datang, Bara Geraild Andra,” ucap Abraham seraya merentangkan tangannya. Memeluk Bara yang dibalas oleh pria itu dengan terpaksa.


“Terima kasih, Tuan Abraham. Atas waktu dan semuanya,”


“Sama-sama. Silakan duduk.”


Mereka semua duduk, Bara masih merasa gugup. Berulang kali dia menghembuskan napas kasar, matanya tak henti-henti melirik ke sana kemari. Mencari sosok Aisyah yang belum dia temukan dari awal datang.


“Assalamualaikum Bapak dan Ibu sekalian.” Pak Jefri sebagai wali Bara mulai membuka suara.


“Waalaikumsalam.” Semuanya menjawab. Semakin membuat Bara deg deg kan.


“Kedatangan kami ke sini, berniat ingin menyampaikan niat baik. Anak angkat saya, Bara Geraild Andra, berniat ingin melamar putri Anda, Aisyah Humairoh.” Pak Jefri mulai menyampaikan sesuai yang dia ketahui.


Abraham tersenyum, matanya tak lepas dari wajah Bara.


Abraham berdehem, lalu berbicara, “Sebenarnya saya dan istri sempat kaget saat putri saya bercerita, bahwa pengusaha muda Bara ingin datang untuk melamarnya.”

__ADS_1


“Meski saya tahu, ada keterpaksaan di sini. Saya siap menerima bila memang Tuan Muda Bara serius dengan lamaran ini,” sambung Abraham lagi.


Kali ini, mereka menunggu Bara membuka suara. Sedangkan pria itu, berdehem berulang kali untuk menormalkan detak jantungnya.


“InsyaAllah saya serius. Terlebih lagi, saya sudah memikirkan ini baik-baik. Allah juga sudah memberi petunjuk pada saya.” Bara menghembuskan napasnya. “Tapi maaf, untuk sekarang mungkin saya belum mencintai Aisyah, tapi tidak tahu dengan kedepannya. Saya akan berusaha,” sambung Bara.


Wanita yang kini berada di dalam kamar, menitihkan air mata mendengar ucapan Bara dari ponsel. Aisyah menangis, dia mengucap syukur pada Allah berulang kali.


“Kak, ayo kita keluar,” ucap gadis berusia lima belas tahun yang sejak tadi setia berada di dekat Aisyah. Dia berdiri, menuntun Aisyah untuk turun ke ruang keluarga.


Dress yang Aisyah pakai, perlahan menyentuh lantai. Dia mengusap air mata menggunakan tisu, lalu mencoba tersenyum semanis mungkin. Sebenarnya ini terlalu berlebihan bagi Aisyah, dia harus didandani layaknya mempelai wanita. Tapi mau bagaimana lagi, mamahnya memaksa.


Sampai di tangga keenam dari bawah, Aisyah bisa melihat Bara yang tengah menatapnya juga. Sejurus kemudian Aisyah menundukkan kepalanya, dia tersenyum simpul. Bara sangat tampan dimata Aisyah, bolehkah dia mengakui itu hari ini? Sebelum Bara kembali terlihat judes seperti biasanya.


“Apa ini yang disebut bidadari dunia?” gumam Bara yang masih bisa didengar Pak Jefri. Pria paruh baya itu tersenyum, lalu menyenggol lengan Bara hingga membuat pria muda itu tersadar.


“Kalau uda mantap, berarti tanggal pernikahan sudah ditentukan ya, Nak?” bisik Pak Jefri bercanda. Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


Aisyah sudah duduk di samping mamah dan papah, wanita tersebut masih menundukkan kepala. Sedangkan Bara terus memperhatikan gerak gerik calon istrinya, ralat calon tunangannya karena Aisyah belum menjawab ‘iya atau tidak’.


“Bismillah, atas izin Allah dan Mamah Papah. Aisyah menerimanya. Aisyah juga sudah salat istikharah, dan ini jawabannya,” tutur Aisyah, membuat semua yang ada di ruang keluarga mengusap wajah bahagia.


Bara sendiri, memejamkan matanya. Mengucap syukur berulang kali pada Allah. Meski dia tahu ini cukup berat, tetapi Bara mencoba menerimanya.


Berbagai hantaran yang dia bawa tadi, sudah berpindah tangan ke pihak Aisyah. Begitu pun cincin permata indah yang dia beli tadi siang, kini sudah terpasang di jari manis Aisyah. Terlihat begitu indah.


“Maaf hantarannya tak sesuai dengan ekspetasi kalian,” ucap Bara.


“Ini sudah lebih dari cukup. Yang terpenting adalah niat,” jawab Abraham.


“Apalah saya, yang tak lebih kaya dari Anda.” Perkataan Bara menjadi bahan tertawaan mereka.


“Memiliki lima cabang restoran, dan sepuluh kafe. Bukanlah orang kaya? Hanya sedikit kaya saja, apa begitu Tuan Muda Bara?” ejek Abraham membuat Bara malu.

__ADS_1


Padahal dia sudah berusaha menyembunyikan identitas asli, tetapi calon mertuanya ini ternyata sangat pintar.


“Jadi kapan pernikahannya akan diadakan?” tanya mamah Aisyah yang sejak tadi hanya diam.


“Saya serakan ini pada anak saya, Bara.”


“Terserah Pak Abraham atau Aisyah saja,” balas Bara. Mereka menggaruk tengkuk masing-masing sambil tertawa.


“Mungkin sebulan atau dua bulan lagi,” usul Abraham.


“Apa tidak terlalu lama?” Bara menyahut.


“Ya sudah, besok saja kalau memang Tuan Bara mau,”


“Ah, tidak. Terserah kalian saja.”


Bara menggaruk kepala yang tak gatal, sedangkan Aisyah, dia gemas dengan tingkah Bara yang sangat lucu itu. Sebenarnya Bara ingin cepat, agar tak menjadi beban pikirannya lagi. Tapi, dia gengsi ingin mencetuskan keinginannya ini. Apalagi mereka baru kenal, sangat sangat terburu-buru pastinya.


**


Amira masih menunggu kepulangan Laska. Wanita itu sudah masak makanan kesukaan suaminya, tetapi sampai sekarang tak ada tanda-tanda Laska kembali. Bolak balik Amira mengintip dari Jendela, tetapi dia tak melihat taksi atau apa pun datang.


“Kamu di mana sih Mas?” Amira menatap ke dinding, melihat jarum jam yang terus berputar.


Berulang kali juga dia melirik ponsel berharap ada pesan masuk dari Laska, tetapi nihil. Sepertinya pria itu memang sangat sibuk, hingga pukul 21.00 malam belum juga kembali. Padahal biasanya jam tujuh malam juga sudah pulang.


“Semoga kamu baik-baik saja Mas, aku sungguh khawatir,” lirih Amira seraya menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Bersambung


Alhamdulillah, tunangan. Kita kawal sampai halal ya guys.


Mas Laska ke mana sih? Bikin mbak Amira dan readers bingung aja.

__ADS_1


Othor mau tidur dulu, uda UP dua bab hari ini ya. Kita lanjut besok lagi.


__ADS_2