Mendadak Menikah

Mendadak Menikah
Bab 72


__ADS_3

Hal yang paling membuat Amira bahagia adalah, di saat wajah tampan Laska yang ia lihat di pagi hari. Amira tersenyum memperhatikan wajah damai Laska, sangat imut dan tampan.


“Om.” Amira menggoyang pelan bahu Laska, tetapi tak ada pergerakan dari pria itu.


Karena tak mendapat respons apa pun, akhirnya Amira memilih masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mengingat jam Subuh sebentar lagi. Selesai membersihkan diri dan mengambil wudu, Amira langsung menyiapkan dua sajadah, mukena dan sarung Laska.


Dia berjalan menghampiri suaminya kembali, berniat untuk membangunkan Laska.


“Om, bangun Subuhan,” ucap Amira tepat di dekat telinga Laska.


“Eugh.” Pria itu hanya menggeliat masih dengan mata tertutup.


“Bangun Om!” Suara Amira naik satu oktaf. Langsung membuat Laska membuka matanya.


“Iya Sayang. Ini aku sudah bangun,” balas Laska.


Keduanya sama-sama beranjak. Melaksanakan salat Subuh bersama. Setelah itu, Amira langsung keluar dari kamar. Diikuti oleh Laska, ternyata di ruang tengah, sudah ada Gina.


“Ibu sudah lama di sini?” tanya Amira seraya meletakkan teh yang baru dia buat.

__ADS_1


“Belum juga,” jawab wanita paruh baya itu.


Laska memilih diam, memperhatikan gerak gerik mertuanya. Dia melihat gurat kekecewaan di wajah cantik milik Gina. Memang sepertinya, sang mertua begitu marah dengannya yang bertindak ceroboh.


“Setelah ini, apa yang akan kamu lakukan, Laska?” tanya Gina tanpa memandang ke arah Laska.


“Laska mau berusaha cari pekerjaan, Bu. InsyaAllah ada perusahaan yang mau menerima Laska,” jawab Laska.


Setelah diusir dari rumahnya sendiri, Laska juga di keluarkan dari perusahaan oleh kakeknya. Mungkin, warisan pun dia tak akan dapat.


Laska berusaha untuk bangkit, meski dia tahu ini sangat susah. Masalahnya, dia tidak terlalu jago dalam dunia perkantoran.


“Tidak perlu Bu! Laska takut ngerepotin Ibu,” tolak Laska dengan halus.


Gina membuang napas dengan kasar, dia mengalihkan pandangan dari buku yang berada di genggamannya. Laska memang lelaki baik, tetapi melihat kondisinya sekarang, Gina tak bisa diam saja.


“Ibu tetap bantu,” bantah Gina. Laska tak bisa menjawab apa-apa kecuali mengangguk.


Sarapan pagi, Laska memesan pada pelayan hotel. Lagi pula Amira tengah sibuk menelusuri media sosial untuk mencari tahu universitas mana yang bagus. Bukannya gadis itu ingin menyusahkan Laska dengan meminta untuk kuliah, hanya saja, dia ingin mencari tahu saja terlebih dahulu.

__ADS_1


“Di Korea bagus universitasnya. Kamu mau ke sana?” tawar Laska membuat Amira melongo tak percaya.


“Enggak ah, biayanya pasti mahal,” sahut Amira.


“Kalau kamu memang niat, pasti ada jalan,” ucap Laska lagi. Amira tetap menolak.


Amira tidak ingin menyusahkan Laska, dia tidak tega melihat pria itu harus susah payah mencari uang untuk dia kuliah. Lebih Baik Amira berhenti setahun sambil mencari pekerjaan yang cocok dengan dia.


“Aku bisa usahakan uang untuk biaya kamu, jangan khawatir Amira,” sambung Laska serius. Amira menatap ke arah pria itu, dia malah melihat keteguhan yang begitu besar di mata Laska.


“Udalah Om, gak usah bahas itu lagi.”


Amira beranjak menuju kamar mandi. Dia beralasan ingin membuang air kecil, padahal sampai di kamar mandi, Amira berjongkok di belakang pintu. Tanpa diminta, air matanya mengalir begitu saja. Mengingat dulu dia begitu sering menghambur-hamburkan uang orang tuanya dan Laska. Amira menyesal.


“Maaf Om, Amira uda jahat sama Om. Amira janji, akan mencari uang untuk biaya kuliah Amira tanpa meminta dari Om. Amira janji,” lirih Amira seraya mengusap air matanya.


 


 

__ADS_1


__ADS_2